
Siang ini Ayla pergi ke perpustakaan untuk mengisi waktu luangnya sebelum melanjutkan mata kuliah yang masih belum berakhir. Dia memilih membaca buku komik kesukaannya disana sambil mendengarkan musik dari headsetnya.
Namun saat dia baru saja mendapatkan kursi yang dikiranya bisa membuat rileks dirinya, tak sengaja matanya menangkap Avanza dan Brio yang sedang tertawa. Ayla menatapnya heran. Sejak kapan Brio mulai dekat dengannya? Setahu Ayla dia tidak pernah melihat Brio dan Avanza berinteraksi langsung dan baru kali ini pertama melihatnya sudah sedekat ini. Apakah Brio memantrainya, tidak mungkin kan dia senekad itu?
Ayla menjadi semakin penasaran, dia lepaskan headset yang sedari tadi tidak didengarkannya. Dia mencoba menguping pembicaraan mereka. Namun nihil, dia hanya bisa melihat tawa keduanya.
"Ish, mengapa hatiku tidak rela melihatnya berduaan seperti itu? Awas saja dia aku tidak akan memasak. Ckk," decaknya kesal.
Tujuannya untuk merileksasi pikirannya nyatanya malah membuat hatinya menjadi kesal. Sedikit demi sedikit Brio memenuhi ruang pikiran dan hatinya.
Tidak ingin sakit yang berlebihan akhirnya dia memilih untuk keluar dari perpustakaan itu.
Dia edarkan pandangan kesekelilingnya. Di ujung sana ada sebuah kursi dibawah pohon yang rimbun. Terlihat nyaman dan tenang sekali disana, Ayla segera menghampirinya.
"Disini lebih nyaman." Dia gunakan kembali headsetnya dan memutar saluran radio kesukaannya.
"Hallo selamat siang menjelang sore para pendengar setia radio Picanto war biasyah. Kembali lagi bersama saya Rio di acara curcol siang hari ini.
Okay, lima belas menit lagi pertemuan kita akan berakhir. Tidak terasa waktu sudah berani memisahkan kita, ya. Seperti dia yang sudah berani memisahkan aku dengan kamu, wu ooouw!!
Haha sedikit lebay rupanya, biarlah supaya para pendengar ini makin rindu ingin bertemu lagi dengan saya dikesempatan berikutnya. Oke!
Ngomong-ngomong soal waktu, semua akan terjawab oleh waktu. Baik itu perasaan, pertanyaan dan lainnya. Misalnya sekarang kamu membencinya, namun karena waktu yang membuat kalian terus bersama, kalian akan saling mencinta. Ya itu si pengalaman pribadi Rio ya, hahaaa.. Oke sebelum kita berpisah mari kita dengarkan lagu.."
Prett
"Hais.." Ayla langsung mematikan saluran radionya. "Mengapa semuanya mengatakan waktu bisa menjawab. Saluran yang tidak berguna hanya mengatakan kebohongan saja," gerutunya bahkan menghina saluran kesukaannya sendiri.
"Aku akan membuktikan bahwa waktu tidak bisa menjawab semua pertanyaan dan tidak bisa merubah semua keadaan. Lihat saja, aku tidak akan jatuh cinta dengan pria itu. Untuk rasa-rasa yang kemarin yang aku rasakan mungkin saja aku sedang tidak enak badan, ya kan? Huh." Dia terus berspekulasi sendiri.
"Lihat, sudah ditinggalkan Jimny, Ayla menjadi gila," ucap salah satu mahasiswa yang berada jauh darinya.
"Iya benar, dia menjadi gila dan mulai berbicara sendiri?" seru salah satu temannya.
__ADS_1
"Mungkin saja dia sedang berbicara dengan makhluk astral di pohon itu?" tambah salah satu teman lagi yang terkenal indigo.
"Serius kamu ada sesuatu disana?"
"Iya aku melihat ada bayangan hitam dan besar," jawab teman indigonya itu.
"Ya, aku rasa aku juga melihatnya bayangan hitam, besar dan berada disebelah kiri pohonnya dan bayangan itu berbentuk pohon," ucap Brio mengagetkan mereka.
"Itu bayangan pohon culun," cibir mereka bersamaan. Saat tahu siapa yang berbicara.
"Hehe.." Brio tersenyum kaku. Kemudian mereka meninggalkan Brio sendiri disana.
