
...Jangan menangis! Jika tidak ada tanganku yang menampanya. Jangan tetesakan air mata sampai ke tanah. Jika menangis harus jatuh pada telapak tanganku saja. Dengan begitu aku akan tahu, seberapa sering aku menyakitimu...
...Kata Oreo Supreme yang di gerus di masukin ke air!...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Brio mulai mengerjapkan matanya. Setelah mengusai kesadarannya dia beranjak bangun. Akan tetapi kepalanya menjadi pusing, badannya pun terasa sangat lemas dan juga panas.
Dia pun tak jadi bangkit dari ranjang yang berukuran lebih besar dari kasurnya yang ada di kontrakan.
Bagaimana tidak sakit semalaman dia dihujani air langit, diterpa angin malam, selain itu selama empat hari ini dia hanya memakan sekali dalam sehari. Perut dan tubuhnya pasti berontak. Dia sudah menzalimi dirinya sendiri.
Diliriknya ke bagian kiri terdapat berbagai mading kecil yang tertempel di ujung tembok sana. Dimulai mading yang berisikan foto, kertas yang entah tulisannya apa, dan yang paling membuatnya menyernyitkan alis adalah nama-nama kota yang ada di Indonesia. Seperti kota yang ada situs percandiannya, beberapa gunung di Indonesia, Alam Fatumnasi yang ada di NTB, beberapa pantai di Lombok, Bali, Sawarna, Banten, museum-museum, bangunan-bangunan bersejarah dan banyak lagi.
Saat dia memaksa hendak bangun, ada sesuatu diarah kanannya yang basah dan dingin. Dia ambil barang itu ternyata sebuah handuk basah. Dilihatnya nakas ada sebuah bak kecil berisi air.
Sebuah senyum terbit di bibirnya, dalam pikirnya, Ayla masih mencintainya buktinya dia masih mau mengopres dirinya. Bajunya pun sudah ganti pasti ini semua kerjaan Ayla.
Tambah-tambah hantinya menjadi berbunga.
Brio pun bangkit untuk mencari Ayla. Tapi sebelum itu dia ingin melihat madingnya. Dia masih penasaran dengan ketiga mading yang berendengan itu.
Namun, pada saat dia membaca dan melihatnya, tenggorokkannya terasa tercekat.
"Jadi, selama ini Ayla bekerja keras untuk menjadi presenter adalah karena dia ingin mengelilingi Indonesia? Cita-citanya adalah mengelilingi Indonesia. Tapi kenapa harus menjadi presenter?" Banyak pertanyaan mencuat dalam pikirannya. Tapi, itu bukan topik pentingnya hari ini. Dia harus menemukan Ayla lebih dulu dan meminta maaf kepada semuanya.
Dengan langkah yang pelan dan penuh kehati-hatian, Brio keluar mencari wanita yang di cintainya itu.
__ADS_1
Tetapi, bukanlah seorang istri yang dia temukan melainkan kedua orang tua dari istrinya yang sedang bersantai di ruang televisi.
"Brio... Lho, kok kamu bangun, sih? Kamu masih sakit mesti pusing kepala kamu. Ayo, nanti Bapak antarkan kamu ke dalam lagi," ucap Xenia sambil menyikut lengan suaminya agar mau menuruti ucapannya. Sang suami meliriknya malas. Dia kesal bukan karena kebohonganya melainkan lebih ke Ayla yang di buat menangis olehnya.
"Tidak, Bu. Brio kesini untuk mengatakan sesuatu kepada Bapak dan Ibu," kata Brio sambil menghampiri kedua mertuanya.
Brio segera menceritakan kenapa bisa dirinya membohongi mereka semua. Meski Rocky banyak mencecarnya dengan pertanyaan-pertanyaan, tapi pada akhirnya tampak Rocky memanggut-manggut seperti faham dengan alasan yang Brio berikan.
"Saya minta maaf sama Bapak dan Ibu. Sekali lagi saya tidak berniat untuk membohongi kalian. Hanya saja waktu itu sangat singkat dan saya tidak punya pilihan lain selain berbohong. Tapi selama pernikahan ini berjalan, rasa cinta saya tumbuh dan saya ingin meyakinkan pada diri saya jika Ayla ini memang pantas dan dialah wanita yang selama ini saya cari. Makanya, saya tidak mengatakannya lebih dulu. Maafkan saya, Pak, Bu."
"Bapak mengerti dengan rencanamu ini. Bagus sekali kamu tidak memamerkan harta demi menjerat wanita. Tapi begini, Brio. Kami berasal dari keluarga yang jauh dari kata mampu dan tentu kami berbeda denganmu. Apa kamu mau menerima kami sebagai mertuamu?" ucap Rocky merendahkan diri serendah mungkin.
"Saya tidak melihat siapa Ayla dan berasal dari keluarga apa dirinya. Yang saya lihat dari baiknya dia dan juga pengertiannya. Selama saya menyamar sebagai Brio, Ayla tidak pernah mengeluh tentang keuangan dan keadaanya. Itu yang saya acungi jempol. Saya semakin cinta dengan putri Bapak. Saya tidak ingin kehilangannya dan saya sangat ingin membahagiakannya. Jadi, apakah Bapak dan Ibu memaafkan saya dan merestui hubungan saya dengan Ayla?" ucap Brio mantap tanpa terbata. Meskipun kondisinya saat ini sangat tidak memungkinkan, tetapi dia tetap berwibawa. Memang benar-benar bukan orang biasa.
