The Couple Of MissKin-g

The Couple Of MissKin-g
Enam Bulan


__ADS_3

Seminggu sudah Ayla berada dirumah mewah milik keluarga Honda itu. Itupun juga berarti sudah seminggu pula Ayla melakukan tugas rumahan seperti pembantu lainnya. 


Dia tidak mengeluhkan ini kepada Brio. Dan dapat ia pastikan bahwa Brio pun tak tahu dengan kegiatannya itu. Sebab, Ayla selalu bilang jika dirinya amat sangat menikmati hari-hari bahagianya disini. 


Entah Brio yang tidak ingin mencari tahu atau Brio yang terlalu percaya kepada istrinya. Tapi meski begitu, Ayla tidak marah. Karena dia sedang berusaha menjadi istri yang baik dan menantu yang rajin. 


Kini mereka semua tengah berkumpul di ruang makan. Seperti biasa, dua keluarga saling berhadapan. 


"Panca, selama beberapa hari ini masakan rumahanmu terasa lebih meningkat dari biasanya. Jadi lebih lezat gitu, sampai membuatku  ingin selalu makan dirumah. Kamu belajar darimana?" ucap Oddysey kala Panca menghidangkan sarapannya. Panca adalah koki yang berada di rumah besar Accord.


"Maaf, Tuan. Bukan saya yang memasak makanan ini melainkan Nona Ayla." 


Sontak semuanya kaget dan saling melihat dirinya. Sedang, Brio yang sudah tahu hanya tersenyum manis. Masakan istrinya sudah tidak diragukan lagi, memang sangat lezat. 


"Hah, Panca. Kamu jangan coba membohongi kami. Orang udik seperti Ayla mana bisa mengalahkanmu, itu mustahil," Rena meremehkannya lalu menyuap nasi yang ada di piringnya. 


"Tidak, Nyonya. Saya memang mengatakan yang sebenarnya. Nona Ayla lah yang memasak makanan rumahan ini, sedangkan saya hanya sedikit membantu." 


Ayla hanya menunduk dan tersenyum. Baru kali ini ada orang lain yang membelanya dihadapan wanita yang menjadi tante suaminya itu. 


"Sudahlah, kamu pergi saja," ucap Serena mengusir Panca. "Aku sudah tidak selera makan di meja ini. Aku takut semuanya ditambahkan dengan ajian dukun." Serena bangkit dari kursinya dan tidak menghabiskan makanan itu. 


"Tante!" Brian yang alias Brio pula bangkit dari kursinya. "Jaga bicara, Tante!" Hanya itu yang dikatakannya. Akan tetapi itupun pasti akan dimarahi oleh City karena membentak adik iparnya. 


"Brio.." Ayla berbisik dan menggapai tangannya agar duduk kembali.


"Apa? Memang betulkan apa yang Tante bilang. Ayla ini menggunakan guna-guna saat memasaknya." Serena tidak ingin kalah. 


"Ayla tidak serendah pikiran, Tante!" Bela Brio. 


"Brian!" Kali ini Jazz yang melerai. Serena berlanjut pergi dengan wajah yang masam. Ayla menarik lengan Brio agar duduk kembali, kali ini agak menuntut dari sebelumnya. 


"Aku sudah tidak nafsu makan lagi. Meja makan adalah tempat untuk kita makan bukan untuk berdebat." Mobilio mengikuti istrinya tanpa menghabiskan makanannya.


Jazz tampak acuh dan menikmati makanan yang sudah disajikan, sedangkan City mencubit paha anaknya.


Lain hal dengan Mobilio dan Juga Serena, Oddysey masih berada disana. Dia sibuk dengan makanan yang ada dihadapannya. Sangat mubadzir jika ia membuangnya. 


Setelah acara makan selesai, Oddysey, Brio dan Ayla tidak langsung pergi. Ayla mencoba membantu menata piring kotor.  


"Ayla, maafkan kedua orang tuaku. Mungkin mereka merasa masih asing denganmu, jadi..."


"Tidak apa-apa, Kak Oddy." Brio yang mendengarnya memblalakan mata. Kak Oddy?  

__ADS_1


"Aku tidak merasa sakit hati atau apapun," lanjut Ayla disertai dengan senyuman. 


"Ahh, benarkah? Jangan membohongiku, aku tahu itu sangat menyakitkan. Tapi, aku jujur aku sangat menyukai masakanmu," ucap Oddy dengan senyum manis. 


"Ouhh, gerah sekali. Inikah rasanya di beri senyuman sama idola?" batin Ayla senang. 


"Terimakasih, Kak!" balasnya juga tak kalah manis. 


Brio? Tentu saja dia sedang menahan api cemburunya. Tak kuat rasanya kala ada seseorang yang memuji istrinya, apalagi itu Oddysey. Penyanyi yang sedang di kaguminya. 


Setelah selesai dengan urusannya di dapur, Ayla kembali ke kamarnya. Baru saja dia membuka pintu seseorang langsung menariknya kedalam dan seketika pintu tertutup. 


