The Couple Of MissKin-g

The Couple Of MissKin-g
Aku Akan Tinggal Disini


__ADS_3

"Kenapa kamu tidak bilang, kamu sudah menemukan kontrakan, Ayla?" tanya Brio kembali. Karena dia belum mendapatkan jawaban atas pertanyaannya itu.


"Aku.." lirihnya. Dia bingung harus mengatakan apa?


"Aku 'kan sudah bilang di surat yang kuletakkan di meja makan. Terus dulu juga aku pernah bilang kalau aku akan mencari kontrakan," jawabnya dengan cepat.


"Iya, tapi kenapa tidak bersamaku mencarinya? 'kan aku bisa cari yang lebih baik."


Hoam..


Ayla tidak menjawab karena saat ini dia sedang menguap. Meski baru saja bangun tidur dan memakan roti tetapi karena tengah malam, rasa kantuknya kembali menyerang.


"Kenapa kamu menangis?"


"Menangis?" Ayla menyernyitkan alisnya satu. "Siapa yang menangis?" tanyanya.


"Hidungmu merah, matamu juga merah."


"Ouh, haha! Aku rindu ibu dan bapak dikampung," jawabnya. Memang pada saat dirinya memakan roti, teringat wajah ibu dan bapaknya. Tak terasa air mata mengalir begitu saja.


"Tidak ada yang kamu sembunyikan, 'kan? Kamu.. baik-baik saja, bukan?" ucapnya sambil memperhatikan kiri dan kanan wajah Ayla.


"Iya, aku baik-baik saja."


Keduanya terdiam. Brio ingin Ayla mempersilahkannya duduk tapi dia diam saja. Sedangkan Ayla, ingin Brio segera pergi atau akan ada massa menyerbu nanti.


Tik, tok, tik, tok


Bunyi jam dinding memecah keheningan mereka.


"Mm, Brio. Sebaiknya kamu pulang sekarang juga, sebelum massa datang kesini. Aku tidak membawa buku nikah, aku tidak bisa menunjukan kepada mereka bahwa..." ucapnya terpotong oleh Brio.


"Ayla, mengapa kamu tidak tinggal di apartment saja? Bukankah lebih nyaman dan aman disana?"


"Aku tidak bisa tinggal disana. Setiap aku keluar dari sana, aku selalu teringat," ungkap Ayla. Kini dirinya tertunduk.


"Ouh, maaf!"


Tiba-tiba Ayla teringat sesuatu. Dia tidak pernah mengatakan alamat kontrakannya. Dan hanya dia dan Leva yang tahu alamat ini. Tapi, bagaimana Brio bisa tau?


"Brio. Kamu tau alamat aku dari mana?" Wajahnya penuh dengan raut wajah keheranan.


"Aku.. aku.." lirihnya.


"Aku tidak bisa mengatakan yang sejujurnya. Bisa-bisa dia curiga, aku siapa?" batin Brio. Dia belum tahu alasan apa yang akan dia ucapkan padanya.

__ADS_1


"Kenapa?" desak Ayla.


"Aku mencarinya. Kamu menulis surat dan mengatakan kalau kamu sudah menemukan kontrakan. Dan aku langsung tahu kontrakan seperti apa yang kamu mau. Kamu 'kan tidak punya uang," hina dan terkanya dengan benar.


"Ouh, gitu! Ya sudah, sana pergi! Aku mau tidur," ketusnya. Enak saja dia bilang 'tidak punya uang' meski itu benar tapi tidak boleh terlalu jujur juga, bukan?


"Ay, pulang lagi yuk! Aku janji nanti aku akan carikan kontrakan yang lebih baik. Kalau bisa kita cari kontrakan yang rumah, agar lebih nyaman."


"Tidak! Aku tidak punya uang!"


"Aku yang bayar, Ay!"


"Tidak, Brio tidak! Aku tidak mau. Sekarang lebih baik kamu pulang, sana.." tunjuknya kearah luar.


"Aku serius, Ayla. Aku yang bayar kalau tidak kita pulang saja ke apartment. Kamu boleh sepuasnya pakai kasur aku," tawarnya lagi.


Dia teringat pesan ibu dan bapak mertuanya agar selalu menjaga Ayla. Jika dirinya tinggal di apartment dan membiarkan Ayla tinggal disini, bisa-bisa dirinya yang hidup dengan berat. Selalu dilanda kecemasan.


"Tidak, Brio. Aku sudah nyaman disini. Lagipula ini tempat aku, wajar bila aku yang bayar. Dan kemampuanku hanya bisa membayar kontrakan ini saja. Jika nanti aku ada uang aku juga akan pindah. Aku tidak mau merepotkan orang."


Orang? Seasing itukah Brio dihadapannya?


"Humm.." Brio mengulum senyumnya. "Oke, aku akan keluar, aku pulang. Kamu kunci pintunya, ya! Aku tidak mau ada orang mabuk yang salah masuk lagi."


