The Couple Of MissKin-g

The Couple Of MissKin-g
Mencari


__ADS_3

Brio membuka pintu apartmentnya. Semua lampu tidak ada yang menyala, tidak seperti biasanya.


"Kemana Ayla?" gumamnya.


Dia menekan satu persatu saklar lampu. Tapi Ayla tidak ditemukan diruang manapun.


"Kemana Ayla? Apa dia belum pulang?" Dia terus bermonolog sendiri.


Karena pikirannya berpikir bahwa Ayla sedang pergi bersama temannya, dia tidak menghiraukannya lagi. Dia pergi kekamar, keadaannya normal, rapi, dan wangi seperti biasa. Jadi, dia masih belum curiga dengan ketidakberadaannya Ayla.


Beberapa menit kemudian, mandi pun sudah selesai dilakukan, tugas kuliahnya pun sudah selesai dikerjakan. Jam sudah menunjukan pukul 22.28 wib, tapi Ayla masih belum juga datang.


Dirinya mulai khawatir. Ini tidak benar. Ayla tidak pernah seperti ini. Brio mulai gelagapan mencari Ayla. Menelpon temannya? Teman yang mana? Menelpon orangtuanya? Apakah pantas suaminya sendiri tidak mengetahui keberadaan istrinya? Terlebih ini sudah larut malam, mertuanya pasti sedang beristirahat. Tidak, itu bukan ide bagus.


Jam sudah menunjukan pukul 23.00 wib. Tapi dia masih belum menemukan petunjuk kemana Ayla pergi.


Tidak ada cara lain selain melacak nomor ponselnya. Brio khawatir terjadi sesuatu pada Ayla.


"Ris! Tolong bantu lacak nomor Ayla."


"Tidak tahu dia kemana? Di apartment tidak ada? Bagaimana kalau diluar ada orang jahat? Aku takut dia trauma lagi," cerocosnya membuat Yaris bertambah pusing.


"Cepatlah, Ris!"


"Hah! Tidak bisa. Apa ponselnya mati?"


"Ahhh, shit! Ayla..." Dia mengacak-acak rambutnya. "Dimana kamu?" ucapnya frustasi. Dia sungguh takut kejadian itu terulang lagi.


Sementara Ayla, orang yang dicarinya sedang tertidur pulas memeluk guling. Nyenyak sekali mungkin karena sudah lelah dan letih setelah bersih-bersih selama berjam-jam.


Jam 23.25 wib.


Brio masih belum juga tidur. Dia hendak pergi mencari dijalanan. Siapa tahu bertemu atau ada orang yang melihatnya pergi.


Tapi sebelum itu dia pergi ke dapurnya untuk minum. Pada saat meletakan gelas yang sudah dia minum airnya, Brio melihat secarik kertas yang sudah dilipat.


Dia pun mulai membaca:


Brio, maafkan aku! Aku pergi tanpa pamit. Sebenarnya aku ingin bilang padamu, tapi kemarin aku lihat tidurmu pulas sekali, aku tidak tega membangunkanmu. Tadi pagi giliran aku yang mengantuk berat. Jadi lupa, maaf ya!


Terima kasih, sudah mau menampungku dirumahmu! Terima kasih untuk seminggu lebihnya! Aku pergi karena aku tidak mau merepotkanmu terus. Aku pernah bilang 'kan kalau aku mau mencari kontrakan. Nah, sekarang aku sudah menemukannya.


Oh, ya! Jangan lupa makan nasi jangan roti melulu. Kasian perut kamu. Terus sekarang kamu bisa tidur dikamar lagi, tidak di sofa seperti kemarin.


Pokoknya terima kasih..! :)


Seketika saja tubuhnya menjadi lemas. Kenapa tidak dari tadi saja dia ingin minum? Huh! Dia berdecak dan menggerutu kesal, Ayla pergi begitu saja.

__ADS_1


Kini rasa khawatir itu kian memudar setelah tau Ayla kemana.


Kemana? Dia menyernyitkan alisnya.


Dia membaca kembali suratnya, tidak ada alamat yang tertera didalam surat tersebut.


Jadi, Ayla tinggal dimana? Apakah tempatnya aman? Pertanyaan itu muncul dibenaknya.


Dia harus mencari Ayla sekarang juga.


***


Seperti mendapat kontak batin, Ayla terbangun dan mengisi daya baterai ponselnya lalu dia mengaktifkannya untuk melihat jam.


Tak lama terdengar suara perutnya. Inilah akibatnya, perutnya sudah terbiasa memakan nasi, jika hanya memakan roti tidak akan bertahan lama.


Keluar mencari makan dijam seperti ini tidak akan mungkin dilakukannya. Apalagi tempat ini baru dua kali dia kunjungi.


