
"Aku mencintaimu.." ucap Brio sambil mengeratkan rangkulannya.
"Sungguh?"
"Iya, sungguh! Aku sangat mencintaimu." Kali ini Brio menatapnya lekat.
"Tapi..." Ayla menurunkan pandangannya.
"Tapi apa, Ayla?"
"Ah, sudahlah jangan di pikirkan!"
"Tidak, aku ingin tahu. Tapi apa?" ulang Brio lagi.
"Benarkah kamu mencintaiku? Aku takut suatu saat kamu akan meninggalkanku."
Wajah Brio yang sudah cemas berubah menjadi bahagia. Istrinya ketakutan akan kehilangan dirinya, berarti Ayla sangat mencintai dirinya. Dan itu adalah kebahagiaan tersendiri baginya.
"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Itu janjiku," ucap Brio sambil mengecup keningnya.
***
Kini mereka sudah berada dikontrakannya. Ayla selalu tersenyum pada suaminya begitupun juga suaminya. Dia sangat bahagia akhirnya kesalahpahaman itu sudah berakhir.
"Ini aku buatkanmu bubur. Oh, ya. Apa perutmu masih sakit?" tanya Ayla.
"Sedikit, tapi tidak apa. Besok-besok juga pasti sembuh."
"Oh, begitu."
"Ayla, katakan padaku tentang March."
"Oh, itu. Bukankah kamu sudah melihat? Aku berpura-pura menjatuhkan dompetku, lalu aku memintanya mengambil dompet dan aku masukan obat."
"Bukan itu maksudku. Ah, begini. Bagaimana kamu tahu kalau dia yang membuatku mabuk?"
"Aku tidak sengaja mendengarnya di kafe. Bukan hanya dia yang membuatmu mabuk tapi juga Baleno."
"Baleno?"
"Iya, makanya aku tidak bilang padamu. Karena aku takut kamu dilukai lagi oleh Baleno. Bukankah sudah dua kali kamu dibuatnya babak belur?"
"Jadi, kamu tidak ingin aku terluka."
"Tentu saja. Laki-laki cupu sepertimu sudah banyak hal yang menganggu diwajah apalagi jika ada lebam, makin parah jeleknya..." ucapnya pura-pura tidak peduli.
"Haha, hanya karena itu?"
"Kalau iya, kenapa?"
"Tidak kenapa-napa. Itu lebih baik, aku anggap sebagai pujian pertamamu."
"Cih," Ayla berdecih. "Brio, jangan dekati Avanza lagi, ya. Bukan karena dia selalu menyakitiku. Tapi, aku takut kamu terluka lagi."
__ADS_1
"Baiklah, permaisuriku," ucapnya dengan memegang tangan Ayla secara erat.
"Buburnya sudah habis, bisa tidak kamu papah aku ke kamar, Ayla?" pintanya.
"Tentu saja, aku akan memapahmu. Aku yang harus bertanggung jawab dengan sakitnya kamu."
Brio pun merentangkan tangan kanannya dan Ayla segera memapahnya kekamar.
Dengan hati-hati Ayla dudukan suaminya dikasur.
"Ah, ah.." rintih Brio, "Sakit, Ayla."
"Mana yang sakit?" cemasnya. Namun Brio bersorak sorai merasa bahagia. Ayla sama sekali tidak tahu bahwa Brio hanya mengerjainya saja.
"Disini, Ayla," tunjuknya pada perut sebelah kanan. "Disini juga," Kali ini beralih pada pipi.
"Kita ke dokter saja, ya."
"Tidak, aku tidak mau."
"Ah, aku ambilkan es lagi, ya. Biar aku kompres."
"Jangan! Tadi 'kan sudah."
"Lalu aku harus bagaiamana?" tanyanya bingung.
"Kamu disini saja." Brio menariknya agar tidur disampingnya.
"Ah," pekik Ayla, kini dia sudah merebahkan dirinya disamping Brio. Sedangkan Brio bangkit dan menggeser Ayla agar dirinya yang didekat tembok dan Brio bisa menghimpitnya.
"Enak yang sempit, Ayla." Dia hadapkan dirinya pada Ayla.
"Ih, ngawur! Pengap tahu."
"Enak, tidak pengap, kok. Aku suka."
"Ih, kamu bicara apa, sih?" Dia menjadi ambigu sendiri.
"Kamu yang apa? Otakmu ini pikirnya apa?" ucap Brio sambil mengelus kening Ayla.
"Kamu yang pikirnya apa?" Ayla mencoba membelakangi Brio.
"Eh, kamu mau di peluk dari belakang, ya?" Brio langsung melingkarkan tangannya di pinggang Ayla. Sementara kakinya menindih kaki Ayla agar tidak kabur.
"Brio..."
"Iya.." Brio lepaskan kacamatanya dan menaruhnya.
