
Namun ada suara menggema ditelinganya.
"Brio.. Brio..." panggil Avanza.
Degh..
Brio mengerjapkan matanya beberapa kali, ternyata itu hanyalah khayalannya sesaat.
"I..iya.." jawab Brio terbata.
"Brio.. Coklat itu untuk aku?"
"Iya." Brio memberikan coklat itu.
"Thanks ya! Aku mau kekelas lagi. Besok tugasku sudah selesai, 'kan?" tanya Avanza.
"Iya, besok sudah selesai.." Avanza hendak pergi meninggalkannya, namun sebuah tangan menahannya.
"Vanz, kita boleh temenan gak?"
"Tergantung kalau kamu mau mengerjakan tugas aku dan nilainya bagus, aku mau."
"Okay!" Brio tersenyum puas mendengar kata terakhir yang diucapkan Avanza. Meskipun dia harus mengerjakan tugas-tugas Avanza, tapi itu tidak masalah yang terpenting dia mendapatkan hatinya terlebih dulu.
Disalah satu balik rak buku ada seseorang yang sedang menatap geram kepada Brio.Tangannya mengepal kuat seakan-akan ingin melayangkannya pada lelaki yang berani menganggu wanitanya itu. Sudah bisa ditebak bahwa laki-laki itu adalah Baleno, kekasih Avanza.
"Enak saja dia memegang lengan wanitaku, memberinya cokelat dan memintanya untuk menjadi teman, dasar culun.. Lihat saja apa yang akan kamu dapatkan dari perbuatanmu itu.." geramnya.
Saat dalam perjalanan pulang, lima orang dibelakangnya yang memakai pakaian serba hitam dan berpenampilan seperti preman mengejarnya kemudian menghadang Brio.
Brio yang hanya menggunakan vespa butut tidak mampu untuk berbalik dan melarikan diri.
Dia mematikan mesin motornya. Beberapa orang turun hendak menghajar Brio.
Brio tak mau pasrah dengan keadaan diapun turun untuk melawannya..
Saat ini laki-laki berkacamata itu tengah dikelilingi oleh para preman tersebut.
Preman yang ada dihadapannya melayangkan satu bogeman namun dia berhasil menghindarinya.
Tapi tidak untuk pukulan kedua, ketiga, dan ke empat dari preman yang ada dibelakang dan sampingnya. Tapi meskipun begitu Brio masih bisa melawannya..
Dia terus melawan dan tidak mau mengalah.
__ADS_1
Lima belas menit kemudian, karena terlalu banyak serangan yang dia dapatkan, akhirnya Brio ambruk terkapar disana, dia memegangi perutnya yang sudah beberapa kali di hantam, pelipisnya sudah membiru, sudut bibirnya sudah mengeluarkan darah.
Barulah para preman itu meninggalkannya sendiri. Saat sudah tidak ada siapapun, Brio menepikan dirinya ke bahu jalan. Dan diapun pulang dalam keadaan babak belur.
Tak perlu ditanyakan lagi para preman itu adalah suruhan Baleno, dia tak akan mengotori tangannya sendiri untuk hal sepele seperti Brio.
Satu panggilan maka semuanya beres, begitulah sistem kerjanya.
****
Di apartemen Ayla dibingungkan dengan permintaan ibu dan bapaknya yang ingin melihat foto menantu mereka.
Ahh, memang itu adalah akal-akalan ibunya saja. Dia meminjam ponsel Carry, anak tetangga yang selalu menurut padanya karena selalu dibelikan pulsa, untuk menanyakan kabar anak menantunya.
Flashback...
"Pak, ibu masih khawatir bagaimana keadaan Ayla dan suaminya sekarang?"
"Kenapa Ibu khawatir? Anak itu akan bercerita kepada kita kalau terjadi sesuatu dengannya."
"Tetap saja..." Xenia menjeda kalimatnya.. "Pak, Bapak sudah bilang belum pada teman Bapak, Ayla sudah menikah sekarang?"
"Tidak, untuk apa? Itu kejadian dulu," jawabnya santai.
" Memang, Pak. Tapi bagaimana jika teman Bapak menagih?"
"Iya sii..." Xenia melihat Carry sedang bersantai dihalaman rumahnya. "Pak, ibu mau minta tolong Carry dulu, ya, Pak. Mau menanyakan kabar anak menantu kita. Ibu takut kalau anak kita di KDRT kayak cerita di tv tv.."
"Loh, Bu. 'Kan bisa pakai ponsel kita.."
