
Tiga hari berturut-turut, Brio dan para anak buah Jazz masih mencari Ayla. Tapi hasil tetap sama nihilnya, mereka tidak menemukan dimana pun Ayla berada.
Tepatnya sehari yang lalu, Brio memberanikan diri untuk menelepon mertuanya, namun panggilan itu tidak terjawab. Untuk telpon yang kedua kali yang menjawabnya adalah operator. Mereka menyuruhnya untuk menekan angka satu. Brio pun menurutinya, dia menekan angka satu dan mulai bicara. Tapi, pesan suara itu belum ada yang menjawab. Brio gusar saat dia baru ingat, jika di kampung Ayla sangat minim sinyal.
Akhirnya dengan wajah lesu dan langkah gontai, dia berjalan menyusuri trotoar. Di layar ponselnya terpampang jelas foto Ayla yang dia screenshot dari foto profil aplikasi chatnya.
Setiap orang yang dia lewati selalu ia tanyakan, "Apakah Anda pernah melihat orang ini?" Satu dari seribu orang menjawab, "Kamu suaminya mengapa kamu tidak tahu?" maki orang itu.
"Aku memang suami yang tidak berguna. Aku selalu menyakitinya," sendu Brio. Sesekali dia menundukan kepalanya menyesali kebodohannya itu.
Melihat raut wajah Brio yang kusut dan berantakan membuat orang yang di tanyainya menjadi luluh.
"Aku ingat, dia pernah bilang padaku akan pergi ke kampung halamannya libur nanti. Tunggu! Hal apa lagi yang kamu lakukan hingga membuatnya sedih?" tanya Leva. Ya, yang saat ini berbicara dengan Brio adalah Levante, sahabat dekat Ayla. Sebenarnya Levante tahu hubungan Brio dan Ayla sedang renggang. Akan tetapi ia ingin membuktikan tentang yang dikatakan Ayla. Apakah Brio ini penipu?
"Aku tidak jujur padanya tentang siapa aku."
"Apa yang dia katakan? Barusan dia jujur," batin Leva.
"Hais, kalau begitu selesaikanlah masalahmu!"
"Maka dari itu aku datang kemari dan menanyaimu. Levante, apa kamu memiliki alamat rumahnya dikampung? Aku ingin meminta maaf padanya."
"Dasar! Suami macam apa kamu, ini? Tidak tahu alamat istri," sungut Levante geram.
"Aku, aku... Katakan, apa kamu mengetahui alamatnya?" Tak mau menjawab pertanyaan Leva yang menyindir itu, Brio pun mengalihkan pertanyaan.
"Aku tidak tahu, tapi kampus pasti tahu," Dengan santai Leva berbicara seperti itu.
Dia memang sudah tahu Ayla berada dirumahnya. Bahkan hampir setiap hari mereka teleponan. Dan dari suaranya bisa Leva tebak, Ayla tidak bahagia, sebahagia dirinya saat bersama Brio. Sebab itu, sebagai sahabatnya Leva memberitahu Brio dimana dia bisa menemukan Ayla.
Meskipun Ayla meminta untuk menyembunyikan perihal keberadaannya, tapi ia tidak bisa melihat temannya selalu dirundung sedih. Lagi pula menurutnya, mereka harus menyelesaikan masalah mereka secara dewasa.
"Astaga, kenapa aku begitu bodoh sekali?" Sesalnya sambil menepuk kening. Tanpa pamit lagi Brio segera melajukan mobilnya ke kampus.
__ADS_1
Setelah mendapatkan alamat Ayla, Brio mempersiapkan mobilnya untuk segera berangkat ke kampung Ayla. Dengan hati yang dag dig dug dia menyetir mobilnya.
Perjalanan memakan waktu kurang lebih 7 jam lamanya. Selama itu pula hatinya tidak tenang. Dia takut hal yang tidak diinginkannya terjadi, Ayla tidak menerima kehadirannya lagi.
Terlebih dari itu dia juga harus menyiapkan mental untuk bertemu mertuanya. Semoga Rocky bisa memahami keadaannya. Jujur saja, Brio juga sangat takut jika dirinya di tampar sama seperti Ayla dulu. Tapi meskipun begitu, dia tetap harus menerimanya demi bisa bersama putrinya lagi.
Dengan bermodalkan Google maps, Brio menerobos jalanan yang tentu tak semulus dan tak seindah di kotanya. Jalan berlubang, jalan. berbatuan, jalan tanah, tanjakan, dan turunan dia terjang semua.
Namun, saat dia fokus dengan ponselnya, dia tidak melihat adanya kubangan yang cukup dalam di depanya.
Brugh..
