
Pagi-pagi dapur sudah mengebul, wajan sudah di kocek oleh spatula. Brio sedang memasak nasi goreng dengan bumbu instan yang mereka punya.
Niatnya memang sudah bagus pagi-pagi bangun dan menggoreng nasi tapi hasilnya tidak sebagus niatnya, nasi itu gosong dan berbau sangit.
Ayla bangun karena bau itu masuk menyeruak ke kamarnya. Dia endus-endus wangi sangit itu dan berjalan ke arah munculnya bau itu.
Dia membuka matanya dan tampak Brio yang sedang gelagapan memindahkan nasi itu ke piring.
"Brio, apa yang kamu lakukan?" Buru-buru Ayla matikan kompor itu. Dia memandang geram kearah Brio.
"Maaf!" ucap Brio dengan senyum yang dibuat-buatnya. Dia takut pagi ini akan terkena semprot oleh Ayla.
"Kalau kamu tidak bisa memasak, jangan masak! Kamu mau bakar rumah ini. Bisa beli saja tidak, malah mau membakar milik orang," kesalnya.
"Aku hanya ingin memasakan sesuatu untukmu. Dari kemarin aku tidak melihatmu makan. Tapi sepertinya nasi gorengnya tidak layak untuk dimakan. Bagaimana jika kita mencari sarapan bersama?"
Mendengar kata 'kemarin' membuat Ayla kembali teringat. Mendadak dia menjadi diam. Lalu berbalik ke kamarnya dan kembali dengan handuk.
Brio yang memang sudah siap, menunggu Ayla bersiap. Rencananya dia akan mengajak Ayla pergi bersama.
Tiga puluh menit kemudian, Ayla sudah siap untuk berangkat. Hari ini dia tidak menggunakan make up apapun. Toh, untuk apa? Mencari perhatian suaminya? Bu keneng, dirinya sudah kesal tingkat dewa pada suaminya itu.
"Ay, ayo kita berangkat bersama!"
Ayla hanya meliriknya tidak suka. Lalu dia berjalan tanpa sepatah katapun yang terucap.
Brio segera keluarkan vespa kuningnya dan mengejar Ayla.
"Ayo, naiklah!" pinta Brio.
Ayla diam dan terus berjalan, Brio mengikutinya dengan mengendarai motor secara pelan. Menyamakan dengan langkah kaki Ayla.
"Ay, aku ingin bicara padamu!"
"Ay, aku tahu aku salah. Aku ingin minta maaf padamu. Dan satu hal lagi aku akan memperbaiki semuanya?"
Kata 'memperbaiki semuanya' membuat Ayla berhenti, lalu dia menatap Brio.
"Gelas pecah jika disatukan tidak akan menjadi gelas lagi. Buku robek jika disatukan tetap tidak akan sempurna. Sebaik-baik apapun kamu memperbaikinya tetap akan terlihat cacat. Kamu tahu pribahasa itu 'kan? Sudahlah, Brio. Tidak perlu meminta maaf padaku. Atau kamu lakukan ini semua demi untuk mendapatkan Avanza lagi? Maaf, aku sudah tidak bisa. Dan ya, jangan memintaku untuk menaiki motormu dan berangkat bersama. Aku tidak ingin ada kesalahpahaman antara aku dan Avanza." Ayla langsung memberhentikan angkutan umum setelah mengatakan semua itu.
Brio sedikit kesal saat Ayla menyebutkan nama wanita itu. Tapi, mau bagaimana lagi dia mengakui dirinya yang sudah salah.
Akhirnya dia pergi mengikuti angkutan umum yang dinaiki Ayla.
__ADS_1
***
Siang hari, Brio sudah memesan makanan melalui ojek online. Dia membeli hamburger dan berharap Ayla menyukainya.
Di jam istirahat Ayla dan Leva sedang berbincang. Awalnya Leva mengajaknya untuk makan di kantin tapi Ayla menolak dan mengatakan, "Kamu saja. Aku tidak lapar." Sebagai teman yang baik, dia tidak ingin meninggalkannya sendiri disana.
Akhirnya Leva menanyakan sesuatu yang memang sejak kemarin menjadi pertanyaan yang gentayangan di kepalanya.
"Ayla, boleh tidak aku menanyakan sesuatu perihal kompetisi itu?"
"Kamu pasti akan bertanya, mengapa aku mengundurkan diri secara sepihak, bukan?" Leva pun mengangguk cepat. Dan Ayla mengatakan semuanya, baik itu yang dimulai dari huruf A sampai Z pun tidak ada yang ditutup-tutupinya.
