
Saat waktu istirahat sudah tiba, Brio dan Avanza berjanji akan bertemu di perpustakaan. Hal ini dilakukannya tentu agar Baleno, kekasih Avanza, tidak mengendus pertemuannya dengan laki-laki lain.
Tempat ini juga adalah tempat yang paling aman dari tempat manapun, karena Baleno sangat jarang sekali mengunjungi perpustakaan.
"Mana tugasnya?"
"Ini sudah selesai.."
Avanza pun langsung memeriksanya. Setelah merasa cukup puas dengan pekerjaan Brio, dia segera menutup bukunya kembali.
"Ok, thanks ya! Kamu sudah boleh jadi temanku," ucapnya.
"Terima kasih, Vanz! Tapi aku mau tanya soal buku itu."
"Oh iya, kemana buku itu?" tanya Avanza langsung.
"Bukunya diambil Ayla, apa kamu mencurinya dari Ayla?"
"Haha.. Tidaklah, aku sudah bilang kalau aku ingin meminjamnya. Ehh, dia malah tidak memberinya. Lagipula aku juga sudah izin sama Jimny buat pinjam buku itu. Dan dia juga sudah mengizinkannya.. Aylanya saja yang pelit," kilahnya. Tentu saja dia tidak ingin kelakuan buruknya diketahui semua orang. Bisa-bisa dia tidak punya muka, jika semua orang tahu.
"Benar?" tanyanya memastikan.
"Iya, sebagai teman seharusnya kamu lebih percaya padaku, bukan padanya. Dia itu iri padaku," tambahnya lagi menjelekan Ayla.
"Yang dikatakan Avanza bisa saja ada benarnya, lagi pula Ayla termasuk orang yang berambisi besar dalam mencapai mimpinya," batin Brio.
"Baiklah aku percaya padamu.." ucap Brio. "Bolehkah aku mempunyai nomor ponselmu?" tanyanya sambil meminta.
"Huft, kalau saja dia tidak bisa diandalkan, mungkin aku tidak akan memberikan nomor ponselku. Hmm.. dia beruntung karena bisa aku manfaatkan," pikirnya.
"Baiklahh, aku akan memberimu nomor ponselku.." Avanza pun langsung memberikan nomor ponselnya pada Brio.
Senyum mengembang terlihat jelas diwajah Brio, satu langkah lagi dia menjadi lebih dekat dengan gadis pujaannya.
Setelah memberi Brio nomornya, Avanza pun segera pergi dari sana. Kemarin hampir saja dia tidak bisa menenangkan cemburunya Baleno. Untungnya dia ahli dalam berkilah dan semuanya bisa teratasi dengan mudah.
***
Ayla tidak menemukan Jimny dimanapun. Dan akhirnya dia mengantarkan buku itu bersama Levante. Beruntung dia memiliki teman sebaik Levante yang mau mengantarnya, dan sebagai balasannya, Ayla mentraktirnya di warung baso pinggir jalan.
Levante yang notabene berasal dari keluarga kaya, mau saja diajak ke warung kaki lima. Karena Ayla memaksanya dengan mengatakan bahwa baso diwarung itu tidak kalah enaknya dengan baso di restoran mahal.
Memang Ayla tidak salah dalam hal menilai rasa baso tersebut. Rasanya memang enak, basonya terbuat dari daging sapi asli dan tentu yang terpenting adalah tidak menguras dompetnya.
Setelah makan-makan bersama sahabatnya, Ayla menunggu Brio didepan apartemennya. Sedari pagi ibunya selalu menanyakan nomor ponsel menantunya itu tanpa henti. Membuat Ayla benar-benar pusing 7 keliling, dan membutuhkan aspirin bintang toedjoe. Tapi dia lupa membelinya karena terlalu pusing.
"Brio.." panggil Ayla, ketika dia melihat Brio yang baru saja keluar dari lift.
"Apa?" tanyanya hati-hati.
Kejadian tadi pagi membuatnya takut, marahnya Ayla lebih seram dari pada macan. Terbukti tangannya banyak sekali jepretan kemoceng hasil karyanya.
"Ibu selalu menanyakan nomor ponselmu. Dia masih tidak percaya kalau luka diwajahmu itu bukan ulahku," ketusnya.
__ADS_1
"Tentu siapa yang akan percaya, tanganku saja masih perih karena ulahmu," batinnya. Jika saja dia mengatakan itu secara langsung mungkin kini giginya yang sudah ompong.
"Ohh, berikan ponselmu aku akan mengetiknya." Brio langsung memberikan nomor ponselnya tak lupa dia juga me-misscall dirinya agar ia tahu nomor istrinya itu.
Setelah berhasil disimpan, Ayla langsung mengambil ponselnya dan tanpa berterima kasih lagi dia masuk ke apartemennya begitu saja.
"Cih, dasar nyet yang baru melahirkan," gerutu Brio saat istrinya sudah tak ada dihadapannya.
Pengecut memang Brio ini tapi apalah daya saat ini kondisinya tidak memungkinkan.
Pukulan dari para preman dan Ayla benar-benar membuatnya lemah.
Saat dia memasuki apartemenya dia dikagetkan dangan kehadiran Yaris, asisten sekaligus teman dekatnya.
Yaris yang berumur dua tahun lebih tua darinya, selalu dianggap sebagai kakak, teman, asisten dan termasuk orang yang paling penting baginya.
"Yaris?" ucap Brio, menatap dengan tatapan terkejut.
