
"Yaris, dia pergi keluar sendiri," seru Brio.
"Hah? Apa?" Yaris yang memang sedang memeriksa laporan dari para karyawan segera melihat apa yang ditunjuk Brio. "Untuk apa dia keluar?"
"Aku tidak tahu," balas Brio sambil menyernyitkan alisnya. "Ris, kamu tunggu disini dan aku akan mencari Ayla." Tanpa dijawab, Brio langsung pergi keluar mencari Ayla.
Sedangkan Ayla baru sampai diluar pintu utama kafe, dia mengadahkan pandangannya ke atas mencari tempat letaknya cctv. Karena cctv diletakan dimana-mana, terpaksa Ayla berjalan sambil memainkan ponselnya sambil menunggu taksi.
"Pengaruh obatnya tinggal 10 menit lagi, aku harus cepat memanggil taksi," gumam Ayla. Nampak wajahnya menjadi cemas seketika. Dia tidak ingin dua kali rencananya gagal.
Brio terus memantau tindak-tanduk Ayla tanpa sedikitpun berniat untuk menghampirinya ataupun menegurnya. Dia mengikuti saran asistennya itu.
Di dalam kafe.
March hendak beranjak dari mejanya, tiba-tiba dia merasakan pusing dan mengantuk, namun dia masih dalam keadaan setengah sadar.
Tak lama datanglah seseorang menggandengnya, yang tak lain adalah supir taksi yang sudah Ayla bayar mahal.
Pluk...
March tertidur dan orang itu memapahnya untuk masuk ke mobilnya.
Yaris pun segera memfoto dan mengirimkannya pada Brio.
Brio yang masih sedang mengamati gerak-gerik Ayla, berpikir keras dengan apa yang sedang Ayla lakukan. Tak lama ponselnya bergetar dan itu pesan dari Yaris. Brio makin penasaran saja dengan rencana Ayla.
Ayla dan March, mereka berdua naik mobil yang sama. Mereka melaju cepat menuju kawasan yang agak sepi.
Hati siapa yang tidak sakit melihat semua kejadian ini? Meski ikatannya hasil dari kesalahpahaman tapi dalam dirinya sudah ada rasa. Brio cemburu melihatnya.
Niatnya pergi ke kafe untuk mengambil poster, namun setelah sampai di kafe melihat istrinya makan dengan monster.
Huh! Mungkin inilah definisi sakit tidak berdarah itu. Seketika darah Brio mendidih saat tahu kemana arah mobil itu melaju.
"Ayla apa yang sedang kamu lakukan?" geramnya sambil terus mengikutinya. "Aku tidak akan memaafkanmu jika sampai kamu menyelingkuhiku. Susah-susah aku memohon pada Ayah untuk mengadakan kompetisi itu lagi dan ternyata kamu .... Ahh, Awas saja dan lihat apa yang akan kulakukan padamu!" monolognya.
Flashback.
Permintaannya malam itu pada Yaris baru siang ini dikonfirmasi oleh Ayahnya yang berada di Belgia. Ia sedang mengurus urusan bisnisnya bersama istrinya, bunda Brio.
Dengan susah payah Brio memintanya.
"Ayah, kumohon. Tolong adakan kompetisi itu lagi di perusahaan, Yah," pintanya memelas.
"Tidak bisa. Ayah sedang diluar negri,"
"Yah, biarkan Yaris yang mengurusnya. Aku mohon. Tolong bantu aku, tolonglah untuk kali ini saja, ya!"
"Kamu memohonnya dengan sangat? Jangan-jangan itu untuk pacarmu, ya?" Ayahnya ini bukannya mengizinkan malah menggoda putra sulungnya itu.
"Yah, tolong!" lirihnya lagi.
__ADS_1
"Tidak. Bukankah kamu bilang akan usaha sendiri. Kenapa minta ke Ayah? Ayah tidak mau membantu," tegasnya.
"Yah, kali ini saja. Lain kali aku tidak akan meminta bantuan Ayah lagi untuk urusan semudah ini. Jika saja aku tidak membutuhkan kata 'ya' dari Ayah, aku tidak akan memohon sampai sebegininya."
"Baiklah tapi kenalkan dulu pada Ayah siapa wanita itu?"
"Emh, soal itu aku bisa atur nanti, Yah."
"Mengapa tidak sekarang-sekarang?" kekeh Ayahnya.
"Ah, Ayah. Aku masih harus mengungkap satu kebenaran lagi. Ayah, tolonglah jangan persulit!" rengeknya seperti anak kecil.
"Baiklah, Ayah akan menelpon Yaris. Kamu begitu saja sudah seperti cacing kepanasan. Padahal kamu bisa langsung saja bawa keperusahaan."
"Tidak, Yah. Kan Ayah tahu aku sedang menyamar."
"Hah, memang anak muda selalu saja begitu. Ya sudah, Ayah dan Bundamu sedang bekerja."
"Terima kasih, Ayah!"
Flashback off
Sedangkan didalam mobilnya, Ayla terus memperhatikan jalan mencari tempat yang amat sepi. Setelah dirasa dia menemukan tempat dengan kriteria yang dia inginkan,
"Pak, berhenti disini saja."
"Oh, ya, Neng."
