The Couple Of MissKin-g

The Couple Of MissKin-g
Lakapego


__ADS_3

Malam itu Ayla pulang dengan bertelanjang kaki. Bukan tanpa alasan Ayla melakukannya, tapi memang karena hak dari sepatunya sudah patah dan lagi memang sudah sedikit usang. Jadilah, sepatu itu dia buang ke tempat dimana para sampah berkumpul. Dan satu hal lagi dia tidak ingin menyimpan barang yang akan mengingatkannya pada kejadian yang paling menyedihkan bagi dirinya.


Mata yang sembab, lipstik yang berantakan, dan kaki yang sudah berdarah menambah kesan bahwa orang ini sedang dalam keadaan kacau balau tingkat nasional.


Lelaki culun itu berhasil membuatnya seperti ini.


Dibukanya pintu kontrakan itu, lalu dia duduk di kursi panjang milik ibu kontrakan. Dia edarkan pandangannya, bayang-bayang Brio melintas di pikirannya. Ayla sudah tidak kuat lagi, dia menangis tersedu-sedu disana. Sampai matanya ikut terlelap.


Ke esokan paginya, Ayla bangun tapi tidak mendapati Brio dikamarnya.


Kemana dia pergi?


Ayla memang penasaran dimana laki-laki itu berada. Namun jika diingat kehadirannya pun hanya akan menyakiti dirinya saja.


Biarkan! Jika dia sudah lupa rumahnya maka biarkan. Ayla tidak ingin ambil pusing dengan masalahya.


Ayla mengambil ponselnya, ada banyak notifikasi pesan dari Levante, March, dan yang paling banyak adalah operator.


Levante memberinya bahan-bahan untuk kompetisi. Sedangkan March, dia menanyakan keberadaan Ayla yang menghilang begitu saja tadi malam.


Ayla pun segera membalasnya, dia katakan bahwa dia ada sesuatu yang mendesak sampai lupa berpamitan dengannya. Dan karena pembalasan itu belum selesai dia menjanjikan lagi makan malam di kemudian hari.


Dia sudah tekadkan, pembalasan ini untuk dirinya sebagai korban yang paling dirugikan, bukan untuk Brio. Kehidupan Ayla sudah hancur karena kebodohan mereka.


Sementara itu..


Brio yang sedang berada di apartemennya, merasa kesal karena bayangan Ayla selalu berseliweran di manapun dia berada. Misalnya kali ini dia sedang berada di meja makan, tampak Ayla yang sedang menyiapkan hidangan untuk mereka makan. Saat diruang tv, tampak Ayla sedang menonton serial drama kesukaannya 'The Penthouse'. Saat di kamar mandi, dia ingat Ayla yang menghabiskan semua sabunnya.


Arrgh, seluruh tempat akan selalu mengingatkannya pada wanita yang di pikirnya tidak pernah berubah sama sekali, wanita penggila uang, matrealistis, dan wanita yang akhir-akhir ini membuatnya terombang-ambing.


Pray..


Suara pecahan terdengar ditelinga Yaris. Langsung saja dia berlari kearah dimana timbulnya suara itu.


"Apa yang sedang kamu lakukan?" Dia begitu terkejut saat mendapati pecahan gelas disana.


"Gelas itu pernah di pakai olehnya," ucapnya datar.


"Siapa?"


"Wanita matrealistis itu, Ayla."


"Istrimu?"


"Cih, jika dia istriku seharusnya dia menghormatiku. Tapi dia malah berjalan bersama pria lain dan berbohong padaku."


"Bisa jadi pria itu sepupunya." Yaris berjongkok dan memunguti gelas tersebut.


"Sepupunya? Sepupunya March? Orang yang kamu masukan kerumah sakit? Mana mungkin." Brio tersenyum kecut.

__ADS_1


"Cobalah berpikiran yang jernih! Bisa saja 'kan dia memiliki alasan lain untuk bertemu orang itu."


"Alasan apa? Dia sudah mengakuinya, dia perlu uang. Dia menganggapku tidak bisa memberinya uang. Gadis naif!" Brio menopang kepalanya dengan kedua tangannya. Di usapnya kepala itu kasar.


"Jangan suka berspekulasi sendiri. Bagaimana jika ada hal lain?"


"Hal apa?" Yaris tidak menjawabnya, dia malah memperhatikan raut wajah Brio.


"Melihat emosimu, sepertinya kamu sedang cemburu?" Kini Yaris sudah selesai mengumpulkan pecahan gelas itu.


"Cemburu? Tidak mungkin. Aku tidak mencintainya. Bahkan aku membenci orang yang hanya menyukai uang."


"Hemm.. Terserah apa katamu, tapi yang kulihat kamu sudah mencintainya," tuturnya lagi.


"Tidak. Itu tidk akan terjadi, karena aku mencintai Avanza."


"Avanza? Putri dari keluarga Toyota itu?"


"Ya. Dia orang yang baik, cantik, pintar, dan istimewa. Hanya dia yang aku cintai. Sangat cocok 'kan untuk diriku?"


