
Livina sedang merenungkan nasib dirinya dan janin yang sedang dikandungnya. Janin itu berumur 3 minggu dan sudah pasti ayah dari janin itu adalah Baleno.
Obat-obatan yang kemarin dia minum tidak dapat menghalau perkembangan janin itu. Meski dia sudah beberapa kali meminumnya, tapi tetap saja janin itu tubuh di rahimnya. Entah ini kemalangan atau anugerah bagi Livina. Kehadirannya sangat tidak diinginkan olehnya. Tetapi, dia juga tidak dapat mengusirnya.
Seminggu yang lalu, sepulang dari kampus Livina kembali pingsan. Kedua orang tuanya, Juke dan Terra, menjadi panik saat mendapati Livina sudah terkapar di ruang tamu.
Mereka langsung memanggil dokter pribadi mereka. Setelah dokter itu memeriksa dan mereka tau keadaan Livina yang sedang berbadan dua, mereka marah, bukan main!
Putri satu-satunya, putri yang mereka cintai, sudah mengkhianati kepercayaan mereka.
Sungguh saat ini mereka seperti dilempari kotoran kerbau yang tepat mengenai muka mereka.
Bukan hanya marah, kesal, sesal yang mereka rasakan tapi juga malu yang tidak dapat ditutupi lagi oleh mereka.
Bagaimana jika kabar ini sampai terdengar, bukan hanya Livina dan mereka yang tercoreng namanya tapi juga perusahaan Suzuki kebanggaan kakeknya, Elgrand.
Omongan para tetangga, kerabat, relasi bisnis, dan semua orang yang mengenal mereka akan menjadi momok terbesar yang akan mereka takuti dan hindari.
Tapi, sebelum semua orang tahu harus ada yang menutupi aib besar keluarga Nissan ini.
"Siapa ayah dari anakmu?" ucap Juke dengan nada pelan namun penuh penekanan.
Livina tidak ingin menjawab. Dia tidak mau menikah dengan Baleno. Dia juga tidak mau memfitnah Jimny atau laki-laki lain dengan kehamilannya ini.
"Jawab Livina!" bentak Juke. Orang tua mana yang tidak marah saat mengetahui aib sebesar ini disembunyikan oleh anaknya.
Sementara Livina dan maminya sudah menangis terisak-isak. Dia tidak menyangka putri semata wayangnya itu tega berbuat hal yang memalukan bagi keluarga.
"Jawab Livina!"
Prak pray... Bentakan Juke disertai dengan pecahan guci yang ada dikamar Livina.
"Sayang." Terra menghambur memeluk Livina, "Katakan, jangan takut! Kami akan melindungi mu dan bayimu.."
Livina menggeleng sambil menangis. Sungguh dia tidak mau mengatakan semuanya.
"Livina..!" Juke sudah mengangkat tangannya.
"Pih.." jerit Terra.
"Baleno.." Tak dapat di bungkam lagi, Livina mengatakan yang tidak ingin dia katakan. Bentakan papinya benar-benar membuatnya terkejut kaget.
"Apa?" lirih kedua orang tuanya.
"Apa kamu bilang?" Terra ingin memastikan apakah perkataan anaknya itu benar atau pendengarannya yang salah.
"Baleno?" tanya papinya.
"Iiiiya Ba Baleno.." Jebol sudah sebuah nama yang sedari tadi ingin mereka dengar.
"Benar, Nak? Apakah anak ini anak Baleno?"
__ADS_1
Livina sudah tidak dapat menyimpan rahasianya. Sekarang hidupnya sudah kacau balau. Orang tuanya akan segera melakukan pertemuan yang sempat tertunda selama dua minggu dengan keluarga Suzuki.
Mereka tidak ingin aib ini terdengar oleh orang-orang, mereka tidak ingin Livina melahirkan tanpa seorang suami, dan anaknya lahir tanpa ayah. Tidak, semua itu tidak boleh terjadi.
Malam ini setidaknya pertuangan harus segera mereka laksanakan. Juke dan Terra tidak memberitahu Ignis dan Arena terlebih dahulu tentang rencana makan malamnya malam ini. Bukan bertujuan untuk melakukan surprise, melainkan bertujuan agar Baleno tidak mangkir dari pertanggungjawabannya.
Syukur-syukur mereka bisa melakukan pernikahannya secepat mungkin. Mengingat perut Livina yang akan membesar. Dan lagi pula mereka berdua sudah ditakdirkan bersama sejak dini, bukan?
Disebuah restoran yang terkenal mewah dan makanan ala westernnya yang paling enak sepenjuru kota J, mereka bertemu.
Tampak wajah Baleno yang ditekuk karena tahu pertemuan ini akan sangat terasa membosankan baginya. Dua minggu yang lalu dirinya bisa lolos dari pertemuan kulot ini. Namun kini dia sudah berada ditempat yang akan merubah hidupnya.
"Bagaimana kabar, Nak Baleno?" tanya Juke dengan ramahnya.
"Baik, Om!" sahutnya dengan senyum palsu.
Kedua laki-laki yang sudah mulai paruh baya itu kembali berbincang ditemani para istrinya. Sedangkan Livina, dia menunduk diam. Ingin sekali dia pergi dari tempat terkutuk itu. Namun, perkataan maminya kembali terngiang.
"Jika kamu tidak menurut dengan kami maka bukan hanya anakmu yang menderita, tapi kamu, kami dan Kakek. Sebagai penebusan atas kesalahanmu maka menurutlah menikah dengan Baleno."
Meski Livina sudah menjawab bahwa dia tidak mau karena Baleno mencintai sahabatnya bukan dirinya, tetapi tetap saja orang tuanya tetap keukeuh memaksa Livina menikah dengan Baleno.
