The Couple Of MissKin-g

The Couple Of MissKin-g
Pura-pura


__ADS_3

Malam ini Brio sudah merencanakan sesuatu untuk membalas perbuatan Ayla tadi pagi. Bagaimana tidak kesal bulan ini dia yang membiayai kebutuhan rumahnya. Akan tetapi, tadi pagi dia tidak mendapatkan satu piring makanan pun.


Rencananya untuk tidak akan keluar rumah karena wajah lebam diurungkan demi perut yang keroncongan. Brio butuh makanan, jadi dia harus pergi kedepan untuk membeli nasi di warung.


Memang setelah pindah ke kontrakan, Ayla membuat peraturan untuk biaya bulanan. Jika bulan ini Brio yang bayar maka bulan depan Ayla yang akan bayar. Semua itu dilakukan Ayla karena kondisi keuangan Brio. Baginya, Brio sudah mau membayar biaya kuliahnya saja sudah cukup untuk Ayla. Dan dia berterima kasih untuk itu.


Selain itu, ini juga adalah taktiknya agar Brio tidak bisa mengekangnya. Ayla belajar pada kasusnya dengan Jimny. Dia tidak ingin Brio meminta hal yang tidak bisa diberikan olehnya. Sekalipun Ayla mencintainya, dan Brio berhak atasnya. Tapi jika Brio tidak mencintainya dia tidak ingin melakukannya.


Catat lagi, yang berhak atas dirinya adalah suami yang mencintainya. Bukan suami yang memintanya untuk membantu mendapatkan wanita pujaannya, seperti Brio.


Rencana Brio kali ini sudah dia siapkan matang-matang. Dia tidak ingin gagal dan membuat Ayla tidak menyesali perbuatannya. Dia harus membuat pelajaran untuk istri hasil kesalahannya.


Ceklek..


Terdengar suara pintu dibuka dari luar. Sudah bisa dipastikan bahwa orang yang membukanya adalah Ayla yang baru saja pulang bekerja.


Ayla segera masuk kedalam kontrakan. Langsung mencari saklar untuk menyalakan lampu. Dia kira, Brio sedang keluar rumah tapi pada saat dia menyalakan lampu dikamarnya. Brio sedang terbaring lemah di kasurnya.


Segera Ayla menghampiri Brio. Bibirnya pucat dan wajah juga cukup pucat membuat Ayla sedikit khawatir. Dia lepaskan kacamata yang sedari tadi tidak dilepas oleh Brio. Menempelkan tangannya didahi Brio.


"Panas? Astaga, dia sakit?" Terdengar Brio yang sudah mengigil. Menambah rasa khawatir di diri Ayla.


"Astaga, apa dia tidak makan seharian ini?" Dia lihat dapur kecilnya yang keadaannya sama persis sebelum dia meninggalkan kontrakan.


"Kenapa dia bodoh sekali? Apa dia tidak bisa memasak?" Ayla langsung menyalakan kompornya dan memasak air. Dia membutuhkan air panas untuk mengompres Brio. Tak lupa dia juga memasak bubur untuknya.


Ahh, sungguh lelah sekali! Sehabis pulang bekerja bukannya beristirahat malah sibuk dengan kompor dan rice cooker.


Ayla kembali lagi kekamarnya setelah air matang. Dia segera mencari handuk kecil untuk alat pengompresan. Selimutnya sudah dia pakaikan dengan benar. Dia mengelus kening Brio lalu menempelkan handuk hangat itu.


Sedangkan Brio menggigil dengan hati yang senang. Rencananya memang benar-benar berhasil.


"Kamu kenapa sih bisa sampai sakit begini? Kenapa juga tidak menelponku? Kalau saja kamu menelpon mungkin aku sudah pulang dari tadi," ucapnya tulus pada Brio yang sedang modus.


"Kamu tahu hari ini aku lelah sekali."


Degh, Brio yang mendengarnya merasa tersentak. Salahkah dia berpura-pura sakit? Dan malah menyusahkan orang yang sudah kelelahan.


"Kafenya sangat ramai, jika saja kamu menelpon aku pasti sudah izin. Lebih baik mengurusimu daripada melayani orang-orang," lanjut Ayla.


"Huh, tadi ada pelanggan yang rewel sekali. Dia marah-marah pada temanku katanya dia tidak puas dengan pelayanan temanku. Dianya saja yang rewel. Memang orang kaya semuanya sombong. Karenanya aku juga kena semprot dari managerku. Melelahkan dan menjengkelkan, bukan?"

__ADS_1


Tek..


Bunyi rice cooker, tandanya buburnya sudah matang.


"Pasti buburnya sudah matang, aku siapkan dulu, aku dinginkan. Lalu aku mandi, dan setelah itu kamu makan," ucapnya sambil mengambil handuk dan pakaian bersih.


Setelah terdengar suara air mengalir, Brio membuka matanya.


"Kasihan sekali dia, pasti sangat lelah bekerja di kafe sebagai pelayan. Jika aku berhenti berpura-pura pasti dia tidak akan mempercayaiku. Ckk.. Kenapa aku merasa bersalah? Dia saja saat meninggalkan aku tidak merasa begitu. Tapi dia juga bertanggungjawab dengan menjagaku.." pikirnya menimbang-nimbang.


