The Couple Of MissKin-g

The Couple Of MissKin-g
Sahabat Istri Pacar Suami


__ADS_3

Hari ini Baleno dipusingkan dengan keinginan Livina yang sudah bermacam-macam. Dia ingin pergi jalan-jalan ke mall, tetapi harus ditemani olehnya. Alasannya siapalagi jika bukan karena anak yang dikandungnya. Awalnya memang dia menolak, tetapi lima belas menit kemudian datang notifikasi chat dari ayahnya, Ignis.


Jika kamu tidak mau menemani Livina, maka mobilmu akan ayah sita.


Sontak membuat Baleno geram, dia memarahi Livina. Tetapi tetap saja ibu hamil diatas segala-galanya, Livina menang dalam melawan Baleno. Dan kini mereka berdua sedang dalam perjalanan.


"Kamu gunakan trik apa lagi sampai ayahku menurut padamu?"


"Simpel saja, Om Ignis sangat menyayangi anak ini. Apapun keinginannya akan dia penuhi, katanya untuk cucu pertama," ucapnya sambil memakai lipstik.


"Cih, Kamu tidak bisa ya, tidak merepotkanku?"


"Sepertinya tidak bisa. Aku memang sangat malas bersamamu, tapi anak ini malah ingin terus bersamamu. Aku juga sangat aneh. Seperti inikah rasanya mengidam?"


"Aku sudah pernah bilang, gugurkan saja anak itu. Kita tidak perlu repot-repot seperti ini," ucapnya sambil memakirkan mobil, mereka sudah tiba ditempat tujuan.


"Apa dia bilang? Gugurkan? Mudah sekali dia bicara seperti itu, tidak tahu apa rasanya sakit," batin Livina meggerutu.


"Kamu jangan macam-macam aku mengikutimu dari belakang." Livina pun berjalan lebih dulu dibanding Baleno.


Dengan wajah masam dia berjalan terus maju kedepan. Entah mengapa akhir-akhir ini Livina selalu ingin berdekatan dengan Baleno. Padahal Livina yang sebenarnya sangat membencinya. Selain itu dia juga selalu ingin di elus, di sayang, di manja, olehnya. Bahkan kemarin saat Baleno sedang tidak ada dirumah, dia paksa untuk pulang hanya untuk menyuapinya. Jika diingat-ingat dia juga merasa jijik dengan perilakunya itu, tetapi saat ada maunya dia akan meminta sampai dikabulkan dan dengan cara apapun yang penting keinginannya dituruti.


Livina terus berjalan menembus kerumunan. Sedangkan, Baleno berjalan dibelakang sambil memainkan ponselnya. Saat melihat Timezone, wanita hamil itu ingin sekali memasukinya. Seketika saja dia berhenti menunggu Baleno yang masih asik dengan benda pipihnya.


Saat Baleno melewatinya, tangan yang mulus dan putih menariknya masuk kedalam Timezone.


"Hai," pekiknya.


"Aku ingin masuk kesini, maksudku anakmu." Dengan malas Baleno mengiyakan. Jika tidak wanita yang ada dihadapannya ini pasti langsung mengetik sesuatu dan dikirimkan ke ayahnya.


"Bal, aku ingin naik choco cups," tunjuk Livina pada permainan cangkir putar yang hanya dimainkan oleh anak kecil saja.


"Ya sudah, sana naik!"


"Tapi aku ingin ditemani.." lirihnya. Dia mengucapkan itu dengan sangat pelan agar tidak dimarahi.


"Apa? Yang benar saja, Liv? Gila kamu!" geram Baleno, "Lihat, yang naiknya saja banyak anak kecil. Kamu menyuruhku untuk naik juga, tidak. Aku tidak mau," tolaknya mentah-mentah.


"Bal," rengeknya. "Mau ya, mau.." mohonnya sambil menarik-narik lengan kaos Baleno.


"Tidak!"


"Humph," Livina merogoh saku mengambil smartphone-nya.

__ADS_1


"Eh, eh. Kamu mau apa?"


"Kasih tahu Om Ignis." Langsung saja Baleno merebut ponsel Livina.


"Ck.." decaknya, "Ayo, ayo.." Baleno menarik tangan Livina dan menaiki choco cups itu bersamanya.


Sungguh dia malu sekali sampai-sampai dia terus menunduk ketika cangkir itu sedang berputar. Livina sukses membuatnya jatuh sejatuh jatuhnya. Sedangkan, si wanita hamil itu tersenyum bahagia karena keinginannya tercapai.


Seusai menaiki choco cups, Livina melihat mobil-mobilan, permainan itu dinamai demolition derby. Tanpa penolakan akhirnya mereka memainkan wahana itu. Sungguh hari ini adalah hari yang paling menyebalkan yang pernah terjadi dalam hidup Baleno.


Setelah puas bermain di timezone mereka berdua keluar untuk mencari makanan.


Saat Livina dan Baleno sedang memilih makanan tiba-tiba saja Avanza datang menghampiri meja mereka.


"Sayang! Livina!" tegur Avanza. Sedikit terkejut saat mendapati pacarnya bersama sahabatnya sendiri.


"Avanza.." lirihnya setengah melongo. "Mengapa ada dia disini?" bisiknya.


"Sayang.." Baleno menatapnya dengan tatapan penuh ketakutan. Dia takut rahasianya terbongkar. Dia takut Avanza meninggalkannya disaat masih sayang-sanyangnya.


"Sedang apa kalian berdua?" tanyanya penuh selidik.