"Tujuan kami mengundang kalian kesini adalah untuk membahas perjodohan antara Baleno dengan Livina. Kami ingin segera mengikatkan mereka pada hubungan yang lebih serius. Bukankah sebentar lagi mereka akan selesai kuliahnya?"
Tampak mata Baleno melotot dengan sempurna. Yang benar saja akan dipercepat? Begitulah arti dari tatapan itu.
"Tapi, bukankah kita sudah membahas ini sebelumnya, mereka akan bertunangan setelah selesai kuliah nanti," ujar Ignis.
"Menikah?" Baleno sudah tidak bisa menahan rasa terkejutnya.
"Tapi, tapi. Tidak, aku tidak bisa menikahinya. Pah, Mah, Om, Tante, kami tidak saling mencintai. Benar 'kan, Liv?"
Livina hanya mendongkak lalu menunduk lagi. Tidak dapat di pungkiri memang keduanya tidak saling mencintai.
"Tidak, ini tidak bisa, Om, Tante. Aku tidak bisa memaksa orang lain untuk hidup dengan orang yang tidak dicintainya. Putri Om dan Tante pasti tidak akan bahagia."
"Bal," tegur Ignis. Tentu saja dia merasa malu, anaknya begitu lantang mempermalukan mereka.
"Pah..!"
Juke tersenyum kecut, sedang kedua wanita setengah paru baya hanya bisa saling tatap merasa tidak enak.
"O, jadi ini, Baleno Suzu. Setelah mengham*li putri orang lain dia lari dari tanggungjawab?"
Ungkapan Juke tentu saja membuat ketiga orang yang berada disana terperanjat kaget.
Apa? Menghamili putri orang? Livina 'kah yang Juke maksud?
"Bagaimana ini, jujur saja kami tidak mengerti?" tanya Arena.
"Putramu sudah mengham*li putriku," tegas Terra. Dia harus kuat, sebagai seorang wanita dia harus menegakkan keadilan untuk wanita lain, terlebih itu adalah putrinya sendiri.
__ADS_1
"Bal?" Arena menghunus Baleno dengan tatapan yang menakutkan.
"Aak aak aku memang mengandung an*k Baleno, Tante."
Bagai disambar petir ditengah malam yang berbintang. Tidak hanya Arena dan Ignis yang terkejut. Melainkan, sang ayah dari jabang bayi itu juga syok dengan ungkapan Livina. Hal yang dia takutkan akhir-akhir ini terjadi.
"Tidak, tidak mungkin!" Baleno menarik Livina untuk keluar. Dia cengkram lengan itu dengan sangat kuat agar Livina tidak memberontak.
Setelah dia mendapatkan tempat yang cukup sepi, Baleno membanting Livina. Untung Livina tidak terlalu terpental dan tidak jatuh. Dia hanya merasa sakit akibat cengkraman itu.
Lalu, Baleno dengan wajah seramnya berkata, "Apa kamu gila? Aku sudah bilang padamu untuk.."
"Untuk apa? Meminum obat? Aku sudah meminum obat, Bal. Tapi dia memang ingin hadir ke dunia ini. Atau kamu mau aku mengugurkannya? Tidak, aku tidak akan melakukan hal itu. Perbuatan kita saja sudah sangat jelas salah. Kamu ingin aku meniadakannya? Kamu jahat, Bal. Sangat jahat," geram Livina.
"Lalu kamu ingin aku menikahimu? Tidak mungkin," lugasnya lagi.
"Terserah apa maumu! Ingin lari dari tanggungjawab pun terserah. Tapi satu hal yang perlu kamu ingat. Aku akan meminta Kakek untuk memberikan harta itu kepadaku dan juga anakku. Dan kamu berserta keluargamu tidak akan mendapatkan satu persen pun dari harta itu," jawab Livina lebih tegas.
"Hoh, mengancamku dengan harta?"
"Lalu apa yang kamu inginkan? Orang tuamu mau menjodohkanmu denganku hanya karena harta, bukan? Aku tahu semuanya."
"Kamu.." tunjuknya tepat pada Livina, "Apa kamu tega mengkhianati temanmu sendiri?"
"Aku? Tega? Kamu yang bodoh! Seandainya kamu bukan Baleno, bukan putra pertama dari keluarga Suzuki, apa dia mau berpacaran denganmu?" Beber Livina. "Kamu dan Jimny sama-sama bodohnya," ucapnya lagi membakar amarah Baleno.
"Apa maksudmu? Dia tidak akan mungkin seperti itu. Apa untungnya bagi dia? Dia juga sama kaya."
Livina mendekat kearah Baleno, dan menatapnya geram.
"Aku sahabatnya apapun aku tahu tentangnya. Dan lagi pula, kamu dan aku sudah di jodohkan sedari kecil, tidak ada kata tega dalam peristiwa ini. Anggap saja aku mengambil milikku kembali." Livina mundur satu langkah darinya.
"Terserah keputusan apapun yang akan kamu ambil. Harta dan anakmu, atau tidak ada harta satu persen pun." Livina membalikan tubuhnya dan segera pergi dari sana. Jujur saja, untuk percakapan ini dia sudah menyiapkannya mental yang kuat lebih dulu.
Allahumma ba'id minnaa. Aamiin.
CNP
Continue in my Next Post
Hai, semuanya! Salam sehat dan salam cinta.
Tolong dukungannya, ya. Like, komentar, vote bunga atau lainnya, rate5, faforit dan share ke semuanya untuk tahu showrom juga ada di novel loh.. Dukungan kalian adalah semangat bagi para author!
Xiexie!
Terima kasih!
Thank you!
Btw maaf ye, kita bahas Livina Baleno dulu gess hehe..
__ADS_1