
Livina sudah pergi dari Chanwell bersama dengan surat warisan yang dia rampas dari suami brengseknya itu.
Malam-malam dia datang kerumah dengan wajah yang suram dan lusuh. Ibunya pun sakit hati kala mendengar alasan Livina datang malam-malam begini. Begitupun dengan Ayahnya, Juke. Dia tidak menyangka Baleno benar-benar serigala berbulu domba. Bukan hanya Livina saja yang dia permainkan, melaikan dirinya, Elgard, juga pernikahannya.
"Pih, aku mohon. Aku tidak ingin kembali lagi bersamanya. Aku mohon pada Papih agar membiarkanku untuk tinggal disini ataupun dimana pun yang tidak dapat di temuinya. Aku sangat benci padanya, Pih," lirihnya memohon dengan sangat.
"Iya, Pih. Biarkan saja Livina tinggal dengan kita sekarang," mohon Terra.
"Ini, ini surat yang dia rebut paksa dari Papih. Aku sudah mengambilnya. Aku tidak ingin dia berhasil dalam rencananya." Livina menyodorkan kertas bertinta hitam itu. Juke pun menerimanya.
"Apa rencanamu setelah ini?" kata Juke. Sebenarnya dia pun sakit hati mendengar cerita dari putrinya. Namun, sebisa mungkin dia berusaha tegar agar sang putri tidak manja dan tidak selalu bergantung padanya. Bagaimanapun sebentar lagi dia akan menjadi seorang ibu.
"Setelah aku melahirkan, aku akan menggugat cerai dirinya. Setelah itu aku akan menjalankan hidupku dengan anakku. Tapi, aku mohon, Pih. Kali ini tolong bantu aku dan jangan lemparkan aku pada pria bajingan itu. Meskipun aku tahu konsekuesinya, aku melahirkan tanpa seorang suami," ucapnya mantap tanpa ada keraguan sekalipun.
"Baiklah..."
Livina kembali ke kamarnya. Kamar yang sebelumnya pernah dia isi dengan lelaki brengsek selama beberapa hari.
"Bunda akan melupakan Ayahmu, Nak. Kita berjuang bersama-sama, kita bangkit bersama-sama. Bunda akan menjadi bunda sekaligus ayahmu. Bunda akan menerjang apapun rintangannya. Demi kita berdua, Nak. Jadilah kekuatan Bunda. Kamu istimewa, Nak. Meskipun nanti lahir tidak ada seorang ayah disampingmu." Livina mengelus pelan bayinya yang belum lahir itu. Tanpa ada air mata, tanpa ada penyesalan dia mengatakannya. Masa bodo dengan bin yang akan ditanyakan oleh orang-orang nanti. Intinya ini anaknya dan hanya anaknya.
Pagi-pagi sekali, Livina mengatakan jika dia ingin hidup sendiri. Terra yang tak tega meminta Juke untuk mencarikan ART untuk membantunya dan orang yang selalu memberikan informasi tentang keadaan putrinya. Juke pun mengiyakan keinginan istrinya itu.
Juke menyewakan vila yang jauh dari keramaian. Semua itu dilakukan atas keinginan Livina yang tidak ingin seorang pun menemukan dirinya. Nanti, ia akan tinggal besama satpam juga seorang pembantu rumah tangga.
Terra terlihat sangat sedih akan takdir Livina. Berbanding terbalik dengan Livina yang sama sekali tidak mengeluarkan air mata sedikitpun. Dia harus kuat, untuk masa depannya dan anaknya. Terlalu banyak air mata tidak akan baik baginya.
Dia sangat menikmati perjalanannya menuju villa. Terbukti dengan dia yang tertawa karena sedang menonton stand up comedy di youtube. Terra tahu hatinya masih terluka, tapi dia sedang berpura-pura tegar menerima takdir yang mengenaskan itu. Terra beberapa kali meneteskan air matanya kembali, dia takut mental anaknya terguncang lebih keras lagi. Ibu mana yang tidak sedih saat melihat anaknya yang seperti ini?
Selama perjalanan Terra pun selalu berdoa agar Livina diberikan kesembuhan dan kebahagian juga di perlancar saat ia melahirkan nanti, hanya itu yang bisa dia lakukan saat ini.
***
__ADS_1
Di apartemen Chanwell.
Baleno mengerjapkan matanya beberapa kali. Ia pun mengusap kasar wajah tampannya itu. Pikirannya berpikir sejenak akan apa yang terjadi pada dirinya sebelum ia sampai di apartemennya ini.
Sesaat setelah dia sadar, "Livinaa.." Dia berteriak mencari Livina. Namun, si istri sudah tidak ada dirumahnya.
Dia mencoba menelponnya beberapa kali, tapi tetap tidak ada jawaban. Dia mulai gusar. Kemana harta karunnya itu?
"Tidak, dia tidak boleh tidak ada disini. Urusanku belum sepenuhnya selesai." Dia rogoh saku jasnya mencari selembar kertas, namun kertas itu sudah tidak ada.