"Haha... Sayang, aku kesini mau beli sesuatu buat kamu. Tapi aku kurang tahu apa yang kamu butuhkan. Nah, maka dari itu aku ajak Livina. Livina 'kan sahabat kamu," kilahnya sambil menendang pelan kaki Livina memberi kode.


"O, memangnya kamu beli apa? Kenapa, tidak langsung tanya padaku saja?"


"Haha, 'kan aku mau buat surprise buat kamu, Yang, " kilah Baleno lagi. Livina hanya menatap malas dengan interaksi mereka berdua.


"Benar begitu, Liv?" mata Avanza berbinar senang, berbeda dengan Baleno yang mempelototinya.


"Haaah, ya," desah Livina. "Dan kamu datang menghancurkan segalanya." Badmood sudah Livina disana. Dia kesal dengan hadirnya Avanza. Entahlah biasanya tidak seperti ini, tapi sekarang ... apa mungkin ini adalah faktor kehamilannya?


"Lalu mana barang yang kamu belikan?" tanya Avanza sambil menduduki kursi yang kosong.


"Aa.. aku belum sempat, Sayang. Kita baru saja datang dan makan siang dulu. Jadi, belum sempat beli."


"Ya sudah, nanti setelah ini kita beli saja."


"Sekarang?"


"Iya, nanti habis makan. Bukannya mau beli sesuatu untukku, ya? Sekalian saja aku yang pilih pasti aku suka. Tidak perlu surprise, lagi pula sepertinya Livina sedang sibuk, 'kan, Liv?" Tampak mata Avanza mengedip sebelah.


"Hmm.." Livina tersenyum datar, "Tidak kok!" sahutnya lagi. Avanza merenggut manyun. Bagaimana bisa sekarang Livina tidak mengerti kodenya.

__ADS_1


Setelah menunggu beberapa saat pesanan mereka akhirnya datang juga. Livina segera mengangkat sendok dan juga garpunya. Namun, pada saat dia memakannya rasa mual yang sedari tadi tidak kambuh kembali menyerang.


Dengan cepat dia berlari menuju arah toilet.


"Dia kenapa, Sayang?"


"Tidak tahu, kamu 'kan sahabatnya," sahutnya acuh. Baleno tidak mau memikirkan apapun tentang Livina, dia sudah kesal seharian ini seperti sudah dikerjai. Yang terpenting sekarang adalah makanan yang ada dihadapannya.


Sementara itu...


Livina mengeluarkan semua yang tadi pagi dia makan, bahkan sepertinya tidak ada lagi yang tersisa. Badannya menjadi lemas seketika, ternyata hamil memang merepotkan. Terlebih ngidamnya yang sangat memuakan.


Livina sudah tidak kuat dia ingin pulang. Akan tetapi, tidak ada satu rupiah pun di dompetnya. Dia tidak membawa uang ataupun Atm. Ini gara-gara tadi dia yang terlalu senang sampai lupa membawa uang. Terpaksa dia harus meminta Baleno untuk mengantarnya pulang.


Baleno sudah hilang kesabarannya, karena Livina menghancurkan quality time-nya bersama sang kekasih. Alhasil dengan seribu alasan dan seratus jurus rayuan, Baleno izin pulang dan berjanji akan membelikan Avanza hadiah dilain hari.


Saat dalam perjalanan pulang. Baleno yang sudah naik pitam benar-benar membentak Livina.


"Kamu kenapa sih? Selalu saja mengganggu waktuku. Aku baru saja bersama Avanza dan kamu langsung meminta untuk pulang" teriak Baleno.


"Aku mual, Bal. Mual.. Aku ingin pulang badanku lemas. Aku lupa membawa uang," sahut Livina yang tak mau kalah.


"Halah, alasan saja. Jangan jadikan kehamilanmu ini sebagai alasan, Liv! Kamu janji padaku tidak akan ikut campur urusan Avanza, tapi mana buktinya?"


"Kamu mau aku menikahimu, aku nikahi. Walaupun, kamu juga tau tidak sepenuhnya salah diriku. Tadi kamu membuatku malu dengan ngidammu ini, aku diam. Kamu mengancamku juga, aku diam. Aku hanya minta sedikit waktu bersama Avanza, kamu masih saja mengangguku..!" bentaknya lagi, dia keluarkan semua amarah yang ada didada.


Lain halnya dengan Livina yang hanya diam , ingin sekali dia menangis tapi dia tahan karena takut lebih dimarahi.


"Aku juga tidak ingin mengganggu waktu kalian bersama, aku hanya butuh rebahan. Aku benar-benar lupa membawa uang. Jika kamu mau menurunkan, turunkan saja aku disini. Aku tidak apa-apa.." lirihnya dengan suara yang sedikit bergetar.


Melihat Livina yang tidak lagi membalas bentakannya, Baleno menjadi diam. Dalam hatinya berbisik, bahwa Livina sangat berbeda dengan Avanza yang harus di tenangkan jika sudah di bentak. Baleno pun tidak dapat berkata-kata lagi, dia segera melajukan mobilnya menuju apartemen.


CNP


Continue in my Next Post


...Hai, semuanya! Salam sehat dan salam cinta. ...


...Tolong dukungannya, ya. Like, komentar, vote bunga atau lainnya, rate5, faforit dan share ke semuanya untuk tahu showrom juga ada di novel loh.. Dukungan kalian adalah semangat bagi para author!...


...Xiexie!...


...Terima kasih!...

__ADS_1


...Thank you!...


__ADS_2