
Matahari pagi sudah berjalan menaiki singgasananya. Menyoroti jendela-jendela kamar Ayla. Akan tetapi, meski sinarnya sudah menusuk sang empunya kamar, dia tetap diam di tempat. Tak bergerak hanya bernafas saja. Dirinya memang sudah ada dirumah, namun hatinya menyangkut di Brio.
Air mata tak berhenti bercucur.
Dari semalam, dari saat dirinya baru tiba dan menceritakan Brio yang pembohong pada kedua orangtuanya, Xenia dan Rocky. Dia tidak bisa memejamkan matanya meski hanya seperempat jam sekalipun.
Tak dapat di pungkiri, Ayla memang sangat takut menerima kenyataan jika dijari Avanza kini sudah terlingkar sebuah cincin.
Membayangkannya saja sudah membuat hati sesak. Apalagi sampai mendengar beritanya. Untuk itu dia matikan ponselnya. Mengingat mereka adalah bukan orang ecek-ecek, pasti momen itu akan diabadikan oleh sekawanan pers.
Diusap lagi air mata yang jatuh pada hidung mancungnya. Cairan di hidungnya pun seolah tertarik saat dirinya berusaha menahan air mata.
"Nak..." Sang ibu turut prihatin melihat kondisi putrinya. "Mata kamu sembab, lho. Kalau menangis terus. Ayo, bangun yuk! Mandi terus kita ke kebun," ajak Xenia.
"Bu, aku ingin bercerai..." lirih Ayla. Di pelupuk matanya kembali menggenang air bening.
"Nak.." Xenia mendudukan dirinya disebelah Ayla. Mengelus pelan rambut Ayla. "Ibu tahu kamu kecewa, Ibu juga. Tapi, Ibu rasa Brio memiliki alasan lain, mengapa dia sampai berbohong seperti itu. Ibu yakin dia tidak seperti yang kamu pikirkan," ucapnya pelan tapi pasti.
"Tapi, Bu..."
"Nak." Xenia duduk disebelahnya, seraya mengusap pelan kaki Ayla, "Masalah itu harus di selesaikan. Bukan di sembunyikan, di biarkan ataupun di larikan. Kamu mempunyai masalah dengan Brio, diskusilah dengan baik-baik, tanya dia dengan baik-baik. Bukannya kabur seperti ini. Ibu tahu kamu sakit hati. Tapi, hubungan suami istri itu beda, Nak. Seharusnya Ibu usir kamu kalau kamu kesini saat hubungan kalian sedang renggang. Bukan ibu tidak menyayangimu, tapi karena kamu bukan tanggung jawab Ibu sama Bapak lagi." Tampak wajah Ayla menjadi lebih sedih. Mungkin bukan ini yang dia inginkan. Tapi sesekali ia pun harus mengerti, bukan?
"Nak, anak tetaplah anak. Pintu rumah ini terbuka lebar untukmu tapi tidak saat kamu mempunyai masalah dengan suamimu. Maafkan Ibu kalau perkataan ini tidak bisa melegakan hatimu. Tapi begitulah peraturannya. Tapi meski begitu Ibu dan Bapak akan selalu ada bersamamu." Xenia sedikit meremas kaki putrinya. Membawanya sadar kembali bahwa dia tidak sendiri.
"Ya sudah. Pergi mandi lalu kita pergi ke kebun."
Melihat anaknya pergi dengan langkah gontai, membuat hati Xenia teriris. Dia memang tidak merasakan apa yang Ayla rasakan. Tapi dapat di pastikan hal itu sangat menyakitkan.
Dia tidak bisa menghakimi menantunya dengan kata, "Oh, iya. Ini salah kamu." Tidak! Xenia mesti mendengar pembelaan dari Brio. Dia juga tidak bisa memanjakan putrinya saja, sebab saat ini dia sudah mempunyai suami. Mempunyai tanggung jawab lain.
Lain dirumah Ayla, lain pula dirumah Brian.
Suasana tidak bersahabat sedari pagi mereka rasakan. Brian datang dengan wajah yang kusut dan tidak bersemangat. Mata panda pun melingkar dengan jelas di sekitar matanya.
"Nak, kamu makan dulu, ya!" City mengajaknya, namun Brian menggeleng.
"Aku ingin bertemu dengan Ayah."
