
Jam sudah menunjukan pukul 3 dini hari, suara ayam yang berkokok terdengar nyaring membelah kesunyian malam. Ayla terbangun dari tidurnya, melihat Brio yang sudah tertidur nyenyak dikasurnya. Terlihat damai sekali saat melihatnya tidur. Akan tetapi saat dirinya terbangun seluruh bumi bak sedang di goncangkan dan akan hancur seketika itu juga.
Ah, menyebalkan! Menjengkelkan..!
Disaat seperti ini ingin sekali Ayla mengutuknya agar terus menjadi putra tidur bak cerita dongeng putri tidur yang terkenal itu. Agar hidupnya kembali menjadi tenang dan damai seperti sebelumnya. Sayangnya takdir terus tak memihaknya.
Ayla melihat sapu tangan yang tempo hari diberikan kepadanya untuk menyeka air mata yang keluar akibat ucapan-ucapan mahasiswa cabai di kampusnya. Terdapat sebuah kata BandA hasil sulaman di sapu tangannya.
"BandA?" Ayla berpikir keras menafsirkan kata itu, "Apa mungkin ingin menulis bunda, tapi sulamannya kelewatan. Tapi kenapa huruf a disini memakai huruf kapital?" pikirnya terus menerka-nerka.
"Apa, apa ini berarti Brio and Avanza?" lirihnya sendu.
"Ternyata kamu memang benar-benar mencintainya. Seakan namanya pun tidak ingin terpisahkan darimu. Huh.." desah Ayla kecil.
"Siapa kamu, Ayla? Hanya wanita yang sudah rusak, bukan? Tanda ini, tanda di leher kamu ini adalah bukti kamu sudah disentuh laki-laki lain. Mana mau dia denganku? Dia menginginkan wanita yang cantik, dia menginginkan wanita yang tidak berpacaran dengan banyak laki-laki. Sedangkan kamu? Ahh, sudahlah. Aku akan membantunya supaya aku segera bebas." Ayla segera mencari cara dengan bertanya kepada mbah dukun semua orang, Google.
Dia merasa pusing sekali saat membaca semua tulisan kecil-kecil yang ada di smartphonenya di pagi buta seperti ini. Ayla kembali memikirkan cara lain. Puisi, bunga, dan cokelat mungkin cara murah seperti itu bisa meluluhkan hati Avanza juga tidak terlalu menguras kantong Brio.
"Haha, ada ide!" serunya
Dengan segera dia tuliskan sebuah puisi di kertas kosong. Setelah selesai dengan memilah dan memilih kata yang dirasa cukup untuknya, Ayla segera memasak.
Kali ini dia memasak untuk dirinya sendiri, masa bodo dengan Brio yang kelaparan nantinya. Dia tidak peduli. Jika lapar panggil saja Avanza dan mintalah dia memasakan sesuatu untuknya. Jangan minta Ayla untuk mengurusinya.
Jam 7 pagi, Ayla sudah selesai berbenah. Dia sudah siap untuk berangkat kuliah. Tapi sebelum itu dia memberikan secarik kertas berisi puisi kepada Brio. Ayla takut dituduh yang tidak-tidak lagi olehnya. Pasti semuanya juga sudah tahu rasanya dituduh itu sakit sekalipun itu benar adanya.
"Bagaimana?"
Matahari terbit dari arah timur
Air sungai mengalir kearah barat
Gunung es berada diarah selatan dan utara
Tapi cintaku terbit, mengalir, dan berada di dirimu
Aku mencintaimu, sangat mencintaimu
Kamu adalah pelabuhan terakhirku
Avanza, tolong terimalah cintaku
Dan maulah hidup bersamaku
__ADS_1
Akan kubahagiakan dirimu..
"Puisi apa ini? Sama sekali tidak berbobot" sungut Brio.
"Maksudmu apa tidak berbobot? Puisi ini aku buat jam 4 pagi. Pikiran dan otakku masih fresh pasti berbobotlah. Kamu saja yang tidak mengerti puisi!"
"Aku memang tidak mengerti puisi, tapi setidaknya gunakanlah kalimat yang menyentuh."
"Gunakan kalimat yang menyentuh? Coba kamu sendiri yang buat! Aku tidak bisa membuat kata-kata yang menyentuh, aku bukan anak sastra."
"Kamu pikir aku juga anak sastra? Aku tidak bisa gunakan kata-kata."
"Kalau tidak bisa jangan banyak protes! Mana uang untuk membeli bunga?"
