
Livina sedang mencari suaminya yang entah pergi kemana. Tadi diruang tv, dia meminta minum. Tapi, setelah Livina mengambilkan minuman suaminya sudah tidak ada.
Di telepon tidak aktif. Mobilnya digarasi masih ada. Pasti orangnya pun masih ada, tetapi dimana?
"Sayang!" seru Livina memanggil Baleno. Dia mencari kesetiap ruangan yang berada di lantai satu. Tapi, nihil dia tidak menemukannya.
"Bi, Bibi lihat Baleno?" tanya pada asisten rumah tangga. Dan ia pun menggeleng. Livina mencari lagi kali ini di lantai kedua.
"Kemana sih, Baleno. Apa jangan-jangan dia di kamar madi, ya?" Segera Livina mencarinya ke kamar.
Sementara orang yang sedang di cari sedang sibuk mencari. Mencari sesuatu yang sangat dia inginkan. Harta yang pernah di rebutkan oleh kakeknya. Harta yang menyebabkan dirinya sedari kecil di jebak oleh perjodohan.
Ia sempat mendengar surat pengalihan itu sudah dibuat sejak dulu. Ada lagi kabar burung menyebutkan bahwa surat itu di pegang oleh Juke, selaku anak tertuanya. Jadi, Baleno harus memastikannya sekarang juga. Atau semua rencananya akan sia-sia.
"Ruang kerja tidak ada pasti dalam lemari kamarnya," pikirnya. Setelah menata kembali meja kerja Juke, ia beralih ke kamar Juke.
Sangat kebetulan sekali dirumah sepi. Juke sedang bekerja di kantor, sedangkan Terra sedang ada pertemuan dengan teman-teman sosialitanya. Ia hanya tinggal bersama beberapa ART dan Livina saja.
"Sayang!" Terdengar suara Livina memanggilnya dari luar. Baleno segera mengunci kamar mertuanya.
"Aku harus segera mendapatkan surat itu," batinnya sambil terus mencari.
Livina tiba di kamarnya. Dia langsung mengetuk pintu kamar mandinya, "Sayang! Apa kamu ada di dalam? Kenapa tidak ada suara air ataupun sahutan?" Karena penasaran Livina membuka pintu kamar mandinya.
Kosong. Disana kosong tidak ada siapa-siapa.
"Dimana Baleno?"
"Sayang kamu mencariku?" Tiba-tiba Baleno datang dari bilik pintu.
"Kamu darimana saja?"
"Aku tadi keluar sebentar. Ayahku menelpon dan dia ingin aku segera ke perusahaan. Makanya aku datang padamu dan ingin berpamitan."
"Oh, harus sekarang, kah?"
"Iya, Sayang. kamu tidak apa-apa, 'kan?"
"Tidak. Segeralah pergi mungkin urusanmu sangat penting."
"Iya, terima kasih, ya, Sayang!" Baleno mengecup pelan kening istrinya. Dan segera berlalu pergi.
__ADS_1
Tanpa curiga lagi, Livina membiarkan Baleno pergi. Dihatinya sudah terbuang rasa curiga untuk suaminya itu. Setelah selama tiga minggu ini mereka bersama, membuatnya sangat yakin jika Baleno benar-benar sudah berubah.
Baleno pergi dengan mobilnya. Dia berbohong pada Livina kalau dia akan pergi ke kantor Ayahnya, melainkan ke kantor Ayah mertuanya. Tujuannya untuk mendapatkan tanda tangannya. Agar surat pengalihan itu benar-benar sah dan tidak ada yang bisa menganggu gugat.
"Bal, ada apa kamu kemari? Tidak biasanya." Juke segera menutup laptopnya.
"Aku kesini untuk membicarakan sesuatu dengan Ayah. Awalnya aku menghubungimu, tapi tidak terhubung. Karena itu aku berinisiatif datang kesini."
"Oh, sesuatu apa?"
"Ini tentang pekerjaan. Ayahku sedang mengadakan proyek pembangunan mall. Dan aku di percaya untuk memegang proyek ini. Aku ingin meminta bantuan Ayah mertua disini."
"Oh, begitu."
"Iya, Yah. Apa Ayah mertua bisa membantuku? Ini aku ada proposalnya dan tolong di baca," ucap Baleno sambil tersenyum.
"Kemari, Ayah baca dulu." Juke pun mulai membaca proposal yang di ajukan oleh menantunya itu. Dia tahu sifat menantunya. Jadi, dia harus berhati-hati membacanya.
"Untung aku sudah menyiapkan proposal palsu. Jika tidak, dia tidak akan percaya padaku. Dan yang aku butuhkan hanyalah tanda tangannya saja. Itu sangat mudah sekali," batin Baleno sambil tersenyum menyeringai.
"Baiklah, Ayah akan membantumu. Proyek ini sangat bagus. Ayahmu sangat pintar dan kamu juga harus mengikuti jejaknya," ucap Juke sambil menandatangani proposal bohongan itu.
"Terima kasih, Yah. Kalau begitu aku akan pulang dulu dan menyiapkan kelanjutannya."
****
Hari ini yang sangat melelahkan bagi Ayla. Bayangkan saja dia harus menyapu seluruh ruangan lalu di lanjut dengan mengepelnya. Yang sialnya bukan hanya itu, melainkan Serena yang selalu saja mempersusah dirinya. Ia mengatakan jika ini belum bersih dan itu masih ada noda.
