
Saat ini Jimny, papanya, mamanya, dan juga Baleno sudah berada di ruang keluarga miliknya.
Namanya saja ruang keluarga tapi pada kenyataannya ruang itu hanya menjadi ruang hiasan di rumah besar milik Ignis.
Suasana mencekam bagi Jimny sudah terasa sangat jelas. Saat ini ibunya pun yang dia kira sebagai peri dalam hidupnya, ternyata sudah mendukung ayahnya.
Baleno yang merasa aman saja, karena sudah meyakini bahwa tender itu akan jatuh pada perusahaannya, menampakkan wajah malas dengan perkumpulan mereka itu.
Sedangkan Arena menatap nanar anak keduanya. Dia tidak ingin, dia tidak rela jika sampai suaminya menyekolahkannya di luar negri. Dia tidak sanggup berjauhan dengan putra kesayangannya itu.
"Baiklah, Jimny!" Ignis memulai pembicaraan terlebih dulu. "Apa kamu mau di jodohkan dengan wanita dari keluarga Nissan?" tanyanya langsung tanpa pembukaan.
"Sudah kubilang bahwa aku tidak mau!" jawabnya dengan sangat tegas.
"Dengar itu Arena, dia tidak mau."
"Nak, tolong pertimbangkan lagi atau kamu akan dipindahkan keluar negri."
"Ouh, itu cara kalian membuangku, terserah saja. Aku tidak peduli!"
"Jimny, lihat Mama, Nak! Apa kamu tidak mengasihani Mamahmu ini? Mamah tidak ingin berpisah denganmu.." lirihnya. Terlihat air menggenang dipelupuk matanya.
"Jika Mamah tidak ingin berpisah dariku, maka jangan pernah memaksaku untuk menikahi gadis itu, Ma! Aku tidak mencintainya."
"Huh, anak tidak tau diri! Bisanya cuma membangkang rupanya," celetuk Ignis dengan senyum sinisnya.
"Dengar, Nak! Dengar!" Arena menghampirinya lalu menangkup pipinya dengan kedua tangannya.
"Drama anak dan ibu terjadi lagi, muak juga melihatnya," batin Baleno.
"Kamu mau ya, untuk di jodohkan dengan Livina, demi Mama."
"Tidak, Mah. Aku sudah pusing dengan masalah ini. Perjodohan ini tadinya di peruntukan untuk Kak Baleno. Mengapa sekarang aku yang jadi sasarannya?"
"Hai, hai, ini semua keputusan orang tua," sungut Baleno.
"Sudah!" Ignis menghentikan adu mulut kedua anaknya. "Intinya kamu mau tidak, Jim? Jika tidak kami terpaksa harus mengirimmu ke luar negri," tegas Ignis.
"Terserah.."
Brugh... Jimny bangkit dari duduknya dan membuat kursi yang dia duduki terjungkal jatuh.
"Hei, anak kurang ajar," cibir Ignis sambil berteriak.
"Lihatlah itu!" ucap Iginis sambil menunjuk Jimny yang sudah pergi. "Itu didikanmu, Arena. Kamu payah menjadi ibu." Hinaan Ignis tentu membuat lolos air bening yang ada dimatanya Arena. Seketika saja dia terkulai lemas dan menjatuhkan diri di kursi.
Ignis merogoh sakunya dan menelpon seseorang.
"Segera siapkan tiket untuk ke India sekarang juga. Cari jam penerbangan yang paling cepat!" titahnya.
Ucapan Ignis berhasil membuat Arena mendongkak tak percaya. Sebegitu ingin cepatkah suaminya mengirim anaknya keluar negri??
Arena segera bangkit dan berlari kearah kamarnya Jimny.
__ADS_1
Sedangkan Jimny, dia sudah berhasil meloloskan diri dari rumah yang menahannya itu. Rumah yang biasanya menjadi tempat untuk orang-orang mendapat ketenangan, melepas penat menjalani hari, dan lain sebagainya.
Tapi berbeda dengan rumah yang Jimny tepati. Rumah itu bagai sangkar, bagai jeruji besi bahkan yang paling parah rumah itu serasa neraka baginya. Dia tidak menginginkan rumah semacam itu.
Jimny pergi ke apartemen yang Ayla tempati. Hanya bersamanya rumah akan terasa rumah. Hanya ada kehangatan dan cinta didalamnya, ribut hanyalah bumbu penyedap diantara keduanya. Tapi Jimny masih bisa mengatasinya.
Tentu berbeda sekali dengan rumah kedua orang tuanya.
Ahh, sudahlah. Jika terus dipikirkan hanya akan menambah sayatan dalam hatinya.
Kini dia sudah berada di depan pintu apartemen Ayla. Beberapakali dia memencet bel rumahnya. Tapi tak ada satupun jawaban, sahutan ataupun pintu yang terbuka.
Kali ini dia mengetuk beberapa kali pintunya dengan perasaan frustasi. "Dimana kamu Ayla?" gumamnya.
Dia tidak ingat dengan pesan yang Ayla kirimkan.
"Aku ingin mempertanggung jawabkan kesalahanku. Ayla, tolong kembalilah! Bukalah pintu ini untukku..." lirihnya.
Bugh..
Jimny pun terjatuh pingsan.
"Bawa dia!" titah kepala pengawal yang diam-diam mengikutinya dan sebelumnya sudah menyuntikan obat bius pada tubuhnya.
