
Hari ini tepat di bulan ini Livina dan Baleno sudah resmi menikah. Meski pada awalnya dia tidak menginginkan pernikahan ini, tetapi tetap saja pada akhirnya dia menjadi suami Livina Nissan juga.
Baleno tidak mau berakhir seperti Jimny yang dikirim ke India. Bukan Baleno namanya jika dia tidak mempunyai rencana lain untuk kedepannya. Setelah anak itu lahir, setelah dia mendapatkan harta kakeknya dari keluarga Nissan, dia akan pergi meninggalkan dan menceraikan Livina. Lalu setelah itu dia akan menikahi Avanza.
Maka dari itu supaya pernikahan ini tidak terendus oleh media massa, mereka melakukan resepsi pernikahan yang biasa-biasa saja. Hanya dihadiri kerabat dan saudara dari kedua belah pihak. Dan Baleno meminta Livina untuk menyembunyikan status mereka didepan khalayak ramai.
Pernikahan yang sangat menyakitkan bagi Livina. Menikah dengan orang yang tidak dicintainya, resepsi pernikahan yang tidak sesuai dengan mimpinya, dan setelah menikah Livina bak diusir begitu saja oleh kedua orang tuanya.
Mereka bilang,
"Kamu sedang ham*il, tidak pantas jika kamu berada dirumah kami setelah menikah. Bagaimana jika orang-orang sampai tahu kamu ham*il diluar nikah? Sebaiknya ikuti suamimu dan tinggallah bersamanya."
Bak disambit celurit, benarkah ini orang tuanya? Akhirnya mau tidak mau dia kemasi barangnya dan tinggal bersama Baleno.
Dalam perjalanan Baleno mengoceh dan membuat kesal Livina.
"Kamu harus tahu peraturan di apartemenku. Pertama, jika aku membawa temanku maka kamu tidak boleh melarang. Kedua, bersihkan semua tempat setiap hari. Aku tidak akan menyewa pembantu terserah kamu saja mau kuliah atau tidak. Dan ketiga, jangan lupa setiap hari kamu harus memasak."
"Aku sedang hamil, Ball. Aku rasa aku membutuhkan ART untuk membantuku. Aku punya uang jika kamu tidak mau membayarnya."
"Kamu bagaimana sih? Aku kepala rumah tangganya. Semua keputusan itu berdasarkan aku."
"Tapi aku sedang hamil, Bal. Jika seperti itu, berarti diam-diam kamu membunuhku. Dan jika aku mati bersama si jabang bayi ini maka kamu tidak akan mendapatkan hartanya," geram Livina. Orang sepertinya tidak mempunyai ART? Sedari kecil saja dia sudah hidup enak. Bagaimana bisa dia hidup tanpa satu ART pun.
Alasan klasik itu ampuh membuat Baleno diam. Dia mencari cara agar suatu saat Livina kabur dari apartemenya.
"Baiklah terserah padamu. Bayar sendiri dan cari sendiri. Tapi satu hal jangan pernah larang aku untuk dekat dengan Avanza."
Kali ini Livina yang terdiam. Kenapa kehidupannya tidak semulus orang lain? Selalu saja ada duri dalam kehidupannya.
Saat ini mereka berdua sudah berada di apartemen Baleno. Cukup lumayan besar apartemenya dan ada dua kamar disana. Orang tuanya yang memberikan apartemen ini, agar Livina dan Baleno tidak bersatu dulu sebelum anak itu lahir. Tentu saja Baleno dan Livina setuju, siapa yang ingin tidur bersama dengan orang yang masing-masing mereka anggap menyebalkan itu.
"Itu kamarmu dan ini kamarku," ucap Baleno.
"Aku memilih kamar sesuai dengan hatiku." Livina masuk ke kamar yang dipilih Baleno.
__ADS_1
"Eh, eh.." Baleno menghadang, "Enak saja."
"Apa? Ini keinginan anakmu. Kamu mau menghalanginya?" sahutnya sambil terus maju menarik koper miliknya.
Baleno berdecak kesal karena Livina tidak mau menurutinya. "Lihat saja suatu saat akan kubuat, kamu bertekuk lutut dihadapanku!" batinnya geram.
Sedangkan di rumah Avanza.
Dia sedang kesal karena sang pacar yang jarang sekali menghubunginya. Bahkan pada saat dia sedang membutuhkannya pun Baleno tidak ada.
"Baleno kenapa sih? Setiap dihubungi selalu saja tidak nyambung. Apa dia sudah lupa sama aku? Atau dia ada wanita lain?" ucapnya sambil membantingkan ponselnya ke kasur.
