The Couple Of MissKin-g

The Couple Of MissKin-g
U'll Never Walk Alone, Again!


__ADS_3

Tepat pukul 10.00 pagi.


Sebagian orang masih berkumpul didepan mading. Mereka masih penasaran dengan apa yang akan terjadi di pukul sepuluh ini.


Speaker yang berada di atas mading itu pun menyala sesuai dengan yang diatur oleh Agya dan March.


Rekaman audio yang berdurasi 30 detik itu memutar dengan sendirinya.


Terdengar jelas suara Ibu kontrakan yang mengatakan bahwa Ayla dan Brio memang sudah menikah. Bahkan ia pun adalah salah satu orang yang melihat bukti nyatanya. Yaitu buku pernikahan.


Semua para mahasiswa kembali riuh karena terkejut dengan fakta kedua yang baru saja mereka dengarkan.


Bahkan Leva pun mendadak percaya dengan hot issue itu, setelah mendengar suara tak asing milik Ibu kontrakan.


"Jadi benar Ayla sudah menikah dan pria yang dinikahinya adalah orang itu?" ucapnya sambil mengingat Brio yang dulu pernah mengenalkan dirinya sebagai fans Ayla.


Sedangkan Ayla yang berjalan mendekati kerumunan di depan mading pun mendengar dengan jelas suara Ibu kontrakan yang terhormat baginya itu.


Mendadak tubuh Ayla bergetar. Rasa takut dalam dirinya kini menyelimuti. Rahasia besar yang ia tutup-tutupi akhirnya terbongkar dan entah oleh siapa.


"Nah, ini orangnya. Pantas saja dia ditinggalkan oleh Jimny. Ternyata benar-benar murahan," celetuk orang yang merasa dirinya tidak memiliki dosa.


"Apa benar kamu sudah menikah dengan Brio? Hah, matrealistis rendahan!" celetuk yang satunya lagi.


"Aku tadinya tidak percaya. Tapi melihat wajahnya saja aku yakin dia memang gampangan. Sana sini mau. Yang kaya yang miskin jadi targetnya," ujar teman-teman yang lainnya.


Air mata Ayla mulai menggenang. Olokan-olokan teman-temannya itu benar-benar menusuk hatinya.


Apa mereka bilang? Ayla pantas di tinggalkan Jimny? Jimnylah yang pantas ditinggalkan olehnya? Mereka semua tidak tahu itu.


"Apa yang kalian bilang? Aku tidak seperti yang kalian katakan!" bentak Ayla.


"Diam kamu!" Agya mulai melemparinya dengan tomat busuk. Beruntung Ayla sempat menghindar.


"Ayo teman-teman, lempari saja dia! Dia tidak pantas untuk berada dikampus ini. Kampus ini tercemar oleh sifat buruknya itu.." Mereka pun dengan ganas melempari Ayla dengan tomat dan telur busuk.


"Hai, apa yang kalian lakukan?" Brio dengan sigap memeluk Ayla sebelum tomat dan telur busuk itu mengenainya.


"Ayo lanjutkan mumpung sekarang ada suaminya," seru Agya memperburuk keadaan.


"Diaaaam!" Leva berteriak mengalahkan suara loundspeaker. Tampak semuanya diam tak lagi mencemooh juga melempari.


"Harusnya kalian tanyakan dulu pada orangnya, benar atau tidak berita itu!" teriaknya lagi.


"Untuk apa kami bertanya lagi. Toh, sudah jelas Ayla memang sudah menikah." Dengan pongahnya Agya mengatakan hal itu.


"Benar itu sudah ada buktinya," seru salah satu mahasiswa yang juga ada di kubu Agya.


"Ayo kita lempari lagi!"

__ADS_1


"Tunggu!" Ayla memberanikan diri keluar dari dekapan Brio.


"Memang aku sudah menikah dengannya. Lalu apa urusannya dengan kalian? Kami tidak melanggar norma apapun apalagi norma agama, kami juga tidak merepotkan kalian," ucap Ayla dengan berani. Sungguh hati Brio kini menghangat. Ayla mengakuinya sebagai suami.


"Tuh 'kan, dia saja mengakui jika dirinya sudah menikah. Berarti benar, Jimny keluar dari negara ini karena wanita ini," kata Agya dengan tegas.


"Aku tidak boleh gagal membantu March, karena dengan ini dia akan luluh padaku," batin Agya.


"Benar itu. Lihat! Sekarang dia diam saja, dia tidak menyangkalnya sama sekali. Berarti memang dia penyebab Jimny ke India. Ayo lempari lagi!" timpal seseorang yang sudah siap dengan telur busuknya.


"Ay, awas!" Brio menghadanginya lagi. Dia tidak ingin Ayla terkena telur busuk itu.


Leva segera berlari meminta bantuan ke pihak kampus untuk membubarkan kerumunan itu. Dia juga segera mencabut kertas-kertas yang berisi ejekan-ejekan itu.


Lima belas menit berlangsung, semuanya berhasil dibubarkan. Meski di antaranya masih ada yang tidak mau menerima keputusan pihak kampus, tetapi tetap mereka membubarkan diri.


Leva sebenarnya ingin bertanya pada Ayla namun dia urungkan, waktunya kurang tepat untuknya menyinggung kembali masalah Ayla yang sudah menikah.


Brio yang sudah berbau busuk juga amis segera pergi ke toilet membersihkan dirinya. Dan sebelum itu ia menitipkan Ayla pada Leva.


"Ay, sudah jangan menangis lagi! Aku yakin kamu bisa lewati hari-hari seperti ini. Aku yakin kamu kuat," lirih Leva sambil sesekali menepuk-nepuk bahunya.


