The Couple Of MissKin-g

The Couple Of MissKin-g
The Second Plan


__ADS_3

Avanza segera berlari dari ruangan itu. Bahkan saat Teman-temannya menghampirinya, dia abaikan begitu saja. Kedua sahabatnya melongo saling menatap aneh.


Kini perasaan kesal bercampur marah beraduk menjadi satu dalam diri Avanza. Dia mendatangi orang suruhannya.


"Apa yang kamu lakukan? Mengedit video begitu saja kamu tidak becus. Lihat sekarang dia lolos ke babak selanjutnya," geramnya. Pasalnya tidak sedikit tabungan yang dikeluarkan untuk menyuruhnya melakukan kegiatan kotor itu.


"Aku tidak tahu, Vanz. Dia sangat hebat membacakan berita. Kamu pun sudah melihat video itu, 'kan? Itu sangat sesuai dengan durasi waktunya."


"Tapi dia berhasil, seharusnya kamu menambah satu lokasi lagi."


"Semua orang akan mengetahuinya jika aku menambah satu lokasi lagi," papar orang suruhan.


"Sudahlah, kamu memang tidak becus bekerja."


Setelah memaki-maki orang, tampak wajah Avanza menjadi cemas. Dia masih bingung dengan rencana keduanya. Bagaimana supaya Brio mau menolongnya? Kalau masalah sukarela pasti dia akan melakukannya tanpa pamrih. Tapi masalahnya ini adalah menjatuhkan orang lain. Apakah dia bersedia untuk itu?


Dia memilih Brio dan bukan Baleno karena selain Brio pintar juga sangat mudah untuknya diperdayai. Brio yang cupu, culun terlihat lugu dimatanya, dia selalu saja mau jika disuruh oleh Avanza. Sedangkan Baleno, selalu saja berwacana. Entahlah Avanza sangat malas denganya akhir-akhir ini.


"Tidak ada alasan lain, selain menggodanya. Dengan begitu apapun yang aku inginkan akan dia penuhi," batinnya.


"Kali ini aku harus berakting lagi," ucapnya seraya menyibakan rambutnya kebelakang.


**


Brio amat senang dengan berita tentang Baleno yang sudah menikah dengan Livina. Satu rintangan yang besar sudah runtuh lapuk dimakan usia. Baleno tidak bisa sepenuhnya menentang kedekatannya dengan Avanza.


Berita itu ia dapatkan dari Yaris, yang kemarin sempat di pintanya untuk menyelidiki Baleno. Brio lakukan itu karena kesal dengan Ayla. Dia ingin segera mengakhiri ikatan suami istrinya. Dan menjalin hubungan dengan wanita pujaannya.


Yaris yang tidak mampu untuk melawannya hanya berkata iya dan menjalankan perintah dari tuan mudanya itu.


"Brio," panggil salah seorang yang berada tak jauh dengannya.


"Avanza?" Brio cukup terkejut, wanita dihadapannya ini mencarinya tanpa menghubunginya terlebih dahulu. "Kamu kemana saja kemarin?" tanya Avanza membuyarkan keterkejutan Brio.


"Ahh.. Aku, aku, adaa.."


"Ponselmu tidak bisa aku hubungi," ucap Avanza manja setengah menggoda.


Astaga, sikapnya itu seperti keju mozarela, Brio menjadi lumer seketika.


"Ak aku, lupa men-charge ponselku."


"Oh, begitu. Oh, ya, boleh tidak aku berbicara denganmu sebentar?" Avanza meraih tangannya, sambil matanya melirik kearah kiri dan kanan berharap tidak ada orang yang melihatnya.

__ADS_1


"Bo boleh dong. masa jangan, sih."


Mereka pun berjalan beriringan menuju tempat yang di pilih oleh Avanza.


Belakang kampus adalah tempatnya. Disana dia bisa lebih leluasa mengobrol dengan Brio. Tentu saja dia tidak ingin Baleno melihatnya atau dia akan kehilangan pacar kerennya itu.


Kebetulan disana ada tempat duduk. Mereka menduduki kursi itu dan Avanza memulai perbincangannya.


"Brio, begini.."


"Apa? Oh, ya. Aku dengar kemarin kamu lulus dan masuk ke babak selanjutnya. Selamat, ya!"


"Terima kasih!"


"Ada apa kamu mengajakku kesini?" tanya Brio dengan mata yang tak berhenti menatap Avanza.


"Begini, Brio. Soal kompetisi ini, ayahku selalu memarahiku jika aku sampai kalah. Aku tidak ingin dalam kompetisi ini aku kalah. Kalau tidak aku bisa tidak diberi fasilitas oleh orang tuaku.." ungkapnya seraya menangis.


