The Couple Of MissKin-g

The Couple Of MissKin-g
Sandwich


__ADS_3

Hari ini adalah hari yang pertama kalinya untuk Ayla menginjakan kakinya di kampus impiannya ini setelah kejadian mengerikan itu.


Dia menarik nafasnya dalam-dalam. Berharap dia tidak teringat lagi kenangan bersama Jimny, mantan kekasihnya.


Huhft!


Rasanya menyebalkan sekali mempunyai masalalu yang menyakitkan. Ingin berdamai pun rasanya susah, sangat susah. Ingin melupakannya pun berasa tidak akan pernah bisa.


Kruyuk..


Ayla memegangi perutnya. Benar-benar sakit menahan lapar, marah dan menahan rasa takut diwaktu yang sama.


Laki-laki itu lain kali tidak boleh diberi makan sekalipun.


Ah!


Ayla teringat sesuatu, apakah dia masih dendam atas kejadian dulu?


"Sudahlahh, otak! Jangan lagi memikirkan Enyu yang tidak punya otak itu," decaknya kesal dalam hati.


"Hai!" Seseorang menepuk bahu Ayla sambil berteriak.


Sedangkan Ayla terperanjat kaget, langsung dia menoleh kebelakang dan berteriak, "Leva!"


"Haha, kamu terkejut?" Leva tak kuat menahan tawanya.


"Aneh saja jika aku tidak terkejut, saat aku tidak ada persiapan untuk kamu kageti," sungutnya.


"Ahaha, ya sudah!" Leva memegangi kedua bahu Ayla. "Maafkan aku. Dan sebagai permintaan maafnya aku traktir dehh, bagaimana?" ucapnya sambil menaik turunkan alisnya.


"Are you sure?" tanya Ayla yang sudah merubah raut wajahnya menjadi bahagia.


"I'm quite sure! Let's go.." (Aku cukup yakin! Ayo..) Leva menarik tangan Ayla menuju kantin.


***


Dalam perjalanan menuju kampus.


Brio termenung memikirkan Ayla yang belum makan. Ternyata nasi goreng yang Ayla buat hanya satu piring dan itu hanya untuk dirinya sendiri.


Brio merasa bersalah karena telah menghabiskan makanannya. Dan berpikir pasti Ayla saat ini sedang menahan laparnya.


"Argh!" desahnya kesal. "Untuk apa aku memikirkan gadis Enyet itu. Lagi pula dia bisa membeli makanannya dikantin," ucapnya acuh.


Namun beberapa menit kemudian,


"Tapi..." Dia menggantung kalimatnya, "Aku sudah salah, aku harus meminta maaf padanya. Mungkin satu porsi makanan bisa menyogoknya agar dia memaafkan aku. Bagaimanapun aku harus menjadi pria sejati, meski dia sangat menyebalkan," cebiknya kesal.


***

__ADS_1


Dikantin.


"Leva, bisakah kamu membantuku?" tanya Ayla.


"Apa yang bisa aku bantu untukmu, Ay?" tanyanya sambil memainkan garpu dan juga sendok diatas piringnya.


"Aku, aku akan pindah dari apartemen itu."


"Ya, lalu?"


"Bisakah kamu membantuku untuk mencari kontrakan atau indekos dan lainnya?"


"Kenapa tidak tinggal dirumahku saja?" tawarnya.


"Tidak, terima kasih!" tolaknya dengan senyum. "Aku ingin kontrakan saja."


"Okay, sore ini atau besok?"


"Kurasa lebih cepat lebih baik. Aku ingin yang biasa saja jangan terlalu mewah sesuai dengan harga kantong dan yang paling dekat dengan kampus ini."


"Haha, oke oke!"


Keduanya saling tersenyum, Ayla merasa bahagia sekali mendapat seorang teman yang selalu menolongnya, yang selalu ada untuknya dikala senang dan susah.


Leva adalah sosok yang berbeda dengan tampilannya. Dia memang tomboy, cuek, dan terkesan tidak peduli. Tapi didalam dirinya yang paling dalam dia memiliki sifat welas asih. Ini yang membuat Ayla nyaman bersama orang baru sepertinya.


Leva orang kedua yang sudah tahu akan masalahnya. Karena Ayla tidak pernah menutup-nutupinya. Ayla percaya bahwa Leva bisa menjadi sahabatnya yang paling baik.


***


Seandainya angka-angka itu adalah jumlah uang miliknya, mungkin matanyalah yang tidak akan berkedip meski sedetikpun.


