The Couple Of MissKin-g

The Couple Of MissKin-g
Warning!


__ADS_3

...Jangan bermain api jika tak mampu memadamkannya. ...


...Tidak, bukan begitu! ...


...Pergilah dari lingkaran api, meski sudah mampu memadamkannya sekalipun. Karena nahas tidak mencari orang yang ahli atau orang awam sekalipun. ...


...LH-...


Seminggu kemudian.


Setelah berjibaku dengan syarat-syarat untuk mengikuti kompetisi tahunan Universitas, saatnya kini Ayla beserta rekan-rekannya yang lain menunggu kabar siapa saja yang di perbolehkan untuk menjadi pesertanya. Tidak semua yang mendaftar bisa masuk, seluruh dekan akan memperhatikan nilai dan kemampuan mereka sebelum masuk ke kompetisi yang sesungguhnya.


Pak Civic selaku Dosen PA kelas Ayla segera masuk dan langsung membawa kabar baik dan buruk bagi semua mahasiswanya.


"Baiklah, sebagaimana yang kita tahu acara Kompetensi Jurnalistik Tahunan Universitas akan segera dimulai. Dan untuk peserta-peserta dari kelas ini adalah Avanza, Ayla, Rush, dan AVP selain dari pada itu, maka jangan pantang menyerah. Kalian bisa mencobanya dilain waktu."


"Ay, akhirnya kamu masuk. Selamat berjuang, Ay. Singapura ada didepan mata.." Leva tak berhenti mengoceh selamat pada Ayla. Dia memang sangat ingin melihat Ayla berjaya di kakinya sendiri dan ini adalah kesempatannya untuk membuktikan bahwa dia memang layak untuk dihargai.


Setelah kejadian penghinaan di waktu lalu, Leva menjadi simpatik kepadanya. Dan sangat mengacungkan jempol karena Ayla yang dia kenal memiliki pribadi yang kuat dan bekerja keras dalam meraih mimpinya.


Sedangkan teman-temannya yang lain, satu persatu kembali mengguncingkannya.


"Wajarlah dia masuk dia suka menggoda dosen, mungkin ini juga hasil menggodanya. menakjubkan, bukan?" ucap salah satu yang benci pada Ayla. Tetapi tetap Ayla memilih untuk diam. Sebaiknya dia berkonsentrasi untuk kompetisi itu.


"Ay, kamu tidak apa-apa?" tanya Leva, saat ini mereka hendak ke kantin.


"Kamu seperti baru beberapa hari saja mengenalku. Biarkan mereka, Lev. Kebenaran akan terbukti diwaktu yang tepat."


"Haha, benar. Aku sangat salut padamu."


"Sudahlah, lebih baik sekarang kita ke kantin," ajaknya, "Aku mau merayakan kemenangan kecil ini," tambahnya lagi namun sedikit berbisik.


"Jadi, kamu mau mentraktirku?" Leva malah berteriak.


"Shuut!" ucap Ayla sambil menempelkan telunjuknya di bibir.


Mereka pun segera ke kantin dengan sangat gembira. Tapi sebelum itu Ayla pergi ke toilet terlebih dahulu dan menyuruh Leva untuk menunggunya disana.


Ayla merapihkan make up tipis diwajahnya. Memang setelah tidak berhubungan dengan Jimny kehidupannya berubah menjadi drastis. Dia hanya memakai make up yang murah meriah dikantongnya, memakai lipstik yang gampang menempel dimana-mana.


Tapi dia bersyukur, karena semua itu dia hasilkan sendiri dan tidak pernah meminta.


Hal apalagi selain prestasi yang dapat dibanggakan bagi seorang mahasiswa? Bukankah memenuhi keperluannya saja sudah cukup bersyukur. Karena masih banyak orang lain diluar sana yang masih meminta pada orang tuanya.


"Hai, Ayla!" Tiba-tiba ada orang lain yang memanggilnya, dan itu adalah Livina.

__ADS_1


"Liv?"


"Selamat, kamu masuk jadi peserta."


"Terima kasih!" Ayla segera memasukan make up-nya kedalam tas. "Bagaimana kabarmu? Apa masih sering pingsan?" bisik Ayla.


Livina hanya menggeleng sambil tersenyum.


"Syukurlah.. O, ya. Aku mau makan di kantin, apa kamu mau?" tawar Ayla.


"Tidak, terima kasih, Ayla! Aku kesini hanya ingin mengucapkan selamat padamu dan berhati-hatilah dengan Avanza!"


"Maksudmu?"


"Dia selalu punya rencana lain. Kamu tahukan dia itu selalu membencimu.."


"Oh.." Ayla tersenyum datar.


"Aku kurang tahu rencananya, dia selalu bergerak sebelum berbicara kepada kami," ungkapnya. Memang setelah hari sirsak itu Livina merasa nyaman dengan Ayla. Dan setelah beberapa hari ini dia mulai percaya pada Ayla karena bisa menjaga mulutnya.