"Avanza, sudahlah jangan menangis! Aku mohon! Nanti cantikmu hilang," ucap Brio semakin berani.


"Aku tidak bisa tidak menangis. Ayahku sangatlah seram, apapun yang dikatakannya akan menjadi kenyataan." Dia mengusap pipinya seolah dia benar-benar menangis.


"Jangan menangis! Katakan padaku apa yang bisa aku lakukan?" Brio tidak mau melihat orang yang disayanginya menangis. Sebisa mungkin dia akan menghiburnya agar orang itu kembali tersenyum.


"Benarkah?"


"Apapun itu?" tanya Avanza memastikan.


"Iya," tegasnya.


"Aku ingin kamu menghalangi Ayla untuk menang.." ucapnya sekali namun terdengar beberapa kali di gendang telinga Brio.


"Apa?" lirihnya. Cukup tersentak dengan ucapan Avanza. "Ayla?" kata Brio memastikan.


"Iya, dia adalah temanku tapi aku selalu kalah dengannya. Ayahku selalu menghukumku karena dirinya. Aku hanya ingin satu kali saja Ayahku menganggapku bisa menjadi nomor satu." Dia ucapkan hal-hal yang tak pernah terjadi kepadanya.


"Ayolah, Brio. Bantu aku." Avanza tampilkan mata kucingnya, memintanya dengan sangat.


"Tapi, tapi, kamu bisa buktikan dengan kemampuanmu sendiri, bukan?"


"Aish, kenapa orang ini menolak?" batin Avanza.


"Aku sudah melakukannya, tapi dia tidak bisa dikalahkan. Mungkin karena dia dekat dengan Rektor, jadi dia selalu berhasil meski sudah kalah."

__ADS_1


"Rektor?"


"Iya, dia ahli dalam merayu. Pasti dia lakukan itu pada salah satu juri tadi dan juga pada Rektor. Apapun masalahnya dia selalu keluar dengan selamat. Siapa lagi yang paling berkuasa dikampus ini jika bukan Rektor dan para dosen. Dia wanita yang picik dan banyak tipu muslihat."


Tampak Brio terdiam menyerap kata demi kata yang diucapkan Avanza. Benar sekali jika dia pandai merayu, buktinya dia bisa berjalan dengan March. Tapi Rektor? Gosip apalagi yang beredar tentang Ayla?


"Brio. Brioo." Avanza menyadarkan Brio dari lamunanya.


"Eh, iya. Ada apa?"


"Bagaimana kamu bisa tidak?"


"Akk aku.."


"Jika kamu bisa membuatnya kalah, aku mau menjadi kekasihmu sesuai dengan yang malam itu kamu katakan padaku," potong Avanza langsung.


Bak aurora yang ada di langit khatulistiwa. Benarkah ini? Tidak salahkah telinganya kini? Atau apakah dia bermimpi?


"Brioo..."


"Eh, iya. Apa tadi kamu bilang, Vanz?"


"Aku mau menjadi kekasihmu jika kamu membantuku untuk menang di kompetisi ini," ulangnya lagi. "Kumohon.."


Sekilas pikirannya kembali mengingat kejadian malam itu. Dengan perasaan marah dia katakan, "Baiklah, aku akan membantumu." Dia menyetujuinya begitu saja.


"Ayla, segala keinginanmu akan segera tercapai. Begitupun dengan keinginanku.." batin Brio.


"Ayla, kehancuranmu akan segera dimulai," batin Avanza.


"Bagaimana dengan Baleno?" tanya Brio menghidupkan suasana lagi.


"Aku, aku akan memutuskannya," ucapnya hati-hati. Dalam hati yang paling dalamnya dia masih mencintai Baleno. Tentu dia tidak ingin memutuskannya hanya demi laki-laki culun yang ada dihadapannya itu. Semua yang dikatakannya 90 persen bualan, hanya untuk kelancaran tujuannya saja.


Namun terbit sebuah senyuman di bibir Brio. Kalimat itu yang ingin dari dulu dia dengar dari mulut Avanza. Ingin dia mmberitahunya bahwa Baleno dan Livina sudah menikah. Tapi, dia tidak ingin Avanza menjadi sedih dan mempengaruhi kompetisinya.


CNP


Continue in my Next Post


...Jangan lupa dukung, yoo! ...


...Dukungan kalian akan menambah semangat bagi para Author! Semampu kalian aja, kalau bisa semuanya. Hoho.. (buat nambah popularitas😁)...

__ADS_1


...Jangan lupa share juga biar tau di novel juga ada showroomnya lhoo! ...


...Terima kasih!...


__ADS_2