The Couple Of MissKin-g

The Couple Of MissKin-g
1952


__ADS_3

Setelah menangis bersedu-sedu selama beberapa menit, karena cape Ayla pun berhenti. Matanya sembab hidungnya merah dan wajah yang kusam serta lusuh adalah gambaran wajahnya kini. Senyuman yang pagi-pagi selalu menghiasinya sudah direbut oleh orang-orang yang menghinanya.


"Sudah menangisnya?" Brio melepaskan dekapannya.


"Iya, maafkan aku. Aku membasahi bajumu."


"Tidak apa-apa. Ayla, kenapa tadi kamu tidak berbohong saja? Mereka semua jadi mencibirmu karena mempunyai suami sepertiku?"


"Kalau bohong pasti mereka akan terus mencari tahu kebenarannya. Percuma jadinya. Lagipula ...." Belum selesai Ayla dengan kalimatnya. Terdengar suara,


"Hah hah hah..." Suara deru nafas Leva yang ngos-ngosan. "Aku mencari kalian ternyata kalian disini," ucapnya lalu dengan tergopoh-gopoh ia menghampiri pasangan yang baru saja merealisasikan statusnya itu.


"Kenapa kamu sudah berpakaian Brio?"


"Hah? Aku memang sudah berpakaian dari tadi. Memangnya kenapa?"


"Astaga, Brio, aku lupa. Tadi aku meminta Leva untuk membelikanmu pakaian. Tapi dari mana pakaianmu ini?" tanya Ayla yang baru saja teringat.


"Tadi, aku langsung meminta Yaris mengantarkan pakaian ini."


"Yaris? Bukankah dia atasanmu? Kenapa dia baik sekali?"


"Ya, kita... Ya, kita memang hubungannya seperti itu. Jika dia membutuhkan aku, aku akan datang begitu juga sebaliknya," kilahnya.


"Oh," sahut Ayla cepat.


"Ay. Kayaknya aku harus pulang dulu deh. Aku datangnya salah nih?" gerutu Leva sambil mengerucutkan bibirnya.


"Haha, tidak kok. Kalian kalau mau ngobrol-ngobrol juga boleh. Aku masih ada yang harus aku kerjakan dulu." Setelah berpamitan dengan Ayla, Brio pun pergi meninggalkan kedua sahabat itu.


"Leva..." lirih Ayla. Leva pun melirik padanya. "Maafkan aku, seharusnya aku jujur padamu hari itu juga. Yang aku ceritakan pacarku bukanlah pacarku melainkan dia ...."


"Ya, tidak apa-apa. Aku memang sempat syok. Tapi aku bisa memakluminya, kok. Itu kehidupanmu, Ayla."


"Terima kasih, Lev! Kamu benar-benar sahabat terbaik." Ayla memeluk Leva dari samping.


Mereka pun berbincang lama disana. Tidak ada lagi yang Ayla sembunyikan dari Leva. Bukan hanya Leva tetapi semua orang sudah tahu tentang dirinya.


Biarkanlah, biar tidak ada lagi fitnah jika Ayla dan Brio kedapatan bersama.


Brio yang sedari tadi tidak pergi kemana pun hanya mendengarkan mereka dari belakang. Hatinya mulai menghangat. Rasa khawatirnya tidak terlalu menyelimuti dirinya lagi.


"Ayla, maafkan aku. Tapi kamu tenang saja baik sekarang ataupun nanti aku akan membalas semua orang yang membuatmu menangis hari ini..." batin Brio.


Saat Yaris datang membawakan pakaian baru untuknya. Brio langsung memintanya untuk menyelidiki siapa dalang di balik semua ini. Ia tidak hanya ingin menghancurkan Ayla tapi juga ingin berurusan dengan seorang Brian Rio.


Kali ini semuanya sudah kelewatan. Mahasiswa yang tidak berpendidikan itu harus didisiplinkan atau yang lebih buruknya adalah D.O. Mereka secara terang-terangan merundung Ayla dan dirinya dengan tidak berprikemanusiaan.


Kampus itu harus segera mendapat sentuhan Brian dan juga Ayahnya.


Jam 2 siang.


Brio kembali menjemput Ayla yang masih asik mengobrol dengan Leva.