"Terima kasih, Liv! Sudah memperingatiku, aku memang harus selalu waspada dengannya."


"Iya, maaf aku tidak bisa lama-lama."


"Iya, hati-hati," ucap Ayla saat Livina hendak pergi.


Saat Ayla keluar dari toilet dia melihat seseorang yang selama seminggu ini dia abaikan. Siapa lagi jika bukan March. Orang yang menghancurkan kehidupannya dan juga Brio. Dia tidak bisa tinggal diam untuk urusan yang ini. Bukan berarti dia membenci Brio, hanya saja caranya benar-benar keterlaluan dan tidak bisa dimaafkan.


"Ck, kenapa hidupku dikelilingi oleh orang-orang kaya yang menyebalkan. Apakah dunia ini memang tidak pantas untuk orang sepertiku?" gumamnya.


"Huh," Ayla mengadahkan pandangannya keatas membuang nafasnya secara kasar. "Aku harus segera mengakhiri ini," keluhnya.


Langsung Ayla mencari nomor kontak milik March di ponselnya. Dan dalam satu detik saja dia sudah mendapatkannya.


Hai, March! Ini aku Ayla.


Soal seminggu yang lalu, ucapan permintaan maafku itu, bagaimana jika kita makan malam, malam ini. Lokasi kafenya akan aku kirim padamu dan waktunya jam delapan. Bagaimana?


Itu pun jika kamu tidak sedang sibuk.


Ayla segera mengirim pesan tersebut.


Lalu tak lama kemudian dia mendapatkan balasannya lagi.


Oke sip!

__ADS_1


"Oke, pembalasan akan segera dilaksanakan. Aku sudah tidak sabar untuk nanti malam. Siapapun yang menghancurkan hidupku dan Brio akan mendapatkan balasannya." Ayla pun segera menuju kantin dan merayakan kemenangan kecilnya ini.


Sementara itu..


"Huh, aku tidak menyangka aku akan mendapatkan mantan Jimny. Seandainya Jimny ada disini sepertinya seru."


"Ayla bukan aku yang memain api, tapi kamu yang lebih awal mendekatiku. Aku tau sejak saat itu kamu sudah ada rasa padaku. Ahh, apakah malam ini akan jadi malam yang panjang? Aku sudah membayangkan bagaimana moleknya dia.." ujarnya sambil membayangkan gitar spanyol. "Lho, kenapa aku membayangkan gitar spanyol? Dia tidak seperti itu, dia cantik," gumamnya.


"Aaah, Ayla i'm coming."


"Aku tidak bisa berpenampilan seperti ini, aku harus keren melebihi Jimny, agar dia juga tidak mau lepas dariku," ucapnya sambil melihat dirinya di cermin yang setinggi dirinya.


***


Malam sudah tiba, saatnya Ayla bersiap menuju kafe yang sudah dia janjikan pada March. Beruntung Brio belum pulang. Jadi, dia tidak perlu repot untuk menjelaskan akan kemana dia pergi.


Ayla pergi dengan dress yang pernah dia beli dengan uangnya sendiri saat pertama masuk kuliah. Kala itu, dia belum mempunyai mantan-mantan orang kaya. Dia membeli dengan uang tabungan hasil kerja kerasnya. Bahkan dia mengumpulkan uang itu selama 5 bulan hanya untuk membelinya.


Dia memakai riasan tambahan dari biasanya. Dia sengaja lakukan ini untuk menjebak March. Sama seperti ketika March menjebak Brio. Dia tidak boleh gagal.


Ayla kini sudah berada disana, langsung dia memesan tempat untuknya dan March duduk.


Tak lama darinya mendapat meja, March sudah datang.


"Hai, kamu sudah lama menunggu?" ucap pria yang mengenakan jas berwarna hitam dan memakai celana jeans berwarna senada.


"March?" Ayla nampak terkejut dengan gaya berpakaian March yang lebih rapi dibanding biasanya. Akan tetapi, dia sama sekali tidak tertarik.


"Kenapa laki-laki ini berdandan seperti ini?" batin Ayla.


"Ya, ini aku.."


"Apa aku bilang dia langsung terpesona padaku," batinnya salah mengartikan.


Di lain meja, nampak seseorang sedang melihat Ayla dan March sedang makan bersama. Dia mengepalkan tangannya dengan keras. Ada suatu rasa yang tak mampu dia mengerti. Rasa sakit saat melihat istrinya makan bersama laki-laki yang sudah di bencinya, dia adalah Brio.


"Aylaaa.." ucapnya pelan namun penuh dengan penekanan.


CNP


Continue in my Next Post


Uh uh.. Maaf jika ada kesalahan dalam adegan kampus.


...Hai, semuanya! Salam sehat dan salam cinta. ...

__ADS_1


...Tolong dukungannya, ya. Like, komentar, vote bunga atau lainnya, rate5, faforit dan share ke semuanya untuk tahu showrom juga ada di novel loh.. Dukungan kalian adalah semangat bagi para author....


...Terima kasih!...


__ADS_2