Ban mobilnya menyangkut disana.. Sialnya, hari sudah malam dan jarang sekali orang yang berlalu lalang. Tidak mungkin bagi dirinya mendorong mobilnya sendiri. Alhasil Brio hanya bisa duduk diam dan menunggu orang, atau....
Karena hati yang sudah tidak menentu, beberapa menit yang lalu dia memutuskan untuk berjalan sendiri. Ditengah gelapnya malam dan ditemani cahaya lampu dari senter ponselnya, dia berjalan menyusuri jalanan itu, masih bermodalkan google maps-nya.
Dengan menekan petunjuk arah berjalan, GPS itu mengatakan jika lokasi yang akan dia tuju hanya berjarak tinggal 210 meter lagi, artinya hanya beberapa menit lagi dia akan sampai.
Akan tetapi, sudah dari lima belas menit dia tidak sampai-sampai bahkan ponselnya mati karena baterainya yang kosong.
Segera Brio melambai-lambai tangannya. Memberhentikan motor itu.
"Pak, boleh saya tanya?" Bapak itu pun mengangguk. Tanpa berpikir yang macam-macam Brio menanyakan alamat Ayla. Ternyata tadi dia salah berbelok. Pantas saja dia tidak sampai-sampai.
Bapak yang ditemuinya itu menjadi penyelamatnya dengan mengantarkan dirinya ke depan rumah Ayla. Tapi, lagi-lagi Brio begitu sial.
"Astaga, kenapa aku begitu sial hari ini? Mobilku terjebak di kubangan, ponselku mati, dan sekarang aku terjebak diluar pagar. Sudah tidak bisa panjat, bangunkan orang juga sudah dini hari. Huh, lalu apalagi yang akan menghalangiku untuk menemui Ayla, hah?" gerutunya kesal sambil menendang-nendang batu krikil.
Tiba-tiba, angin bertiup dari pelan, sedang, hingga agak kencang. Gesekan daun dengan daun yang lainnya terdengar jelas. Suara Gemuruh hujan menghujani dirinya.
"Hah, tidak-tidak. Jangan hujan! Tadi aku hanya bercanda. Aku tidak benar-benar mengucapkannya," sesalnya sambil mendongkakkan kepalanya. Namun, hujan tidak mau berhenti malah di tambahi dengan suara petir.
"Hais..." Brio sandarkan dirinya di tembok pagar. Meringkuk duduk sambil melihati rumah Ayla. "Apa kamu tidur dengan nyenyak? Apa kamu tidak ketakutan? Aku ingin sekali berada disana dan memelukmu. Hah, sialnya... Inikah karma suami yang berbohong?"
__ADS_1
Sementara itu, di kamar Ayla dia menutupi telinganya dengan bantal. Menyembunyikan dirinya di balik selimut. Berharap telinganya tak mendengar suara petir.
Tanpa sadar dia bergumam, "Brio..." Dia eratkan pelukannya pada guling disamping. Mencari kenyamanan disana.
Subuh-subuh sekali Rocky terbangun untuk melihat kebun jahenya. Biasanya jika hujan besar, air akan mengalir melewati kebun karena letaknya berada di dataran lebih rendah dari yang lain. Dia khawatir air itu akan membanjiri kebun jahenya dan mempengaruhi kualitasnya.
Namun, betapa terkejutnya dia saat membuka pagar. Seorang laki-laki yang di percayainya atas hidup Ayla, duduk meringkuk sambil mengigil.
"Kamu?" Dengan tertatih Brio bangkit dan menyalaminya. Tampak bibir Brio yang pucat dan wajah kurang sehat.
"Untuk apa kamu datang kesini?" sungutnya karena masih kesal.
"Sa saya ingin bertemu dengan Ayla, Pak..." jawabnya terbata. Sejujurnya dia sedang menahan pusing dan meriang akibat di terpa hujan semalam.
Melihat kondisinya yang cukup mengenaskan, membuat Rocky tidak tega kepadanya. Dia segera memapah menantunya masuk.
Kedua wanita yang berada didalam pun tampak terkejut, terlebih lagi putrinya. Namun, sayang beribu sayang rasa sakitnya memuncak kembali saat setelah melihat Brio.
Dia sedikit menundukan dan menahan air matanya agar tidak jatuh. Brio menghampirinya detik itu pula. "Ayla, akhirnya aku menemukanmu..." lirihnya sambil mencoba memeluk Ayla. Tapi, beberapa saat kemudian,
Brugh...
"Brio," jerit Ayla saat suaminya jatuh pingsan.
CNP
Continue in my Next Post.
Dukunganmu menyemangatiku 😊
...Jika aku salah, jangan tinggalkan aku....
...Jika aku sedang rapuh, tetaplah bersamaku. ...
__ADS_1
...Jika aku bahagia pun pasti karenamu. ...
...You're my everything and i need you...