Ponselnya berdering. Ia segera melihatnya ternyata Avanza yang menelpon.
"Mana tesla yang kamu janjikan padaku, Sayang?" kata Avanza di sebrang sana. Baleno kembali mengusap wajahnya dengan kasar. Dia lupa tidak langsung memesan.
"Aku lupa, Sayang. Semalam..."
"Apa? Lupa kamu bilang!" teriaknya di telepon. "Bal, aku sudah memintamu dengan baik-baik tapi kamu lupa? Kamu ini laki-laki macam apa, tidak bisa membahagiakan seorang wanita. Pokoknya aku tidak mau mendengar kata lupa lagi. Sekarang pesankan tesla untukku." Avanza memuntuskan teleponnya sepihak. Dan itu menambah amarah Baleno.
"Shitt.... Apa dia bilang? Dia memaksaku untuk memesankan tesla sekarang. Cihh.." Baleno berdecih. Kesal, tentu saja. Saat ini dia sedang pusing akibat hilangnya kertas penting itu dan Avanza malah menambah kekesalannya.
Baleno pun segera bergegas ke bar. Nihil, nihil sekali dia tidak menemukannya. Dia Kembali mengingat-ingat kejadian kemarin malam.
March mengatakan jika dia memulangkan Baleno bersama supirnya ke Chanwell dan Livina yang membopongnya ke dalam.
Langsung saja dia melesatkan dirinya kerumah mertuanya. Dia amat sangat yakin kalau Livina lah yang menemukannya. Tidak mungkin saat dirinya bangun Livina tidak ada jika dia tidak menemukan surat itu.
"Aku harus berpura-pura sampai mendapatkannya kembali," teguhnya.
Saat sudah datang ke sana. Terra dan Juke berpura-pura jika mereka tidak tahu dimana Livina berada.
"Apa? Livina tidak ada di apartemenmu? Bagaimana bisa? Bukankah dia ada denganmu dari lusa lalu?" ucap Juke.
__ADS_1
"Iya, Pih. Tapi..."
"Pih, Livina sedang hamil, Pih. Kemana dia akan pergi?" rengek Terra yang pura-pura sedih.
"Nak, kami tidak tahu dimana Livina sekarang. Pergilah cari dia dan anakmu. Kami pun disini akan membantumu mencarinya," ucap Juke mengusirnya secara halus. Padahal dalam hati yang paling dalam dia ingin sekali membogem menantunya itu.
Namun, ia tidak bisa, Livina lah alasannya. Putrinya meminta Juke untuk berpura-pura tidak tahu dimana dia berada. Bahkan Livina memintanya untuk tidak pernah menjenguknya kecuali ia melahirkan.
Baleno pergi dengan segala keresahan hati. Dia takut jika kertas itu sudah sampai di tangan Juke dan Livina sedang bersembunyi darinya.
Dia memukul-mukul stir mobilnya beberapa kali karena kesal. Tak lama dia pun menelpon anak buahnya untuk mencari tahu keberadaan Livina dan memata-matai Juke dan Terra.
"Tidak ada yang bisa lepas dariku, Livina. Entah itu kamu, keluargamu bahkan harta kakek." Senyum menyeringai menghiasi wajah Baleno.
Ajaib memang harta bisa merubah seseorang dari sehat menjadi gila dari gila menjadi sehat.
Sementara itu, Livina yang sudah berada di Villa, tampak sedang membersihkan kamarnya dibantu oleh satpam dan juga ART-nya. Dia hanya membersihkan ruangan untuk kamarnya saja tidak untuk calon anaknya. Karena, usianya yang baru menginjak 4 bulan. Dan lagi pula, niatnya nanti adalah dia tidaj ingin terpisah dengan anaknya itu.
"Neng, bibi masakan sesuatu, yah."
"Iya, Bi. Nanti aku bantuin," ucap Livina seraya bangkit dari kasurnya. Tetapi, disaat yang bersamaan ponselnya berbunyi. Terra menelponnya.
"Iya, Mih.."
"Apa? Dia mencariku?"
"Mih, setahuku dia tidak akan menyerah begitu saja. Pasti dia sedang melakukan apapun untuk menemukanku. Tolong, kalian jangan terlalu sering menghubungiku, ya!"
"Iya, Mih. Aku akan lebih hati-hati. Percayalah padaku, aku akan baik-baik saja." Livina memutus panggilannya. Lalu berkata, "Lihatlah, Nak. Ayahmu sudah urakan mencari bunda. Kau tahu, dia hanya mencari kertas itu. Bukan kita, Nak. Jadi, saat kamu lahir, janganlah mencarinya, ya Nak." Livina kembali mengusap perutnya yang semakin hari semakin membesar. Lalu ia berlalu mengahampiri art-nya.
CNP (Continue in my Next Post)
__ADS_1
Btw kita lanjutin bab yang kemarin yang masih Livina gesss...