
Brio sudah membelikan satu keranjang buah untuk istrinya. Semuanya adalah buah kesukaan Ayla yang sudah di diktekan oleh Ibu mertuanya.
"Semoga dia suka. Eh, pasti sukalah 'kan kesukaannya." Brio terkekeh sendiri dengan ucapannya.
Dia menunggu Ayla di bangku panjang di ruang paling depan sambil memainkan jari jemarinya di lutut. Sesekali mengusap dengkulnya, karena Ayla sudah lama belum datang juga.
"Apa aku harus menelponnya? Tapi, jika dia masih bersama Livina, bagaimana? Atau dia jalan kaki? Hais, ternyata begini rasanya khawatir. Tidak karuan," keluhnya pada diri sendiri.
"Ah, aku telpon saja. Lagi pula hanya Livina."
Brio pun memutuskan untuk menelpon Ayla. Dan tak lama Ayla juga mengangkat panggilan dari Brio.
"Apa? Aku sudah ada di depan. Ini lagi sama Mas-Mas tukang ojek," jawabnya langsung menutup telponnya.
"Hais, wanita itu. Ah, aku ada ide." Kepala Brio seakan ada lampunya. "Aku sembunyikan saja buah-buahan ini." Brio langsung bergegas menyembunyikan keranjang berisi buah itu.
Entahlah, kali ini ide apa yang di miliki. Hanya bisa tertebak saat dia mengungkapkannya sendiri.
Lima menit kemudian Ayla sudah berada didepan kontrakannya. Dengan santai dia membuka pintu dan masuk ke kamar mandi. Sedangkan sang suami tengah bersembunyi dibalik tembok kamarnya.
"Brio, Brio..." panggil Ayla mencari suaminya, namun suaminya tak dapat dia temukan dimana-mana. Akhirnya dia masuk kamar dengan sedikit menggerutu, "Tadi waktu di jalan saja menelponku beberapa kali. Sekarang orangnya tidak ada. Dasar pen..." Seseorang menariknya dan sedikit membantingnya ke tembok. Orang itu adalah suaminya sendiri.
"Brio!" pekik Ayla terkejut. Apalagi kini posisi mereka saling berhadapan. Brio sengaja mengunci tubuh Ayla dengan tubuhnya dan menahan bahu Ayla dengan kedua tangannya.
"Astaga, Brio kamu bikin aku jantungan," ucapnya sambil menghembus nafasnya perlahan. "Awas, ih! Pengap tahu, mana aku habis olahraga lagi," keluhnya sambil mendorong Brio. Akan tetapi Brio tetap menghimpitnya. Mungkin jika diukur jarak mereka hanya lima inci.
"Ouh, tidak mau!"
"Brio..."
"Tadi kenapa kamu mengusirku?" tanyanya sambil menatap mata Ayla secara intense.
"Dih, mau tahu urusan orang saja." Ayla mengalihkan pandangannya. Membuat Brio semakin terkekeh dan ingin mendekatinya.
"Aku suamimu, 'kan?" tanyanya sambil terus mendekati area yang Ayla katupkan, yaitu bibirnya. Brio senang sekali menggoda Ayla yang mulai tersipu malu.
"Brio, awas, ih! Aku bau belum mandi." Dia mencoba lagi melepaskan dirinya.
"Oh, ayo! Aku juga belum mandi."
"Brio..." ucapnya sambil menunduk dan memejamkan matanya.
Brio mengangkat kepalanya lagi, namun tetap dalam posisi sebelumnya.
"Ayla, aku punya yang sesuatu yang kamu sukai, tidak panjang, tidak pendek, enak. Lalu ada yang bijinya bulat besar dan juga ada yang kecil," godanya dengan main tebak-tebakan.
__ADS_1
Ayla menyernyitkan alisnya, tidak mengerti maksud dari yang di bicarakan oleh Brio.
"Aku sukai, tidak panjang, tidak pendek, enak, biji bulat besar, juga kecil. Apa?" pikirannya melanglang buana.
"Aduh, jadi ambigu sendiri," batinnya.
"Maksudmu ap-apa Brio?" Dengan nada ketar-ketir dia bertanya seperti itu.
Brio tak kuat menahan tawanya melihat ekspresi Ayla yang menurutnya sangat lucu. Baru kali ini dia menemukan istrinya bermimik muka antara penasaran dan takut.
Ayla mendengus kesal, Brio sedang mempermainkannya. Sedetik kemudian Brio siap untuk menciumnya, namun Ayla menghalaunya dengan menghadang menggunakan telapak tangannya.
"Kenapa aku tidak boleh ...?"
"Bukan begitu, Brio," potongnya cepat.
"Lalu? Bukankah kemarin kamu juga menciumku?" tanyanya heran. Usahanya kali ini gagal.