"Bunga?" tanya Brio heran.
"Ya. Masa hanya secarik kertas?"
"Aku biasa memberinya coklat. Tunggu sebentar!" Brio segera mengambil coklat yang ada di ranselnya.
Ayla tercengang saat melihat coklat itu, dia hafal betul harga dari coklat yang dipegang oleh Brio. Dari mana dia mendapatkan uang? Karena yang Ayla tahu Brio adalah seorang karyawan biasa yang pendapatannya hanya cukup untuk sebulan saja. Jika saja Ayla tidak menghemat untuk kebutuhan sehari-harinya, mungkin pada saat tanggal tua nanti mereka akan kelaparan.
Tapi, apakah dia berbohong? Apakah dia memiliki pendapatan lain? Dan semua itu dia gunakan untuk mengejar Avanza.
"Ini, mengapa kamu diam saja?" ucap Brio sambil menyerahkan coklat.
"Jika aku yang masih memberikannya, lalu apa tugasmu?"
"Aku bisa membantumu dengan yang lain. Ah, sudahlah. Aku malas berdebat denganmu. Aku pergi dulu. Jaga kontrakan ini!"
Baru selangkah Ayla meninggalkannya, Brio langsung menahan tangannya.
"Ayla, aku tanya padamu, apakah kamu yang memberitahunya?"
"Untuk apa aku jelaskan jika kamu tidak percaya?"
"Saat di atap kampus itu, sedang apa kamu disana?"
"Bukan urusanmu.." Ayla melangkahkan kakinya dua langkah.
"Ayla!"
"Sudah kubilang semua ini tergantung kepercayaanmu!" bentaknya, Ayla tidak ingin jika sampai dirinya keceplosan. Semua ini adalah masalahnya, jadi dia sendiri yang akan menyelesaikannya.
__ADS_1
"Ini sudah siang saatnya aku berangkat.." Ayla segera pergi meninggalkan Brio sendiri.
"Ahh, shiit." Dia hempaskan tangannya ke sembarang arah, "Kenapa hatiku merasa jika dia tidak melakukan semua itu? Tapi, kenapa logikaku mengatakan dia orangnya, karena semua kecurigaanku mengarah kepadanya? Dia mantan kekasih Jimny, pasti dia memiliki nomor Baleno. Tidak mungkin Avanza memberitahunya ... Ckk." Brio berdecak kesal.
Dari semalam dia masih memikirkan kenapa Baleno mengetahuinya. Sungguh permainan detektif-detektifan bukan dia ahlinya.
"Errgghh! Dia tidak memasakan makanan untukku? Cih.. Istri tidak berguna..." ucapnya kesal, saat dia membukakan tudung saji yang kosong melompong.
***
Kini Ayla sudah berada di kampusnya. Dia segera menyelipkan coklat beserta puisi buatannya di meja yang biasa Avanza gunakan. Ada rasa sedih dalam hatinya saat melakukan itu.
Bukankah ini lucu dia adalah istrinya, tapi dia juga yang memberikan jalan untuk orang lain masuk dalam kehidupannya.
Jika saja dia tidak mengingat bahwa Brio sangat mencintainya, dan jika saja dia tidak mengingat dirinya yang sudah kotor, mungkin dia akan terus mempertahankan perasaanya dan akan membuat Brio jatuh cinta padanya.
Tapi ini semua tidak mungkin. Sekali lagi waktu dan tempat tidak mempersilahkannya.
"Huh.." desah Ayla.
"Ayla.." cicit Levante. Dia merasa heran melihat Ayla berdiri di dekat meja Avanza.
"Levaa..." Ayla menghambur memeluknya. Hatinya sudah tidak kuat menahan kesedihan ini, dia membutuhkan orang untuk mendengarkan ceritanya.
"Mengapa kamu menangis?" tanya Leva sambil mengelus punggungnya. Sedangkan, Ayla meraung lebih keras lagi. Dia membutuhkan sandaran agar dirinya tak benar-benar terjatuh ke dasar jurang yang curam.
CNP
Continue in my Next Post.
...Quote ...
...Tolong bedakan tulisan ke meja dengan kemeja ...
...Meski mereka sama tapi mereka tak serupa seperti...
...Aku dan dia...
Mohon untuk dukungannya selalu.
Komentarmu, like, vote bunga atau lainnya, share, dan rate5 adalah dukungan yang saya butuhkan.
Tolong favoritkan untuk tau kabar selanjutnya.
__ADS_1
Terima kasih!
Salam cinta