Tentu saja kini Leva tidak bisa menahannya. Brio lebih berhak atas Ayla.


"Kemana kamu akan mengajakku pergi?" tanya Ayla. Saat ini mereka sedang menunggangi si vespa kuning bersuara merdu.


"Kita akan beli es krim lalu pergi ke tempat yang indah dan mempunyai kualitas udara yang bagus."


"Dimana itu?"


"Rahasia." Brio pun kembali melajukannya dan berhenti di salah satu mini market terkenal.


Brio mengambil es krim stik yang mengandung coklat lebih banyak juga ada kacang almondnya.


"Brio itu kemahalan. Kamu beli 5 lagi. Sayang 'kan uangnya?" Ayla menyimpan kembali es krim yang mereknya sama dengan merek cigarette.


"Ya, tidak apa-apa 'kan enak rasanya juga."

__ADS_1


"Tapi sayang Brio, kita beli yang beli dua gratis satu saja."


Brio hanya melongo melihat Ayla. Istrinya itu benar-benar sayang uang. Irit sekali. Brio semakin ingin mengenalkannya pada kedua orangtuanya. Bahwa dia sudah menemukan pendamping hidup yang sesuai dengan kriteria kedua orang tuanya. Hemat tapi tidak pelit, boros tapi tidak menghabiskan yang ada. Intinya dia bisa mengelola uang demi kebutuhannya.


"Nah 'kan cuma 20 ribu saja kita bisa dapat 6 es krim. Kamu dua aku empat, ya," pintanya pada sang suami. Brio pun hanya mampu mengulum senyum manisnya itu seraya mengacak-acak rambut istrinya.


"Ayo, kita pergi ke tempat yang kamu maksud!" ajak Ayla. Mereka pun kembali melanjutkan perjalanannya.


Sepuluh menit kemudian, Ayla dan Brio sudah tiba di kontrakannya. Ayla mendadak menjadi heran sendiri. Suaminya bilang tadi ia akan mengajaknya ke tempat yang bagus juga bebas polusi. Tapi kenapa kontrakan?


"Brio, kamu ada barang apa yang tertinggal?"


"Tidak ada."


"Kenapa kita kesini?"


"Memangnya kenapa? Bukannya ini tempat tinggal kita, ya?"


"Iya, tapi ... Katanya kamu mau ajak aku ke tempat yang bagus." Ayla mengeluh kesal.


"Ya, ini tempatnya, kontrakan! Ayla..." lirihnya sambil memegang kedua bahu istrinya, "Tempat ini adalah tempat yang paling bersejarah untuk kita berdua. Di tempat ini juga kita menghirup udara yang sama. Hampir sebagian waktu yang kita miliki kita habiskan disini, iya 'kan?"


"Iya.." Tampak raut wajah Ayla menjadi kecewa.


"Kamu jangan kecewa dulu dong. Aku ajak kamu pulang karena aku akan masak sesuatu buat kamu. Tadi 'kan kamu habis menangis pasti lelah. Nah, aku mau kasih kamu energi lagi. Tunggu disini atau kamu mau mandi dulu juga boleh."


"Mm, Brio. Kamu yakin mau masak sesuatu buat aku? Bukannya kamu tidak bisa masak, ya?" tanya Ayla hati-hati. Dia takut menghancurkan harapannya yang tinggi itu.


"Ah, aku bisa dong!" ucapnya penuh keyakinan. Dalam hatinya ia merutuki dirinya sendiri. Benar kata Ayla dia memang tidak bisa memasak.


"Ya sudah, kamu mandi dulu sana," kata Brio lagi. Ayla pun meletakan tas juga ponselnya dan segera mengambil handuk.


Buru-buru Brio mencari sesuatu menu yang bisa di masaknya. Dia menemukan sebungkus mie kuah instan dan juga telur. Disana sudah ada cara membuatnya. Jadi, dia tidak terlalu pusing harus memulainya dari mana.


Mie sebentar lagi siap. Tiba-tiba ponsel Ayla bergetar, ada sebuah notifikasi pesan disana. Tanpa sengaja Brio membuka dan membaca pesan itu. Pesan itu dari Leva yang masih mengkhawatirkanya.