"Kemarin aku khilaf," jawabnya masih dengan menutup mulutnya.
"Khilaf? Sama suami sendiri ada khilafnya? Ayla..."
"Brio..." Ayla segera memeluk Brio. Menurutnya ini lebih aman, jika dia akan berbuat macam-macam Ayla bisa langsung mencubit punggungnya atau lainnya. "Tolong, jangan paksa aku! Aku takut, tunggu aku khilaf saja." Ingin marah pun tidak bisa. Perkataan Ayla sangatlah lucu baginya. Ingin tertawa juga tidak bisa karena dirinya gagal mendapatkan vitamin B6.
"Ya sudah. Aku tunggu kamu khilaf, mudah-mudahan nanti malam," kekehnya. "Oh, ya. Aku punya sesuatu yang kamu sukai, tidak panjang dan pendek itu. Rasanya enak lho. Mau tidak?"
"Aw, aw. Jangan cubit, Ayla!" Brio melepaskan pelukan Ayla yang hanya menempelkan wajahnya sendiri di bahu suaminya itu.
"Habis tadi kamu bilang apa?" sungutnya.
"Pisang," sahut Brio cepat. Dia elus-elusi pinggangnya yang terasa perih itu.
"Pisang?"
"Iya, pisang. Tadi aku beli buah-buahan. Ada pisang, alpukat, anggur, apel. Sayangnya, aku tidak beli yang bulat terus ada bulunya," ucapnya seraya menggiring Ayla ke depan kulkas kecil miliknya.
"Ish!" Ayla menyikut Brio. "Kamu apa sih ngomongnya?"
"Ya, rambutan, Ayla. Masa tidak tahu? Anak kecil saja hafal. Dih, kamu pikirannya kemana, sih?"
"Kamu tuh yang ambigu!" sungut Ayla sambil memakan pisang tanpa ampun.
Nyam..
"Aw..." celetuk Brio saat melihat gaya makan Ayla yang tidak berperasaan.
__ADS_1
"Brio!" teriaknya kesal. Masa pisang yang dimakan dia yang teriak 'aw' ada-ada saja.
"Kamu tahu dari mana aku suka pisang?" tanyanya disela-sela membuka kulit pisang yang ke lima. Dan saat ini mereka sedang berada diruangan paling terdepan.
"Tadi Ibu telpon, sekalian tanya," jawabnya sambil menguliti kulit apel.
"Dih, berarti tidak ada niatan."
"Kata siapa? Kemarin-kemarin aku telpon Ibu, kok."
"Iya, buat ngulik tentang aku."
"Hehe, buat apa saja yang penting tanya soal kamu," ucapnya sambil menyodorkan potongan apel, "Astaga Ayla, kamu bener-bener suka sama pisang, ya?" Brio cukup terkejut dengan sisa pisang yang tinggal dua
"Iya, enak tahu ditambah aku juga lapar."
"Tidak salah kalau aku panggil kamu Miss Enyet," ujarnya seraya menggeleng-geleng kepalanya tidak mengerti lagi dengan Ayla.
"Oh, King Enyu komentar? Jadi, ada yang menyesal nih, beli pisang?"
"Iya. Kenapa aku beli sesisir, ya?" ucapnya sambil mengaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Takjub melihat Ayla yang seperti ini.
"Oh, jadi sekarang acaranya singgung menyinggung, sindir menyindir?"
"Astaga, Ayla!" Brio bangkit dari kursinya, mencium pucuk kepala Ayla.
"Brio!" teriaknya tidak suka.
"Maaf, Ayla. Aku khilaf," kelakarnya sambil berlari ke arah kamarnya.
"Khilaf, khilaf!"
"Mandi, ih! Bau tahu!" Brio melemparkan handuk kearahnya.
Begitulah mereka saat sedang bersama. Mungkin kalimat bagai anjing dan kucing sangat cocok untuk mereka.
Dengan segenap hati, Ayla langsung menuruti perkataan suaminya. Sebelum itu tentu dia mengambil pakaiannya yang sudah bersih dan membawanya ke kamar mandi.
Meski hubungannya sudah saling pelukan, ciuman, tapi soal urusan ganti pakaian ini masih tabu untuknya lakukan dikamar. Begitupun sama dengan Brio, ada rasa tidak terbiasa saat mengekspos tubuhnya dihadapan wanita yang dia cintai. Apalagi Ayla sangat cerewet. Hah! itu yang membuatnya tidak enak.
Saat mengingat kejadian tadi, Brio hanya tersenyum bahagia. Menyenangkan sekali rasanya hidup bersama Ayla. That's girl hella cute! (Gadis itu sangat manis!)
CNP
Continue in my Next Post
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya 😊
Hadiah dan votenya selalu ditunggu!