The Couple Of MissKin-g

The Couple Of MissKin-g
Makiak


__ADS_3

...Martabak Kacang Ijo Ampas Kelapa...


Suara keras itu memekik telinga Ayla yang sedang mencuci pakaian. Bukannya marah Ayla malah tertawa cekikikan. Dia bahagia, amat bahagia sekali. Dia sudah berhasil membuat orang yang sedari tadi tidak di dengar suaranya saat ini sedang berteriak keras. Tak apalah, jika nanti tetangga akan memarahinya yang terpenting rencananya berhasil.


"Ayla.." teriak Brio.


"Jangan teriak-teriak kamu pikir ini dihutan, apa?" sahutnya sambil terus mengucek pakaiannya.


"Memang kamu orang utannya, Enyet!"


"Ada apa sih? Kenapa marah-marah?" jawabnya sambil membilas pakaian, lalu dia nyalakan kerannya sehingga suara debit air menyeruak di dalam kamar mandi yang kecil itu.


"Kamu mengepel apa membuang air?" kesal Brio.


"Apa? Aku tidak mendengar." Ayla terus saja membilas pakaiannya tanpa menengok sedikitpun kearah Brio.


Untuk apa? Dia pikir. Toh, dia sudah tahu titik permasalahannya.


"Kamu mengepel apa membuang air, didepan?" ulangnya lagi menegaskan.


"Brio, aku sedang bekerja. Jika kamu ingin bertanya nanti saja, ya!" kilahnya.


"Ayla, lihat aku jika sedang berbicara!" titahnya, namun Ayla tidak mengindahkan keinginan suaminya itu.


Akhirnya, karena kesal yang juga sudah menyeruak di dalam dirinya, Brio masuk ke dalam kamar mandi. Ayla membalikan tubuhnya, dalam ruangan yang kecil dan sempit mereka berdua bersama. Tatapan mata Brio yang mengintimidasi tidak dapat di elak lagi olehnya.


"Brio, sedang apa kamu disini?" sebelum menyahut Brio menutup keran agar suaranya terdengar oleh Ayla.


"Apa kamu tidak lihat?" ucapnya sambil mengikis jarak di antara mereka.


"Apa?" sahut Ayla sambil menatapnya.


"Kamu yang apa?" Kini Ayla sudah terkurung disudut siku kamar mandi, "Celanaku basah," belum selesai Ayla sudah memotong.


"Ngompol?"


"Enak saja. Ini kerjaanmu 'kan. Kamu tidak mengepel dengan benar, malah membasahi keramiknya," bentak Brio lagi.


"Terus kamu kepeleset?" sahut Ayla tak mau kalah.


"Itu kamu tahu."


"O, bagus dong, biar kamu tahu kerjaan aku. Tuh, lihat baju kamu saja masih sedang aku cuci. Sedangkan kamu.."

__ADS_1


"Sedangkan apa Ayla?" Brio kesal karena Ayla melakukannya dengan sengaja.


"Kamu hanya cekikikan didepan ponsel dan laptopmu. Apa jangan-jangan itu Avanza?" tebak Ayla benar. Brio diam saja mencoba memahami keinginan Ayla.


"Brio, sadar. Kamu tinggal bersamaku, setidaknya bantu aku sedikit saja. Kamu memintaku untuk membantumu aku bantu, kamu sakit aku rawat, tinggal giliran aku yang membutuhkanmu, kemana kamu? Pakaianmu saja baru selesai aku cuci, belum aku jemur. Terpeleset saja kamu marah-marah seperti ini.." cerocos Ayla tanpa koma dan titik.


"Awas, aku mau menjemur pakaiannya." Ayla pergi dengan membawa satu ember pakaian basah.


Siapa yang tidak kesal saat mendapati suami sendiri malah sibuk dengan wanita lain. Sedangkan dirinya banting tulang untuk kenyamanan tempat tinggalnya.


"Tunggu, kenapa aku begitu kesal dengannya yang chatingan dengan Avanza. Tidak mungkin 'kan kalau aku mulai cemburu? Arrgh, Ayla," batinnya.


Sementara Brio hanya diam terpaku disana. Ada apa dengan Ayla? Tidak seperti biasanya dia semarah itu. Biasanya juga dia menerima kontrakan dengan sudah rapi.


"Huh!" Dia menghembus nafasnya kasar.


Daripada memikirkan Ayla yang mulai aneh, Brio langsung membersihkan dirinya dan bersiap untuk menemui gadis pujaannya.


**


Saat sedang menempuh perjalanan, Brio kembali memikirkan Ayla. Dirasa-rasa memang dirinya sudah keterlaluan. Bagaimanapun manusia ada batas kesabarnya. Dan mungkin saja dia sedang PMS sehingga siapapun yang ada dihadapannya akan terlihat salah.


Pulang nanti dia akan membawakan sesuatu untuk Ayla, agar dirinya tidak marah lagi. Karena pada beberapa kejadian sebelumnya, Ayla selalu memaafkannya bila diiming-imingi oleh makanan.