"Hai, tuan mudaku.." ucap Yaris menyapanya kemudian memeluknya.
"Kamu, mengapa kamu bisa masuk ke apartemenku?" Brio masih dalam kondisi tercengangnya.
"Jangan sebut Si Ray jika dalam hal ini saja tidak tahu caranya," ucapnya dengan arogan.
"Yaris!" tegas Brio. Asistennya ini memang suka sekali membalikan namanya. Karena menurutnya nama Yaris terdengar sangat aneh. Baginya lebih keren jika namanya dibalik saja menjadi 'Si Ray'.
"Haha, kamu masih senang bercanda rupanya. Bagaimana kabarmu tanpa diriku?"
"Tunggu sebentar, aku lihat wajahmu banyak tanda biru. Siapa yang sudah menghajarmu?"
"Para preman jalanan. Aku belum tahu apa motif mereka. Yang pasti mereka adalah orang suruhan. Bagaimana dengan March?"
Yaris menyunggingkan senyumnya.
"Dia baru saja keluar dari rumah sakit."
"Seminggu kamu buat dia terbaring dirumah sakit?"
"Benar, hebat bukan? Maka dari itu panggil aku Si Ray!" titahnya sambil mengangkat kedua kerah bajunya sendiri.
"Cih.." Brio berdecih melihat kelakuan arogan asistennya itu.
"Mengapa kamu ingin menghajar March? Kamu ada masalah dengannya?"
"Ada, tapi aku belum bisa menjelaskan."
"Oh, begitu. Baiklah.."
Merekapun berlanjut mengobrol hal lainnya. Mulai dari keluarga Brio yang sudah merindukan kehadirannya, bisnis di perusahaannya dan lain sebagainya.
***
Di Bar.
__ADS_1
Tempat yang kini sedang menjadi saksi atas kegalauan yang menerjang jiwa Jimny.
Siang tadi saat dia baru saja menyelesaikan Mata Kuliahnya, ayahnya Ignis menghubungi dirinya agar segera datang kekantornya.
Namun saat setelah dikantor, ayahnya malah meminta dirinya untuk memutuskan Ayla dan menuruti keinginannya untuk dijodohkan dengan Livina.
Flashback on.
"Jim, kamu satu-satunya harapan papa untuk meneruskan perusahaan ini.. Kamu tau 'kan betapa berharganya kerja sama ini.."
"Tapi, Pah, Jimny tidak mau jika Jimny yang dijodohkan dengan Livina. Jimny sudah memiliki calon," tegasnya.
"Siapa? Gadis matre itu?" sarkas papanya. Dia sudah mengetahui hubungannya dengan Ayla dari istrinya, Arena.
"Pah, dia bukan gadis matre, semua itu tidak benar, Pah. Jimny yang ingin memberinya bukan dia yang minta," bela Jimny.
"Kamu jangan membelanya, Jim. Kamu mau keluarga kita melarat gara-gara keegoisan kamu."
"Tapi, Pah, 'kan ada Kak Bal, bukannya dari awal perjodohan ini untuk Kak Bal bukan untuk aku."
"Jim, Baleno itu sedang melakukan bisnis yang akan memperbesar kerajaan bisnis kita nanti," tegas papanya.
"Pah.. bisa tidak sih?"
"Pokoknya Papa tidak terima alasan lain. Kamu harus mau dijodohkan dengan Livina, titik," tegas papanya.
"Pah.."
"Siapa suruh kamu jadi anak yang tidak berguna. Lihat Baleno dia akan belajar mengurusi pekerjaan papa. Sedangkan kamu, menghabiskan uang cuma pakai untuk nge-bos-in gadis matre itu. Papa sudah tau kenapa pengeluran kamu lebih banyak? Kamu sudah membayar apartemen dia, 'kan? Kamu juga yang membiyai kuliahnya dan hampir sebulan sekali kamu juga memberinya uang jajan. Kamu diberi apa sama dia sampai kamu menurut begitu?"
"Pah, stop, Pah! Jangan jelekin Ayla lagi, dia gak salah sama sekali, Pah. Dan soal apartemen itu juga atas izin mama, kok."
"Melawan kamu yah! Pokoknya papa tidak mau tau kamu harus mau dijodohkan dengan Livina atau fasilitas kamu papa cabut," ancamnya.
"Pah.."
Jimny yang biasa bergelimang harta tentu saja tidak ingin merasakan hidup susah seperti mereka diluaran sana.
"Ini sudah final, Jim. Sekarang kamu keluar dan putuskan pacar matre kamu itu.." titahnya.
"Arrgghh... Balenooooo," geram Jimny saat dirinya sedang berada di lift. "Semua ini gara-gara dia, pasti dia yang sudah hasut Papa supaya aku yang dijodohkan dengan Livina."
"Pokoknya, aku harus minta bantuan mama, lagi pula mama sudah setuju jika aku berhubungan dengan Ayla," monolognya.
Tak ditunda lagi, Jimny langsung menghubungi mamanya. Dan tidak disangka-sangka mamanya lebih memihak papanya daripada dirinya sendiri, dengan alasan ini semua demi keberlangsungan hidup mereka.
Flashback off.
CNP
Continue in my Next Post.
Mohon dukungannya. Karena dukungan kalian adalah penyemangatku. Untuk dukungannya bisa berupa Like, komentar, share, vote, rate 5, dsn jangan lupa untuk mem-faforitkan novel ini. Stay tuned terus, terima kasih !!
__ADS_1