The Couple Of MissKin-g

The Couple Of MissKin-g
Apa kita suami istri ?


__ADS_3

Apartemen Ayla sudah kosong melongpong, hanya tersisa Brio disana, mereka terbuai dalam lamunannya masing-masing.


Ayla mengambil nafasnya dalam-dalam dan membuangnya kasar, sedangkan Brio melap-lap kacamatanya yang sudah bersih. Kurang kerjaan memang, tapi situasi ini sangat canggung sekali baginya.


"Jadi, kita suami istri?" tanya Ayla yang sudah sadar dari lamunannya.


"Ya.." jawabnya singkat.


Ayla kembali mengambil nafas dalam dan menghembus nafasnya secara kasar.


"Kenapa kamu menerima permintaan orang tuaku? Kamu bisa saja kabur dan tidak menikahiku.." lirihnya.


"Apa kamu tidak ingin mendapatkan kepercayaan dari orang tuamu?" tanyanya, tapi itu hanya dalam hati.


"Jangan GR, ya! Aku menikahimu karena aku tidak ingin disebut laki-laki brengsek."


"Huh," Ayla terkejut mendengarnya, dia menatap Brio lekat, "Bukankah sudah menjadi brengsek. Masuk ke apartemen orang lain dan memeluk penghuninya diam-diam," ujarnya dengan nada marah.


"Sudah kubilang aku mabuk," jawabnya ketus.


"Makanya kalau minum itu pilih-pilih. Kalau gak bisa minum, ya, jangan belaga ingin minum. Jadinya beginikan, mabuk!" sungut Ayla.


"Iya, jangan berisik!" celetuk Brio. Sedikit kesal karena Ayla memarahinya tanpa tahu awal kejadiannya.


"Dih!" Ayla memalingkan wajahnya malas bersitatap dengan orang termenyebalkan seharian ini.


"Dengar! Aku mau menikah denganmu, itu semua karena kedua orang tuaku. Dan ingat, aku tidak ingin kamu membeberkan pernikahan kita didepan semua orang apalagi Jimny," kecam Ayla.


Brio sedikit tersentak mendengar ancaman itu. Jimny? Ahh, dia lupa jika gadis dihadapannya ini adalah kekasih dari Jimny Suzu.


"Biar ku tebak, apartemen ini bukan dari atasanmu, iya 'kan??" tanyanya.


"Tentu saja bukan semua fasilitas ini aku dapatkan dari Jimny. Dan karenamu aku sampai berbohong pada orang tuaku." Ayla melipat kedua tangannya di dada.


"Hah.." Lagi-lagi dia membuang nafasnya kasar, "Aku yang membenci kebohongan aku pula yang menjadi pelaku kebohongan," sesalnya.


Deg, Brio merasa tersinggung, bagaimanapun yang saat ini dia lakukan juga adalah kebohongan. Sekarang ia merasa sedikit takut dengan kata bohong dan juga kata jujur.


Dia tidak ingin membeberkan rencananya terlebih dahulu, meski dia sudah menikah tapi dia belum mencintai orang yang berada dihadapannya ini dan itu tidak akan terjadi.


Pernikahannya pun dia tidak tahu akan dibawa kemana? Yang terpenting dia sudah mempertanggungjawabkan kesalahannya dulu.


"Kamu benar-benar mencintainya?" tanyanya untuk menyembunyikan perasaan tersinggungnya.


"Tentu saja. Dia kaya raya dia bisa membuatku menggapai semua keinginanku dan juga cita-citaku. Sedangkan denganmu, sadarlah Brio kita orang miskin untuk makan saja sangat sulit apalagi menggapai mimpi."


"Ahh, sungguh sial, menikahi wanita ini.." gerutunya dalam hati.

__ADS_1


"Ternyata rumor itu benar, kamu matrealistis..." celetuknya, dia sangat benci orang yang hanya memandang harta.


"Terserah Brio, kamu mau bilang apa. Yang pasti saat aku menjadi orang besar nanti, mereka pasti akan mencariku.." Ayla sudah terlalu sering mendengar ejekan itu dan saat orang mengatakannya lagi, dia sudah tidak ambil pusing karenanya.


"Huh.." Brio membuang nafas dengan kasar.


"Dosa apa yang aku lakukan sampai aku menikahi gadis matrealistis.." keluhnya, kata-kata itu benar berasal dari dalam hatinya.


"Enak saja kamu bilang dosa apa? Seharusnya aku yang mengatakan seperti itu. Mengapa aku menikah denganmu yang sederajat denganku, miskin? Mengapa? Apa tuhan tidak lihat perjuanganku dalam mencapai mimpiku? Apa tuhan tidak ingin aku menjadi presenter hebat?"  Wajahnya menjadi murung seketika, air matanya sedikit berlinang, mengingat kembali perjuangan di awal-awal dirinya masuk Universitas.


"Rundukan kepalanya mengatakan bahwa dia sangat berjuang demi mimpinya," batin Brio.


"Sudahlah, jangan bersedih! Aku tidak akan membeberkannya karena aku pun sedang mengejar seorang wanita. Anggap saja tidak terjadi apa-apa, hiduplah seperti biasa lagi!" titahnya.


Brio meninggalkan Ayla sendiri disana, entah mengapa perkataan Ayla sedikit menyayat hatinya, bukan karena hinaan yang dia lontarkan kepadanya melainkan tentang mimpi yang susah payah dia dapatkan.


"Ternyata masih marak orang yang menghalalkan segala cara untuk menggapai keinginannya," ucap Brio saat dirinya sudah berada di apartemennya.