Saat ini dia sudah berada di dalam kafe, menunggu Avanza datang. Padahal dirinya yang meminta bertemu tetapi dirinya juga yang harus ditunggu.


Apa seribet inikah wanita? Wanita dirumahnya sedang marah-marah. Wanita pujaannya selalu datang terlambat.


Saat Avanza sudah tiba, dia langsung menyalakan laptopnya, memberikan buku yang dia bawa, dan meminta Brio untuk segera menyelesaikannya.


"Avanza.." lirihnya.


"Aku harus cepat-cepat, karena besok tugasnya akan segera dikumpulkan." Brio tidak lagi bisa melawannya. Dia tidak ingin Avanza jauh darinya jika dia sampai menunjukan amarahnya.


Sejam, dua jam, tiga jam berlalu. Entah kenapa dia memikirkan Ayla. Apakah Ayla juga sedang mengerjakan tugasnya? Atau dia belum selesai bekerja? Pikirannya mulai kisruh sendiri dengan perasaannya.


Brio menatap Avanza yang duduk diam dan memainkan ponsel.


"Kamu tidak makan, Vanz?" Dia bertanya seperti itu karena dirinya sendiri yang tengah merasakan lapar.


"Tidak, aku sedang diet?" jawabnya acuh.


Wanita yang ada dihadapannya ini sungguh tidak berperikemanusiaan. Tapi, karena sudah cinta apalah mau dikata, Brio hanya diam tidak menanggapi. Toh, wajar bagi seorang wanita menjaga tubuhnya agar terus terlihat cantik.

__ADS_1


***


Pukul 21.00 wib.


Akhirnya yang ditunggu-tunggu sudah tiba. Tugas itu selesai dan kini waktunya Brio pulang. Dia sempat berpikir bahwa hari ini Ayla bekerja. Namun, pada saat dirinya sampai di kafe tempat Ayla bekerja, Ayla tidak ada disana. Niatnya untuk menjemput gagal sudah. Meski begitu, dia tidak marah. Toh, ini salahnya sendiri menebak-nebak jadwal seseorang.


Saat perjalanan pulang, dia melihat pedagang martabak kaki lima. Dia membelikan Ayla satu loyang martabak rasa kacang ijo bercampur ampas kelapa muda. Dengan berharap semoga makanan yang di bawanya mampu meredakan rasa amarah Ayla.


Ceklek..


Pintu dia sudah terbuka. Brio meletakkan plastik yang berisi martabak itu di meja. Dia masuk ke kamar dan mendapati Ayla yang sedang tertidur ditemani buku-buku pelajaran dan laptop yang sedang menyala. Brio menarik buku yang sedang ditidurinya. Tugas itu sebentar lagi selesai. Saat dia ingin menyelesaikan tugas istrinya, tiba-tiba satu tangan merebut bukunya.


"Brio. Apa yang kamu lakukan?"


"Ayla, kamu sudah bangun."


"Kamu baru saja datang, sebaiknya langsung beristirahat." Tampak Ayla sibuk membereskan buku-bukunya seperti semula. Brio keluar untuk mengambil kantong kresek.


"Aku membawa martabak untukmu. Semoga kamu suka. Oh, ya. Sekalian aku mau meminta maaf padamu soal yang tadi pagi. Maaf aku tidak membantumu dan malah sibuk dengan urusanku."


"Tidak apa, Brio. Aku yang salah, aku sudah menjahilimu. Apa pantatmu masih sakit?"


Brio tidak menjawab dia hanya menggeleng sambil tersenyum.


"Makanlah selagi masih hangat!"


"Bagaimana jika kita makan bersama? Kamu mau 'kan?" Brio yang memang lapar tidak dapat menolaknya.


Mereka pun makan bersama ditengah malam. Ayla tidak seperti wanita lain yang akan memikirkan berat badannya dan sangat menghindari makan malam. Jika dia ingin makan makan, ya, makan saja. Toh, meski banyak makan sekalipun tidak akan berpengaruh pada berat badannya.


Sementara, Brio senang Ayla masih mau menerima makanan yang dia belikan. Memang tidak susah untuk meminta maaf kepadanya. "Akhirnya aku bisa melihat senyummu lagi, Ayla. Huh, ada apa dengan diriku? Sedari tadi aku memikirkanmu dan ingin segera meminta maaf padamu," batin Brio.


"Aku tidak bisa marah kepadanya, aneh sekali. Secinta-cintanya aku sama orang, baru kali ini kesalahan kecil yang dia buat aku langsung bisa memaafkannya," bisik Ayla sambil mencuri pandang pada Brio.


CNP


Continue in my Next Post


...Jangan lupa dukungan kalian yaaa......


...Buat naikin levelku. Hoho.. 😁😂...


...Maaf jika ceritanya masih seputar ini.. Sabar sabar 'kan dua episode. Hehe....

__ADS_1


__ADS_2