Stop! Itu hanyalah khayalan orang miskin seperti Ayla.


Tapi satu hal yang unik tentang matematika, seseorang harus tahu rumusnya, tahu caranya maka dia akan mendapat jawabannya.


Jika melenceng sedikit saja maka tidak akan sampai pada tujuannya.


Satu jam sudah pelajaran matematika berakhir.


Ayla merengangkan otot-ototnya, melirik kekanan kekiri, atas bawah, depan dan belakang.


Tapi pada saat dia menoleh kebelakang, ada sesuatu yang kurang. Anggota squad CTM hanya tinggal berdua. Kemana yang satunya lagi? Sedangkan Avanza dan Agya mereka tengah sibuk memainkan ponselnya untuk menelpon seseorang.


"Kemana Livina? Apa dia sakit?" bisik Ayla kepada Leva.


"Aku tidak tahu dan juga tidak peduli," jawabnya enteng.


"Aish! Kenapa aku memikirkannya, bukannya itu bagus untukku. Setidaknya hari ini tidak ada yang menganggu," batinnya.

__ADS_1


Ayla pun keluar dari ruangannya bersama Leva. Tapi tetap saja pikirannya selalu melayang pada Livina.


"Apa dia tidak kuliah karena Jimny? Tapi bukankah Jimny sudah lama di India?" tanyanya dalam hati.


Ayla tahu alasan mengapa Livina memperlakukannya dengan tidak baik. Dia kesal bahkan marah karena dirinyalah yang akhirnya mendapatkan Jimny.


Ayla pun memahaminya dan sering membiarkannya begitu saja. Hanya pada kejadian terakhir dia sudah tidak bisa menahannya dan melaporkannya pada Jimny.


Saat ini Ayla tengah di perpustakaan. Dia tidak ingin memikirkan hal-hal yang dianggapnya tidak penting itu. Akhirnya dia memutuskan untuk menenangkan dirinya disana.


Saat dia melipat kedua tangannya dan mencoba tertidur diatas pangkuan tangannya itu. Tiba-tiba saja ada sebungkus makanan mendarat di mejanya.


Dia mengangkat kepalanya, "Brio.." ucapnya.


"Hai, maaf soal pagi tadi. Oh ya, Ini ada makanan," ucapnya setengah kaku.


Ayla membuka bungkus makanan tersebut, dia melihat ada makanan yang terbuat dari roti.


"Sandwich? Kamu 'kan tahu aku maunya nasi. Kenapa kamu belinya roti? Terus kenapa tidak sekalian saja sama susunya," ucapnya setengah berbisik.


"Ini ada.." ucapnya sambil memberikan bungkusan yang satunya lagi.


"Astaga..." Ayla memutar matanya jengah.


"Susah Ayla, bawa nasi kesini. Harusnya kamu berterima kasih bukan cemberut begitu."


"Xie xie ah.." ucapnya malas bahkan Ayla kembali lagi pada posisinya, tertidur.


Brio yang jahil langsung mengambil sandwich itu, kemudian membangunkan Ayla.


"Ayla, bangun dong! Aku mau bicara, sebentar saja."


"Apa?" jawabnya dengan kesal.


"Nanti sore aku pulang lewat pasar, aku mau beli pisang buat Enyet aku dirumah," ucapnya pelan namun berhasil membuat Ayla marah.


Ketika Ayla membuka mulutnya dan akan berteriak, Brio langsung memasukan sandwich itu kedalam mulutnya.


"Brioopp.. Mmmm.." Mulut Ayla penuh dengan satu suapan sandwich.


"Dimakan, ya! Di habiskan! Ini susunya." Setelah mengucapkan itu, Brio lari terbirit-birit dia tidak ingin mendengar teriakan Ayla yang cukup menggelegar.


"Ish.. Enyu!" cibir Ayla penuh penekanan. Lalu kembali melahap sandwichnya sampai habis bahkan susunya pun sudah dia minum hingga kering.


Brio yang ternyata masih ada di perpustakaan, dan masih mengamati Ayla, tak terasa bibirnya tersenyum puas. Makanan yang dia bawakan sudah dilahap habis olehnya.


Entah, rasanya bahagia sekali setiap melihat Ayla.


CNP

__ADS_1


Continue in my Next Post


Mohon dukungannya. Karena dukungan kalian adalah penyemangatku. Untuk dukungannya bisa berupa Like, komentar, share, vote, rate 5, dan jangan lupa untuk mem-faforitkan novel ini. Stay tuned terus, terima kasih !!


__ADS_2