
Seminggu sudah Ayla berada di apartemen Brio. Seminggu ini pula dia mengurung dirinya disana. Dia tidak pergi kuliah dengan alasan sakit. Semua itu dia lakukan karena didalam hatinya dia masih tidak sanggup bertemu dengan orang yang dia cintai tapi juga mengkhianati dirinya.
Semua foto bersama Jimny yang ada di ponselnya yang ada di sosial medianya dia hapus begitu saja. Karena hanya dengan melihat gambar saja sudah membuatnya kembali trauma.
Meski lukanya sudah hilang tapi ingatannya tak akan pernah bisa dia lupakan.
"Ay.." panggil Brio.
"Ayla.." Kedua kali belum ada sahutan.
"Ayla.." Ketiga kali, dia melihat Ayla sedang melamun.
"Pantas saja rumah begitu berantakan ternyata dia melamun lagi," gumamnya.
"Ay.." Brio menepuk bahunya, menyadarkan dirinya dari lamunan. "Buatkan aku makanan, dong! My tummy is talking to me!" ucapnya sambil memegang perut.
Sebenarnya bukan karena lapar melainkan dia ingin Ayla berhenti dari lamunannya. Sedih, tentu saja didalam hatinya ada rasa yang membuatnya juga ikut bersedih.
"Malas, ahh!!"
"Serius nih tidak mau membuatkan aku makanan? Ya sudah, nanti malam tidur di kursi lagi."
Memang setelah kejadian mie itu, Ayla dan Brio saling membuat perjanjian. Setiap malam mereka saling bergantian tempat tidur. Jika malam ini Brio tidur di kamarnya berarti Ayla tidur di sofa ruang tamu dan begitu sebaliknya.
"Ehh, enak saja! Perjanjiannya juga selang-seling. Kenapa jadi aku yang malam ini tidur di kursi lagi? " Ayla menampakan wajah kesalnya. Dia kembungkan kedua pipinya dan sedikit memajukan bibir merahnya itu.
"Makanya, buatkan aku makanan. 'kan ini rumah aku. Kamu harus masak buat bayar sewanya!"
"Dasar, apa saja berbayar. Kamu juga orang miskin, jangsn suka meras orang miskin juga dong!" sindirnya.
"Baca google, buat suami bahagia itu dapat pahala, lho!"
"Tau ahh!" Ayla mencebik kesal. Dia hentakan langkahnya menuju dapur. Tanpa berbasa-basi atau pembukaan lagi dia langsung memasak, karena memang perutnya pun sudah berbunyi saat dia masih asik dalam lamunannya.
"Ayla, kapan kamu masuk kuliah?" tanyanya saat mereka sedang melahap makanannya.
"Aku tidak tahu. Aku masih takut bertemu dengan Jimny."
"Jimny? Aku dengar dia sudah pergi keluar negri sejak lima hari yang lalu."
"Uhuk, uhuk!" Ayla tersedak makanannya sendiri. Terkejut dengan informasi yang di berikan Brio. Seperti itukah dia lari dari masalahnya?
Mengapa tidak ada kata maaf yang terucap dari dirinya? Sungguh masih tidak bisa di percaya.
"Kenapa? Kaget? Tidak ikhlas?" tanyanya bertubi-tubi.
"Ngaco! Kalau tau dia dari dulu sudah pergi keluar negri, aku pasti masuk kuliahlah," kilahnya. Tentu saja dia tidak ingin Brio tahu masalah yang hadapinya. Bisa-bisa habis dia di ceramahi oleh orang yang sudah menjadi suaminya sendiri.
"Lalu sekarang apa rencana kamu?"
"Mulai besok aku masuk kuliah."
"Ok!!"
__ADS_1
****
Hari ini seperti yang sudah Ayla rencanakan, dia kembali masuk kuliah. Dia sangat merindukan temannya, Leva. Yang seminggu ini selalu menemaninya dalam chat di aplikasi yang sedang tenar di kalangan muda mudi Indonesia.
Apalagi kalau bukan si hijau bergambar telepon didalamnya.
Pagi-pagi sekali dia sudah bangun, membersihkan diri, merapihkan kamar, dan terakhir memasak untuk Brio.
Saat dia melewati sofa panjang yang sedang ditiduri oleh Brio. Nampak Brio tengah tertidur pulas sampai mendengkur kecil.
Untung suara dengkuran itu tidak keras. Kalau keras mungkin saja Ayla sudah menutup mulutnya dengan bantal atau mungkin menaburi mulutnya dengan sejumput garam.
Hahaha! Sudah jangan diikuti, Ayla memang jahilnya tidak ketulungan jika sedang eror otaknya.