Ya, pagi-pagi sekali dia pulang ke rumahnya. Hanya untuk meminta Ayahnya membantu melacak keberadaan Ayla.
"Nak, kamu mau meminta bantuan Ayahmu untuk melacak gadis itu?" terka City. Brian meliriknya sekilas lalu mengalihkan pandangannya ke objek lain.
"Nak, lebih baik kamu jangan cari wanita itu. Bunda yakin kalau dia bukan wanita baik-baik." Brio menatap sang Bunda dengan tatapan tidak suka. Mengapa dia bisa mengatakan Ayla bukan wanita baik-baik?
"Kalau dia wanita baik-baik dia pasti akan mengunci apartemennya dengan rapat. Coba kamu pikir kembali, dia tidak mengunci pintunya mungkin saja dia sedang menunggu mangsanya lalu setelah terperangkap dia telpon kedua orang tuanya dan meminta paksa kamu untuk menikahinya," ucap City memberikan pendapat lain.
__ADS_1
"Bund, Bunda tahu 'kan kalau tuduhan tanpa mendasar itu fitnah? Tidak mungkin Ayla dan kedua orang tuanya seperti itu. Lagi pula untuk apa menjebakku apalagi setelah aku mengatakan kalau kita berasal dari keluarga miskin."
"Halah, itu triknya gadis itu, Brian," ucap Serena menimpali percakapan antara anak dan ibunya. Sedari tadi dia memang mendengarkan percakapan mereka.
"Dia dan keluarganya pasti sudah tahu kalau kamu bukan orang biasa," ucap Serena lagi memanasi.
"Tante, dari mana dia tahu kalau aku bukan orang biasa? Sedangkan aku, kalian juga tahu 'kan aku jarang pulang?"
"Memang, kamu jarang pulang tapi kamu tinggal apartemen mewah. Siapapun akan tahu siapa kamu?" jawabnya lagi dengan ketus.
"Tante, bisa tidak jangan memprovokasi? Selama ini aku yang hidup bersamanya. Suka duka kita lewati bersama. Tinggal di kontrakan kumuh, dia tidak masalah. Bekerja, dia lakoni. Tanpa mengeluh sedikitpun," papar Brian membela apa yang menurutnya benar.
"Kamu ini, ya. Ayah dan Bundamu pintar tapi kok kamu IQ-nya rendah sekali. Kamu tahu gadis itu di cap sebagai wanita termatrealistis di kampus kamu," kata Serena dengan sangat jelas. City yang mendengarnya mendongkak kaget. Begitu juga sama dengan Brian, dia memang tahu rumor itu, tapi mengapa rumor itu sampai bocor ke keluarganya?
"Apa Mbak bilang?" Dahi City mengkerut menyatu.
"Iya, dia wanita matre, City. Dia ingin meraup keuntungan dengan kesalahpahamannya itu. Dia akan bersabar memakan mangsanya sampai dia benar-benar melahap habis," sarkas Serena.
"Tante!" bentak Brian yang tak terima istrinya di hina.
"Brian? Kamu ingin membelanya? Kamu akan terus memujanya sampai dia benar-benar menunjukan taringnya?" Kali ini City yang memarahinya. "Bunda tidak habis pikir kamu masih membelanya setelah mendengar ini." City mengusap keningnya yang terasa pusing.
"Wajar saja dia membelanya, City. Mungkin anakmu ini sudah di guna-guna. Sampai-sampai dia berani melawanmu yang sebagai ibunya. Aku dengar dia juga berasal dari kampung. Tentu salah satu dari mereka, pasti ada yang bisa ilmu hitam," ucap Serena lagi semakin memanasi keadaan.
"Aku akan buktikan pada kalian semua bahwa gadis yang aku pilih adalah gadis yang terbaik untukku. Sekarang aku butuh bicara dengan Ayah. Aku pergi dulu, Bund. Aku tidak ingin mendebat orang yang tidak sehat," ucap Brian sembari melotot pada Serena.
Seharusnya Serena tidak bicara yang tidak-tidak seperti itu perihal istrinya. Apalagi dia tidak tahu bagaimana latar belakang Ayla. Brio yakin istrinya tak serendah itu untuk mencari uang. Dia akui memang Ayla matrealistis tapi pada akhirnya dia tahu alasannya, mengapa dia berbuat seperti itu.
