
...Dalam diri yang sama ...
...Tapi jalan yang berbeda...
...Manakah yang bisa menentukan? ...
Keesokan harinya sesuatu yang belum pernah terjadi mendadak terjadi di apartemen Chanwell. Baleno tiba-tiba memberikannya supir juga membenarkan mobil Livina.
"Aku tidak butuh sopir. Aku masih bisa mengendarainya sendiri," tolak Livina langsung. Bukan dia tidak ingin menerima bantuan dari Baleno, tapi dia curiga dengan kebaikannya yang tiba-tiba.
"Cih, sombongnya.. Jika saja aku tidak merasa bersalah, aku tidak akan memberikannya," gumam Baleno yang masih terdengar oleh Livina.
"Ya sudah, kamu bisa memberhentikannya sekarang juga."
"Ya.. Ya, tidak bisa seperti itulah. Kasihan 'kan dia, sudah datang pagi-pagi untuk bekerja malah langsung diberhentikan," katanya dengan nada tidak senang.
"Ya, kalau kasihan kamu saja yang pakai jasa sopir. Aku tidak butuh. Hamilku masih muda dan aku masih bisa menyetir sendiri. Jika sudah besar juga aku akan mengambil cuti kuliah," jawab Livina dengan enteng.
"Liv, bisa tidak sih kamu menerima pemberian dariku. Aku sedang merasa bersalah padamu. Untuk itu aku ingin memperbaiki semuanya."
"Oh, merasa bersalah. Kenapa tidak berpikir dulu sebelum bertindak?"
"Liv, ayolah. Yang ada di kandunganmu juga anakku bukan anakmu saja. Jadi, boleh dong aku sebagai Ayahnya perhatian padanya," ucapnya serius.
"Ada apa dengannya hari ini? Kemarin saja dia mengejar-ngejar Avanza, apa dia sudah ditolak? Lalu dia mulai berpihak pada kami," batinnya bertanya-tanya.
"Aku tahu, aku salah. Aku telah di butakan cinta sehingga tidak bisa melihat kewajibanku sendiri. Aku sangat menyesal meninggalkanmu dan memilih Avanza saat itu. Tapi penyesalan tanpa penebusan itu bukankah sia-sia? Jadi, aku ingin menebus kesalahanku. Dan mohon maafkan aku," ucapnya datar namun terlihat sungguh-sungguh.
Livina pun sedikit terketuk hatinya. Luluh melihat ekspresinya yang sungguh-sungguh itu, "Apa kamu sangat menyesal?"
"Iya.." Tatapan mata Baleno terlihat jujur dan sungguh-sungguh.
"Apa yang membuatmu sangat menyesal?" Korek Livina. Pengalamannya yang sering bersama Avanza membuat dirinya sedikit kurang percaya pada semua orang, apalagi orang yang dekat dengan squad-nya.
__ADS_1
"Kemarin saat aku jalan-jalan, aku melihat anak kecil dan seorang ayah yang sedang bercanda. Tiba-tiba aku gembira melihat mereka, apalagi saat mereka tersenyum bersama. Dalam hatiku bertanya, apa aku juga bisa menjadi seorang ayah yang baik, kelak? A-aku juga teringat dengan kamu pagi itu. Bukan hanya pagi itu, tapi setiap hari saat kita habiskan bersama. Ternyata ... Maaf, aku sudah menyiksamu. Untung bayimu disana sehat, dengan begitu aku punya banyak harapan untuk aku bisa menjadi ayah yang baik untuk anakku kelak," ucapnya terbata tapi pasti.
"Aku juga teringat dengan masa kecilku dulu, Ayah adalah teman, pembimbing, orang tua yang baik untukku. Aku sangat bahagia bersama Ayah. Aku juga ingin anakku bahagia bersamaku." Baleno mengatakannya dengan sangat lancar.
"Liv, aku memang belum mencintaimu. Tapi aku ingin kamu memberikan kesempatan kedua untukku. Dan ya, soal Avanza aku sudah memutuskannya. Kini tidak ada hubungan lagi di antara kami."
Livina hanya diam seraya menimbang-nimbang permintaan Baleno. Dalam hati dia ingin sekali memberikan kesempatan kedua itu tapi dalam logikanya dia sangat menolak.
Tidak mungkin Baleno akan berubah secepat ini.
"Aku tahu, kamu masih belum percaya padaku. Tapi sungguh aku tidak ingin menuntut kamu untuk mempercayaiku, bahkan mencintaiku. Tidak, aku tidak akan memaksamu untuk itu. Aku hanya ingin dan aku hanya pinta untuk memberikanku kesempatan kedua. Maukah kamu memberikannya?" tanya Baleno sembari menatap manik mata Livina secara lekat.
