The Couple Of MissKin-g

The Couple Of MissKin-g
Aku Benci Kamu!


__ADS_3

Brio dan Levante sama-sama berlari mengejar Ayla. Leva tabrak semua orang yang berada disana. Dia butuh penjelasan mengapa Ayla mengundurkan diri. Pasti sudah terjadi sesuatu kepadanya. Tapi kenapa dia tidak bercerita? Siapakah dirinya di hati Ayla?


Brio sendiri ingin segera meminta maaf padanya dan ingin memperbaiki semuanya. Berharap Ayla tidak akan membencinya. Berharap semuanya akan baik-baik saja. Tidak, dia tidak ingin berpisah dengan Ayla. Orang yang sudah mau menerimanya dengan apa adanya dia.


Brio sampai lebih dulu disana. Dia berjalan perlahan mendekati Ayla. Melihat Ayla yang berteriak begitu frustasi, membuat air matanya juga ikut berlinang. Brio merasa sangat-sangat bersalah. Sungguh dia bodoh, lebih bodoh dari pada hewan yang paling bodoh.


Brio mendekati gadis malang itu, dia ingin memeluknya, mendekapnya, merengkuhnya.


Tapi dari arah belakang ada seorang wanita berambut pendek berbaju kasual menariknya, terus hingga tangga.


"Siapa kamu? Apa yang mau kamu lakukan?" bentaknya, "Kamu jangan macam-macam pada sahabatku, ya!" Orang itu adalah Levante.


"Aku, aku fans-nya," kilahnya. Bukan dia tidak ingin mengatakan bahwa dirinya adalah suami Ayla. Melainkan mereka berdua sudah sepakat tidak akan mengatakan hubungannya ke semua orang, "Tolong, biarkan aku untuk menemuinya."


"Tidak, aku tidak akan membiarkanmu." Leva masih belum percaya dengan orang yang ada dihadapannya ini yang mengaku sebagai fans-nya Ayla.


Jika dia fans kenapa baru kali ini dia melihatnya?


"Dia sedang menangis, dia membutuhkan seseorang," ujar Brio.


"Ada beberapa orang yang hanya membutuhkan waktu sendiri. Biarkan dia seperti itu, dia wanita yang kuat. Harusnya kamu tau kalau memang kamu benar fans-nya."


"Ayolah..."


"Ngomong-ngomong apa kamu tahu alasan dia mengundurkan diri?"


"Tidak," jawabnya singkat.


Dalam situasi ini dia tidak akan mengatakan yang sebenarnya.


"Kasihan Ayla. Mimpinya yang ada didepan mata lenyap sudah. Padahal dia sudah mempersiapkan dirinya dengan baik. Tapi tidak tahu kenapa hari ini dia malah mundur."


"Kamu benar sahabatnya?"


"Ya, kami baru beberapa bulan saling mengenal. Dia sangat berbeda dari yang dirumorkan. Dia baik, perhatian. Tapi sayang banyak orang tidak menyukainya." Sesaat Leva terdiam.


"Tunggu apa kamu tahu siapa pacarnya?" tanya Leva yang tiba-tiba ingat dengan ucapan Ayla tempo lalu. Saat dia bersedih karena pacarnya mencintai orang lain.


"Pacar?" tanya Brio terheran-heran.


Siapa lagi pacar Ayla?


March 'kah?


"Kamu ini fans-nya bukan sih? Tidak tahu apapun tentang Ayla," sungut Leva.


"Aku fans-nya. Tapi aku tidak suka menguntitnya. Aku tidak tahu dia punya pacar atau tidak," bohongnya lagi.

__ADS_1


Ahh, kehidupan pura-pura ini membuatnya banyak berbohong.


"Huh, aku dengar dia punya pacar tapi pacarnya menyukai Avanza," tuturnya. Brio akhirnya tahu siapa yang dimaksud Leva. Ada rasa senang dalam dirinya saat diakui sebagai pacar.


"Aku pikir ini semua pasti karena pacarnya itu." Leva mengepal satu tangannya dan memukulkannya pada telapak tangan lain yang terbuka, "Jika saja aku tahu siapa pacarnya akan kuhajar dia, biar sekalian kukuliti dia."


Gluk,


Brio menelan salivanya. Menatap takut pada Levante. Sungguh jika sedang seperti ini Levante lebih seram daripada pembunuh.


"Kamu yakin akan mengulitinya?"


"Ya. Jika aku tidak bisa, kumasukan saja pada mesin pencabut bulu ayam. Lalu dagingnya akan kubuat mie dan bakso. Atau akan kuberikan pada harimau biar dia berpikir kalau Ayla itu menyukainya."