Brugh 


"Brio!" Ayla terkejut. Kini Brio sedang mengurungnya di balik pintu. "Apa yang sedang kamu lakukan?" Rontanya. Dia berusaha mengeluarkan diri dari kukungan Brio.


"Kamu tadi memanggilku apa?"


"Brio."


"Selain itu?"


"Bri..an?"


"Ah, Nyu..u" ucapnya tapi dia ragu-ragu. 


"Tidak ada yang lain lagi? Misalnya sayang, honey, hubby, oppa, darling gitu?" tanya Brio


Ayla yang kebingungan balik bertanya, "Kamu kenapa sih? Ada apa?" Ia menatap mata Brio. 


"Tadi kamu panggil apa sama Oddysey?" Brio beralih ke lemarinya mengambil dasi. Dia tidak mengukung istrinya lagi.  


"Oh.. Ternyata," gumam Ayla sambil mengikuti arah suaminya berjalan. 


"Kakak," sahutnya pura-pura tidak mengerti.


"Kamu panggil dia dengan sebutan kakak sedangkan denganku kamu panggil nama," ketusnya. Kini dia sedang mengancingkan kancing lengannya. 


Ayla terkekeh geli. "Lalu kenapa? Bukannya dia kakakmu. Aku juga harus memanggilnya kakak, bukan?" 


"Tidak harus, aku juga tidak memanggilnya kakak. Dia hanya beda setahun denganku. Dan juga kenapa harus membalas senyumnya?"


"Ya, bagaimana? Aku cuma ingin beramah tamah saja. Kan kalau aku ramah itu poin plus juga buat kamu. 'wah istrinya Brio ternyata ramah, ya.' Mereka nanti akan bilang seperti itu."

__ADS_1


"Oh, jadi kamu memakai alasan AKU untuk membalas senyuman idolamu itu?" ketusnya lagi. 


Ayla tak percaya dengan suaminya ini, beberapa kali dia mengerjapkan matanya. Lalu menghembus nafas kasar. "Jadi aku harus bagaimana? Aku harus memanggilnya Oddy dengan raut wajah masam?" ucapnya dengan nada sedikit kesal sambil memberikan tas pada Brio. 


"Lho, kok kamu yang balik kesal. Harusnya aku dong." Brio menghadapkan dirinya ke Ayla.


"Ya, kamu sih..."


"Giliran suami aja langsung kesal." Brio menerima tasnya, tiba-tiba.... "Kok tangan kamu kasar gini sih?" tanyanya. Dia langsung membolak-balik telapak tangan Ayla. 


"Ah, enggak kok." Ayla menarik tangannya. 


"Gak, tanganmu gak halus kayak biasanya." Brio menggiringnya duduk di tepi ranjang. Ia melihat kulit tangan Ayla yang sedikit mengelupas dan ada juga yang mengeras. "Selama seminggu ini kamu masih dirumah aja, kan?"


"Iya," sahut Ayla. "Ini mungkin karena cuaca kali," kilahnya lagi. 


"Terus ini kenapa ada disini?" tanyanya tentang cincin yang berada di jari tengahnya. 


"Mantap, kenapa aku bisa sampai lupa?" gerutunya dalam hati. 


"Aku merasa agak mulai kurus, jadi karena takut hilang aku letakan disini," kilahnya. 


"Maaf Ya Allah, aku berbohong," batinnya. 


"Oh begitu, baiklah. Oh, ya. Apa kamu lupa hari ini hari apa?"


"Kamis?" sahut Ayla cepat. 


"Memang benar sih, tapi mungkin kamu lupa hari ini adalah...." Brio sedikit menggantung kalimatnya. 


"Hari pernikahan kita yang ke-6," ucap mereka bersamaan. Mereka pun saling tertawa. 


"Aku kira kamu lupa."


"Tidak, aku tidak akan melupakan masa itu." Ayla tertawa mengingat kembali hari-hari yang ia sangka adalah hari tersialnya. Sedangkan Brio sedang mencari sesuatu di nakasnya.  "Sudah 6 bulan, ya. Tak terasa..." ucap Ayla masih membayangkan awal-awal pernikahannya. 


"Ya, dan sekarang aku sangat bersyukur bertemu denganmu." Brio bersimpuh di pangkuan Ayla. Lalu dia mengeluarkan sesuatu dari genggamannya, "Aku ingin kamu menjadi istriku selamanya, apa kamu mau?" Sebuah cincin bertatakan berlian sudah ada dihadapan Ayla. Senyum manis miliknya terpampang di bibir indah itu. 


"Walaupun yang mengatakan itu adalah Brio cupuku dan tanpa ada berlian pun, aku tetap ingin menjadi istrimu selamanya. Sayang..." 


Brio pun tak kalah tersipunya dari Ayla. Dia amat bahagia mendengar kata-kata yang diucapkan istrinya itu. Dengan segera Brio memasangkan cincin itu di jari manis Ayla. Lebih tepatnya di samping mas kawinnya. Kemudian,  mereka berdiri dan Brio mencium keningnya. 


CNP (Continue in my Next Post)

__ADS_1


__ADS_2