"Iya, terima kasih, Leva! Aku hanya kaget saja mereka semua antusias dengan beritaku yang sudah menikah," jawab Ayla. Terbitlah diwajahnya senyuman yang mampu mengiris hati.


"Lev, bisakah aku meminta bantuanmu?"


"Apa, Ayla?"


"Tolong, ya! Aku harus mengurusnya dulu," pintanya lagi.


"Iya, tidak apa-apa. Kamu jangan kemana-mana. Tetap dekat dengan Brio, ya!" cemas Leva. Ayla pun hanya mengangguk pelan mengiyakan saran Leva.


Setelah Leva pergi. Satu tetes air mata kembali turun.


"Aku tidak boleh lemah," ucapnya sambil menyeka air matanya. "Meski aku miskin tapi aku tidak boleh menyerah begitu saja." Ayla pun mulai melangkahkan kakinya. Pelan tapi pasti dia berjalan menuju ke toilet pria.


Orang-orang pun kembali menggunjinginya. Terlihat mereka belum puas dengan olokan-olokan yang mereka berikan pada Ayla.


Ayla terus berjalan sambil menunduk, dia tidak ingin melihat orang yang menghinanya juga tidak ingin mendengar orang berkata apa.


Tiba-tiba saja ada sekelompok orang yang dengan sengaja menabraknya.


Bruk... Ayla tersungkur jatuh. Satu orang menarik tasnya. Mengeluarkan semua benda yang ada di tasnya tersebut.


"Huh, dasar wanita murahan! Tidur sana sini. Bahkan si culun, cupu saja dia embat. Itu yang miskin lho.. Haha.." hina teman-temannya sambil menginjak buku-buku Ayla yang tergeletak itu.


"Awas! Mulai saat ini jaga pacar kalian masing-masing. Dia itu gila uang. Dia akan menggunakan kecantikannya demi menjerat semua orang," timpalnya lagi.


Ayla memilih diam dan mengambil buku-buku itu tanpa berniat membalas hinaan yang di lontarkan kepadanya.

__ADS_1


"Orang miskin seperti kamu itu seharusnya sudah enyah dari kampus ini. Mengerti? Kamu itu hanya mencoreng nama baik kampus kita dengan menghalalkan segala cara demi hidupmu itu." Dia menendang buku-buku itu jauh.


"Iya, karena dia juga Jimny kita memilih pergi dari sini," celetuk salah satu temannya.


Lagi-lagi Ayla hanya memilih diam. Bukan dia tidak ingin melainkan dia tak mampu untuk melawan semua orang. Sekarang dirinya tak punya sandaran yang cukup uang untuk mengadukannya ke pihak yang berwajib.


"Hahaha, ayo kita tinggalkan saja pela**r ini." Mereka meninggalkan Ayla sendiri yang sedang memunguti bukunya.


Ayla bangkit setelah buku-buku itu terkumpul ditangannya. Dari arah belakang Brio langsung mencekal lengannya.


"Kenapa kamu tidak memarahinya?" Jujur saja, Brio yang tadi sempat mendengar sedikit hinaan yang mereka katakan, ia sudah mengepalkan tangannya. Menahan rasa sakit bergemuruh di dadanya. Dia tidak suka Ayla dihina seperti itu.


"Lalu aku harus apa? Aku harus membalas hinaan mereka?" tanyanya.


"Kita miskin Brio, kita tidak sanggup melawan mereka. Lagi pula semua orang juga bisa berpendapat 'kan? Yang terpenting aku tidak seperti apa yang mereka bilang. Kamu percaya 'kan sama aku?" tanya Ayla dan Brio pun mengangguk.


"Itu sudah cukup untukku?" Perempuan yang ada dihadapannya itu masih bisa tersenyum setelah dihina dengan kata-kata kasar.


Brio tak sanggup melihat senyum kepalsuan yang terbit di wajahnya. Dia menarik tangan Ayla, membawanya ke tempat favorit Ayla.


Setelah sampai di rooftop kampus, ia tak lagi memperdulikan dimana kini dirinya berada. Dia membawa Ayla ke dalam dekapannya, dekapan yang cukup erat.


"Aku tahu kamu sedih, aku tahu kamu juga ingin membalas semua perbuatan mereka. Tapi kamu tidak bisa karena kamu lebih mementingkan pendidikan kamu disini, iya 'kan?"


Ayla menangis dalam diam, yang dikatakan oleh Brio ada benarnya. Dia ingin mereka tak menghinanya lagi. Dia juga ingin membuktikan bahwa dirinya tak semudah itu untuk dihina.


Ayla menyembunyikan dirinya didada sang suami lalu dia eratkan pelukan itu.


Menangis tersedu membasahi pakaian Brio.


"Menangislah Ayla, sekencang dan sekeras yang kamu bisa! Dan ingat you will never walk alone, again!"


Ayla menambah volume tangisannya. Setelah Brio memberikan sinyal untuknya menangis. Yang sekarang dia butuhkan hanya menangis dan dekapan orang yang paling dia cintai.


Tanpa sadar Brio pun juga ikut menangis. Ini juga salahnya. Ingin sekali dia membongkar siapa dia sebenarnya. Namun ia takut waktu ini bukanlah waktu yang tepat. Sekali lagi dia hanya bisa menahan dan menunggu waktu itu.


CNP


Continue in my Next post


*Wo bu xihuan ni.. // aku tidak menyukaimu.


*U'll never walk alone, again // Kamu tidak akan berjalan sendiri lagi. Tenang! Tenang! aku gandeng kamu kayak Truk dyna 😂😂😂😂


Favoritin dong...


Please please please...


Vote dan hadiah jangan lupa hihi... 😂😂

__ADS_1


Besok hari senin, gess..


Jangan didiemin mubazir nantinya 😂😂


__ADS_2