The Couple Of MissKin-g

The Couple Of MissKin-g
Three-part


__ADS_3

Apartemen Chanwell.


Berbeda dengan suasana sebulan yang lalu yang sangat berantakan dan penuh keributan. Beberapa minggu ini, Baleno dan Livina makin terlihat akur. Gelak tawa sering menghiasi hari-hari mereka berdua. Kemesraan dan keromantisan selalu ditabur setiap saat oleh Baleno. Livina kian tambah bahagia. Ternyata, suaminya benar-benar bisa berubah. Ucapan syukur tak henti dia ucapkan, karena sebuah keajaiban yang datang tak terkira ini.


"Kak Bal.." Begitu panggilannya kini berubah.


"Iya, Sayang. Ada apa?" Tatapan cinta dari Baleno membuat jantung Livina selalu berdegup kencang.


"Aku ingin kue rainbow cake. Tapi, aku ingin dibuatkan oleh Kaka," pinta Livina. Air liurnya nyaris saja jatuh ke bawah membayangkan kue berlapis pelangi itu.


"Tapi, aku tidak bisa membuatnya. Nanti rasanya tidak enak lalu kamu pasti membuangnya," ucapnya dengan sendu.


"Tidak, aku akan memakannya. Bagaimana pun itu hasilnya. Dan aku dengar Bibi juga bisa membuatnya. Kamu buatlah dengan Bibi," pinta Livina dengan lembut. Setelah suaminya berubah dia pun juga ikut berubah. Dari yang awalnya sering bersikap ketus menjadi lemah lembut.


"Hem, baiklah. Tapi, ini sungguh keinginan ibunya atau anakku?" tanyanya sambil memandang lekat Livina.


"Tentu saja, ini kemauan anakmu. Jika itu aku, aku tidak akan merepotkan orang lain," cebik Livina kesal. Pipinya pun mengembung menambah kesan gemas.


"Uuuh.." Baleno mencubit pipinya. "Iya, Sayang. Aku akan buatkan. Baik itu permintaan ibunya ataupun anaknya, aku akan buatkan. Tunggu disini dan nikmati nanti, ya!"


Dengan bantuan ART yang di bawakan oleh Arena, Baleno pun mulai membuatkan keinginan Livina. Tanpa ada kata bantahan ataupun lainnya. Sungguh, Baleno berubah sebanyak 200 derajat menjadi lebih baik dan pengertian pada Livina.


"Aku sudah melihatnya dan juga merasakannya, dia benar-benar berubah. Akan tetapi, aku belum tahu apakah dia sungguh mencintaiku atau hanya mempermainkanku," batin Livina sambil menatap pada punggung Baleno yang masih sibuk dengan adonan.


Beberapa jam kemudian, kue pelangi itu akhirnya siap untuk dimakan. Baleno segera membawa kuenya dan membawa pisau untuk memakan kue itu bersama.


Namun, saat dirinya tiba diruang televisi, tampak Livina yang sedang tertidur. Dia goyangkan tangan Livina agar sadar. Tetapi sang empu enggan beranjak dari tidurnya.


Dengan hati-hati Baleno menggendong Livina ke kamarnya. Setelah itu dia menyelimutinya si ibu hamil ini.


"Dia tidak mengeluh atau menggerutu sekalipun, dia benar-benar sudah berubah, Tuhan," batin Livina bahagia.


Ya, dia tidak tertidur. Ia hanya pura-pura tidur. Ia ingin melihat bagaimana tindak tanduknya jika melihat sang istri sedang tertidur.


Hah, ternyataaa....


Betapa melayangnya Livina detik itu juga. Suaminya sangatlah manis semanis rainbow cake.


"Kak Bal, maaf tadi aku ketiduran. Kakak udah selesai bikin kuenya? Aku mau coba, dong." Livina beranjak dari kasurnya menuju dapur kecilnya. Tak lupa dia menggeret tangan Baleno.


"Wah, enak banget kayaknya," seru Livina berbinar. Tanpa di persilahkan lagi dia langsung memotong kue tersebut. Tapi, tiba-tiba ...


Plub, Baleno mencolek krimnya dan meletakan di pipi Livina.

__ADS_1


"Kakak!" jerit Livina. Baleno pun tertawa karena melihat Livina yang marah.


"Haha, kamu lucu, Liv. Begini saja aku suka," katanya, tambah-tambah membuat Livina geram. Dia pun memukul-mukul dada Baleno dengan kedua tangannya.


"Ihh, kuenya 'kan mau aku makan. Jangan di colek-colek!" Tanpa ampun dia memukul Baleno.


"Ah, sakit, sakit..." rintih Baleno sembari memegang dadanya.


Livina menjadi panik sendiri, "Yang mana? Aku tidak kuat kok pukulnya..." kilah ibu hamil tak ingin disalahkan.


"Tapi bohong..." Ruangan itu riuh kembali dengan gelak tawa. Livina kesal dibuatnya, ia pun merajuk.


"Ya sudah, aku tidak akan memakan kuenya." Dia bersedikap tangan.


"Eh, eh.. Bundanya my baby kok, ngamuk?" Baleno menangkup kedua pipi Livina. "Jangan ngamuk lagi, ya! Aku sudah susah payah buat kuenya. Dimakan, oke?"