Hallo Jimny!


Semoga kamu sudah sadar dari mabukmu itu! Aku tidak akan bertele-tele lagi. Aku ingin berterus terang saja, kalau aku sudah tidak bisa melanjutkan hubungan yang sudah rusak ini.


Maksudku, kamu sudah melukai prinsipku. Aku tidak bisa menerima hal itu.


"Ayla memang orang yang memegang teguh prinsipnya," gumam Brio sambil kepalanya menggeleng-geleng.


Terima kasih untuk semua yang sudah kamu lakukan dan berikan untukku. Tapi aku tidak bisa menerimanya.


Aku sudah pergi dari apartemenmu, aku sudah meletakan semua barang yang sudah kamu berikan untukku. Ku letakan di kamar.


Dan soal biaya kuliahku dan lainnya aku akan mencicilnya, akan ku kembalikan semuanya.


Terima kasih sudah mau menampungku, membiayaiku, dan memberikan apapun yang aku butuhkan. Tapi aku tidak bisa memberikan apa yang kamu inginkan.


"Hmm, pantas saja dia bekerja begitu keras pasti karena ini. Tenang, Ayla. Aku akan membantumu mengembalikan semuanya," gumamnya lagi dan kini di sertai senyuman bangga. Istrinya itu benar-benar tidak ingin berpangku tangan pada orang lain dan juga tidak ingin mempunyai hutang apapun.


Melakukan hal itu tidak menjamin kita akan bersama selamanya. Dan jika aku melakukannya bersama orang yang tidak mempunyai status sebagai suami dariku, aku yakin aku tidak akan mampu melihat matahari pagi lagi.


"Apa? Jadi, dia hanya ingin melakukannya bersamaku? Haha.... Oke, akan ku tagih omonganmu ini." Seringai senyumnya kali ini tidak mampu diartikan.


Aku memang menyukai uang, tapi aku tidak akan serendah itu demi uang.


Kamu salah menilaiku!


Maaf jika selama ini aku mempunyai salah padamu. Aku mencintaimu tapi kamu merusak komitmen kita. Aku tidak lagi bisa memberikan cintaku pada seseorang yang sudah tidak bisa ku percayai. Jika kamu mengatakan aku ini egois, itu terserah padamu saja.


Mari kita akhiri hubungan ini.


Semoga kamu bisa menerima keputusanku.


Terima kasih!

__ADS_1


"Aku harap aku bisa menjadi orang yang kamu percaya, Ayla," lirihnya sendu. Di teringat akan kebohongannya lagi. Hah! Apakah ini waktu yang tepat untuk mengatakan segalanya?


Ceklek..


Ayla keluar dari kamar mandinya.


Brio pun bergegas mengembalikan ponsel itu ke tempat semula. Dan ia sedikit berlari ke arah dapur.


"Kamu sudah selesai mandi?" tanya Brio saat dirinya mematikan kompor.


"Iya," sahutnya sambil mengusap-usap rambutnya yang basah. Untung dia sudah rapi dengan pakaian bersih. Coba saja jika dia hanya memakai handuk. Mungkin mie tidak akan jadi hidangan yang tersaji di sore hari itu.


"Ya sudah, ayo kita makan!"


Mie kuah dengan tambahan telur di dalamnya sudah tersaji dalam mangkuk yang berukuran sedang. Ayla mengambil saus dan dua sendok.


"Kamu suka pedas?" tanya Ayla.


"Tambahkan saja aku akan mengikuti seleramu," jawab Brio. Sesuai dengan persetujuan Brio, Ayla langsung menambahkan saus ke dalamnya.


"Brio, kenapa kamu membuat mie-nya satu?" keluh Ayla. Mie satu baginya sangatlah tidak cukup apalagi suasana hatinya yang sedang kacau seperti ini.


"Lain kali aku akan membuatnya dua bungkus sekaligus. Jangan marah! Makanlah! Aku akan melihatmu makan," ucapnya penuh kelembutan.


"Oh ya, Ayla. Maafkan aku. Hidupmu menjadi susah karena diriku. Kamu banyak di cibir, kamu harus bekerja keras, pulang kuliah harus bekerja, mimpimu terhalang olehku. Maafkan aku, aku terlalu banyak menyakiti dirimu."


