The Couple Of MissKin-g

The Couple Of MissKin-g
Tequila


__ADS_3

Dua hari sudah Jimny berada di India. Negara yang terkenal dengan film Bollywoodnya, selain itu India juga adalah negara terbesar ketujuh berdasarkan ukuran wilayah geografis, dengan jumlah populasi penduduk terbanyak kedua didunia. Dan dapat dipastikan disana ramai sekali.


Hidup di negri orang, Jimny tidak di beri fasilitas mewah seperti di Indonesia. Hanya satu apartemen biasa, mobil biasa dan uang pun dijatah persatu bulan. Jika dia menginginkan uang tambahan maka dia harus bekerja di perusahaan ayahnya dan menjadi staff biasa.


Bagi orang lain, ayahnya masih memiliki hati tapi bagi dirinya dan Baleno, ayahnya sungguh tidak berperasaan.


Dua hari ini juga Arena sering terlihat melamun. Memikirkan anaknya yang sudah berada di negri orang. Dia rindu sekali akan manjanya Jimny, tawa Jimny, dan lainnya. Yang biasanya menjadi obat penat setelah seharian bekerja.


Sedangkan Baleno saat ini sedang sibuk meyakinkan perusahaan Toyota. Avanza tidak bisa meyakinkan kedua orang tuanya, untuk memberikan tender itu pada perusahaan Suzuki.


Mereka bilang tidak untunglah atau apalah, yang pastinya mereka tidak ingin memberikannya pada Suzuki. Mereka ingin bekerja sama dengan perusahaan lain yang mereka yakini bisa menghasilkan untung besar pada perusahaannya.


"Apakah Anda tidak bisa memberikannya kepada kami??" tanya Baleno. Saat ini dia sedang berada di perusahaan Toyota.


"Maaf sekali, Pak. Kami tidak bisa," ucap salah satu karyawan di perusahaan Toyota.


"Iya, tapi kenapa??" sungut Baleno. "Begini saja, izinkan saya bertemu dengan Direktur dari perusahaan ini."


"Tidak bisa, Pak. Karena beliau sedang berada di Hongkong."


Baleno menghembus nafasnya kasar.


"Berikan saya nomor ponselnya!!"


"Maaf, Pak. Tidak bisa. Beliau sedang tidak ingin diganggu."


Baleno menatap karyawan itu dengan jengah. Dia merasa dirinya tengah dihalangi oleh karyawan yang ada di hadapannya.


Akhirnya dia memilih keluar tanpa pamit padanya. Saat setelah diluar dia langsung menghubungi Avanza.


"Sayang, kamu pasti punya nomor ponsel Ayahmu, 'kan? Boleh aku minta?"


"Ada. Tapi, masalahnya Ayah itu punya banyak nomor. Aku saja tidak tau dia menggunakan nomor ponsel yang mana?? Kadang ketika aku butuh pun susah sekali," ucapnya disebrang sana.


Baleno yang masih berapi-api karena tindakan karyawan itu dan juga Avanza yang terdengar seperti tidak ingin membantunya pun mulai naik pitam.


"Vanz, sebenarnya kamu mau tidak menikah denganku? Kalau kamu mau menikah denganku, menghabiskan sisa hidup bersamaku. Common, please! Ku mohon bantu aku!" bentaknya. Baleno sudah kehabisan akal dengan keinginannya yang sudah menggebu itu.


"Aku bukannya tidak mau menikah denganmu. Tapi masalahnya aku tidak bisa membantumu. Apa kamu tidak tahu? Ayahku tidak ingin diganggu jika sedang berada diluar negri. Bisa-bisa saat dia datang aku diusir dari rumah. Seharusnya kamu mengerti aku, dong!" Avanza berbalik marah.


"Ya tapi 'kan kamu anaknya. Kamu punya clue apa gitu, biar aku bisa ambil hatinya. Terus dia mau memberikan tender itu sama aku."