"Suapin.." pinta Livina dengan manja.


"Aaa.." Mereka pun berakhir dengan makan kue bersama-sama. Setelah puas makan kue, Baleno menarik Livina dan memeluknya.


"Sayang, lusa nanti kita ke rumah kamu, yuk. Jarang-jarang 'kan kita main kesana?" ucap Baleno seraya mengelus perut Livina.


"Iya, boleh. Aku juga kangen sama mami..."


"Oke.."


***


"Sayang, Mama perhatikan kamu sering melamun setelah pulang dari rumah keluarga Honda," kata Dyna sambil mengelus pelan rambut Avanza.


"Mah, Mama tahu? Brian itu Brio. Brio itu dulu pernah kejar aku, pernah mengutarakan perasaannya juga. Tapi, saat itu aku masih sama Baleno. Dan sialnya aku juga pernah manfaatin dia," papar Avanza. Selama ini dia mengkhawatirkan perbuatannya di masa lalu.


Tentu dia tidak ingin kalah dengan Livina ataupun dengan yang lainnya, terlebih Ayla. Gadis biasa yang tidak bisa dibandingkan dengannya.


"Sayang, jadi itu yang kamu khawatirkan? Kamu ini anak siapa, sih? Cemen banget," maki wanita paruh baya itu. "Mama pernah dengar dari Tante Serena kalau Brian itu berubah jadi cupu itu karena kamu."


"Apa?"


"Iya, maka dari itu kamu jangan khawatir. Orang yang di cintai Brian itu kamu, bukan gadis kamseupay itu. Dan kamu lebih berhak daripadanya. Kita pegang kartu As-nya, Tante City."


"Tante City?"


"Iya, Mama juga dapat kabar dari Tante Serena kalau Tante City itu lebih milih kamu dibanding Ayla. Pokoknya kamu harus tampil percaya diri dan elegant. Jangan sampai buat onar!" kecam Dyna.

__ADS_1


"Kamu harus rebut apa yang harusnya menjadi milik kamu!" ucapnya pelan namun penuh penekanan. Avanza pun mengangguk sembari menerbitkan senyum. Anggukan itu bisa diartikan jika ucapan Dyna memanglah benar. Dia pun menerawang ke depan merencanakan sesuatu.


***


Beralih ke sebuah kafe yang berada di pusat kota. Terdapat dua orang yang sedang berbincang dalam satu meja bundar. Ditemani minuman yang berwarna orange segar dan juga merah menyala.


Mereka tertawa dan saling menggegam tangan. Yang satu melempar sebuah rayuan maut dan yang satunya menerima dengan wajah tersipu. Siapa lagi kalau bukan March dan kekasihnya.


Akan tetapi, kebahagian itu hancur seketika dengan kedatangan Agya.


"March! Siapa dia?" seru Agya dengan mendorong bahu March.


"Hai, Nona! What your distance to my boy friend!"


Agya mengabaikan ucapan gadis yang bersama March. "Jelaskan, March!" bentak Agya. Saat ini hatinya sedang meletup-letup. Darahnya naik dan dia sangat marah.


March bangkit saling berhadapan dengan Agya, "Apa yang harus kujelaskan? Dia kekasihku," jawab March dengan entengnya.


"Hah?" lirihnya. "Kamu bercanda? Lalu hubungan kita apa yang kemarin?"


"Kita? Tidak pernah ada kata kita dihidupku, terlebih denganmu," ucapnya singkat namun dapat dipastikan perkataannya menjadi bomerang yang menyerang Agya tepat di dadanya.


"Hai, Nona! Dengarlah, dia tidak mengakuimu," sarkas gadis disamping Agya.


"Diam kamu, jala*ng!" bentaknya. Sorot matanya menghunus tajam gadis itu. "Berani-beraninya kamu mempermainkanku, March."


"Hai, lick your lips, please! Aku tidak pernah mempermainkanmu, kemarin itu hanya kerja sama yang tidak sengaja. Bukankah kamu juga sangat membencinya?"


"Hem," dengusnya dengan seringai senyum, "Aku akan mengatakan semuanya kalau kamu adalah dalang di balik ini semua. Kamu tidak tahu rumor yang beredar sekarang, 'kan? Orang yang kamu usik adalah Brian Rio. Anak pemilik dari kampus kita."


"Halah, jangan bohong kamu! Brian tidak akan sekolah disini. Dia berada di daratan Eropa."


"Terserah padamu saja. Dan tunggu kehancuranmu."


"Jika aku hancur, kamu pun ikut hancur, Gya!"


"Aku tidak peduli, karena pastinya kamu lebih hancur daripadaku," geram Agya lalu dia berangsur pergi.


"Ah, shiit... Apa yang sangat membuatnya percaya diri seperti itu?" March menendang meja yang ada dihadapannya.


Entahlah apa yang di miliki Agya hingga dia mengancam March dengan begitu entengnya. Dia pun tidak takut dengan kehancuran yang akan terjadi padanya dan malah berdalih jika March lah yang akan lebih hancur.


CNP

__ADS_1


Continue in my Next Post.


Maafin ya kalau bosenin.


__ADS_2