"Hemm, kecocokan itu tidak dilihat dari segi fisik saja. Dan ya, jika kamu mencintainya, kenapa kamu tidak ceraikan saja Ayla? Jangan menyakiti wanita, meskipun kamu membencinya."


"Kenapa kamu membelanya? Kamu menyukainya?" telisiknya.


"Jika kamu menceraikannya, bisa saja aku dekati dia."


"Kenapa? Kamu cemburu?" Pertanyaannya hanya mendapat decihan dari Brio.


Yaris memang sengaja mengatakannya agar Brio mampu menyadari perasaannya terhadap Ayla. Dia sudah hafal betul dengan sikap Brio yang sulit mengekspresikan perasaanya. Bagaimanapun selain asisten dia juga adalah sahabatnya.


***


Avanza sedang pusing dengan kompetisinya. Karena terlalu sering dibantu Brio, dia menjadi keenakan dan malas untuk mengerjakannya.


Terlebih lagi pikirannya sekarang selalu tertuju pada cincin yang dipakai Livina. Dia merasa dia pernah melihatnya, tetapi dia lupa siapa yang memakai cincin yang sama dengan Livina.


Pikirannya selalu menjadi tidak tenang jika mengingat hal itu.


"Aku harus tahu cincin apa yang dipakai Livina. Dia pasti berbohong padaku, jika tidak mengapa dia gugup kala itu? Hmm, menyebalkan! Semua ini menggangguku. Bagaimana bisa aku mengalahkan Ayla jika terus seperti ini.." keluhnya.


"Tunggu!" Avanza pun tersenyum ketika memikirkan Brio. Ya, Brio adalah Dewa Ganesha bagi dirinya.


"Kapanpun, dimanapun, dan dalam situasi apapun pasti dia akan membantuku. Ckckc. Pria bodoh itu benar-benar bodoh.." katanya sambil tersenyum menyeringai.


Dia sudah merencanakan sesuatu untuk membuat Ayla kalah, bagaimanapun dan dengan cara apapun dia akan lakukan hal itu. Ini adalah kesempatan emas baginya untuk menghancurkan nama baik Ayla.


Sebelum-sebelumnya Ayla selalu berhasil mengalahkannya dalam segi apapun, tapi kali ini dia sendirilah yang harus merasakan menjadi posisi terbawah.


***

__ADS_1


Hari pertama kompetisi.


Hari ini mereka yang dinyatakan sebagai peserta harus mengikuti kompetisi Lakapego. Lakapego sendiri ini merupakan panjangan dari kalimat Lampu Kamera Pena Bergoyang. Dimana dalam kompetisi ini semua peserta diuji kemampuannya dalam membawakan berita, baik itu berbentuk tulisan, foto ataupun video.


Tampak Avanza yang sudah bersiap, baik dari segi riasan, alat tulis, dan tentunya kamera sudah dia persiapkan dengan baik.


Sedangkan Ayla, dia berdandan seperti biasa dan kamerapun meminjam dari Leva.


Masing-masing dari peserta akan mendapat asisten yang akan membantu mereka untuk mengambil gambar ketika mereka membawakan beritanya.


Ayla berjalan dengan sedikit menggusur, semua itu karena kakinya yang belum sembuh dari kejadian malam itu.


Dia memang suka membuang hal yang berkaitan dengan kejadian sedihnya, tapi dunia seakan tidak ingin dia melupakan kejadian-kejadian itu. Selalu saja ada yang terluka dibagian tubuhnya.


"Ay, kamu tidak apa-apa. Meliput berita dalam keadaan seperti ini?" tanya Leva.


"Tidak apa-apa! Ini tidak akan membuatku patah semangat."


"Sebenarnya kenapa sih, Ay, kakimu sampai terluka?"


"Kemarin aku injak gelas pecah, jadi begini.." kilahnya.


"Hais, hati-hati. Lalu apa sudah diobati?" tanya Leva. Dia memang teman yang baik dan selalu mengkhawatirkan Ayla.


"Sudah. Kamu ini cerewet sekali.." kekeh Ayla. Dia bahagia sekali masih ada orang yang sangat peduli padanya. Meski dalam penyampaian katanya yang seperti itu tapi tetap saja hatinya sangat berterima kasih pada Levante. Sungguh baru kali ini dia mendapatkan teman yang memang teman.


CNP


Continue in my Next Post


Maaf bila ada salah-salah kata.


Hai semua para readers yang terhormat. Eaaakks.. Aku pengen ngucapin selamat ke kalian semua. Ya, selamat.


Selamat malam! Hehe..


O, ya. Disini aku mau rekomendasiin ke kalian semua untuk baca karyanya Ka Zas Novia.



Ka Zas Novia tencu yak karyaku nempel disana. 😁😁


...Jangan lupa dukung, yoo!...


...Dukungan kalian akan menambah semangat bagi para Author! Semampu kalian aja, kalau bisa semuanya. Hoho.. (buat nambah popularitas😁)...


...Jangan lupa share juga biar tau di novel juga ada showroomnya lhoo!...


...Terima kasih!...

__ADS_1


__ADS_2