"Kamu ini mengatakan apa, Brio? Aku tidak merasa hidupku susah denganmu. Masalah dicibir, aku sudah kebal. Masalah kerja, ada sesuatu yang harus aku bayar. Dan soal mimpi aku masih bisa mengejarnya dengan jalan yang diizinkan olehmu," ucapnya.


"Justru aku yang harus meminta maaf padamu. Aku pernah mengatakan bahwa aku menyesal menikah dengamu. Aku sama sekali tidak menyesal, Brio. Aku bahagia mempunyai pria sepengertian dirimu, sebaik kamu." Ayla menatap Brio pasti, satu tangannya menggenggam tangan Brio.


"Dan masalah kemarin, bukankah itu akan menjadi pelajaran untuk kita berdua, agar kita bisa saling mengerti satu sama lain?


Kamu selalu ada untukku disaat aku terpuruk, memberiku kenyamanan dan kekuatan untuk melewati masa itu. Ya, walaupun kamu juga pernah menjadi penyebab salah satunya tapi tidak apa. Yang terpenting kamu sudah mengerti jika wanita yang kamu kejar itu bukan wanita yang baik untukmu. Dia baik untuk orang lain. Dan yang lebih pentingnya kamu memilih bertahan denganku, meski kamu sudah tahu sifat jelekku," ucapnya lagi seraya mengelus-elus tangan Brio.


"Aku mencintaimu, Ayla. Sangat!" Brio mencium tangan Ayla. Dan Ayla pun tersenyum melihatnya.


"Aku juga sangat mencintaimu..."


"Oh, ya. Brio.. Ada dua hal yang paling aku benci. Tolong, kamu jangan lakukan hal itu padaku, ya.


Pertama, perselingkuhan. Aku sangat tidak menyukai itu bahkan semua orang pun sangat tidak menyukai hal itu. Tidak ada alasan untuk melakukannya. Dan maaf, diwaktu kemarin aku tidak langsung memutuskan Jimny."


"Iya, tidak apa-apa. Ketika itu kamu belum mencintaiku dan aku juga belum meyadari rasaku. Aku memaafkannya."


"Dan yang kedua, aku paling benci kebohongan. Kamu tahu, jika kebohongan satu dilakukan dia akan memancing kebohongan yang lainnya."


Sreet, kata-kata itu serasa menyayat hati Brio. Bagaimana caranya dia menjelaskan bahwa dia telah membohongi dirinya dan juga keluarganya. Dulu dia pernah bilang, dia berasal dari keluarga miskin bahkan membeli ponsel saja tidak bisa. Padahal kenyataannya membeli monas saja jika di jual mungkin dia akan membelinya.


"Ayla, bisakah kamu memaafkan satu kebohongan seseorang?"


"Tergantung, Brio. Tergantung seberapa besar dan kecil dia berbohong. Dan untuk niatan apa dia berbohong. Misalnya, jika dia berbohong demi menyelamatkan keluarganya yang diancam, mungkin aku juga akan memilih untuk berbohong. Tapi ingatlah, Brio. Rasanya berbohong itu menyakitkan. Aku pernah berbohong padamu dan pada akhirnya aku yang terluka. Selalu saja begitu." Ayla terkekeh sendiri saat mengingat dirinya yang saat itu berbohong.


"Ya, sudah aku akan merapihkan ini dulu," imbuhnya lagi sembari mengambil mangkuk yang sudah kosong itu.


Tubuh Brio seketika menjadi lemas. Seperti tak memiliki harapan lagi. Baru saja ia akan jujur, Ayla sudah memotongnya dengan kalimat dia membenci kebohongan.


Arrghh, baginya masalah ini semakin rumit!


CNP


Continue in my Next Post


Hais, bersabarlah! Dengan part-part seperti ini. 😣 Aku sedang menyambungkannya seperti rucika 😆, sambung menyambung menjadi satu. Eehh, sabang - merauke kali ahh!


Dukungan, dukungan ihh jangan lupa.. 😂😂😂


Eh, jangan tanya judulnya kenapa begitu!


😹💃💃

__ADS_1


__ADS_2