"Kenapa kamu mendadak mencintaiku? Bukannya kamu cinta Avanza?"
"Avanza? Oke, begini. Aku 'kan ceritakan padamu bagaimana aku sampai mencintainya. Tapi, apa kamu yakin akan baik-baik saja?" godanya.
"Ish, nanti aku juga bakal ceritakan mantanku yang selusin itu, kamu juga harus baik-baik saja, ya. Jangan kaget!"ucapnya sambil terus membelakangi Brio.
"Haha, awas saja kalau kamu memuji-muji mereka!" ancamnya sambil menggelitiki Ayla.
__ADS_1
"Ah haha haha, ampun Brio."
"Jangan membelakangiku! Kemarilah, tatap aku!" pintanya dan Ayla segera menurutinya.
"Jadi, aku dan Avanza...." Brio menceritakan awal dirinya bertemu dengan Avanza sampai dia mencintainya. Dia ceritakan tanpa ada setengah kebenarannya.
"Jadi, cinta pada pandangan pertama?" tanya Ayla sedikit kesal.
"Heem." Brio mengangguk cepat. Melihat raut wajah kesal Ayla, dia paham bahwa wanita itu sedang kesal mendapati kenyataan ini.
"Ayla, kamu memang bukan cinta pada pandangan pertamaku. Tapi kamu adalah cinta yang tumbuh dengan seiring berjalannya waktu. Pandangan pertama akan hilang begitu saja. Sedangkan waktu akan terus berputar dan aku akan terus mencintaimu disetiap waktu yang aku miliki," ucapnya sambil menatap Ayla lekat.
Wanita mana yang tidak luluh dengan kata-kata seperti itu. Jantung Ayla bergetar hebat, mendengar setiap kata yang dikatakan Brio. Dirinya tersipu dan mematung. Ingin sekali dia menghentikan waktu didetik itu juga. Namun, sesaat kemudian,
"Dapat darimana kata-kata seperti itu?" tanya Ayla heran. Dia sangat hafal, Brio tidak bisa merangkai kata seindah itu, tapi didepannya dia berkata sangat puitis dan lancar sekali.
"Huh." Brio mendengus kesal. "Entahlah, pengalaman pribadi mungkin?" Dia lepaskan pelukan itu dan menghadapkan dirinya menatap langit-langit kontrakan.
"Uh... Jadi, sejak kapan kamu mencintaiku?" Ayla menatap Brio dari samping.
"Sejak ... Apa itu penting?"
"Tentu saja." Ayla menatapnya serius.
"Sejak tadi." Brio mendekap Ayla. Membenamkan wajah istrinya didadanya sendiri.
"Brio."
"Peluk aku dan dengarkan aku. Aku mencintaimu mungkin saat kamu muncul di dalam hidupku. Namun, aku tidak menyadarinya. Maafkan aku."
"Tidak apa-apa." Ayla benar-benar mengeratkan pelukannya itu. Menghirup wangi semerbak tubuh Brio yang berasal dari sabun yang sering dia kenakan. Nyaman sekali.
"Ayla, aku sudah menjawab pertanyaanmu. Lalu, bagaiamana denganmu. Kenapa kamu juga mencintaiku?"
"Hah? Memangnya aku sudah bilang, jika aku mencintaimu?"
Brio melepaskan dekapannya dan menatap istrinya lagi. Hais, benar katanya. Dia belum mendengar Ayla mengatakan bahwa Ayla sudah jatuh cinta pada dirinya. Lalu, apakah wanita ini sedang mempermainkannya?
"Bukankah tadi kamu takut kehilangan diriku? Lagi pula Leva juga sudah mengatakan kamu menganggapku sebagai pacar. Ibu juga sudah bilang kalau kamu sudah mencintaiku," keukeuhnya.
"Hehe." Ayla kalah telak. Dia hanya bisa nyengir kuda. "Iya, aku mencintai suamiku. Bukan karena tampan, karena dia tidak tampan. Bukan karena uang, karena aku juga membantunya mencari uang. Bukan karena kedudukan, karena dia sama sekali tidak memiliki itu. Tapi karena hatinya, dirinya, yang bisa membuatku jatuh cinta."
Cup.
Ayla mencium pipi didekat sudut bibirnya.
"Aku mencintaimu, Brio. Percayalah padaku, jangan tinggalkan aku, dan satu lagi jangan pernah berbohong padaku sekecil apapun itu. Karena aku tidak suka."
Deg, Brio tersentak dengan kata-kata terakhir Ayla. Berbohong? Apa sudah saatnya dia jujur bahwa dirinya bukan orang biasa?
Tapi, Brio takut. Takut jika nanti Ayla pergi darinya. Karena dia tahu kini Ayla sangat membenci orang kaya. Bagaimana cara menjelaskannya?
CNP
Continue in my Next Post
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya. Xiexie!