"Jadi, pacar kamu itu yang menyebabkan ini semua? Kenapa kamu menurut sih, Ay? Dia hanya pacar. Seharusnya kamu tidak mengubur mimpimu yang sudah ada didepan mata itu," sungut Levante. Tangannya pun sudah mengepal dan satu tangan lagi menerima kepalan itu. Sungguh dia kesal dengan laki-laki yang egois seperti pacar Ayla.
"Duh, aku salah mengatakan kalau Brio pacarku, mungkin jika jujur aku tidak akan kebingungan mencari alasan lagi. Tidak mungkin 'kan kalau aku bilang dia mengharamkan langkahku? Mana percaya dia?" batin Ayla menyesali.
"Ay, kemarin saat kamu ada di rooftop, ada seorang laki-laki yang mengaku sebagai fans-mu."
"Fans?"
"Iya..."
"Ayla," cicit Brio yang datang tiba-tiba, keduanya menoleh. "Aku kesini ingin memberimu ini.." Dia sodorkan bungkusan berisi hamburger itu. "Aku tahu kamu belum makan sedari kemarin. Makanlah!"
"Leva! Bukankah tadi kamu bilang kamu akan mentraktirku di kantin?" ucapnya sambil menekan kata 'kantin' dan mencubit paha Leva agar orang itu mengerti.
Sedangkan Brio, duduk lemas di bangku yang sering Ayla duduki.
"Tidak apa, Ayla. Aku akan terus mengganggumu sampai tidak sedetikpun kamu bisa melupakanku," ujar Brio sungguh-sungguh.
Di kantin.
Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk makan. Sayang, bukan? Sudah jauh-jauh mereka ke kantin kalau tidak jadi makan juga. Segera Ayla memesan dua mangkuk bakso sekaligus dam ekstra cabai yang menggelegar.
Dirinya amat lapar, amat sangat lapar. Dari kemarin, pagi ini, dan siang baru bertemu dengan makanan. Ahh, cacingnya bukan hanya sudah berdisco saja akan tetapi mereka sudah mengikat perut mereka dengan tali yang cukup kuat di bagian pinggangnya. Agar mereka tidak berperang meminta makan.
"Ayla, laki-laki itu..."
"Tidak tahu," ucap Ayla memotong dengan sangat cepat.
"Weh, aku belum selesai bicara. Laki-laki tadi itu yang kemarin mengaku sebagai fans-mu."
Uhuk, uhuk, uhuk!
__ADS_1
Ayla tersedak kuah bakso. Pedasnya cabai memperparah sakitnya. Segera Levante mengambilkan es jeruk yang berada disebrangnya.
"Kamu ini, hati-hati!" Dia ambilkan tisu.
"Apa yang tadi kamu katakan, Lev?"
"Dia mengaku sebagai fans-mu. Aneh, bukan? Jika dia fans-mu, kenapa kita baru melihatnya?"
"Oh, ala. Aku sudah sering bertemu dengannya sampai bosan," batin Ayla menggerutu.
"Tidak apa-apa. Jangan pikirkan yang macam-macam. Sudah, ayo kita makan lagi baksonya." Ayla tidak ingin mengatakan apapun apalagi soal dirinya yang sudah menikah. Atau semua akan mencibirnya dengan kata-kata kasar lagi.
Saat pulang kuliah Brio menunggu Ayla di depan gerbang. Sengaja dia lakukan itu agar saat Ayla keluar dia melihatnya.
Lima belas menit kemudian, Ayla sudah berjalan keluar. Dan itu tidak disia-siakan oleh Brio, dia langsung mengejar.
"Ayo, ku antarkan pulang," ucap Brio dengan gigihnya.
"Tidak mau."
"Aku antarkan ke kafe."
"Tidak mau."
"Ay, ibumu menelpon padaku.."
"Tidak peduli."
"Ay, obati kakimu.."
"Bukan urusanmu."
"Ay.."
"Brio, sudahlah. Jangan mengikutiku lagi! Jangan seperti ini lagi kumohon! Jika kamu lakukan ini terus, kamu seperti tidak ada harganya. Dan ya, bukankah kamu akan membebaskanku? Fokus saja dengan semua itu. Kejar Avanza dengan semaumu. Jangan ganggu aku!" Ayla hendak melangkahkan kakinya, namun Brio mencengkram tangannya dengan sangat kuat.
"Ayla, naik."
"Tidak," ucapnya sambil meronta minta dilepaskan.
"Naik!" bentaknya. Dalam hatinya dia tidak ingin melakukan hal ini. Tapi jika itu bisa membuat Ayla sedikit menurut, kenapa tidak?
Dengan sangat terpaksa Ayla pun naik.
__ADS_1
CNP
Continue in my Next Post