"Tapi wanita mana yang bisa mengalahkan pesona seorang Avanza," ucapnya sambil melihat dirinya di cermin, "Dari orang tercupu bahkan terkeren satu kampus pun, tidak ada yang bisa menolak pesonaku," ucapnya begitu angkuh.
"Hah, libur kali ini aku bosan sekali. Lebih baik aku menghubungi kedua temanku." Avanza segera mencari kontak Livina.
Namun bukannya terhubung suara merdu operator yang menjawabnya.
...Tekan satu untuk meninggalkan pesan suara, biaya 500 rupiah permenit. Karena nomor yang ada tuju tidak dapat menerima panggilan. ...
Ting..
Bunyi notifikasi pesan di ponsel Avanza. Tertera nama pengirim pesan disana 'cupu'.
^^^Hai, apa kabar? Kemarin aku mengirimkan coklat, bagaimana kamu suka?^^^
Ya, pesan itu berasal dari Brio. Brio yang meski sudah babak belur karena di hantam oleh anak buah Baleno, tetap saja tidak mengindahkan ancaman yang Baleno berikan. Dia tetap mendekati Avanza dengan gigih. Puisi yang dibuatkan oleh Ayla, coklat, bahkan bunga sering sekali dia berikan.
"Lihat, bahkan si cupu ini yang lebih perhatian kepadaku," monolognya dengan ponsel, "Awas saja jika aku sudah mendapatkan yang lebih baik. Akan kubuang Baleno itu."
Avanza sudah selesai dengan make upnya, dia beralih ke kasur dan membaringkan dirinya disana. Dia membalas pesan Brio. Tentu saja karena dia merasa bosan dan juga Brio adalah asetnya untuk mengalahkan Ayla.
Lama sekali mereka berbincang lewat aplikasi chat. Akhirnya Avanza memintanya untuk bertemu di salah satu kafe yang dekat dengan rumahnya. Untuk apa lagi jika bukan untuk mendiskusikan pelajaran? Karena tujuannya dekat dengan Brio saja adalah karena nilai.
Sementara itu di kontrakan Ayla.
__ADS_1
Kebetulan karena hari ini adalah hari libur Ayla gunakan untuk membersihkan seluruh ruangan yang ada di kontrakannya. Kamar mandi, dapur, kamar tidur, dan ruangan bagian luar tidak ada satupun yang terlewatkan.
Sedangkan Brio sedang sibuk dengan ponselnya, terkadang cekikian sendiri seperti orang gila. Ingin sekali dia memarahi Brio yang tidak mau membantunya sekalipun. Terkadang juga dia menyindir dengan kata-katanya..
"Ya ampun, aku tinggal disini sendiri kok sampahnya begitu banyak, ya?" Tetapi tetap saja Brio tidak menggubris perkataannya. Dia lebih fokus dengan ponselnya.
Ayla menjadi kesal dan marah sendiri. Saat dirinya hendak mengepel dia sedikit bantingkan air yang ada di ember.
Brak.
Dalam posisi yang sama, Brio tetap saja sibuk sendiri, bahkan saat ini dia sedang sibuk dengan dua benda, ponselnya juga laptopnya. Sebenarnya Brio sedang apa sih? Sampai dirinya tidak dengarkan sekalipun. Apa dia sedang chatingan bersama Avanza, pikir Ayla kesal.
Akhirnya dia memiliki satu ide yang gila. Dia pel lantai kontrakannya tanpa memeras air yang ada di pel-an tersebut. Sengaja dia lakukan itu agar nanti ada yang jatuh.
"Hoho..." Ayla tertawa jahat didalam hatinya. "Suruh siapa dia tidak membantuku," gumamnya.
Brio yang akan bertemu dengan Avanza di kafe segera bersiap-siap. Dia matikan laptopnya, lalu dia ambil pakaian bersih untuk dia gunakan di kamar mandi. Namun, pada saat dirinya keluar dari kamar, lantai yang licin membuatnya jatuh begitu saja.
Brugh...
"Akhh," pekiknya. Celananya sudah basah, juga bokongnya terasa nyeri. Dia usap lantainya, air dimana-mana. Ini bukan mengepel melainkan banjir kecil. Seketika saja dia berteriak, "Aylaaaaaaa."
CNP
Continue in my Next Post
Hai, semuanya! Salam sehat dan salam cinta.
Tolong dukungannya, ya. Like, komentar, vote bunga atau lainnya, rate5, faforit dan share ke semuanya untuk tahu showrom juga ada di novel loh.. Dukungan kalian adalah semangat bagi para author!
Xiexie!
Terima kasih!
Thank you!
__ADS_1