
Saat tiba di rumah Brian, Yaris begitu kaget melihat orang yang dari tadi di carinya sudah berada disana. Saat dia hendak membaur, nampan yang Ayla pegang terjatuh, memecahkan semua cangkir beserta tekonya.
Dan yang lebih mengejutkan lagi saat Ayla mengatakan,
"Jangan katakan kamu juga berkomplot untuk membohongiku, Tuan Yaris!" ucap Ayla dengan mata yang sudah memerah.
Terjadi sudah hal yang tidak dia inginkan. Ayla pergi dengan rasa sakit di hatinya.
"Apa Brian belum mengatakan yang sejujurnya?" lirihnya begitu lesu. Tak lama terdengar suara yang begitu keras dan penuh penekanan.
"Apa maksudmu dengan menyebutnya istri, Brian?" ucap Jazz dengan intonasi yang tinggi.
"Yah, dia memang istriku," ucapnya setengah gusar karena memikirkan Ayla yang sudah pergi, namun dia tidak bisa mengejar karena ditahan untuk memberikan penjelasan.
"Istri dari mana? Kami tidak pernah menikahkanmu?" ucap City dengan geramnya. Sementara itu Mobilio, Oddysey dan juga Serena hanya diam, namun ikut mendengarkan mencari celah untuk bisa mengomentari.
"Yah, Bund ..." Brian pun menjelaskan dengan sejujur-jujurnya. Dari A sampai Z tak ada satupun kejadian yang tertinggal.
"Jadi, ini hanya kesalahpahaman? Tinggal ceraikan saja kalau begitu. Tidak perlu menyimpan barang yang tidak berharga," ucap Serena memanasi keadaan.
"Tante, jaga bicara, Tante!" sungut Brian.
"Siapa yang mengajarimu tidak sopan, Brian? Memang benar apa yang dikatakan Tantemu," timpal City membela Serena.
"Aku sudah mencintainya, Bund, Yah. Dia perempuan yang baik. Dia sangat berharga bagiku. Dan dialah orang yang paling tepat untuk menjadi pendamping hidupku... Kumohon biarkan aku pergi untuk menjemputnya," mohonnya dengan sangat.
"Brian," seru sang Ayah mencegah Brian.
"Tolong, jangan halangi aku, Yah!" Tanpa ba bi bu lagi Brian pergi meninggalkan keluarganya. Mencari sang istri yang entah pergi kemana.
Sementara itu..
Ayla masih terus menangis dalam perjalanan pulangnya. Dia sangat benci dibohongi seperti ini. Dari dulu dia sudah mewanti-wanti agar Brio berkata jujur, tapi dia tidak mengatakan apapun.
Tidak! Ayla salah.
__ADS_1
Brio tidak berbohong!
Dia memang pernah mengatakannya. Tapi siapa yang akan percaya? Terlebih saat itu trauma Ayla kembali dan tidak bisa dielakkan lagi.
Dan lagi...
Saat mereka menikah, Brio pernah mengatakan jika dia tidak bisa menghubungi kedua orang tuanya karena mereka tidak memiliki handphone.
Kedua orang tua Brian Rio tidak memiliki handphone? Bahkan pabriknya pun jika dia ingin bisa dia beli.
Miris, Brio benar membohonginya?
Dan kenyataan lain yang lebih menyakitkannya lagi adalah sebentar lagi suaminya akan melamar Avanza.
Mengapa? Mengapa dia tidak jujur jika dirinya akan di jodohkan dengan Avanza? Mengapa Brio memilih dirinya saat itu? Kenapa tidak langsung dia tinggalkan saja saat Ayla sudah mengalah demi Avanza, mengapa?
Apa dia ingin hati Ayla hancur? Apa dia merencanakan sesuatu untuk mengambil hati Avanza lagi?
Ayla mengusap kasar bibirnya yang malam itu dia kecup dengan rakus. Jika di pikir lebih dalam, dirinya lebih rendah dari hewan. Dia hanya digunakan untuk melampiaskan nafsu. Ada pun hanya untuk dihancurkan sebagai pembuktian cintanya pada Avanza.
"Pak, tolong berhenti disana," pinta Ayla pada sopir taksi, saat dirinya melihat jembatan yang sangat besar.
"Aaaaaa....." Begitu dia turun dari mobil, tanpa menimbang lagi dia langsung berteriak. Cara ini sangat efektif baginya meluapkan semua rasa di dada.