"Aku memang tidak bisa mempercayainya langsung. Tapi aku harus memberikannya kesempatan kedua," batin Livina sedikit berkecamuk.
"Aku akan memberikanmu kesempatan yang kedua. Tapi jika kamu mengkhianati dan menyakitiku lagi maka kamu harus menerima konsekuesinya," kecamnya tegas.
"Sungguh? Kamu akan memberikanku kesempatan kedua?" Baleno menatapnya binar dan memegang kedua bahunya.
Livina menelan ludahnya kasar. Baru kali ini dia mendapat perlakuan baik dari Baleno.
"Terima kasih, Livina!" Baleno memeluknya erat, sedang orang yang di peluknya diam membisu.
"Ekhem, maaf. Aku sudah kelewatan." Baleno merasa canggung sendiri. Entah, kenapa dia bisa spontan memeluknya...
"Dan soal sopir, apa kamu mau menerimanya? Aku khawatir dengan keadaanmu. Terlebih kita jarang satu waktu ke kampus."
"Aku akan menerimanya. Terima kasih!"
Setelah itu Baleno tampak sibuk memasakan sesuatu untuk anak dan istrinya. Dia berjanji akan memenuhi kebutuhan asupan makanan bergizi untuk sang jabang bayi dan juga istrinya. Bukan itu saja dia akan memenuhi semua kebutuhan keduanya.
Menu yang dia masak memang tidak spesial hanya telur omlet, tapi Livina menghargainya karena dia yang membuatnya sendiri.
Sesaat Livina memengang sapu, Baleno langsung meraih sapunya, seraya berkata, "Kamu jangan sampai letih. Kemarin aku dengar kamu tidak boleh melakukan aktifitas yang berat. Atau akan terjadi pendarahan lagi," larangnya tegas. Lalu dia lanjutkan menyapunya.
__ADS_1
"Tapi menyapu adalah hal yang ringan, aku tidak apa-apa."
"Tidak, aku tidak mau mengambil resiko. Dan ya, bukankah kamu sudah memberikanku kesempatan? Maka hargailah waktu ini..." kata Baleno meyakinkan.
Livina pun mendudukan tubuhnya di atas sofa sambil melihat Baleno yang sedang menyapu.
"Aku masih tidak percaya dengan apa yang aku lihat hari ini. Tapi, ini sungguh nyata. Baleno berubah. Apakah keinginanku terkabul? Tapi kenapa logikaku berpikir kalau dia hanya pura-pura? Haruskah aku mencoba membuatnya marah? Orang bilang orang yang benar-benar mencintai, jika dimarahi pun dia tidak akan berbalik marah. Ya, aku suatu saat aku harus mencoba cara itu," batin Livina.
Beberapa saat kemudian, saat Livina sedang sibuk dengan gawainya, tiba-tiba piring berisi potongan buah yang sudah di kupas muncul dihadapannya.
Ibu hamil yang lapar itu pun tanpa berbasa-basi langsung mengambil dan memakannya dengan lahap.
"Terima kasih!" Sebuah senyuman terpancar jelas di wajahnya. Memang ini yang dia butuhkan, begitu kiranya.
Sedangkan sang penyodor piring hanya menanggapinya dengan senyum.
"Hati-hati kalau makan! Aku tidak akan mengambilnya, kok. Buah ini khusus untuk kalian berdua." Baleno menyimpan piring itu di meja saat mulut Livina penuh dengan buah. Lalu dia mengelus pelan perut Livina yang sedikit membuncit.
"Nak.." Bukan sang bayi yang tersentak melainkan ibunya. Matanya terbelalak kaget saat perutnya itu di elus lembut
"Ini, Ayah. Maafkan Ayah, ya, Nak! Ayah pernah sempat tidak mengakuimu. Maafkan, Ayah," lirihnya.
"Bal, dia baru berupa segumpal darah yang masih bertransformasi ke daging. Belum bisa merespon. Tunggu dia beberapa bulan lagi."
"Iya, aku tahu. Tapi aku ingin segera mengelusnya dan berbincang dengannya. Apa tidak boleh? Lagipula kami baru kali ini berbincang. Apa kamu tidak mau aku semakin dekat dengan anakku?" cebiknya kesal. Jika dilihat, Baleno juga punya sisi imutnya.
"Bukan begitu..." Livina terkekeh melihat suaminya sedang cemberut seperti itu.
Meski dirinya sedang curiga tapi rasa bahagia tidak dapat dipungkiri olehnya. Serasa dia memiliki kehidupan yang lengkap. Anak yang sedang di kandung dan suami yang perhatian. Nikmat mana lagi yang kau dustakan?
CNP
Continue in my Next post
__ADS_1
...Terima kasih yang sudah mendukung! 😊...
...Semoga selalu dalam lindungan-Nya. Aamiin. ...