Dia teringat akan sesuatu, dia memasukan berbagai macam makanan kedalam tasnya. Tanpa ragu lagi dia langsung menghampiri tasnya.


Namun pada saat dibuka, raut wajahnya kembali menjadi masam dan cemberut.


"Roti..." ucapnya sambil memangkat bungkusan roti.


Krecek krecek.


***


"Nah, dapat!" ucap Yaris kegirangan. Bukan girang lagi, sangat sangat girang. Akhirnya dia bisa kembali tidur setelah mendapatkan alamat itu.


Brio pun langsung melajukan motor skuternya, menuju tempat dimana istrinya berada.


Ada segelintir rasa rindu pada wanita yang akan dia datangi itu. Lalu ada semacam perasaan kehilangan saat dia tidak menemukan sosok Ayla di rumahnya.


Dirinya tak sadar bahwa dirinya sendiri sudah mulai membuka hati untuk Ayla bahkan Avanza pun sudah jarang diingatnya lagi.


Butuh 40 menit menuju alamat yang dikirim Yaris padanya. Tak apa, dia rela sedikit mengebut dan kedinginan untuk menemui Ayla.


Saat didepan kontrakan, dia bingung dimana Ayla tinggal? Kiri, kanan, tengah, kiri kedua, atau kanan kedua. Karena sudah tidak sabar, satu persatu pintu akan dia ketuk. Mulai dari kiri,


Tok, tok, tok.


Tapi tidak ada jawaban. Wajar saja, ini tengah malam. Brio memakluminya, mereka semua pasti sedang beristirahat.


Ponsel! Ya, semoga benda itu bisa membantunya. Dia mengeluarkan ponselnya dan memanggil Ayla. Setelah beberapa kali, ponselnya berhasil tersambung.


"Keluar!" ucapnya bernada pelan namun tegas, saat ponselnya sudah terhubung.

__ADS_1


Ayla tentu terkejut. "Keluar? Malam-malam seperti ini? Tidak salah?"


Tut.. Brio mematikan ponselnya.


Karena penasaran Aylapun mengintipnya dibalik jendela. Benar saja, Brio sudah ada didepan kontrakannya.


"Tunggu, tunggu, tunggu! Kenapa dia ada didepan? Inikan sudah malam waktunya tidur."


"Ck.. Lupa bawa buku nikah lagi. Bisa di grebek dua kali kalau begini," pikirnya kemana-mana.


"Tidak diberi pintu kasihan juga, sudah malam-malam dia datang kesini," monolognya.


"Ah, sudahlah bukakan saja!"


Saat dia perlahan membuka pintunya. Brio yang sedari tadi menunggu tepat didepan pintunya langsung mendorong kuat, saat sudah masuk dia menutupnya kembali.


Clek!


"Hei!" Ayla tersenyum kikuk. "Kamu kenapa kesini?" tanya Ayla. Terlihat dia baru saja menangis, membuat Brio tidak jadi memarahinya.


"Ay.." lirihnya langsung memeluk Ayla erat. Seperti menggengam balon didalam lagu balonku ada lima, erat sekali. Dia tidak ingin Ayla terlepas dari genggamannya lagi.


"Kamu tidak apa-apa, 'kan? Tidak ada yang menjahatimu, 'kan? Trauma kamu tidak muncul lagi, 'kan?"


Ayla tidak menjawab juga tidak membalas pelukannya. Dia masih dikuasi dengan rasa keterkejutannya.


Benarkah ini Brio? Kenapa dia begitu perhatian?


"Ayla.." Brio melepas pelukannya itu, memegang kedua bahu Ayla.


"Kenapa kamu tidak menjawab pertanyaanku?" Ayla yang ditanya hanya diam saja. Bingung dengan situasi dan perasaannya sendiri.


"Ay... jawab Ay!" Brio menangkup pipinya.


"Tidak apa-apa!" Barulah Ayla sadar dari lamunanya.


"Hais, syukurlah!" Brio kembali memeluknya erat. Membenamkan wajahnya di bahu Ayla.


"Kamu kenapa ada kesini?" tanya Ayla lagi disaat dirinya masih dipeluk erat.


Seketika saja Brio kembali tersadar. Dia melepaskan pelukannya itu, memandang wajah Ayla dengan pandangan kesal.


"Kenapa kamu tidak bilang kalau kamu sudah pindah kekontrakan?" bentaknya.


CNP


Continue in my Next Post.

__ADS_1


Mohon dukungannya. Karena dukungan kalian adalah penyemangatku. Untuk dukungannya bisa berupa Like, komentar, share, vote, rate 5, dan jangan lupa untuk mem-faforitkan novel ini. Stay tuned terus, terima kasih !!


__ADS_2