"Apa benar dia menjadi gila?" gumam Brio. Saat dia hendak menghampirinya, Ayla tiba-tiba saja beranjak dari kursinya.
***
Saat ini di ruangan yang biasa mereka pakai untuk menimba ilmu, para squad CTM sedang berbincang mengeluarkan kekesalan dihatinya. Tiba saat ini Livina menceritakan kejadian di toilet tadi pagi.
"Aku juga sangat yakin dia yang membuat Jimny pergi keluar negri," ucap Agya.
"Kerjai dia lagi? Sudah lama kita tidak melakukan hal ini, bukan?" sahut Livina. "Vanz, apa kamu sudah mempunyai rencana?" tanyanya kemudian.
"Aku sudah ada ide, tapi ini memerlukan bantuan Agya."
"Bantuanku?" tunjuk Agya bada dirinya sendiri.
"Iya, bukankah kakak dan ayahmu adalah seorang dokter."
"Lalu?"
"Biar kutebak, kamu mau menggunakan darah untuk mengerjainya?" ujar Livina.
"Ya..." sahut Avanza langsung.
__ADS_1
"That's good idea!" Agya mengacungkan jempolnya. Segara mungkin dia meminta kakaknya untuk mengirimkan satu kantong darah. Akan tetapi sang kakak tidak memberikannya. Mereka bertiga pun memutar otaknya kembali.
"Kita gunakan darah hewan saja," saran Agya.
"Baiklah, tidak apa-apa yang terpenting darah itu harus bau amis," ujar Livina sambil tersenyum iblis.
Tak membutuhkan waktu yang lama darah hewan yang sudah berbau itu sudah mereka dapatkan. Terkadang untuk berbuat kejahatan waktu selalu bergerak membantunya. Seakan dunia mempersilahkan semua penjahat untuk melakukan aksinya.
Bel sudah memekik telinga mereka, para mahasiswa dan mahasiswi segera memasuki masing-masing kelasnya dengan tergesa-gesa, begitupun dengan Ayla dan Levante.
Ayla dan Levante langsung duduk dibangku mereka masing-masing. Dibelakang mereka para squad CTM sudah siap dengan darah itu. Mereka langsung melancarkan aksinya, melubangi kantong darah tersebut lalu menaruhnya di kursi tersebut. Karena sudah dilubangi, secara perlahan darah itu mulai keluar membasahi dan mengotori celana Ayla.
Saat dirasa sudah banyak yang keluar dan cukup untuk membasahi celananya. Mereka langsung mengambilnya lagi dan menyembunyikannya di tas salah satu dari mereka.
Ayla tidak merasakan hal yang aneh pada dirinya. Dia dengan santai mendengarkan penjelasan dari dosennya. Saat mata kuliah sudah berakhir pada hari ini, Leva dan Ayla segera keluar dari ruangannya.
Tapi pada saat mereka berjalan, semua orang tak berhenti tertawa, selain itu ada juga yang saling berbisik-bisik di hadapannya. Ayla dan Leva menatap aneh kepada teman-temannya. Bahkan Leva langsung memperhatikan dirinya menggunakan kamera ponsel. Tidak ada yang aneh dengan mereka. Tidak ada jerawat, coretan balpoint atau apapun itu.
Seseorang dibelakangnya berkata, "Ayla kamu sedang kedatangan bulan atau memang sedang menggugurkan kandungan?"
Leva terkejut mendengar ejekan salah satu mahasiswi tersebut, sontak dia langsung melihat kearah belakang Ayla.
"Ay, darah!" ucapnya masih dengan selimut keterkejutan.
Ayla pun meraba arah belakang dengan tangannya, benar darah ada darah ditangannya dan itu sangat anyir sekali. Menciumnya saja membuatnya mual. Sesegera mungkin dia berlari menuju toilet, diikuti oleh Leva dibelakangnya.
Wanita malang itu tidak lagi memperdulikan tawaan, hinaan, cercaan yang mereka lontarkan kepadanya.
Sementara itu squad CTM tertawa puas melihat Ayla lari terbirit-birit menuju toilet. Tujuannya untuk membuat Ayla malu sudah tergapai. Mereka pun bertos ria bersama.
CNP
Continue in my Next Post baby.. 😂
__ADS_1
Mohon dukungannya. Karena dukungan kalian adalah penyemangatku. Untuk dukungannya bisa berupa Like, komentar, share, vote, rate 5, dsn jangan lupa untuk mem-faforitkan novel ini. Stay tuned terus, terima kasih !!