***
Krucek krucek
Bunyi perut Ayla.
Akhirnya dia menderita sakit perut. Perutnya seperti di kucek-kucek layaknya baju yang srdsng dicuci.
Tak jarang dia bolak balik kamar mandi. Anusnya pun terasa perih sekali.Tidurnyapun terganggu karna diarenya itu.
Akhirnya dia memberanikan diri membangunkan Brio dikamarnya. Ya! Brio tidak mengizinkan Ayla untuk tidur dikamarnya. Dia sangat marah karena tidak semangkuk pun diberi mie yang kelihatannya menggugah selara itu.
"Nyu!" Ayla mengetuk pintu kamarnya sambil memanggil dengan sebutan yang tidak pantas.
"Nyu!"
"Nyu! Please bangun, Nyu! Perut aku sakit, melilit juga," rintihnya dengan nada lemah.
"Nyu! Aku pengen obat, antar aku ke apotek, yuk!" ajaknya. Namun Brio tak juga bangun.
"Atau kamu punya obat apa gitu untuk mengatasi sembelitnya.." lirihnya lagi. Tapi tetap saja Brio masih di alam mimpinya.
"Nyu, aduh, sakit!" Ayla mengaduh kesakitan "Apa dia pura-pura tidak dengar, ya?"
"Brio!"
"Ahh, sudahlahh! Tidur disini saja mudah-mudahan dia bangun, lagipula kamarnya dekat dengan kamar mandi. Kalau aku mau pups lagi juga mudah." Ayla segera menurunkan badannya dan terduduk tepat didepan pintu kamar Brio.
Pagi hari..
__ADS_1
Setelah mandi dan sudah siap menuju kampusnya. Brio membuka pintu kamarnya.
Brugh.
Ayla terjatuh tepat dibawah kakinya.
"Ayla, Ay.." Dia menepuk-nepuk beberapa kali pipi Ayla.
"Perut aku sakit, Brio. Kepalaku pening," rintihnya.
"Kenapa kamu tidur disini?"
"Perutku sakit, badanku lemas bolak-balik kamar mandi terus," lirihnya dengan suara parau.
Melihat bibir pucat Ayla dan tubuhnya yang lunglai karena lemas. Pertahanan amarah Brio sedikit luntur. Dia menggendong Ayla untuk tidur diranjangnya.
"Makanya jangan pelit sama tuan rumah! Jadinya kena tulah, 'kan?"
Ayla diam saja mendengar gerutuan Brio. Memang dialah yang salah. Rasa galaunya membuat orang lain terkena imbasnya. Brio menahan lapar semalaman. Sedangkan dia sendiri harus bolak-balik kamar mandi karena kekenyangan.
"Maaf!" Kata itulah yang terucap dari mulutnya.
"Ya, sudah. Tunggu disini aku beli obat sama bubur dulu!" Ayla mengangguk cepat. Itulah yang dibutuhkannya sedari semalam.
Lima belas menit sudah Ayla menunggu Brio. Di menit yang keberikutnya, Brio sudah datang dengan nampan yang berisi semangkuk bubur, segelas air putih dan juga satu lembar obat.
"Makan buburnya setelah itu minum obatnya dua kali sehari. Pagi sama petang." Tak sedikitpun dia berniat untuk menyuapi Ayla. Baginya perhatian seperti ini saja sudah cukup untuk orang yang tidak berperi kemanusiaan seperti Ayla.
"Kamu sudah makan?" tanya Ayla menghentikan langkah Brio.
"Tidak ada yang memberiku makan," celetuknya. Brio hendak beranjak lagi,
"Brio!" panggilnya lagi. Membuat Brio membalikan badannya.
"Ada apa? Ada yang kurang?" tanyanya dengan nada ketus. Sejujurnya saja perutnya kini sedang memberontak ingin diberi makan.
Ayla bangkit dari ranjangnya dan menghampiri Brio. Mengeluarkan sesuatu dari celananya.
"Ini ada uang gantinya, Terima kasih sudah mau membelikanku obat dan bubur. Kamu beli makan, ya! Aku sedang tidak bisa memasak," ucapnya sambil memberikan uang 50 ribuan.
"Aku masih ada uang. Tidak usah sok peduli. Lebih baik seperti semalam saja," celetuknya. Brio pun pergi meninggalkan Ayla sendiri.
"Cih! Sok kaya!" gerutunya. "Tidak mengerti apa semalam aku sedang badmood, sedang galau, sakit hati. Butuh sesuatu yang bisa menenangkan perut dan pikiranku. Lah ini masih pagi sudah menggerutu," ocehnya. Ayla sangat kesal dengan sikap yang Brio tunjukan kepadanya.
"Tapi, bubur itu sepertinya enak," ucapnya sambil mengelus-elus perutnya. "Um, makan sajalah, mubazzir kalau dibuang." Ayla pun segera melahap buburnya dan meminum obatnya.
Masa bodo dengan kata mandi, dia masih ingin tidur diranjang yang sangat empuk dan nyaman. Yang biaa membuat mimpi indah bertebaran.
"Hoamm!!"
Mata Ayla pun terpejam.
CNP
__ADS_1
Continue in my Next Post ya!
Mohon dukungannya. Karena dukungan kalian adalah penyemangatku. Untuk dukungannya bisa berupa Like, komentar, share, vote, rate 5, dan jangan lupa untuk mem-faforitkan novel ini. Stay tuned terus, terima kasih !!