Tak jauh dari sana, Brio terus memantau Ayla dan March. Sesekali dia mengepalkan tangannya dan memukulkannya pada kepala motor.
"Mau apa mereka? Berhenti di tempat sepi.." monolognya.
Ayla melirik kekanan dan kekirinya, tidak ada siapa siapa. Tanpa ragu dia langsung menurunkan March disana. Laki-laki itu dibiarkan terkapar di trotoar jalanan.
"March, segala sesuatu itu pasti ada balasannya dan ini adalah balasanmu karena sudah membuat Brio mabuk dan menghancurkan hidupku. Maaf, March." Ayla langsung pergi meninggalkan March sendiri.
Biarlah, biar dia merasakan apa yang pernah dia buat, pikir Ayla.
Mata Brio membulat tidak percaya melihat kenyataan dihadapannya. Ayla pergi setelah menggelatakkan March, begitu saja? Apa yang sebenarnya gadis itu mau?
Brio segera menyalakan mesin vespa-nya. Mengejar Ayla yang sedang berjalan.
"Naik!" titahnya saat dia berada disamping Ayla.
"Brio? Kenapa kamu ada disini?"
"Naik! Atau kamu memang ingin diketahui orang sebagai penelantar laki-laki?"
Dengan wajah masam dan tidak enak dilihat, Ayla naik ke motornya. Setelah itu Brio langsung men-starter-nya dan pergi ke daerah yang lebih aman.
Dalam perjalanan tampak keduanya asik dengan lamunannya.
__ADS_1
"Mengapa dia bisa ada disini? Apa dia mengikutiku?" batin Ayla. Dia takut sakit hati lagi dengan hinaan yang Brio lontarkan kepadanya seperti tempo lalu.
"Jadi, selama ini dia tidak selingkuh? Dia tidak mendekatinya karena uang? Tapi, Apa? Apa motifnya melakukan itu semua? Apa dia tau orang yang membuatku mabuk sampai harus menikahinya?" monolognya.
Brio melihat taman yang indah dengan hiasan air mancur, di tengahnya terdapat lampu yang berwarna warni menambah aksen cantik pada air mancur tersebut.
Brio menghentikan motornya. Dan dia segera turun dari motor itu diikuti oleh Ayla.
Brio menarik tangan Ayla dan mengajaknya duduk. Menikmati air mancur yang indah itu. Keduanya terdiam, Brio bingung harus dari mana dia memulai pembicaraannya.
"Ay, mengapa kamu menelantarkan March?"
"Bukan urusanmu." Ayla sudah tidak ingin menjelaskannya lagi. Baginya percuma, Brio pasti tidak akan mempercayainya.
"Ay, maafkan aku. Malam itu aku tersulut emosiku. Jadi, aku marah-marah padamu. Maafkan aku," sesalnya. Sekilas bayangan malam itu teringat kembali lagi. Betapa bodohnya dia menuduh Ayla yang tidak-tidak.
"Ay, bolehkah aku tahu apa alasanmu melakukan ini semua?"
"Brio, ini semua urusanku bukan urusanmu. Jangan urusi urusan orang lain dan urus saja urusanmu sendiri!" Ayla hendak beranjak.
"Ayla!" Brio mencekal tangan Ayla, dan Ayla menghunuskan tatapannya tajam. "Oke, oke. Aku minta maaf," ucapnya seraya melepaskan tangan Ayla dan mengangkat kedua tangannya ke atas.
"Tapi bisakah kamu tidak melakukan hal yang berbahaya bagimu? Kamu tau sendiri, 'kan? March itu bukan orang biasa dan dia bisa melakukan apapun."
"Ya. Dia bukan orang biasa. Aku tahu. Tapi dia tidak bisa menghancurkan hidup seseorang begitu saja. Kamu tahu? Kamu di buat mabuk olehnya," ujar Ayla.
"Jadi, dia mengetahuinya? Dia tahu aku dibuat mabuk oleh March. Dan dia membalaskannya demiku?" batin Brio senang.
"Dan karena itu aku bisa menikah denganmu. Dia menghancurkan hidupku dengan menghadirkanmu," tegas Ayla.
Tatapan Brio berubah menjadi sendu. Inikah rasanya dijatuhkan dari atas ketinggian. Sakit sekali!
"Jadi, kamu menyesal menikah denganku?"
"Siapa yang tidak menyesal, Brio? Karenamu mimpiku hilang, hidupku menjadi suram. Susah!" keluh Ayla. Air matanya menggenang. "Ternyata firasatku benar, kamu hanya menyusahkan hidupku dan mengganggu mimpiku. Aku sangat menyesal menikah denganmu," Ayla memundurkan langkahnya dan hendak pergi. Namun, Brio kembali menahannya.
"Akan kuperbaiki semuanya. Maafkan aku," lirihnya dengan nada yang paling lemah.
CNP
Continue in my Next Post
...Hai semuanya. ...
...Feedbacknya nanti malam. Maaf aku kemarin sibuk jadi gak sempet bales. ...
...Up sehari duanya mulai dari besok. Insyaallah yaa.. ...
...Thankyou!😂...
...Yang ngasih kopi bunga vote lainnya tencuuu... Love 😍 ...
__ADS_1