Ya, meski memang setelahnya suara dia serak, tenggorokannya kering tapi hatinya merasa plong, tak apa. Dia akan lakukan semua itu.
Kemudian setelah berteriak yang ketiga kalinya, tubuhnya terjatuh, air matanya luruh kembali.
"Mengapa kamu bohong padaku?" lirihnya sendu.
Dia menangis tersedu-sedu tanpa ada satupun yang tahu.
"Aku percaya padamu, Brio. Semua yang kamu katakan aku percaya. Tapi kenapa kamu khianati kepercayaanku? Apapun aku lakukan. Kamu ingin aku mengalah, aku lakukan.
Tapi kenapa kamu terus saja menyakitiku. Jika kamu ingin menikah dengannya, kenapa tidak ceraikan saja aku? Jika Avanza ingin aku mati, kenapa tidak bunuh saja aku dengan belati? Kenapa kamu harus menghancurkan hatiku berkali-kali? Jika aku punya salah bilang padaku akan kuperbaiki semuanya. Jika aku tidak menjadi istri yang baik, ajarkan aku, bimbing aku menjadi istri yang kamu mau. Aku akan lakukan itu, Brio. Karena aku mencintaimu ... Tapi tolong, jangan hancurkan hatiku berkeping-keping."
__ADS_1
Derai air mata tak pernah terhenti. Tangisan adalah bukti seberapa hancurnya hati seorang wanita. Sebetapa sakitnya, sebetapa sesaknya dada. Menerima kenyataan yang siapapun tidak menginginkannya.
Dia tadahkan pandangannya keatas langit. Berharap air matanya tidak berderai lagi. Langit malam yang dihiasi bintang dan juga sinar rembulan memperindah alam semesta. Tapi meski pun begitu hati yang sakit tetaplah hati yang sakit. Indahnya semesta alam tidak bisa mengobati luka yang dideranya.
Cara itu tidak berhasil malah memperdalam luka yang dia rasa.
Saat ini dirinya butuh ketenangan. Dia ingin berada di tempat yang tidak ada suaminya sama sekali. Tapi kemana dia harus pergi?
Di liriknya jam sudah menunjukan pukul sembilan tiga puluh menit. Ayla pun memutuskan untuk pulang ke kampung halamannya.
***
Brio melesatkan mobilnya mencari Ayla ke kontrakan. Tapi nihil kontrakannya sepi bahkan lampu pun tidak ada yang menyala.
Dia bertanya pada sahabatnya, Leva. Akan tetapi Leva mengatakan jika dirinya tidak tahu dimana Ayla berada.
GPS-pun tidak berfungsi. Sudah pasti Ayla mematikan ponselnya.
Lanjut dia lajukan lagi mobilnya. Dalam setiap jalan yang dia lewati, dia perhatikan baik-baik. Bahkan matanya lebih sering menengok ke kiri dan kanannya ketimbang ke depan. Dia tak mau kehilangan istrinya, istri yang sangat dicintainya.
Tidak hanya jalanan, di setiap bangunan tinggi yang terlewati, dia berhenti kemudian naiki. Berharap Ayla berada di salah satu rooftopnya. Karena setahunya, jika Ayla sedang bersedih pasti dia memilih tempat untuk berteriak. Namun, tidak satupun dari bangunan-bangunan itu ditemukan istrinya.
Dirinya menjadi lebih gundah gulana dari sebelumnya. Dimanapun tempatnya tidak ada Ayla. Setetes air mata jatuh mengenai stir mobil.
"Kemana kamu, Ayla? Kembalilah..." lirihnya. Peluh-peluhnya pun bercucuran, akibat tadi dia naiki tangga darurat dari beberapa gedung tinggi yang dia kunjungi. Nafas berat dan dada yang sesak kini menderanya.
Jangan tanya, apakah kakinya gempor atau tidak? Sudah bisa dibayangkan betapa sakitnya dan pegalnya menaiki tangga terlebih tangga darurat menuju rooftop.
Dengan pelan dia lajukan mobilnya dan pulang ke tempat dimana mereka berdua menghabiskan waktu bersama. Kontrakan.
Saat tiba disana, Brio langsung memeluk guling yang biasa Ayla kenakan. Wangi timun dari produk sabun yang istrinya kenakan melekat di kasurnya. Menambah kesedihan yang di alaminya.
"Kemana kamu, Sayang? Aku sangat merindukanmu..." Brio memeluk erat guling itu. Seakan tubuhnya pun mengatakan hal yang sama dengan mulutnya.
CNP
__ADS_1
Continue in my Next Post