Ayla sudah selesai dengan ritual mandinya, dia keluar dengan sudah memakai pakaiannya. Semenjak menikah dengan Brio dia merubah kebiasaan yang semula memakai baju dikamar menjadi dikamar mandi.


Semenjak kejadian naas yang menimpanya, dia juga merubah style pakaian. Memakai baju yang rapi dan sopan dan yang tidak mengundang syahwat laki-laki. Meskipun didepan suaminya sendiri.


"Brio, kamu sudah bangun?" tanya Ayla sambil menghampirinya, "Ini aku bawakan bubur, kamu makan, ya!"


Brio diam saja, perasaannya antara takut diketahui kebohongannya juga bingung harus bersikap bagaimana?


"Apa badanmu lemas? O, sini biar aku yang suapi. Aaa.." Ayla menyuapinya dan diterima dengan senang hati oleh Brio.


"Euh, Ayla. Maaf aku merepotkanmu."


"Hehe, iya. Kamu sangat merepotkan," kekeh Ayla, "Tapi, tidak apa aku yang salah, maaf aku tidak memasak. Tapi kenapa kamu tidak membeli? Oh, aku lupa luka lebammu. Bagaimana, apa sekarang sudah membaik?"


"Tidak, Brio. Aa aku.. Hump.."


"Makanlah. Apa kamu juga ingin sakit sepertiku? Ku dengar tadi kamu kelelahan, apa kamu ingin berenti bekerja?"


"Uhuk, uhuk." Ayla tersedak makanannya sendiri. Ternyata dia mendengarkan keluhannya. Sedikit merutuki karena terlalu terbuka kepada Brio.


"Tidak, aku tidak akan berhenti," sahutnya.


"Jika kamu berhenti aku juga masih bisa menafkahimu, kamu tinggal fokus kuliah saja."


"Tidak, aku tidak mau berhenti. Aku, aku sudah nyaman. Capek itu wajar 'kan bila bekerja. Tidur saja capek," ocehnya.


"Wah, buburnya sudah habis. Berbaringlah, istirahat lagi saja." Ayla segera bangkit dari duduknya dan menuju ke dapur.


Tapi sebelum itu Brio menahannya dan berkata, "Terima kasih!" dengan begitu manisnya.


Ayla tersenyum dan segera berlari ke dapur. Selain hatinya yang begitu dag dig dug melihat senyum menawan Brio. Juga karena dia menahan kentut sedari tadi.

__ADS_1


Prut..


"Arggh, lega sekali," ucapnya sambil memegangi perut, "Akh, aku hampir mati kutu disana. Seandainya saja tadi lepas disana, pasti aku sudah tidak memiliki muka untuk menatapnya. Tapi, jantungku.. Apa benar yang dikatakan Leva? Apa aku sudah jatuh cinta pada suamiku sendiri?" tanyanya pada diri sendiri.


"Tapi kenapa hanya aku yang merasakan cinta ini? Kamu memang gampangan, Ayla..." runtuknya sambil memukul dahinya sendiri.


"Apa aku harus mengikuti saran Levante? Selalu ada didekatnya, selalu perhatian padanya, apa tadi dia bilang? Aku lupa," gumamnya lagi sambil terus mencuci piring.


Semua piring dan benda kotor lainnya sudah selesai dia cuci. Ayla kembali ke kamarnya, saat melihat Brio yang sedang tertidur, tiba-tiba pikirannya memutar pada kejadian dikampusnya.


Avanza tidak menyukai Brio, puisi yang Ayla buat dia buang begitu saja. Sedangkan coklatnya dia berikan pada Agya.


Sungguh malang!


Bolehkah dirinya memberitahu Brio tentang sikap Avanza? Tapi, maukah dia percaya padanya? Secara semua orang tahu, cinta itu buta. Apalagi melihat Brio yang sepertinya sudah tergila-gila pada Avanza. Rasanya tidak mungkin dapat menyadarkannya dengan waktu yang singkat.


Jadi, bagaimana dia membantunya? Brio ini gila sungguh gila, pikirnya. Apakah dia harus membeli cermin yang besar agar Brio sadar? Jika semudah itu pasti sudah dia lakukan.


Aarrggh, sungguh memusingkan! Ingin berteriak tapi pasti kasih Brio. Hmm, lagi-lagi bagaimana besok! Begitu pikir Ayla.


Dia pun segera merebahkan dirinya di kasur dan mulai mendengkur.


CNP


Continue in my Next Post


Mohon untuk dukungannya selalu.


Komentarmu, like, vote bunga atau lainnya, share, dan rate5 adalah dukungan yang saya butuhkan.


Tolong favoritkan untuk tau kabar selanjutnya.


Terima kasih!


Salam sehat.


Jangan lupa patuhi 5M dan upgrade NT/MT-nya


Maaf jika feedbacknya lambat.


Karena ada halangan. Perhatian dan pengertiannya

__ADS_1


Terima kasih!


__ADS_2