The Couple Of MissKin-g

The Couple Of MissKin-g
Ekhem-ekhem


__ADS_3

Pagi yang cerah bertolak belakang dengan suasana hati Ayla saat ini. Gua yang gelap pun masih akan terasa terang jika dibandingkan dengan hatinya. Ibarat cuaca kini dia sedang berada di bulan Desember. Angin topan, hujan lebat, awan gelap, petir yang menyambar berada diruang yang sama. Meluluh lantahkan hatinya menjadi hancur berantakan.


Semalam Ayla tekadkan untuk menuruti suaminya, mengalah pada Avanza. Bukan tanpa alasan, ini adalah sebagai bukti baktinya pada seorang suami di penghujung sebuah ikatan.


Dan alasan yang kedua, jika itu bisa memisahkannya dengan Brio secara cepat, kenapa tidak? Dia sudah tidak tahan lagi. Baik orang kaya, miskin, tampan, jelek, cupu, semuanya hanya menyakitinya saja.


Bolehkah dia membenci makhluk yang berjenis manusia?


Ayla kenakan sepatu yang kemarin dia gunakan. Tapi sebelum itu dia olesi kakinya dengan salep pemberian Brio dulu. Orang yang memberinya sangat menyakitinya, tapi obat yang diberikannya sedikit mengobati lukanya.


Huh! Mungkin begitu cara kerja di dunia ini, ada sisi baik dan buruknya agar keseimbangan tetap berjalan.


Dia hapus air mata yang terus mengucur. Brio memang benar, ini semua demi kebaikan mereka. Hidup dengan orang yang tidak saling mencintai akan sangat menyakitkan. Melepasnya adalah jalan keluar. Dengan pandangan yang menatap lurus kedepan dia bangkit dan segera berangkat ke kampusnya.


Sementara itu di apartemen Brio.


Sama seperti Ayla yang merasakan sakit. Bedanya, entah apa sebabnya dia tidak tahu kenapa dirinya merasa sakit didada? Hatinya menjadi tidak tenang. Seperti ada sesuatu yang mengganjal pada hatinya. Tapi sekali lagi dia tidak tahu itu apa.


Saat dia beranjak pergi ke kamar mandi, ponselnya berdering. Baginya tidak heran mendapatkan telpon pagi-pagi. Tapi, saat melihat siapa yang menelponnya dirinya menjadi takut. Mertuanya, Xenia menelponnya.


"Hallo," Brio menyapa orang yang menelponnya.


"Wah, mantu Ibu sepertinya baru bangun. Bagaimana? Bagaimana semalam? Apa kalian melakukan hal itu?" ucap Ibunya kegirangan. Bahkan saking girangnya membuat Brio terheran. Benarkan ini Ibu mertuanya? Dia tengok sekali lagi layar ponselnya, memang benar yang menelponnya adalah ibu Ayla.


"Bagaimana? Apa, Bu?"


"Lho, bukannya kalian melakukan kegiatan ekhem-ekhem semalam?" Ibunya mengira Ayla meminta pendapat karena bingung harus menuruti keinginan suaminya atau tidak. Maksud ibunya adalah keinginan melakukan kegiatan di ranjang.


"Ekhem-ekhem?" ulang Brio tak mengerti.


"Iya, ekhem-ekhem. Itu lho, melakukan hubungan suami istri?"


Uhuk-uhuk. Brio batuk karena terkejut dengan ucapan Xenia. Apa maksudnya? Apakah ini menjurus malam pertama?


Ah, pikirannya kacau.


"Maksud Ibu?" tanyanya memperjelas.


"Haih, anak muda zaman sekarang apa tidak mengerti dengan kegiatan malam pertama?" kesal Ibunya. Dia pun menjelaskannya dengan gamblang.

__ADS_1


"Aahh, itu.." desahnya. Uo


"Bagaimana? Semalam Ayla menanyakan apa dia harus menuruti keinginanmu? Ya, Ibu jawab iya. Ibu senang akhirnya hubungan kalian semakin kesini semakin membaik."


Brio terduduk lemas di tepian kasurnya. Apa ayla tidak mengatakan keadaan rumah tangganya?


"Oh, ya.. Jangan lama-lama ya, Ibu juga ingin segera menimang cucu. Disini sepi tidak ada siapa-siapa hanya ada Ibu dan Bapak saja. Kalau Ayla hamil 'kan nanti bisa Ibu rawat anaknya. Kalian sekolah lagi."


Mendengarnya, rasa nyeri di hatinya kembali menerjang. Hamil? Bagaimana mungkin saat hubungannya akan segera berakhir?


