The Couple Of MissKin-g

The Couple Of MissKin-g
Aku Mencintaimu, Tapi...


__ADS_3

Selama lima hari ini mereka berselisih paham. Dua hari kemarin kemarahan Ayla benar-benar membludak. Hanya mengusir saja yang tidak Ayla lakukan karena bagaimana pun kontrakannya ini disewa oleh mereka berdua. Baru saja kemarin Brio melunasi bayaran bulan ini. Jadi, sangat tidak punya akal jika dirinya mengusir orang.


Apalagi jika sampai tetangganya tahu dia mengusir suaminya sendiri. Uh, dapat dipastikan para tetangga kontrakannya menggunjingkannya.


Tidak dapat dipungkiri baik di kampus maupun di lingkungan kontrakannya, Ayla dan Brio cukup terkenal. Sering sekali orang-orang membercandainya dengan mengatakan pasangan unik. Ah, terserahlah kata mereka. Ayla dan Brio sama sekali tidak memperdulikannya.


Brio sudah beberapa kali memutar otaknya, namun hasilnya nihil Ayla masih belum ingin menerimanya dengan tulus.


Mungkin inilah makna dari pribahasa, nila setitik rusak susu sebelanga, karena keburukan sedikit semuanya menjadi buruk.


Tiba-tiba tercetus ide gila dipikirannya. Ya, sudahlah dia memang gila karena Ayla. Pusing sekali, wanita itu benar-benar luar biasa.


Brio menghampiri Ayla di perpustakaan. Meski cupu namun detik ini dia terlihat gagah. Ia datang langsung menarik lengan Ayla.


"Brio," pekik Ayla.


"Ikut aku," ucapnya sambil terus menarik.


"Tidak, ish," geram Ayla. Sebisa mungkin dia melepaskan cengkraman Brio. "Kamu kenapa, sih?" tanyanya setengah berbisik.


"Ay, ikut denganku sebentar saja," pinta Brio juga dengan berbisik.


"Tidak!"


"Ayo, Ayla!" Dia paksa supaya Ayla mau mengikutinya. Semua orang yang berada di perpustakaan tidak ada satupun yang tidak melihat adegan itu.


Ayla pun menurutinya dan berjalan dengan menundukan kepalanya. Tentu saja karena malu di paksa seperti ini.


Brio mengajaknya ke parkiran menghampiri si kuning kebanggaannya. Lalu kemudian dia kenakan helm pada dirinya dan Ayla. Sedangkan istrinya itu diam mencoba membaca pikiran Brio.


Brio lanjukan vespa kuningnya menuju tempat yang Ayla pun tidak tahu dimana itu.


"Pegangan, Ayla!"


"Tidak. Aku tidak akan jatuh jika kamu membawa motornya dengan benar," ketus Ayla. Brio pun melajukan vespanya dengan cepat. Tapi, secepat-cepatnya vespa, Ayla masih bisa duduk dengan benar tanpa rasa takut. Dia hanya perlu menutup telinganya dari suara bising knalpot.


Kini mereka berdua sudah ada ditempat pusat kebugaran. Ayla langsung menatap heran pada suaminya itu. Ada apa dengannya? Mengapa mengajaknya ketempat seperti ini?


Setelah selesai membuka helm keduanya, Brio kembali menarik lengannya lagi dan masuk.


Tambah penasaran saja saat tahu Brio mengajaknya ke ring boxing.


Ada apa? Mau apa? Apa dia mau adu jotos? Gila mungkin suaminya ini.


Brio memakaikan Ayla sarung tinju berwarna merah di kedua tangannya.


"Kamu mau apa sih, Brio? Lihat saja jika aku terluka kamu akan aku laporkan ke Bapakku dikampung. Ingat itu!" ancam Ayla. Dia meronta meminta dilepaskan. Namun Brio dengan sekuat tenaganya terus memaksa Ayla.

__ADS_1


Kedua tangan Ayla sudah terbalut sarung tinju.


"Kalau kamu mau adu jotos, kamu jangan pakai sarungnya. Ba bagaimanapun aku wanita?" ucapnya merasa takut. Aura Brio hari ini benar-benar berbeda.


"Kamu tinju saja aku jangan cemas, aku terima Ayla. Aku ikhlas, jika itu bisa membuatmu kembali baik padaku. Ayla, aku tahu aku banyak salah. Pertama aku marah padamu karena kamu mendekati March. Maafkan aku, Ayla. Aku salah menduga dan lebih parahnya aku malah menuduhmu, maafkan aku!"


"Kedua aku malah memintamu untuk membantuku mendapatkan Avanza. Aku tidak memikirkan posisimu sebagai istri." Brio memegang kedua bahu Ayla.


