
Kini Ayla sudah berada di apartemen Brio. Lebih tepatnya Ayla berada di kamarnya. Brio menyuruhnya untuk tidur beristirahat, karena jam pun sudah menunjukan pukul setengah tiga pagi.
Ayla sudah dibaringkan oleh Brio diranjangnya. Dan sudah menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Tidurlah!" perintahnya sambil mengelus pucuk rambutnya. Rasa kasihan itu mengalir begitu saja seiring dengan situasi yang ada.
"Lupakan! Dihidupmu itu hanya ada aku, malam ini hanya ada kita berdua.." Mulut Brio berbicara begitu saja seakan tak sejalan dengan pikirannya.
Ayla pun memejamkan matanya. Berharap ketika membuka matanya itu semua hanyalah mimpi.
Saat menutup matanya, terlihat air beningnya lolos lagi. Membuat hati Brio kembali tersayat.
Jika saja dirinya lambat, jika saja dirinya lebih memikirkan 'mereka adalah sepasang kekasih' mungkin semua yang tidak diinginkan sudah terjadi. Hacurnya Ayla pasti akan berkeping-keping.
Setelah dirasa Ayla sudah tidur, Brio pun meninggalkannya. Dia menghampiri Yaris yang sibuk dengan ponselnya.
"Apa kamu sudah membuang bajingan itu tepat didepan rumahnya?" tanya Brio.
"Sudah."
"Aku masih bingung, kenapa Ayla meminta dirinya untuk dipulangkan saja? Padahal aku ingin dia mendekam dipenjara," batin Brio kesal.
Memang pada saat mengendong Ayla ke apartemennya, dia memberikan perintah pada asisten pribadinya, Yaris. Untuk melapor pada polisi tentang rencana pemerk***an terhadap Ayla.
Tetapi Ayla mengasihaninya dan meminta untuk memulangkan Jimny kerumahnya saja.
Brio tidak mengerti dengan jalan pikirannya. Dia geram sendiri pada Ayla yang masih saja membela penjahat. Atau, apakah Ayla memang masih mencintainya, meski setelah dia melakukan tindakan memalukan itu? Pertanyaan-pertanyaan itu hinggap dikepala Brio.
"Apakah dia wanita yang sedang kamu kejar itu?" tanya Yaris. Dia sudah tau semua tentang Brio, karena Brio selalu terbuka kepadanya. Apapun yang meresahkan dan membahagiakannya, Brio selalu menceritakannya tanpa ada satupun yang tertinggal.
"Bukan."
"Lalu, kenapa kamu begitu marah?"
"Dia adalah istriku."
"Hah!" Yaris begitu terkejut dengan pernyataan yang Brio katakan. "Istri?" ulangnya lagi. Seakan tak percaya tuan mudanya ini sudah menikah.
"Iya, dan ini ada hubungannya dengan March sialan itu."
"Sebentar, ceritakan padaku apa yang sudah terjadi, yang belum aku ketahui."
Briopun menceritakan semuannya tanpa ada yang tertinggal.
"Jadi kalian menikah karena kesalahpahaman?"
"Iya."
"Kamu bisa menolak, kamu tidak mencintainya, 'kan?"
"Sudah, tapi Ayahnya begitu kasar. Dia saja ditampar oleh ayahnya sendiri. Dan sialnya pada saat aku tidur dengannya aku tidak memakai pakaianku, aku mengira dia adalah guling. Jadi aku memeluknya erat."
"Kamu 'kan bisa menjelaskannya terlebih dulu?"
__ADS_1
"Kamu kira gampang? Ayahnya tidak percaya pada kami, jika kami belum menikah."
"Lalu, kamu memberitahukan kebenarannya setelah kalian menikah."
"Ya!"
"Hahaha, apakah ayahnya tau kamu orang kaya?"
"Kurasa tidak, mereka hanya ingin Ayla ada yang menjaganya. Agar dia tidak tinggal sendiri disini."
"Okay, aku sungguh tidak mengerti dengan jalan pikiran orang tuanya," ucap Yaris masih dengan raut wajah keheranannya.
"Sudahlah, semua sudah terjadi. Baik aku dan dia, kami tidak saling mencintai dan kami berjalan di jalan kami masing-masing. Aku akan menceraikannya saat aku sudah bersama dengan wanita pujaanku."
Waktu terus bergulir cepat, mata mereka sudah tak kuat untuk terbuka lagi. Akhirnya mereka tidur di ruang tamu. Brio berada diatas sofa sedangkan Yaris berada dikarpet bersebelahan dengan meja. Malang memang nasib Yaris ini sudah tidak ada pasangan tidur pun disebelah meja.
Jam 06.00 pagi.
Ayla sudah bangun dari tidurnya. Matanya menjadi sembab karena semalaman terus saja menangis. Dia bangun dan melihat dirinya di cermin.
Tanda cap merah dilehernya terpampang nyata.
Pikirannya kembali melayang pada waktu membuat cap merah tersebut. Sakit, sakit sekali rasanya. Ternyata hal yang selama ini dia tidak inginkan terjadi kemarin malam.
Clek.. Air mata itu kembali mengalir dipipi mulusnya. Dia benci dirinya sendiri. Dia benci Jimny yang tidak menghormati dirinya. Dia benci lelaki kaya yang semena-mena terhadap wanita.
Apa dia bilang 'Dia sudah memberikan semuanya dan giliran aku yang harus memberikannya sesuatu, agar mereka tak terpisah.' Persetan dengan kata itu, Ayla benci Jimny. Dia bukan orang baik, dia sama saja dengan para kucing liar diluaran sana. Dia tidak mempunyai kualitas yang tinggi sebagai laki-laki. Ayla sudah salah menilai Jimny.