City diam terpaku. Kepalanya pening, telinganya berdengung. Hatinya sakit saat putranya bersikap seperti itu. Bagaimana jika yang dipikirkannya dan yang dikatakan oleh Serena memang benar?
Ayla hadir untuk memperalat anaknya, mengambil semua yang dia miliki.
Tidak, tidak! Sebelum semua itu terjadi, dia harus lakukan sesuatu?
Melihat City yang termenung, diam-diam Serena tertawa dalam hati. Rencananya membuat pikiran City gusar pun berhasil.
Untung dia sedikit mendapat informasi dari Avanza tentang wanita pemecah cangkir. Dengan begitu dia dapat merangkai kata untuk membuat City percaya bahwa Ayla bukan wanita baik-baik.
***
Brian datang ke ruang kerja Ayahnya. Tampak Ayahnya yang sibuk memasukan dokumen ini dan itu kedalam tasnya.
Dengan lirih dia berseru, "Yah, bolehkan aku meminta bantuanmu?"
"Kali ini bantuan apa lagi? Jika mencari wanita itu Ayah tidak mau."
__ADS_1
"Dia menantu, Ayah. Dia istriku."
"Aku tidak pernah menikahkanmu," ucapnya sambil menatap Brian.
"Aku berpura-pura miskin dan cupu demi mendapatkan pendamping hidup yang setia dan tidak memandang harta. Pendamping yang sesuai dengan kriteria yang kalian inginkan. Tapi saat aku mendapatkannya, kalian malah tidak menerimanya. Menyambutnya saja tidak," lirih Brian. Matanya memerah dan air menggenang.
Mendengarnya, hati Jazz terketuk untuk tidak mensarkasnya lagi.
"Kenapa kamu tidak mengenalkannya dulu pada, Ayah? Biar Ayah cari tahu orang seperti apa dia dan juga keluarganya?" ucap sang Ayah dengan lembut.
"Dia berasal dari keluarga yang tidak mampu. Tapi mereka baik, Yah. Mereka menerimaku dengan baik, tidak seperti kalian terhadap istriku. Aku tidak langsung mengenalkannya saat itu karena aku bimbang. Awalnya aku juga ingin menceraikannya setelah wisuda. Tapi, semakin hari rasa cintaku kian tumbuh. Aku perhatikan dia bukan gadis yang mereka-mereka isukan. Hatiku tergerak ingin melindunginya, membahagiakannya. Dia berbeda, Yah."
Mendengar curahan hati anaknya, Jazz sangat yakin kalau putranya sangat mencintai istrinya. Hatinya pun ikut luluh, apalagi saat dia menceritakan keseharian mereka.
"Jadi, kamu pernah membuatnya gagal kompetisi gara-gara Avanza?"
"Iya. Aku tidak ingin mengatakan kalau Avanza bukan wanita baik. Dia baik, Yah. Tapi bukan untukku. Soal kompetisi itu aku memang bodoh tidak bisa melihat apa yang seharusnya aku lihat. Darinya aku belajar bahwa pernikahan itu bukan main-main."
"Nak, Ayah bangga. Kamu sudah menjadi pria dewasa."
"Jadi, Ayah ingin membantuku?"
"Tentu saja.. Ayah akan membantumu. Tapi untuk urusan Ibumu, Ayah tidak bisa membantu kalian. Dia baik tapi penuh perhitungan. Jadi, maafkan dia dan buatlah mereka percaya bahwa Ayla bukan gadis yang seperti mereka katakan."
Brian pun memeluk Ayahnya. Bukan karena lebay ataupun kekanakan. Hanya saja dia begitu terharu menemukan seseorang yang bisa menerima Ayla.
Tanpa berlama-lama lagi, Brian melacak keberadaan kekasih halalnya.
CNP
Continue in my Next Post!
...Hai, dukung author lagi dong. Vote-nya sayang kalau tidak di pakai. Bunganya juga layu kalau gak di berikan. Apalagi kopi nanti dingin kalau gak di suguhkan 😂😂...
...Kursi juga boleh biar othor nyaman. 😜...
...Haha. Banyak permintaan ya. ...
...Intinya aku sih, faforit, like, komen dan tolong share cerita ini ya......
...Untuk mendukung karyaku. ...
...Terima kasih.....
...#Patuhi5M...
__ADS_1