Kali ini dia akan memasak makanan untuk Brio. Bukan makanan seperti yang sering dia makan, nasi dan lauk pauk, bukan!
Akan tetapi kali ini dia mengoreng terlur ceplok dan menyatukannya dengan roti bakar.
Aneh bukan??
Untuk orang kalangan miskin seperti dirinya memakan makanan seperti orang kaya yang terkesan irit dan pelit itu.
Tapi Ayla tidak ingin mendebatkan pesanan suami kesalahpahamannya itu.
Toh! Bukan dirinya yang membeli semua ini.
Lain halnya dengan dirinya, dia memilih untuk menggoreng nasi. Nasi yang semalam masih ada, dia gunakan untuk dimasak kembali.
Gonjleng sudah siap, tercium wangi harum yang menggoda iman para cacing perut.
Kerecek kerecek.
Bahkan sang kokipun 'Tummy-nya' sudah berdentum keras meminta makan.
"Huah!" ucapnya sambil menghirup aroma nasi goreng. "Aromanya menggugah jiwaa.." Dia menghirup lagi dan menghembuskannya sambil meletakan piring itu. Sungguh aromanya benar-benar menyeruak keseluruh ruangan.
Dia berbalik dan berniat untuk mengambil air minum untuknya dan juga untuk Brio.
Tanpa dia sadari Brio sudah duduk rapi dimeja itu dan sedang makan nasi goreng miliknya dengan lahap.
Saat Ayla membalikan badannya.
"Briooooooooo....." teriaknya dengan penuh amarah. Sedangkan sang pemilik nama hanya tersenyun nyengir memohon untuk tidak dimarahi.
"Aku sudah membuatkanmu telur dan roti panggang, tetapi kamu masih saja memakan-makananku!" Ayla berdecak pinggang menahan kesal.
"Habis aromanya lezat sekali," ucap Brio sambil terus melahap nasi goreng.
"Ohh, mei wei de?
(没为的? // Enak)
"Mei wei de, Hao chi, hen hao chi 👌."
__ADS_1
(没为的,好吃,很好吃。// Enak, baik untuk dimakan, sangat baik)
Ucapnya tanpa rasa malu, jari-jari tangannya sudah membulat memberi tanda 'oke'. Lalu kemudian memakannya kembali dengan cepat.
Karen kesal dan marah Ayla mendekati pria yang memakan makanannya itu, kemudian berbisik tepat ditelinganya, "Shi zhen de ma?"
(是真的吗?// Benarkah?)
Brio menengok kearahnya, sambil berkata,
"Dangran! Wo gaosu ni.."
(当然!我告诉你。。// Tentu saja, ku beri tahu kamu...) ucapnya terhenti ketika tatapan mereka saling beradu,
"Mei...li.. "
(美丽 // cantik.. ) pujinya tak sadar.
Ayla yang terkejut langsung sadar, dan kembali pada posisi marahnya.
"Ahh, sudahlah! Aku tau kamu orang pintar, cerdas, bermulut manis tapi satu kekurangan kamu. Sudah culun, tukang dengkur, tukang curi makanan lagi. Tidak tau apa aku juga sedang lapar?" cibirnya dengan kesal. Bahkan bukan satu kekurangan yang dia sebutkan melainkan tiga kekurangan sekaligus.
"Ya, maaf. Aku 'kan lapar, habisnya nasinya wangi sekali," ujarnya hati-hati. "Kamu bisa memakan roti panggangnya kok, kalau kamu mau!"
"Tidak mau." Ayla lipat kedua tangannya. Melihat Brio yang tidak memperhatikannya membuat Ayla bertambah kesal.
Brugh, pintu tertutup.
Ayla pun pergi ke kampusnya dengan perasaan kesal bercampur lapar.
"Dasar Enyuu..." Ayla menghentakan kakinya beberapa kali.
Sedangkan Brio didalam sana, memandang kearah Ayla pergi dengan tatapan kosong.
"Dia pergi begitu saja tanpa makan? Ck.. tidak menghargai makanan! Ya sudah, xie xie! Aku juga masih lapar." ucapnya sambil melahap kembali telur bertangkup roti panggang pesanannya itu.
CNP
Continue in my Next Post
Hai guys!
Kalimat 'my tummy is talking to me' itu merupakan kalimat lain dari 'I am hungry / aku lapar' begitu.
Kita sama-sama belajar ya!
Oh ya gimana bahasa mandarinnya?
Hehe..
Aku lagi seneng drama China nih guys. Jadi sedikit-sedikit ada bahasa mandarinnya ya.
#taati5M
__ADS_1