"Ah, Ibu ini bisa saja," jawab Brio mencairkan susana.


"Nak," panggilnya.


"Iya, Bu."


"Ayla dimana?"


"Dia sedang ada dikamar mandi, Bu," kilahnya.


"Nak, terima kasih ya, sudah mau merawat dan menjaga anak Ibu. Setelah bertahun-tahun akhirnya Ibu lega Ayla sudah ada yang merawatnya."


"Nak, dia memang keras kepala sama seperti Bapaknya. Tapi percayalah, Nak. Dia anak yang setia dan juga penurut. Hanya saja untuk mimpinya menjadi wartawan begitu besar. Katanya dia ingin seperti di tv-tv, terbang ke negara ini, terbang ke kota ini dengan gratis dan malah di bayar. Begitu katanya, Nak.


Ibu dan Bapak pernah melarangnya, tapi dia tetap keukeuh dengan mimpinya itu. Ibu dan Bapak tidak bisa melarangnya lagi, karena kami tidak bisa menjuruskannya ke hal lain apalagi membahagiakannya. Kami hanya bisa merestuinya dan mendoakannya dari jauh. Semoga dia selalu diberi kesehatan dan bahagia."


Hatinya mencelos sakit mendengar kalimat ini. Dia menunduk menopang kepalanya dengan satu tangan.


"Nak, bimbing dia kejalan yang lebih baik. Ibu tidak apa-apa jika kamu memarahinya karena dia berbuat salah. Tapi ibu hanya mohon bahagiakanlah anak Ibu."


Deg, jantungnya makin berdetak tak beraturan. Apakah ini sentilan orangtua? Karena dia telah menyakiti anaknya.


"Semalam dia menangis, tapi dia menyangkalnya. Dia bilang dia tidak menangis. Tapi Ibu tahu dia sedang menangis. Apa kamu tau dia kenapa?"


"Tidak, Bu," lirihnya. Padahal dia tahu alasan Ayla menangis pasti karenanya.


"Oh, begitu. Maaf ya, Nak! Soalnya hati ibu tidak tenang, risau begitu, Nak. Sepertinya dia sedang menyembunyikan sesuatu. Dia punya sifat tertutup. Katanya dia tidak mau merepotkan orang dan membuat orang lain khawatir. Dia paling anti dalam hal itu.


Makanya Ibu sering menelponnya agar ada tempat untuknya bersandar. Tapi setelah ada kamu ibu tidak terlalu mengkhawatirkannya. Kamu 'kan baik, pedulian, menghargai wanita lagi."

__ADS_1


"Ah, tidak, Bu. Itu tidak benar."


"Ish, kamu ini. Dia sendiri yang bercerita pada Ibu. Ahh, sepertinya anak itu sudah mulai terbuka padamu, Nak."


"Maksud Ibu dia menyukaiku?"


"Nah, itu maksud Ibu. Eh, sudah dulu, ya. Ibu mau kasih kopi sama bapak mertuamu dulu."


"Iya, Bu."


"Itu pesan Ibu jangan lupa, cepat bikin Ayla hamil ya. Ya sudah, Ibu pamit," ucapnya sumringah.


Setelah panggilan telepon itu terputus. Brio kembali mengingat perkataan ibunya, yang mengatakan bahwa Ayla sepertinya sudah mulai menyukainya.


Apa benar?


Tapi kenapa kejadian makan malam kemarin bersama March dia tidak menyangkalnya saat dituduh menggoda?


Apa dia berbohong, sebagaimana fakta yang baru saja terkuak bahwa Ayla sedikit tertutup dan tidak mau mengkhawatirkan orang lain?


Dia harus segera mendapatkan jawabannya dari mulut Ayla sendiri. Dihubunginya nomor istrinya itu, namun sayang sekali nomor ponselnya tidak aktif.


Dia segera beringsut lari ke kamar mandi. Membersihkan diri dengan singkat dan cepat. Tak berselang lama dia berangkat menuju kampusnya.


...Bicaralah yang jelas agar orang lain tidak salah menafsirkan...


...Karena tidak semua orang peka juga mengerti dengan yang kamu bicarakan. ...


CNP


Continue in my Next Post


...Jangan lupa dukung, yoo! ...


...Like, komentar, rate 5, share, faforitkan, dan vote....


...Dukungan kalian akan menambah semangat bagi para Author! Semampu kalian aja, kalau bisa semuanya. Hoho.. (buat nambah popularitas😁)...


...Jangan lupa share juga biar tau di novel juga ada showroomnya lhoo! ...

__ADS_1


...Terima kasih!...


__ADS_2