Kemudian dia teringat sesuatu, March tersangka utama yang menyebabkan dirinya berada dalam situasi seperti ini, dia harus mendapatkan konsekuesi atas perbuatannya ini.


"Hallo! Segera cari kelemahan dari March," ucap Brio pada benda pipih yang menempel di telinganya.


***


Disebuah kedai Kopitagram didaerah Jakarta. Avanza dan juga Baleno sedang bersantai ria.


"Dia aku letakan di pinggir jalan. Aku rasa dia sekarang sedang dikerumuni banyak orang dan disangka orang gila," jawabnya sambil menyeruput kopi pesanannya.


"Benarkah? Bagus kalau begitu," ucapnya kegirangan.


"Aku tidak suka dia selalu mengejar dirimu, kamu hanya milikku." Dia mengedipkan satu matanya, genit.


"Kamu." Pipi Avanza sudah merah merona. "Percayalah! Aku tidak akan pernah berpaling," ungkapnya kemudian.


"Oh ya, Sayang! Aku sedang ada masalah dengan satu wanita." Avanza kembali mengadu.


"Siapa?"


"Ayla.."


Satu wanita kecentilan yang tidak disukai Avanza ialah Ayla. Bisa dibilang bahwa Ayla adalah saingannya di kampus. Ayla sama cantiknya dengan Avanza dan mahasiswa lainnya sering mengatakan bahwa Avanza dan Ayla adalah bidadari tercantik di kampus itu. Sedangkan Avanza adalah orang yang hanya ingin menjadi nomor satu tidak boleh ada yang kedua ataupun ketiganya.


"Kebetulan sekali aku juga sangat membencinya," batin Baleno.


"Lalu apa yang akan membuat wanitaku puas, menyiksanya atau bagaimana?" tanya Baleno sambil menyelipkan anak rambutnya.


"Aku ingin kamu mengerjainya, itu saja. Aku masih ingin berbaik hati padanya," ucap Avanza dengan seringai senyum yang menakutkan.

__ADS_1


"Okay, keinginanmu adalah keinginanku juga," ucapnya menyanggupi.


"Tapi sayang, mm, aku pikir nanti saja saat aku benar-benar kesal padanya. Saat ini aku masih ingin bermain dengannya, aku ingin mengganggu hari-harinya. Dan sepertinya hari-hariku akan menyenangkan.." Seringai jahat itu masih belum luntur di wajah Avanza.


"Apapun keinginanmu lakukanlah, tapi jika dia berani menyentuhmu katakan padaku," tegasnya, Baleno memang sudah benar-benar jatuh cinta pada Avanza sehingga tidak menginginkannya terluka sedikit pun.


Saat mereka sedang asik mengobrol datanglah kedua sahabat dari Avanza, siapa lagi kalau bukan Livina dan juga Agya.


"Heh, No! Bisa geser gak kursinya, aku gak muat nih," ucap Agya sambil menggeser kursi yang baru saja ditariknya dari meja sebelah.


Memang kapasitas meja tersebut hanya bisa digunakan untuk 3 orang saja sedangkan mereka kini berjumlah 4 orang.


"Ah, Agya! Kamu bisa duduk disini dulu, aku mau ketoilet," ucap Livina kemudian dia beranjak dari meja tersebut.


Baleno yang melihat kepergian Livina pun langsung beralasan bahwa dia akan pergi dari kedai tersebut.


"Yang, aku pulang dulu ya. Kayaknya mamah lagi butuhin aku," ucapnya sambil mengotak-atik ponselnya.


"Ya sudah, hati-hati.."


Cup, Baleno mencium pipi kanan Avanza dan berhasil membuatnya tersipu malu. Sedangkan Agya hanya bengong melihat aksi mereka tadi. Bukan karena tak biasa namun karena dia adalah seorang jomblo, hatinya meronta-ronta ingin mencari penjaganya.


Saat ini Baleno sedang menunggu Livina kembali dari toilet. Tak lama seseorang yang ditunggunya akhirnya datang juga.. "Hai!" Baleno berusaha mencegah Livina dengan mencengkram tangannya.


"He! Apa yang kamu lakukan? Lepas!" sungut Livina. Baleno segera melepaskan cengkaram itu.


"Jaga rahasia kita, jangan sampai Avanza tau kalau kita sudah dijodohkan atau kamu akan tahu akibatnya."


"Siapa yang akan membeberkan rahasia kita? Aku sendiri tidak akan, aku tidak akan begitu bodoh sampai membeberkan rahasia ini."


"Bagus kalau begitu."


"Ingat untuk segera pisahkan Ayla dan Jimny. Aku tidak bisa menunggunya lebih lama."


"Soal itu tenang saja. Aku akan segera membereskan orang itu."


Setelah menatap malas Baleno, Livina meninggalkan dia sendiri. Masalah perjodohan mereka memang baru keluarga merekalah yang tahu, karena pertunangan sama sekali belum dilakukan.


"Aku harus cari tahu kejelekan Ayla, sehingga keinginan Avanza juga Livina terkabul dalam satu langkah saja." Baleno segera pergi dari kedai kopi tersebut.


...Qoutes episode...


...Jujur pada orang lain juga termasuk jujur pada dirimu....


...Bohong pada orang lain juga termasuk bohong pada dirimu....


Tolong untuk selalu mendukung karya Author dengan cara like, komentar, vote, love dan juga rate. Dukungan kalian membuat Author semangat. Terima kasih!

__ADS_1


__ADS_2