"Ya, aku tidak tau harus bagaimana? Aku tidak pernah mengurusi perusahaan. Kamu tau itu, 'kan? Memangnya kamu tidak bisa merayu Ayahku?"


"Sudah. Tapi tidak berhasil."


"Ya, bagaimana lagi? Aku juga tidak tau harus bagaimana?"


Prett


Dia langsung mematikan ponselnya itu. Kenapa disaat genting seperti ini, Avanza tidak pernah membantunya? Kesal sekali rasanya. Hubungannya seperti mengayuh sepeda dengan satu pedal. Tidak bisa cepat tiba pada tempat tujuan.


Akhirnya Baleno pun pulang ke rumahnya. Ignis, papanya terus saja menelpon memintanya untuk segera memberikan informasi tentang terder yang diinginkannya.

__ADS_1


"Pah, aku tidak bisa!" ucapnya sambil menghembus nafas keputusasaan.


"Apa? Bagaimana mungkin kamu tidak bisa? Bukankah kamu dekat dengan anaknya?"


"Iya, Pah. Tapi, dia tidak bisa membantuku."


Ignis memegang keningnya, memijatnya beberapa kali. Kenapa semuanya tidak ada yang berguna bagi dirinya? Tidak ada cara lain, agar perusahaannya tetap berdiri dia harus segera menjodohkan anaknya dengan Livina.


"Minggu depan kamu harus ikut papa, bertemu dengan keluarga Nissan!"


"Apa? Pah, katanya aku bisa membatalkan perjodohan ini?"


"Kamu ingat perjanjian kita? Gara-gara kamu Jimny jadi pergi ke India."


"Ya, sudah. Pulangkan saja Jimny, Pah. Tidak sulit, bukan? "


"Tidak bisa!" Ignis langsung teringat dengan malam itu. Arena mengajukan pertanyaan, dan dengan percaya dirinya Ignis menjawabnya dengan tegas, bahwa dia akan tetap menikahkan salah satu anaknya dengan Livina. Jika Baleno tidak berhasil.


"Tapi kenapa, Pah?"


"Karena kamu gagal. Ingat, untuk hadir minggu depan. Perusahaan kita sudah tidak bisa menahannya lagi, kita butuh suntikan dana, Nak!" ucapnya dengan lemas.


"Tidak, Pah! Aku tidak mau, aku tidak mencintainya, Pah!"


"Sudahlah Baleno! Saat kamu sudah mendapatkan hak kita, hak kakek kamu, kamu boleh menceraikannya."


"Tidak, Pah. Aku cuma mau menikah dengan satu orang dan itu Avanza bukan Livina."


"Tidak!" tolaknya mentah-mentah. "Yang hanya aku inginkan itu hanya Avanza. Tidak ada yang lain, titik."


Brakkh


Sebuah pintu sudah dibanting Baleno.


Ignis sudah tidak tahu lagi apa yang harus dilakukannya. Sebenarnya dia pun tidak ingin perjodohan seperti itu, dia pun ingin menjadi ayah yang menikahkan anaknya dengan orang yang dia cintai. Tapi semua ini adalah perjanjian antara dia dan juga kakek Livina. Dia tidak bisa mengingkari perjanjian ini..


Baleno membanting stirnya menuju club yang biasa dia datangi. Suasana hatinya benar-benar kacau saat ini. Yang dia butuhkan adalah bersenang-senang agar pikirannya kembali jernih.


"Hai, Bos!" sapa Si Manager club tersebut, yang tak lain adalah March temannya sendiri.


"Hai!"


Melihat wajahnya yang kusut dan tidak bersemangat, March menawarkan sesuatu minuman yang sedang dibuatnya.


"Satu gelas margarita, kamu pasti tahu isinya apa?"


"Tequila.."


"Ya, cobalah, aku baru mencoba membuatnya."


