The Couple Of MissKin-g

The Couple Of MissKin-g
Litost


__ADS_3

Avanza dan Squad CTM berkumpul di salah satu bar milik March. Tak lupa Baleno pun menyusul kesana. Mereka berencana untuk merayakan kemenangan Avanza.


Dia sudah berjanji akan mentraktir semua teman-temannya dan minum bersama.


"Hari ini terserah kalian mau minum apa, biar aku yang bayar," kata Avanza dengan bahagianya.


"Apa yang kamu lakukan pada Ayla sampai dia begitu, Avanza?" tanya March heran. Tidak mungkin seorang Ayla mengalah. Biasanya ia akan berdiri tegak dan menantang Avanza.


"Hai, hai, kamu sedang membelanya?" tanya Agya. Tentu saja pertanyaannya sangat mengganggu acara Avanza hari ini.


"Tidak, aku hanya penasaran saja," jawab March acuh.


"Itu mungkin karena dia memang harus tahu tempat, ya 'kan, Sayang?" Avanza bergelayut manja pada Baleno.


"Iya, kamu 'kan hebat," balas Baleno.


Livina hanya tersenyum sinis melihatnya, tidak suka.


"Liv, mengapa kamu tidak memesan minuman yang seperti biasa kamu minum?"


"Tidak, Vanz. Aku sedang tidak ingin minum."


"Liv, aku lihat makin hari kamu makin gemuk, ya?" celetuk Agya.


"Huh, masa?" Reaksi Livina sedikit gelagapan. Benarkah tubuhnya sudah mulai membesar?


"Iya, sepertinya kamu sedang program gemuk," kelakar March diiringi sela tawa oleh mereka.


"Bagaimana jika kita bermain truth or dare?" ucap Baleno mengalihkan pembicaraan.


"Aku tidak suka permainan itu." Avanza memanyunkan bibirnya.


"Ayolah, Sayang!"


"Baiklah, ayo kita lakukan. Yang tidak mau salah satu diantara keduanya harus minum." March langsung meminta karyawannya untuk membawakan botol kosong dan juga minuman beralkohol tinggi.


Baleno duduk disebelah Avanza disampingnya ada Agya berdampingan dengan March lalu ada Livina diantara March dan Baleno. Setelah barang-barang yang dia butuhkan sudah ada di mejanya, March segera memutar botol itu dan botol itu berhenti mengarah pada Agya.


"Truth or dare?" tanya March.


"Dare?"


"Biar aku yang memberinya tantangan," seru Livina, "Katakan bahwa kamu mencintai March!"


"Livina!" geram Agya, "Tidak, aku akan minum saja." Dia meminum segelas alkohol itu. Agya memang pemalu jika berkaitan dengan perasaannya.


"Sekarang giliran aku yang memutarnya," Agya langsung memutar botol itu dan berhenti tepat dihadapan Livina.


"Kamu membalasku?" kekeh Livina, "Aku pilih truth."


"Kenapa..." Belum selesai Agya bertanya, Avanza sudah menyela dan menanyakan pertanyaan lain.


"Katakan yang sejujurnya tentang cincin yang kemarin kamu pakai!"


Baleno yang sedang minum pun tersedak mendengarnya.


"Sayang, hati-hati!" Avanza membantu Baleno membersihkan bajunya. Sementara Livina bingung harus mengatakan apa.


"Mm, bukankah kemarin aku pernah mengatakannya. Jika cincin itu bukan cincin apa-apa."

__ADS_1


"Iya, tapi aku masih penasaran."


"Jika kamu tidak bisa menjawabnya maka minum saja," saran March.


"Aku tidak ingin minum."


"Ya sudah, jawab pertanyaanku!"


"Sayang, sudahlah. Mungkin Livina sedang tidak enak badan," Baleno menyela lagi.


"Lho, kok kamu belain dia, sih?"


"Sayang..."


"Kenapa aku curiga Baleno ada sesuatu dengan Livina? Tapi apa?" batin Agya. Dia menatap kedua orang yang dicurigainya itu. Tapi di antara mereka tidak ada hal yang mencurigakan lainnya. Segera saja dia tepis kembali hal itu.


***


Sepulangnya dari kampus, Ayla langsung masuk ke kamar di ikuti oleh Brio dibelakangnya.


"Ay.."


"Pergi Brio!"


"Ay, aku mau bicara sama kamu."


"Apa? Apa? Urusanku sudah selesai, bukan? Aku sudah mengundurkan diri?"


"Ay, kakimu harus di obati..."


"Tidak usah peduli padaku. Pergi kamu!"


Pintu kamar sudah Ayla tutup dengan kasar. Saat ini dia sedang kesal dan tidak akan berdampak baik bagi siapa saja yang mendekatinya jika moodnya sedang berantakan. Dia membutuhkan waktu sendiri. Dia butuh waktu untuk menyembuhkan luka-lukanya.


Ayla mengurung diri dikamar. Tak lupa sepasang headset terpasang cantik di telinganya. Dengan volume yang lumayan cukup tinggi, Ayla mendengarkan lagu Dont Watch Me Cry dari Jorja Smith. Lagu itu cukup mewakili perasaanya sekarang.


Hidupnya sudah berantakan. Mimpinya sedari kecil harus dia ulangi lagi proses peraihannya. Dan kini dia mencintai seseorang yang tidak mencintainya. Bahkan orang itulah yang merusak mimpinya.


