The Couple Of MissKin-g

The Couple Of MissKin-g
Tekad Sudah Bulat


__ADS_3

Seminggu sudah berlalu.


Surat pengalihan itu sudah siap di tangan Baleno. Senyumnya menyeringai, tangannya menggoyangkan wine yang ada di cawannya. Dihadapannya ada wanita yang sedang menatapnya heran.


"Mengapa kamu terlihat aneh?" tanya Avanza. Wanita itu adalah Avanza, mereka sedang berada di apartemen milik Avanza.


"Aku sedang bahagia, Sayang," ucapnya sambil menatap lekat Avanza.


"Bahagia? Oh, ya. Apa yang kamu akan rencanakan dengan Livina. Kudengar kamu sudah baikan dengannya?" Avanza mulai cemberut dengan pertanyaan yang dia lontarkan.


"Oh, itu. Dengarlah!" Baleno menghampirinya dan mendudukan dirinya di sofa yang sedang Avanza duduki.


"Kamu jangan cemburu, Sayang! Aku hanya berpura-pura baik kepadanya. Supaya aku bisa masuk kerumahnya dan mencuri hak kami," ucapnya lagi sambil menyelipkan helaian rambut Avanza yang berada di samping.


"Hak? Yang pernah kamu katakan dulu padaku? Lalu kamu sudah mengambilnya?"


"Ya.."


"Hm, kalau begitu kamu ingin memberiku hadiah apa?" Satu alis Avanza menaik, senyumnya timbul. Tangannya mulai mengelus pipi Baleno.


"Kamu ingin apa?"


"Aku ingin Tesla."


"Malam ini dia akan menjadi milikmu, Sayang!" Baleno menarik Avanza dan lalu mencium bibirnya rakus. Setelah nafas keduanya habis, Baleno memberinya jeda. Lima menit kemudian dia melahap bibir Avanza lagi secara rakus melebihi yang pertama.


Kedua tangannya merengkuh tubuh Avanza seakan tidak ingin wanita itu terlepas darinya. Avanza dan Baleno makin menggila, kegiatan mereka sedikit memanas.


Bagi Avanza, sentuhan yang di berikan Baleno mengobati rindunya akan Baleno. Sentuhan itu selalu saja membuatnya bahagia sampai merasa terbang ke ujung langit. Selama dua bulan ini dia kehilangan cum*buan Baleno dan sekarang dia tidak ingin lagi. Dia memberi tanda di lehernya, tanda yang mengatakan jika Baleno hanya miliknya seorang.


"Sudah, sampai disini saja." Baleno mengakhiri permainannya, "Aku tidak ingin ada kesalahan lagi," imbuhnya lagi dengan nafas yang masih belum teratur.


"Benar, lagi pula aku sedang tidak bisa. Kamu ini selalu menggodaku," cebik Avanza kesal.


"Kamu yang selalu membuatku tak tahan, Sayang," ucapnya sambil menjawil lembut hidung Avanza.


"Ya, sudah kalau begitu aku pulang dulu. Tesla-mu malam ini akan datang, oke!" Baleno mengecup kening Avanza sebagai tanda perpisahan.

__ADS_1


***


Pamitnya pulang namun nyatanya tidak. Dia pergi ke tempat March berada. Sebuah klub besar yang sahabatnya itu manageri.


Niatnya datang untuk bercerita. Akan tetapi, jadinya dia yang menampung cerita March.


March bercerita tentang pertemuannya dengan Agya minggu lalu. Wanita itu mengancamnya, tapi entah apa yang membuatnya begitu berani mengancam seorang March.


"Sudahlah, jangan pikirkan dia! Aku datang kesini untuk merayakan keberhasilanku."


"Entahlah, aku hanya sedikit merasa takut dengan ancamannya itu," ucap March dengan lesu.


"Tenang saja. Aku akan selalu membantumu. Tak akan kubiarkan kamu menderita. Aku akan selesaikan masalahmu dengan Agya. Bagaimana?"


"Kalau begitu jangan dulu pulang sebelum kepala keleyengan, oke!" March mengangkat gelas yag di pegang.


"Cheers..."


Mereka menari di bawah bola lampu yang cukup besar itu. Diiringi lagu yang membuat siapa saja mau menggerakan tangan, kaki, kepala, dan tubuhnya.


Tanpa memikirkan masalah, tanpa merisaukan masa depan, mereka lupakan semua itu dan menari bersama wanita-wanita malam.


"Sudahlah, sebaiknya kamu pulang, Bal. Livina pasti menunggumu," jawab March sambil meneguk wine dari gelasnya. "Akan aku teleponkan seseorang untuk mengantarmu pulang." March memanggil sopirnya untuk mengantarkan Baleno pulang.