"Heh!" Sebuah senyum sinis tersungging dibibirnya. "Aku akan mencicipinya dan memberikan pendapatku tetang minuman ini. Tapi satu botol vodka dan seorang supir untuk malam ini, bagaimana?"


"Okay, akan ku kabulkan."

__ADS_1


Baleno pun mencicipinya dan memberikan pendapatnya tentang minuman itu.


sedangkan diluar sana ada seorang wanita yang memakai dress selutut berwarna putih, baru saja memasuki club tersebut.


Dia mengedarkan pandangannya. Mencari tempat yang bisa membuatnya tenang.


Dia adalah Livina Nissan, gadis cantik yang malang yang akan dijodohkan dengan Baleno tapi hatinya mencintai adik Baleno.


Setelah kepergian Jimny ke India, Livina terlihat sangat murung. Dia seperti kehilangan separuh jiwanya, nafasnya, hidupnya, semuanya.


Tidak ada lagi yang bisa membuatnya semangat menjalani hidup.


"Jim, kamu tau ditempat ini kita kembali bertemu setelah bertahun-tahun lamanya. Kala itu kamu menolongku dari lelaki yang bejat yang aku jadikan kekasih. Tapi sekarang kamu pergi meninggalkanku." Livina menengguk sekaligus minumannya. Lalu dia menuangkan kembali.


Dia melihat orang disekelilingnya yang sedang berjoget ria. "Semua orang bisa menutupi kesedihannya, sedangkan aku? Aku tidak bisa bersemangat lagi setelah kamu pergi." Dia meneguk lagi minuman yang dipesannya.


"Yang paling menyakitkan adalah kamu menolakku mentah-mentah dan memilih luar negri daripada aku. Apakah aku tidak bisa menarik perhatianmu, Jim."


Nampak terlihat diraut wajahnya yang muram dan kusut.


"Tidak, Liv! Tujuanmu kemari adalah untuk berbahagia, lupakan semuanyaa. Lupakan Jimny, lupakan. Aku harus mengatakan semua ini pada Avanza, aku tidak ingin dinikahkan dengan Baleno. Aku tidak ingin mengkhianati temanku sendiri. Setelah ini aku harus membatalkan rencana perjodohan ini."


Saat Livina tengah larut dalam lamunannya, terdengar seruan DJ, "Everybody lets dance together...!!" DJ itu langsung memutar piring kaset kebanggannya.


Musik berdentum keras memenuhi ruangan itu. Lampu kerlap kerlip dan manusia yang berjodet asik dibawah paparan cahayanya, menjadi icon tersendiri dari sebuah club.


Tak sadar Livina pun ikut berjoget bersama yang lainnya. Ditangan kanannya tergengam satu buah botol minuman.


Dia tidak bisa menahan lagi hasrat ingin berjoget di bawah bola lampu tersebut.


Setelah lelah berjoget, dia merasa pusing dan mual. Langsung saja dia berlari kearah toilet.


Hoek


Hoek...


Seertttttt, suara air dari wastafel yang sedang digunakannya. Dia membasuh mukanya, untuk menyegarkan dirinya. Namun sia-sia saja dia sudah mabuk berat. Satu tangki air pun tak mampu untuk menyadarkannya.


Setelah mualnya sudah berkurang, dia keluar dari toilet itu. Dan ambruk dihadapan seorang pria.


Brukh...


"Hai!!" Pria itu menendang pelan kaki Livina. Tetapi Livina diam saja, akhirnya pria itupun berjongkok dan membalikan tubuhnya.


"Livina??"


CNP


Continue in my Next Post.


Maaf ya bila ada kekeliruan dan kesalahan dalam menulis. Harap sekiranya para Readers mengerti.


Mohon dukungannya. Karena dukungan kalian adalah penyemangatku. Untuk dukungannya bisa berupa Like, komentar, share, vote, rate 5, dan jangan lupa untuk mem-faforitkan novel ini. Stay tuned terus, terima kasih !!

__ADS_1


__ADS_2