Rocky menghembus nafasnya lega begitupun dengan Xenia. Keduanya tampak bahagia, putri semata wayangnya sudah memiliki pendamping yang sangat dewasa. Rocky pun merasa jika dirinya tak salah menikahkan Ayla dengan Brio.
***
Setelah Ayla menyeka seluruh badan Brio dan mengompresnya dengan teratur selama dua jam lamanya, dia berniat untuk memasakan sesuatu. Ayla sangat faham dengan keadaan suaminya sekarang, pasti sangat sulit untuk dirinya makan saat kondisinya seperti ini.
"Kamu terlihat sangat kurus, meski baru beberapa hari kutinggalkan saja kamu sudah berantakan seperti ini. Ah, aku ini berpikir apa? Seolah aku adalah orang yang paling penting dihidupnya. Tentu saja dia harus menjaga berat badannya agar tetap cool. Dia 'kan sebentar lagi .... Sudahlah, Ayla. Jangan kamu ingat lagi! Lama-lama kamu hanya menyakiti dirimu sendiri. Dia datang kesini pasti untuk menceraikanku," cebik Ayla kesal pada dirinya sendiri. Dia tidak bisa menahan Brio untuk tidak menceraikannya. Dia harus siap jika nanti setelah sadar Brio akan memberikannya kertas perceraian.
"Aku tidak ingin berdiam diri menunggunya, aku harus memasakan sesuatu untuknya sebelum kami benar-benar berpisah selamanya," ucapan Ayla sebelum beranjak. Di kedua bibir matanya menggenang air mata. Siapa yang tidak akan bersedih saat dihadapkan dengan situasi seperti ini? Situasi dimana dirinya harus berpisah setelah cinta tumbuh subur di hatinya.
Kini Ayla sudah ada di dapur. Selain masak untuk Brio, dirinya juga akan memasak untuk kedua orangtuanya. Tetapi, selama dirinya memasak pikirannya melayang jauh pada hubungannya dengan Brio.
"Tak terasa kita sudah menikah selama lima bulan. Selama itu juga kita saling mencintai satu sama lain. Tapi, itu hanya menurutku saja. Tidak denganmu, 'kan, Brio? Kamu pasti menunggu hari ini. Hari dimana hancurnya diriku..." lirih Ayla.
__ADS_1
Saat ini dia akan mengulek bahan-bahan untuk membuat bumbu kuning. Dengan rasa benci, kesal, marah yang bercampur aduk dihatinya membuat kekuatannya bertambah. Alhasil dengan beberapa detik saja bumbu itu tergerus kasar.
"Kamu datang kesini untuk menceraikanku," lirihnya lagi, air matanya sudah tidak dapat di tahan. Mereka lolos begitu saja.
Tiba-tiba Brio duduk disebelahnya. Menadahkan telapak tangannya dan air mata Ayla jatuh tepat di telapak tangannya.
"Jangan menangis! Jika tidak ada tanganku yang menampanya. Jangan tetesakan air mata sampai ke tanah. Jika menangis harus jatuh pada telapak tanganku saja. Dengan begitu aku akan tahu, seberapa sering aku menyakitimu," ucapnya sambil menatap teduh wanita yang sangat berharga baginya itu.
Ayla menyeka air matanya cepat-cepat.
"Kenapa Tuan ada disini? Bukannya Tuan masih sakit? Sebaiknya Anda ke kamar saja, disana lebih bersih daripada di dapur," ucap Ayla mengasingkan dirinya dengan menyebut Brio, Tuan.
"Humm..." Brio menghembus nafasnya berat, "Jangan panggil aku Tuan! Aku lebih suka dipanggil Nyu oleh Nyetku.." Brio tatap lagi mata Ayla. Namun, Ayla mengalihkan pandangannya.
"Tuan, saya sedang memasak. Lebih baik Tuan pergi saja dari sini. Saya takut bumbu-bumbu ini membuat sakit Tuan bertambah parah dan akan mengganggu acara pertunangan Tuan dengan Nona Avanza nanti." Sekuat tenaga dia menahan air matanya, tapi tanpa Ayla sadari air mata itu luruh begitu saja.
"Aku sudah bilang, jangan menangis!" Kali ini jempol Brio yang bergerak, menyeka sisa air di pipi Ayla.
"Saya menangis karena bawang, Tuan. Bukan karena Tuan." Ayla menghindar dari perlakuan manis Brio.
"Apa Nona tahu? Bagaimana caranya membuat seorang istri percaya, bahwa suaminya sangat mencintainya dan tidak akan mungkin menyelingkuhinya?" tanya Brio dengan kesungguhan hatinya.
"Mungkin, jangan pernah berbohong padanya! Apalagi menjadi pembohong yang ulung. Tuan, kepercayaan itu setipis permen papper mint. Dan akan hilang begitu saja saat sudah di hancurkan oleh mulut." Ayla menatapnya sebentar. Lalu, dia beralih menyibukan dirinya sendiri. Dia tidak ingin luluh pada seorang penipu, lagi.
CNP
Continue in my Next Post
__ADS_1