Meskipun banyak para pelayan disana, tetap saja Serena mempekerjakannya. Sudah jelas jika ini adalah penyiksaan.
Namun malang seribu malang. Ayla tidak bisa melawannya atau sekedar membantahnya. Kini ancamannya tidak lagi dia sembunyikan. Dia tahu semua informasi Ayla dan keluarganya di kampung. Dia mengancam akan membongkar semuanya.
"Sekarang giliran kolam. Jangan lupa kuras kolamnya dan sikat semua permukaan yang kotor. Aku tidak mau ada satu noda ataupun sampah yang tersisa," ucap Serena sembari terus memperhatikan Ayla yang sedang bekerja.
"Maaf sebelumnya, Nyonya. Tapi sepertinya kolam renangnya sering mereka bersihkan. Jadi, menurut saya kolamnya masih layak untuk di pakai."
"Ohh, ngelawan kamu, ya? Dengan reputasimu yang sangat jelek, aku sangat gampang menendangmu dari sini, gadis matre. Sekarang kerjakanlah! Atau akan kubongkar kelakuan busukmu selama kuliah."
"Busuk?"
"Apa kamu akan berpura-pura polos? Bukankah kamu adalah gadis matre penjerat pria-pria kaya?" Mata Ayla terbelalak, dari mana tahunya wanita paruh baya ini.
__ADS_1
"Kenapa? Kaget? Bahkan kamu pernah, 'kan, tidur dengan salah satu pria itu selain Brian? Dan tandanya masih ada sampai sekarang. Ini.." tunjuk Serena pada lehernya, "Ini adalah noda dari laki-laki itu. Dan sekarang masih belum hilang karena kamu buat luka. Supaya abadi dan terkenang selalu, bukan?" Makin-makin membuat Ayla gusar dan berdebar kencang. Mengapa beberapa omongannya benar sekali? Dan kenapa ada tambahan yang lebih monohok? Apakah Brio yang memberitahunya? Tidak mungkin!
Flashback..
"Apa? Yang benar saja kamu, Avanza. Kalau Ayla adalah mantan Jimny Suzu. Dia, 'kan, termasuk pria keren dan kaya raya. Tapi, lebih rendah dari anakku, Oddysey."
"Tante, harus percaya padaku. Dia adalah mantan Jimny atau mungkin masih berhubungan. Bahkan, aku pernah mendengar kalau dia pernah melakukan hal yang seperti suami istri lakukan. Dan Tante tahu? Dia mengabadikan tanda itu di lehernya. Kalau Tante tidak percaya, ya sudah."
"Baiklah, Tante akan memastikannya dulu." Sambungan telepon antara Serena dan Avanza terputus.
"Huh, untung telingaku ini selalu mendengar kejelekanmu, Ayla. Hanya dengan tambahan beberapa kata saja kamu akan hancur. Booom," ucapnya dengan nada penuh kemenangan.
Ya, Avanza pernah mendengarnya ketika Ayla mencurahkan segala keluh kesahnya pada sahabat dekatnya, Levante. Kala itu dia begitu khusyuk mendengarkannya. Sehingga, tak ada informasi apapun yang lenyap dan tidak terdengar olehnya.
Memang jika benci sudah menyeruak dihati, kebaikan sebesar istana keprisidenan pun tidak akan terlihat.
Tanpa mendebat lagi Ayla langsung mengambil saringan yang berpegangan panjang. Alat yang biasa untuk mengambil sampah-sampah di kolam renang.
Di dalam pikirannya di berpikir keras ingin mengetahui siapa yang memberitahu Serena tentang Jimny. Tidak mungkin jika Levante membocorkannya. Tapi, sangat tidak mungkin juga jika Brio yang memberitahukan mereka semua. Lalu siapa? Yaris? Bahkan dia jarang terlihat berinteraksi dengan orang rumah.
Tidak! Dia tidak boleh lemah dan menyerah hanya karena ini. PR-nya bertambah dengan harus mengetahui siapa yang selalu menjadi informan bagi Serena.
Sore hari setelah semua pekerjaannya selesai. Ayla memohon pada Chef di rumah mewah itu untuk memperbolehkannya masuk ke dapur. Dengan begitu dia bisa memasak dan merebut hati sang mertua dengan masakan yang dia buat. Mungkin dalam hal ini Ayla mengatakannya sebagai unjuk kebolehannya sang menantu.
Tentu dia tidak ingin disebut hanya diam dan menikmati semua ini. Meskipun sebenarnya seharian ini ponselpun tidak tersentuh olehnya.
"Sudah siap," ucapnya dengan rasa gembira hati.
"Saya rasa Tuan Jazz dan Nyonya City akan menyukai masakan Anda, Nona," ucap kepala Cheff yang bernama Panca.
"Benarkah?"
"Iya, masakan Anda enak. Hanya saja kurang dalam platingnya."
"Hehe, Anda benar, Tuan Panca. Tapi saya harap mertua saya menyukai masakan ini. Kalau begitu saya bersiap dulu untuk makan malam. Terima kasih, Tuan Panca." Ayla berlalu dan pergi.
"Ah, anak itu, memanggilku Tuan padahal sendirinya adalah Nona dirumah ini," ucap Panca setelah Ayla pergi.
CNP
Continue in My Next Post
__ADS_1
semoga masih mau baca 😁😁