Dia menggosok kasar lehernya menggunkan kain yang bertekstur kasar. Menghilangkan jejak yang hina itu menurut dirinya.
Jika saja tidak ada Brio yang datang tepat waktu, mungkin bendera kuning sudah berkibar disekitaran rumahnya.
Dia tak sanggup menjalani hari setelahnya. Namun bagusnya takdir berkata lain.
Kembali pada cap merah itu. Karena terlalu kasar menggosoknya, leher Ayla sedikit terluka. Berdarah, tapi Ayla tak merasakan sakit. Dia terus menggosoknya menghilangkan noda itu.
Kriet..
Pintu terbuka.
Brio terkejut, dapat dipastikan matanya membulat sempurna sedangkan mulutnya terbuka menganga.
"Ayla.." Brio langsung menghampiri Ayla yang berdiri didepan kaca. "Apa yang kamu lakukan?" Brio menarik lengannya agar berhenti menggosok.
Ayla diam saja tertunduk malu.
"Kamu lihat lehermu sudah berdarah." Brio memperlihatkan darah itu.
"Aku..aku hanya ingin menghilangkannya.." lirih Ayla.
"Bodoh! Mengapa kamu melukai diri sendiri? Apa kamu tidak tahu cara menghilangkannya?"
Ayla tertunduk dan menggeleng.
__ADS_1
"Apa dia benar-benar baru kali ini di sentuh laki-laki.. Tapi kenapa rumornya banyak sekali laki-laki kaya yang berpacaran dengannya," batin Brio.
"Sudah tidak usah digosok lagi, sudah hilang." Brio membuang kain itu ketempat sampah yang berada disamping kacanya.
Tiba-tiba saja Ayla memeluknya, membenamkan wajahnya di bagian dada milik suaminya.
Dia menangis disana. Brio dapat merasakan hangatnya air mata Ayla.
Ayla mengeratkan pelukannya, dia juga mengeraskan suara tangisnya membuang semua beban yang ada dihatinya.
Brio hanya diam, tidak membalas atau apapun. Tapi satu hal yang pasti hatinya merasa sakit mendengar tangisan Ayla yang sedang membuncah.
"Menangislah!" Hanya kata itulah yang keluar dari bibirnya. Wanita yang ada dihadapannya itu sedang rapuh dan membutuhkan sandaran, dan Brio adalah orang yang dipilih olehnya.
"Aku benci kamu, Jim. Aku benci.. Hu hu hu.." Derai air matanya tak berhenti, malah ia semakin kuat menangis.
"Aku benci orang yang semaunya sepertimu, aku benci orang yang tidak mengerti prinsipku. Aku benci orang kaya. Mereka hanya bisa bertindak semena-mena... Hu huhu.." Ayla yang kesal malah memukul-mukul dada suaminya.
Brio hanya meringis menahan sakitnya.
"Si*lan! Jimny yang dibenci, aku yang dipukul," umpatnya dalam hati.
Brio mengambil tangan yang memukulnya, kini giliran dia yang mendekap sang istri, sambil berbisik, "Jangan lakukan lagi, sakit Ayla.." Dia mengelus pelan kepala sang istri agar dia tenang.
"Sudah cukup, tenanglah. Kamu sudah aman, disini hanya ada aku, Brio." ujarnya sambil terus mengelus kepalanya.
Ayla merasa nyaman sekali berada di dekapan suaminya itu. Entah mengapa dia merasa sangat tenang, damai, dan merasa dilindungi oleh laki-laki yang sedang memeluknya ini. Seperti perasaan euforia.
Tangisnya berhenti seketika, terasa waktupun ikut berhenti bersamaan dengan tangisnya.
Dia merasa dunianya saat ini adalah dunia yang baru. Kehidupan yang baru saja akan dimulainya.
"Tenanglah, jangan menangisi hal yang tak perlu kamu tangisi. Jangan melukai tubuhmu lagi. Seharusnya kamu biarkan noda itu, itu akan hilang dengan sendirinya. Kamu melukainya seperti ini pasti akan membekas. Dan kamu akan mengingat kenyataan sebelum kamu mendapat luka ini. Tenanglah, berdamailah dengan dirimu! Kamu tidak perlu mengkhawatirkan apapun." Brio masih belum melepaskan dekapannya.
Saat dia merasa bahwa Ayla sudah tenang, dia melepaskan pelukan itu. Lalu kembali menatapnya dan menghapus jejak air matanya.
"Aku akan mengobati lukamu.." ucapnya seraya pergi meninggalkan Ayla.
Tapi Ayla menarik tangannya dan berkata, "I'm puckish!" ucapnya sambil tertunduk malu. Bagaimana tidak malu, situasinya sedang tidak pas. Tapi perutnya sudah seperti dioyak-oyak oleh cacing-cacing.
Sebuah senyum tersungging diwajah Brio. Dia sudah meminta makan itu artinya dia sedikit melupakan masalahnya.
"Kamu lapar?"
Ayla hanya mengangguk.
"Baiklah, tunggu! Aku sedang memesan makanan. Tapi lukamu harus lebih dulu diobati."
Ayla mengangguk kecil. Menandakan bahwa dia setuju untuk mengobati lukanya dulu.
*euforia perasaan nyaman, atau perasaan gembira berlebihan.
CNP
__ADS_1
Continue in my Next Post yaa😊
kasih dukungannya jangan lupa 😊😁