"Ya, ya, ya, sana...!" Ayla menggiring Brio keluar. Tak ada lagi yang bisa menahannya.


Tapi tentu saja dia punya ide gila lainnya.


"Tidak ingin merepotkan orang? Tunggu apa yang akan aku lakukan?" Senyum iblis penuh kemenangan tepampang diwajahnya.


Sedangkan Ayla sedang terpaku pada ingatan ketika dia di peluk begitu saja oleh Brio. Dadanya berdegup kencang seakan hendak meloncat.


"Tadi dia memelukku? Apa dia khawatir padaku? Tidak mungkin! Tapi kenapa jantungku deg-degan." Dia hentakan kakinya, kesal.


"Tidak mungkin aku menyukainya. Aku baru saja putus dengan Jimny, lelaki yang hampir mendekati sempurna. Tapi kenapa langsung jatuh lagi pada orang yang seperti Brio. Tidak! Pasti aku sudah salah. Mungkin tadi itu karena aku terkejut," sangkalnya.


"Lagipula jika jatuh hati padanya maka akulah yang akan tersakiti. Dia menyukai Avanza. Siapa yang bisa menolak pesona Avanza."


"Tidak, tidak! Aku tidak boleh menyukainya. Ingat Ayla dia itu Enyu, cupu, culun, menyebalkan.. iiiih!" gerutunya sambil kembali memeluk bantal guling dan dia pun terlelap.


***


Siang hari Ayla masih belum bangun dari tidurnya. Sedangkan diluar sana ada seseorang yang sedang mengetuk-etuk pintunya.


"Siapa sih masih pagi.." lirihnya sambil mengambil ponselnya untuk melihat jam. "Hah! Jam 11 siang, astaga, astaga..!"

__ADS_1


Tok tok tok


"Aduh siapa sih? Ganggu orang saja." Ayla pun langsung keluar dari kamarnya untuk membuka pintu.


Ceklek


"Brio??" Mulutnya menganga sempurna. Mengapa lelaki ini ada dihadapannya lagi? Terlebih sekarang sudah ada banyak barang di belakangnya.


"Hai..!" ucapnya sambil menerobos masuk. "Bawa itu semua aku lelah."


Flashback.


Malam itu setelah dia diusir oleh Ayla. Dia langsung mendatangi pemilik dari kontrakan tersebut. Dia menanyakan barang apa saja yang berasal darinya disetiap kontrakan.


Ibu pemilik kontrakan tersebut mengatakan bahwa hanya ada satu kasur kecil dan juga satu kursi beserta mejanya.


Tak pikir panjang diapun langsung memesan lemari dua pintu tidak besar juga tidak mahal, karena jika tidak, Ayla akan curiga dari mana dia mendapat uang untuk membeli barang. Satu kasur yang juga kecil, hanya muat untuk dirinya seorang.


Tak hanya itu dia juga membeli peralatan dapur, mulai dari kompor sampai piring juga sendok dia beli. Karena dia tahu pasti Ayla belum memilikinya.


Dia juga membeli peralatan kebersihan, satu kulkas kecil dan juga bahan makanan seperti beras, terigu, telur, dan bumbu lainnya.


Dia meminta seseorang untuk langsung mengantarkannya pada alamat yang sudah dia berikan.


Flashback off


"Darimana kamu mendapatkan barang sebanyak ini??" Benar saja Ayla pasti akan menanyakannya.


"Akuu.. diberi, karena mulai hari ini aku juga akan tinggal disini.."


"Apa? Akan tinggal disini?" Mata Ayla kembali membulat lebih besar dari sebelumnya. Mulutnya menganga sudah seperti gua. Dia menatap tidak percaya pada Brio.


"Kamu bilang tidak ingin merepotkanku, aku yang akan merepotkanmu dan tinggal disini," batinnya sambil tersenyum iblis.


Ide gila yang dia miliki adalah dia yang akan memilih tinggal bersama Ayla. Tanpa dia tahu apa yang akan dilaluinya. Meski dia berpura-pura miskin tapi untuk tinggal dan tidur dia tidak pernah memilih kontrakan kecil yang berada di tengah-tengah kampung. Dia tidak terbiasa dengan kehidupan seperti itu.


Tapi demi Ayla dia merelakan hunian yang mewah itu.


CNP


Continue in my Next Post


Ayo upgrade aplikasi mangatoon dan noveltoonnya. Karena untuk memberikan vote sekarang menggunakan Bunga dan lainnya. Saya juga berharap para readers semua memberikan saya dukungan. Vote pakai bunga saja jika poin tidak mencukupi. Atau mau lebih baik pakai yang merah heheh.. jangan lupa Like mu membantu dan Love mu membuat karya ini hidup. Terima kasih!


😊salam sehat.

__ADS_1


__ADS_2