"Aku harus tidur, jika aku tertidur aku bisa melupakan semuanya. Dan besok aku harus memulai hidupku yang baru.."


Dua jam kemudian. Pintu kamar masih belum terbuka. Brio keluar hendak pergi ke apotek.


Disepanjang perjalanan setelah membeli obat luka untuk Ayla, Brio terus melamun. Jika diingat-ingat kebelakangnya ternyata hidupnya sangat menyedihkan. Dia rela menjadi cupu, culun, dan juga miskin seperti sekarang demi membuktikan kepada kedua orang tuanya bahwa dia mempunyai bidadari yang tak pernah pandang bulu.


Setelah pertemuan lima tahun lalu dia pernah meminta seseorang untuk mengetahui apa saja kegiatan Avanza. Tidak ada yang aneh, semuanya baik-baik saja. Bahkan Avanza sering mengunjungi panti asuhan, panti jompo, dan melakukan kegiatan sosial lainnya. Sebab itulah yang membuatnya terkagum-kagum.


Tapi ternyata setelah dia kenal dekat, semuanya terbongkar. Ahh, sia-sia sudah dia melakukan ini. Bahkan karena misinya itu dia sampai menyakiti orang lain.


Ceklek.. Dia membuka pintu kontrakan dan langsung memasukan si kuning. Setelah semuanya dirasa aman dia masuk ke kamarnya. Ternyata pintu kamar itu sudah dibuka.


Tampak Ayla yang sedang berbaring.


Dia hampiri Ayla dan langsung melihat kakinya.


"Lukamu parah tapi kamu tidak mengobatinya. Malah memaksakan memakai sepatu lagi." Brio keluarkan salep yang dia beli, lalu dia oleskan secara merata.


"Maafkan aku Ayla, aku terlalu menyakitimu. Maaf." Hanya kata itulah yang bisa dia ucapkan.


"Tapi jika dia mencintaiku, kenapa dia berdekatan dengan March?" batinnya. "Apa dia benar-benar membutuhkan uang? Bahkan dia mau merelakan mimpinya saat aku bilang akan membiayai hidupnya?" terkanya lagi membuatnya lebih gusar.

__ADS_1


"Ayla, kamu satu-satunya wanita yang membuatku harus berpikir keras," keluhnya sambil terus mengobati.


"Aku tahu kamu membenciku, aku memang pantas kamu benci. Aku hanya membutuhkan maaf darimu atas semua kesalahan yang pernah aku buat," ujar Brio seraya meletakkan kembali kaki Ayla.


Lalu kemudian dia mengganti pakaiannya dengan pakaian yang biasa dia kenakan saat hendak tidur. Sebelum dia rebahkan tubuhnya dia lihat kembali Ayla yang memang sudah berada di alam mimpinya. Dia melihat headset yang dipakai oleh Ayla. Lalu dia berjongkok dan mencoba melepaskannya.


"Kamu kalau tidur tuh pasti saja memakai ini."


Tak sengaja kakinya menyentuh bantal Ayla, "Bantalnya basah? Apa dia masih saja menangis? Hmm, maafkan aku, Ayla.." lirihnya sambil menyelipkan anak rambutnya ketelinga.


"Maafkan aku.."


Cup..


Tanpa sadar dia mencium kening Ayla. Sungguh romantis jika itu dilakukan oleh dua orang yang tidak sedang dalam perang dingin. Namun apalah daya kesalahan sudah ia buat. Ia harus memperbaikinya.


Waktu berlalu Brio tidak bisa memejamkan matanya. Pikirannya kacau dan melalang buana kesana kemari. Rasa bersalahnya kian menjadi. Akhirnya malam-malam dia meminta Yaris untuk membuat semacam ajang pencarian bakat untuk presenter.


Dia telpon asisten rasa kakaknya itu.


"Yaris, tolong bantu aku!"


"Apa?"


"Tolong buatkan pamflet yang berkaitan dengan jurnalistik."


"Bukankah kampus sudah mengadakannya?"


"Ayolah, aku salah menilai orang."


"Ouhh, jadi sekarang kamu memilih siapa? Bukankah kamu akan melepaskannya? Aku akan menunggunya," Yaris terkekeh sendiri.


"Hais, ayolah. Jika kamu lakukan itu maka namamu akan tinggal kenangan."


"Wahh, rupanya sekarang ada yang benar-benar mencintai Ayla."


"Kata siapa?"


"Katakan!"


"Aku tidak tahu. Aku harus mencari jawaban lain. Dia bilang dia mencintaiku tapi aku tidak tahu apa hubungannya dia dan March. Aku tidak ingin tertipu lagi."


"Hah, alasan klasik. Katakan saja jika kamu memang sudah menyukainya lebih dulu. Tapi kamu tidak mau mengakuinya."


"Yaris!"


"Baik, tuan mudaku." Yaris menutup telponnya sebelum Brio marah besar padanya.


"Semoga dengan cara ini kamu bisa memaafkanku dan tidak membenciku lagi, Ayla," batin Brio.


CNP


Continue in my Next Post


*Litost (Czech) kata Litost ini berarti rasa tersiksa seseorang karena tiba-tiba saja menyadari betapa menyedihkannya hidup yang dia jalani


...Aku mau ngucapin terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pembaca yang sudah mendukungku. Baik itu vote, like, koment, share, rate dsb. Semoga kalian tidak bosan dengan ceritaku.....


...Dan minta dukungannya lagi biar naik popularitasnnya sama levelnyaa 😥😥...

__ADS_1


__ADS_2