"Kamu tahu dia menyukai, siapa pacarnya itu?"


"Ya, dia curhat padaku saat dia memberikan coklat pada Avanza. Dia sangat sedih bahkan sampai menangis. Laki-laki itu bodoh malah menyukai Avanza, wanita iblis."


Brio tercubit hatinya mendengar Levante mengatainya bodoh. Tapi dia tak menyalahkannya karena memang benar dirinya bodoh, sangat bodoh.


"Sebegitu sedihkah dia?"


"Ya.."


Dia teringat Ayla yang pagi-pagi sudah semangat membuatkan Avanza puisi.


Kenapa dia tidak menolak dan mencoba jujur?


"Apa pacarnya itu tidak tahu ya, jika Avanza itu sering sekali menyakiti Ayla."


"Menyakiti?" tanya Brio heran. Ayla tidak pernah mengatakan apapun tentang masalahnya apalagi Avanza.


Drttt


Ponsel Leva bergetar, dia menerima panggilan itu. Lalu tak lama kemudian,


"Aku harus pulang dulu. Jagakan Ayla untukku..." ucap Leva lalu dia pergi.


Brio sendiri disana. Kemudian dia mengintip Ayla yang masih setia dengan tangisannya.


"Apa dia suka kesini saat dia bersedih? Jadi, hari itu mungkin saja dia sedang ada masalah. Dia benar-benar tidak melaporkan aku pada Baleno. Dia tetap baik padaku meski aku sudah menuduhnya." Brio tak mampu melihat Ayla yang terus saja menangis. Dia menghampirinya, dia ingin meminta maaf pada wanita itu, kini dia tau semua yang telah dia lakukan adalah salah.


"Ay.." lirihnya sambil memeluk dari belakang,


keinginannya yang sempat terjeda oleh Levante. Dia mengeratkan pelukan itu.


"Kamu?" Ayla berbalik dan melepas pelukan itu. "Apa yang kamu lakukan? Jangan sentuh aku!"

__ADS_1


"Ay.." lirihnya lagi.


"Ada apa lagi, Brio? Ada apa lagi? Apa kamu belum puas menghancurkan hidupku?" teriaknya.


"Ay, maafkan aku.." ucap Brio hendak memegang tangannya. Namun dengan cepat Ayla menghindar.


Kecewa. Brio kecewa sekali. Tapi ini semua juga karena salahnya.


"Ay, maafkan aku.." Kedua kalinya dia mengulang kata itu.


"Pergi kamu, Brio. Pergi! Enyah saja dari hidupku.." Dia kembali menangis.


"Tidak Ayla, tidak akan."


"Jika kamu tidak mau pergi, biarkan aku yang pergi.." Ayla segera berlari. Saat baru 5 langkah saja kakinya sudah tidak kuat. Luka lecet itu makin menjadi, ia berdarah seakan mewakilkan hatinya juga.


"Akhh.." pekiknya sambil memegangi kakinya.


"Ayla..." Brio segera memangku Ayla dengan ala pengantin baru.


"Lepas, Brio. Lepas.." Dia meronta, akan tetapi Brio tidak mendengarkannya. Rasa cemasnya membuatnya tuli.


"Lepas.." lirih Ayla. Tangisan itu kembali membuncah.


Dia turunkan Ayla ditempat dia tadi ditahan oleh Levante.


"Tolong jangan menangis!" Brio mengusap air mata yang ada di pipi Ayla dengan ibu jarinya. "Kenapa kakimu berdarah? Kamu ceroboh sekali," marahnya dengan rasa sayang setelah dia membuka sepatu Ayla.


"Kita ke rumah sakit, ya!" ajaknya kemudian. Namun Ayla terdiam memandangnya.


Kenapa Brio lakukan hal ini? Apa dia mempunyai permintaan lain? Apa dia belum puas menyakitinya?


"Aku benci kamu, Brio." Ayla mengambil sepatunya lalu berjalan dengan pincang. Dia tidak kuasa melihat Brio dengan wajah yang seperti ini. Ia takut untuk sakit hati yang kesekian kalinya.


CNP


Continue in my Next Post


Benar-benar minta dukungannya. Untuk men-share dan mem-faforitkan novel ini.


Kurang dan lebihnya minta maaf dan terima kasih!


Untuk pembaca yang ada didaerah yang terkena banjir, semoga kalian baik-baik saja. Dan semoga air segera menyurut.


Aku benci kamu ehh


I love youuu. 😍

__ADS_1


__ADS_2