"Ketiga, aku sudah menghancurkan mimpimu, demi wanita yang hanya ingin memanfaatkanku. Maafkan aku, Ayla. Maafkan! Aku mohon.." Dia tarik badan Ayla agar mendekatinya.


Cup.


Brio mengecup bibir Ayla, dia menarik tengkuk wanita itu agar terus menempel padanya. Ayla membulatkan matanya sedangkan Brio menutup matanya. Sesaat Ayla hanya mematung merasakan degapan jangtungnya yang sangat kencang. Tapi di persekian detik dia tersadar dan


Bugh...


"Kamu gila!" ucapnya setelah meninju wajah Brio.


Brio bangkit dan kembali memegang kedua bahunya. "Iya, aku gila, Ayla. Aku gila. Aku gila karenamu aku gila karena berjauhan denganmu. Aku mencintaimu, Ayla." Dia kembali menciumnya. Kali ini dengan sangat kasar.


Ayla yang tidak bisa menghindar, pun tak tersadar memukul Brio agar dirinya dilepaskan.


Bugh, bugh....


Brio ambruk ke lantai bahkan kacamata yang senantiasa selalu bertengger itu terpental keluar dari ring.


"Mengapa kamu lakukan ini?" Air mata Ayla tak dapat lagi dibendung, luruh seketika. Dia memeluk suaminya yang masih terbaring.


"Mengapa?" lirihnya.


Takut, tentu saja dia menghajarnya tanpa ampun. Dan Brio sama sekali tidak menghalaunya ataupun membalasnya.


"Tidak apa. Jangan menangis!" Sebisa mungkin dia menahan rasa sakit itu dan mengelusi punggung Ayla.


"Aku takut. Maafkan aku..." Ayla bangkit dan menatap matanya.


"Tidak apa-apa dari pada kamu diam saja padaku," lirihnya. Kini satu tangan itu mengelusi perutnya. Rasa sakit itu tidak dapat dia sembunyikan.


"Tapi perutmu jadi sakit..."


"Aku sudah bilang aku tidak apa-apa. Aku rindu dipukul olehmu, setidaknya kamu masih mau berbicara padaku tidak seperti kemarin kamu mengacuhkan aku. Aku suamimu, aku melukaimu, aku juga harus merasakan rasa sakit luka itu, bukan? Maaf aku hanya bisa merasakan lewat fisikku bukan hatiku. Tapi setidaknya aku tahu hatimu pasti sakit sekali. Maafkan aku," ucapnya sedikit lirih.


Air mata Ayla kembali menggenang.


"Dapat teori dari mana kamu bicara seperti itu?"


"Apakah itu penting?"

__ADS_1


"Ya.."


"Tidak tahu, yang aku ingin kamu berbicara lagi padaku. Agar aku bisa menebus semua kesalahanku. Bukankah aku sudah bilang akan memperbaikinya."


"Huhuhu.." Ayla kembali memeluk suaminya, "Maafkan aku..."


"Tidak apa-apa."


Ayla segera membantunya bangkit, mereka duduk disamping. Ruangan ini sengaja Brio pesan setelah mendapat ide gila itu. Jadi, saat ini hanya ada mereka berdua saja tanpa khawatir ada yang mengganggunya.


"Aku ambilkan es atau air panas dulu ya, untuk mengompresmu..." ucapnya saat setelah mereka berada di dekat tembok.


"Tidak usah. Kamu disini saja temaniku.." pintanya. Ayla pun menurut. Dia duduk disamping Brio.


Brio menariknya dan memeluknya. "Maafkan aku!"


"Bukankah aku sudah memaafkanmu? Kemarin lusa itu."


"Iya, memang. Tapi kamu masih marah 'kan padaku?"


"..."


"Ayla, aku ingin memulai kembali pernikahan kita. Kamu mau, 'kan?"


"..."


"Ayla, setelah dipikir aku cemburu pada March, dia bisa membuat istriku tersenyum sedangkan aku? Aku tidak bisa."


"..."


"Dan bodohnya aku malah menyuruhmu untuk membantuku mendapatkan wanita yang tidak tulus dengan cara melepaskan mimpimu. Aku bodoh, sangat bodoh iya, 'kan?" Dia melirik Ayla menatap wajahnya, Ayla pun ikut meliriknya.


Cup.


Ayla mengecup daerah bawah dagu Brio. "Memang, kamu sangat bodoh sekali."


Keduanya pun tersenyum.


"Aku mencintaimu..."


"Sungguh? Tapi...."


CNP


Continue in my Next Post


Tapi, levelku nuruuuuunn jadi paling bawah. apa maumu wahai kaka editor. aku sudah update tiap hari lohhh.. kemaren-kemaren aku sibuuuk, seriusan! masih ada kueh selametannya juga nihh.. 😥😥😥😥

__ADS_1


hum 😐


__ADS_2