Bagi mereka cara seperti ini sangat ampuh untuk melupakan masalah yang berat. Padahal, jika diuji ulang mereka akan menimbulkan masalah yang lebih berat. Entahlah, pikiran Baleno dan March memang sangat pendek.


Sopir March pun benar-benar mengantarkannya ke depan apartemennya yang berada di Chanwell. Ya, kemarin Baleno mengajaknya pulang kesana. Ia tidak ingin di curigai oleh kedua mertuanya perihal hilangnya surat pengalihan itu.


"Baleno? Dia kenapa, Pak?"


"Dia mabuk, Nona. Dan saya di perintahkan untuk mengantarkannya kesini."


"Oh, baiklah. Bisa tolong papah dia ke sofa sana?" Dengan cepat sopir itu memapahnya ke sofa.


Dengan cekatan Livina langsung membuatkannya susu untuk mengurangi rasa pengarnya. Dia pun membawakan air hangat untuk menyeka tubuh suaminya yang lumayan lengket.


"Kenapa kamu mabuk-mabukan? Setahuku jika seseorang mabuk-mabukan itu pasti sedang mengalami masalah. Dan kamu sedang punya masalah apa?" ucapnya sambil menyodorkan segelas susu pada Baleno.

__ADS_1


"Heh, syuuut." Baleno menaruh jari telunjuknya di bibirnya sendiri. "Jangan berisik! Aku sedang bahagia."


"Bahagia? Kalau begitu minumlah dulu susu ini!"


"Tidak!" Baleno menggeleng-geleng layaknya anak kecil, "Aku tidak mau. Dengarkan saja aku. Akhirnya aku bisa bebas dari wanita hamil itu."


"Wanita hami?" Livina mengerutkan alisnya, "Wanita hamil yang mana?" Hatinya berdegup kencang, takut yang di maksud Baleno adalah dirinya.


"Livina."


Deg, Livinq tersentak seakan jatungnya berhenti detik itu juga.


"Wanita hamil yang ada di apartemenku, hehehe..." Dia berucap seakan orang yang dia bicarakan tidak ada di hadapannya. Pengaruh alkoholnya memang begitu kuat, sehingga dia tidak tahu bersama siapa dia bicara.


"Apa?" Lemas sudah Livina mendengarnya, "Apa maksudmu?" Dia masih berusaha menguatkan hatinya.


"Ah, kamu banyak bertanya." Baleno menjatuhkan tubuhnya ke sofa. Kini posisinya bukan lagi duduk melainkan berbaring.


"Aku sebenarnya tidak suka ada dia disini. Untung aku sudah mengambil apa yang menjadi tujuanku menikah dengannya. Masa bodo dengan anak yang dikandungannya aku tidak peduli. Cepat atau lambat aku akan mengusir... Kheee kheee..." Suara dengkuran itu memberhentikan ucapannya.


Satu tetes air mata luruh di wajah Livina. Ia tidak menyangka jika kebaikan Baleno hanya untuk memanfaatkannya. Dia terkulai di lantai dan menangis tersedu disana. Pikirnya memutar kembali, Baleno yang baik itu tidak akan mungkin terjadi. Ini hanyalah khayalannya saja.


"Kamu berbohong padaku? Mengkhianatiku? Kamu mengkhianati kami berdua? Huhuhu... Aku...." Livina menggelengkan kepalanya. Berharap apa yang tadi dia dengar hanyalah kesadarannya yang dulu. Kini Baleno sedang dalam pengaruh alkohol yang kuat. Dia tidak menyadari apa yang dia katakan.


"Tidak, aku harus mencari sesuatu sebagai buktinya. Tadi dia bilang .... Pasti itu tentang harta kakeknya. Iya..." Dengan segera dia meraih jas yang masih dikenakan Baleno. Mengodoknya dan mencari sesuatu disana.


Sebuah surat yang dia dapatkan. Lalu saat membacanya, hati Livina terasa tertusuk-tusuk ribuan jarum. Disana sudah terdapat tanda tangan Ayahnya. Surat itu sah dan berlaku.


Kini hatinya percaya bahwa Baleno hanya mempermaikannya saja. Dengan segera dia mengambil kertas itu dan menyembunyikannya.


"Aku tidak bisa biarkan ini," ucapnya saat masih tersedu-sedu.


"Aku harus meninggalkan semua ini. Dia, dia bohong. Dia penipu.. Huhu.." Dengan tekad yang kuat dia kemas barang-barangnya lalu kemudian dia pergi angkat kaki dari Chanwell.


CNP


Continue in my Next Post

__ADS_1


Semoga masih ada yang mau baca 😣😣😣


__ADS_2