
Hari ini Ayla berangkat ke kampusnya pagi-pagi sekali dengan menggunakan ojek online. Dia sengaja tidak membangunkan Brio. Semalam ketika barang-barangnya sudah tiba didepan pintu, Ayla meminta uang padanya. Namun Brio malah menariknya masuk lalu mencubit lengannya, Ayla hanya bisa meringis kesakitan.
"Kenapa kamu membeli barang sebanyak itu? Untuk apa?" Brio melihat lagi kearah luar, nampak sang kurir sedang menurunkan lemari kecil berbentuk meja sepanjang 180cm.
Ayla membulatkan matanya. Untuk apa, dia bertanya? Laki-laki dihadapannya memang ber-IQ tinggi tapi dia curiga dengan EQ-nya apakah mines?
"Ini kebutuhan kita. Ayolah, bayar! Kasihan kurirnya kalau sampai di batalkan."
"Masalahnya aku tidak ada uang cash, Ayla."
"Hah! Bagaimana dong?" Wajah Ayla berubah cemas. Dia pun ikut-ikutan melihat keluar, nampak kurir sedang mengangkat rice cooker.
"Ya, tidak tau. Lagi pula kenapa kamu membeli barang-barang itu? Untuk rice cooker aku mengerti, itu meja untuk apa? Permadani juga untuk apa? Kamu saja yang bayar!" sungutnya.
"Kan kamu suami dalam buku, ya kamu yang bayarlah! Please, kali ini saja, barang-barang ini juga untuk kita berdua, kok."
"Tidak mau, aku tidak memesannya kok," sungutnya lagi.
"Cih! Dasar Enyu pelit, awas saja!" gerutunya sambil mengembungkan pipinya itu.
"Tadi katanya suami, sekarang Enyu." Dia menghentikan ucapannya sebentar, "Eh! Tadi kamu bilang suami ya? Yakin kamu akui aku sebagai suami? Boleh doang aku meminta hak?" godanya. Brio senang sekali menggoda Ayla. Apalagi melihatnya marah. Kehadirannya benar-benar menambah warna dihidup Brio. Entahlah! Brio tidak mengerti dengan perasaan itu. Yang jelas selama dia hidup baru kali ini hidupnya berbeda.
"Dih, katanya tidak mau modelan orang utan, Onyet, sekarang malah goda-goda." Ayla melipat kedua tangan didadanya.
"Hahaha, jadi sekarang kamu akui diri sebagai Enyet?"
Ayla menelan ludahnya kasar. Mengapa dia berkata yang mengarahkan pada pengakuan sebagai hewan primata. Apa dia sudah nyaman dengan sebutan itu?
Dengan langkah yang dihentak-hentakan, dia pergi meninggalkan Brio yang masih tertawa. Terpaksa tabungannya harus dia ambil untuk membayar barang-barangnya itu.
Setelah selesai melakukan pembayaran, dia kembali menata kontrakannya. Lebih tepatnya adalah kamar. Dia menggeser-geser lemari Brio, yang berada ditengah untuk menghadap kearah tempat tidur Brio.
Awalnya Brio protes tapi Ayla tidak mendengarkannya. Dia anggap omongan Brio sebagai eongan kucing kecil belaka. Karena kesal tidak didengarkan, laki-laki itupun membaringkan tubuhnya sampai tertidur.
Sedangkan Ayla masih sibuk menata yang lainnya. Kali ini dia gelarkan permadani lalu menata lemari meja kecil diatasnya. Posisi lemari meja itu berada sejajar dengan lemari baju Brio. Dia buat skat atau penghalang antara wilayahnya dan wilayah Brio.
__ADS_1
Meski awalnya dia tidak ingin merapihkan buku-buku Brio. Tapi pada akhirnya dia menata buku Brio dan juga buku dirinya diatas lemari meja tersebut. Dia sisihkan sedikit ruang untuk laptopnya juga laptop Brio.
Namun sialnya ketika dirinya hendak tertidur, Brio mendengkur keras. Dia kesal sekali, teramat kesal. Ingin sekali dia membubuhi mulutnya itu dengan garam, agar dirinya merasakan asin. Atau yang lebih parah dengan brotowali, agar dia merasakan pahit. Tapi Ayla tidak sejahat itu. Akhirnya untuk jalan aman dia menggunakan headset dan tertidur.
Menggunakan headset saat tidur, memang kurang baik. Bahkan menaruh ponsel didekat kepala saja tidak baik. Tapi apa boleh buat? Kondisinya sedang genting.
Kini Ayla sudah berada di kampusnya. Kampus kebanggan, kampus impian para calon mahasiswa. Beruntung saat dia datang mahasiswa yang lain belum banyak yang tiba. Jadi dia tidak merasa malu, biasa turun dari mobil sekarang turun dari ojek online.
Untuk hal gengsi dia masih belum bisa mengobati penyakitnya itu.
"Hai!" Leva menepuk bahu Ayla. "Hoam!" Dia menguap. "Kenapa kamu menyuruhku datang pagi-pagi sekali. Jam mata kuliah kita 'kan jam 09.00 ini baru jam 07.00 pagi. Hoam!" Leva kembali menguap.
"Tidak apa-apa, aku hanya rindu padamu," elaknya. Dia tidak akan mungkin menceritakan yang sejujurnya. Pernikahannya dengan Brio hanya dia, Brio, kedua orang tuanya, dan KUA yang tahu dan tambahannya adalah Yaris dan para tetangga kontrakan.