"Ponsel ibu gak ada pulsanya, ibu lupa isi ke counter. Jauh, Pak.."
Memang setelah mereka bangkrut 15 tahun yang lalu, saat Ayla masih berumur 6 tahun, Rocky memboyong keluarganya ketempat terpencil dan sangat jauh dari kota. Hal itu dilakukannya tak lain adalah karena malu kepada ayahnya karena tak berhasil memperbesar perusahaan yang dititipkan kepadanya.
Mereka menghilang bak manusia yang ditelan bumi. Dan jadilah mereka tinggal dikampung, karena sering membaur dengan masyarakat setempat, gaya berbicara dan gaya berpakaian mereka pun sudah berubah seperti masyarakat biasa. Perlahan mereka pun melupakan statusnya sebagai mantan milyuner.
"Carry, Ibu pinjam ponselmu sebentar." Saat ini Xenia sudah berada di halaman rumah Carry.
"Untuk apa, Bu?"
"Menanyakan kabar Ayla dan suaminya. Tenang saja uang pulsa akan ibu kasih tapi nanti sekalian kamu isiin pulsa ibu.."
Carry pun tersenyum senang. Ya! Hanya kuotalah hal terpenting dihidupnya. Tanpa kuota hidupnya bagai malam tak berbintang, sunyi dan gelap. Lebay memang tapi itulah kenyatannya.
__ADS_1
"Ayla, bagaimana kabarmu?"
Xenia kini sudah berada diatas kenteng rumah Carry, maklum disana adalah kampung, sinyal pun terasa enggan masuk kedalam kampung mereka, mungkin karena belum ada tower yang ingin bersinggah ditempatnya.
Setelah berbincang-bincang dengan anaknya, Xenia meminta foto kebersamaan mereka. Tujuannya adalah ingin memastikan apakah anak perempuannya itu bersedih atau tidak setelah dinikahkan dengan orang asing yang sama sekali tidak mencintainya dan juga tak dicintainya.
"Nak, kirimkan foto saat kamu sedang makan bersama suamimu, ya! Ibu ingin melihatnya."
"..."
"Ehh, kamu ini bagaimana jadi istri itu harus gesit, masak makanan sendiri, suami kamu nanti disuguhin gula dirumah orang, bagaimana? Diambil orang, bagaimana?"
"..."
"Ah sudah, kamu jangan menolak. Ibu mau foto kamu sama suami kamu, ya. Ibu tunggu..."
Tut
Panggilan itu berakhir.
Flasback off...
"Aarrrgghh ibu...." teriak Ayla didalam apartemenya.
Saat ini Ayla sedang berada didapur berperang dengan talenan dan wajan. Dia memasak makanan dengan rasa kesal didadanya. Tidak menurut tapi itu adalah perintah ibunya, menurut tapi dia sangat letih sekarang.
Saat dikampus dia dan Levante hampir saja berperang dengan Avanza dan geng CTM karena buku The Fun Job itu. Tapi lagi-lagi dia harus mengalah karena buku itu sudah tidak ada di tangan Avanza dan sialnya dia tidak mempunyai bukti akurat dan Levante juga tak mampu membuatnya mengaku.
Masakannya sudah siap meski dia memasak dengan tak senang hati tapi bisa dipastikan makanan itu hasilnya akan enak, karena dia hanya memasak mie goreng instan dan telur dadar. Hanya itulah bahan yang tersisa dikulkasnya. Dia belum membeli bahan makanan lainnya untuk bulan ini.
Dia masukan nasi, mie, dan telur itu kedalam rantang. Setelah semuanya siap, dia keluar dari apartemennya menuju apartemen suaminya.
Sebuah bel dia bunyikan.
Seseorang didalam sana langsung mengacak rambutnya membentuk poni dan langsung memakai kacamata.
Ceklek, pintunya terbuka.
Ayla terkejut melihat keadaan Brio yang sudah babak belur. Wajahnya sudah tak semulus sebelumnya. Bibirnya, matanya sudah membiru.
"Brio, kamu kenapa? Kenapa menjadi babak belur seperti ini?" tanya Ayla dia begitu khawatir.
CNP
__ADS_1
Continue in my Next Post
Mohon dukungannya. Karena dukungan kalian adalah penyemangatku. Untuk dukungannya bisa berupa Like, komentar, share, vote, rate 5, dsn jangan lupa untuk mem-faforitkan novel ini. Stay tuned terus, terima kasih !!