"Huh! Kemarin saja aku ingin membantumu berpindah tapi kamu melarang. Padahal aku juga ingin membantumu."
"Kontrakannya kotor sekali, aku takut kamu kelelahan," ucapnya lagi berbohong.
"Ya kalau aku kelelahan aku bisa istirahat, Ayla. Oh ya, inikan masih pagi, kita cari makan yuk! Perutku lapar, nih." Aylapun tersenyum sembari mengiyakan ajakan Levante. Memang inilah yang dia butuhkan, makanan.
Setelah makan saatnya mereka kembali ke kelas. Tapi sebelum sampai pada kelasnya. Tiba-tiba saja perut Ayla menjadi sakit dan segera pergi ke toilet.
Cukup lama dia berada ditoilet, akhirnya saat dia keluar dari toiletnya tiba-tiba ada tangan yang menariknya hingga masuk kedalam lagi..
"Eehh.." teriak Ayla. "Kamu?" ucapnya setelah tahu siapa yang menariknya.
"Iya, kenapa? Kaget?" Livina berkata dan tersenyum sinis.
"Kenapa kamu tarik aku ke toilet lagi?" Seakan diingatkan. Raut wajah Livina berubah menyeramkan.
"Tidak usah banyak tanya. Aku tau Jimny ke India itu pasti gara-gara kamu, kan?" ucapnya sambil menunjuk tepat diwajah Ayla.
"Aku bahkan sampai hari ini tidak tahu alasan dia pergi. Jangan asal kamu!" Ayla hendak pergi namun di cegal oleh Livina.
"Bohong. Kamu pasti bohong! Kamu tau 'kan dia pergi? Terus kemana kamu selama seminggu ini, hah?"
__ADS_1
"Bukankah aku sudah izin sakit? Dengar ya! Sebelum dia pergi ke India, aku sudah bukan siapa-siapa dia lagi. Dan untuk alasan dia pergi aku tidak pernah tau dan tidak pernah mau tau."
"Kamu sudah putus? Cih! Bisa aku tebak, setelah Jimny tidak memberimu uang yang banyak, kamu pergi meninggalkan dia. Lalu dia pergi meninggalkan negara ini."
Plakk
Kalimat monohoknya benar-benar membuat Ayla marah sampai dengan ringannya tangan itu menyentuh pipi Livina.
"Sekali lagi dengar, jika tidak tau masalahnya maka jangan pernah menerka masalah orang."
Livina mengelap sudut bibirnya yang terasa asin. Dia berpikir cepat agar tidak kalah telak oleh Ayla.
"Jika kamu menginginkan uang yang sangat banyak, aku bisa mengenalkanmu pada seseorang," ucapnya lagi tak ingin kalah.
"Hooo! Siapa? Ayahmu? Kalau ayahmu boleh saja, biar aku bisa didik anaknya supaya bisa berbicara yang sopan," ucapnya terjeda, lalu Ayla melipat kedua tangannya didada. Mensejajarkan posisi tubuhnya menghadap Livina.
"Aku tau kenapa kamu lakukan ini, kamu mencintai Jimny, tapi kamu tidak bisa memilikinya karena Jimny mencintaiku. Segala apapun yang terjadi dengan Jimny kamu pasti akan menyalahkan aku. Tanpa kamu tau kebenarannya yang sebenar-benarnya. Saran aku kalau kamu benar-benar mencintainya, kejar dia! Aku sudah tidak peduli dia mau apa, mau bagaimana? Aku tidak peduli. Karena aku sudah kecewa dengan perbuatan yang dia lakukan, bukan karena uang." Kali ini Ayla benar-benar lolos darinya. Dia melenggang keluar menuju kelasnya.
"His, ada-ada saja yang membuatku kesal pagi-pagi," gerutu Ayla.
"Benar kata Ayla, aku harus mengejarnya. Tapi.." Livina kembali teringat pada kejadian malam itu. Kejadian yang membuat kesuciannya terenggut. Bodohnya adalah dia sendiri yang memberikannya.
"Aarrrggh.." Dia hentakan kakinya karena kesal. Lalu keluar mengikuti Ayla menuju kelas.
Didalam kelas pikirannya kembali memutar pada kata-kata Ayla yang terakhir dia ucapkan. Ayla bilang bahwa dirinya sudah kecewa dengan kelakuan Jimny, apa yang sebenarnya terjadi sebelum Jimny pergi. Itulah pertanyaan yang ingin Livina cari jawabannya. Karena setau Livina, Jimny adalah laki-laki yang paling baik daripada laki-laki lain seperti kakaknya. Sehingga itulah yang membuatnya jatuh cinta tanpa syarat.
"Tidak mungkin Jimny berbuat buruk kepadanya. Yang ada pasti Ayla yang berbohong lepadaku. Aku tidak akan percaya kepadanya. Secara dia wanita yang memiliki banyak tipu muslihat. Ayla, kamu harus menanggung akibat dari perbuatanmu ini," batin Livina sambil menatap tajam kearah Ayla yang berada didepannya.
CNP
Continue in my Next Post
Untuk silent readers ku tolong komentar yaa!!
Untuk keberlangsungan novel ini.
__ADS_1
Terima kasih 😊