The Couple Of MissKin-g

The Couple Of MissKin-g
Kompetisi


__ADS_3

Hari yang sangat membosankan. Tugas, tugas dan tugas, hidupnya tidak pernah berhenti dari tugas. Sebisa mungkin Ayla menyelesaikannya saat dirinya ada waktu beristirahat. Karena jika pulang nanti kegiatannya akan berubah menjadi padat lagi.


Sesaat dia melihat kearah depan untuk me-refresh otaknya kembali. Bagaimana pun otak juga sama seperti mesin ada kalanya berhenti dan bersuhu panas jika terus digunakan untuk berpikir.


Namun saat dia melihat kedepan, Ayla menangkap sosok March dari kejauhan. Ayla kembali teringat dengan obrolan March dan Baleno kala itu. Dia mulai memikirkan caranya untuk membalas dendam. Tapi sebelum itu dia harus lebih dekat dengannya agar rencananya benar-benar berhasil dan membuatnya jera.


Saat March berjalan mendekatinya, Ayla langsung berlari dan menyenggolnya hingga rela menjatuhkan dirinya sendiri.


Brugh..


"Ahh.." Ayla mengaduh kesakitan. Awalnya memang berniat pura-pura namun jatuhnya terjadi sungguhan.


"Hati-hati!" ucapnya sambil membantu Ayla bangkit. "Ayla?" kejut March.


"Ah, March! Maaf, maaf aku tidak melihatmu jalan sampai menabrakmu," kilahnya padahal dirinya sendiri memang berencana seperti itu.


"Tidak apa-apa!"


"Kamu ada yang luka?" tanya Ayla pura-pura khawatir.


"Tidak ada. Justru kamu apa ada yang lecet?" March melihat ke kiri dan ke kanan Ayla.


"Aku rasa tidak ada," ujarnya sambil mengambil bukunya yang terjatuh. "Oh, March, sebagai permintaan maafku, boleh aku meminta nomor ponselmu?"


"Oh, boleh." March pun mengetikan nomor ponselnya di ponsel Ayla. Tampak Ayla yang tersenyum seringai, rencana awalnya berjalan dengan mulus.


"Terima kasih!"


"Ya, aku kesana dulu." March pergi dengan hati yang berbunga. "Pantas Jimny sangat mencintainya, dia cantik," pikir March sambil terus berjalan.


"Huhu! Hore!" Ayla bersorak kegirangan, "Ternyata semudah ini mengelabui March. Tinggal menjalankan rencana selanjutnya, kali ini harus berhasil membalas semua perbuatannya."


***


Avanza, Livina, dan Agya sedang mengobrol di kafe. Setelah seharian ini mereka belajar, akhirnya mereka bisa kembali mengisi kekuatan mereka yang sempat hilang. Ya, jangan heran mereka adalah squad CTM tidak akan mungkin 'kan jika mereka makan dikantin?


"Liv, kemarin kamu bersama Baleno ingin membelikanku apa?" tanya Avanza sambil mengaduk-aduk makanannya.


"Aku.." lirihnya sambil berpikir, "Tidak tahu," sahutnya saat dia tidak menemukan ide.


"Haha," kekeh Agya. "Aneh, masa tidak tahu.."


"Ya, tadinya aku ingin bertanya padamu dulu apa yang kamu butuhkan. Tapi ternyata kamu datang," ujar Livina senatural mungkin.

__ADS_1


"Iya, aku datang. Tapi setelah kamu pergi, Baleno juga izin pulang. Aku mencarimu tapi kamu malah menghilang," gerutunya.


"Aku ke toilet, kemarin sepertinya aku masuk angin. Sebelumnya memang Baleno sudah memohon padaku untuk di antar. Maka dari itu aku memaksakan untuk datang. Tapi ternyata sakitku malah tambah parah. Jadi, aku pulang dan berobat," kilah Livina. Bagaimana pun rahasianya jangan sampai terbongkar dulu.


"Oh," sahut Avanza singkat.


"Apa sekarang sudah baikan?" tanya Agya sambil meniupi kuah bakso yang panas.


"Sudah.."


"Liv," Agya melihat kearah jari jemari Livina. Ada sesuatu yang baru dan berbeda bertengger disana. "Kamu memakai cincin?" tanya Agya penasaran, karena memang sebelumnya benda itu tidak pernah ada dan Livina sangat jarang memakai perhiasan berbentuk apapun.


"Ah, ini. Aku..." Livina gelagapan dengan apa yang harus dia jawab.


"Kamu sudah tunangan?" tanya Agya juga Avanza bersamaan.


"Mana mungkin? Aku tidak mau bertunangan apalagi menikah," kilahnya lagi berbohong. Memang sesuatu yang didasari dengan berbohong semuanya akan dilanjutkan dengan berbohong.


"Oh, aku kira kamu bertunangan dan tidak memberitahu kami," goda Agya. "Cincinnya seperti cincin menikah sih," kelakarnya lagi.


"Tidak. Modelnya saja sama, padahal bukan," tambah Livina menjelaskan.


"Aku seperti pernah melihat cincin itu tapi dimana ya?" batin Avanza sambil terus menilik tangan Livina.


Brak..


Agya menggebrak meja. Kedua temannya tercengang kaget.


"Ah, ya," ucap Agya.


"Agyaa! Bisa tidak kamu jangan mengageti," geram Avanza.


"Maafkan aku, aku baru ingat. Tolong kalian bantu aku mendekati March! Aku selalu menge-chat-nya tapi dia biasa saja," keluhnya.


"Itu karena sikapmu, mulailah baik padanya," cakap Livina.


"Ak.. aku tidak bisa bersikap manis pada orang, apalagi kepada orang yang aku sukai," keluhnya. Memang pada saat dirinya berinteraksi dengan siapapun dia tidak bisa bersikap lebih baik dari biasanya. Apalagi saat bersama March, jantung berdebar kencang sehingga dia tak mampu untuk mengeluarkan kata yang lebih lembut.


"Belajarlah untuk memahaminya!" sahut Livina lagi.


"Avanza, kenapa kamu diam saja? Menurutmu bagaimana? Kamu 'kan sedang berpacaran?"


"Untuk apa aku berbicara jika Livina sudah menjawabnya? Semua yang dikatakannya benar, aku juga setuju."

__ADS_1


"Huh," Agya mendengus kesal sedangkan Livina hanya tersenyum datar.


Sementara ditempat lain.


Setelah Ayla berhasil mendapatkan nomor March, dia segera menghampiri Levante yang sedang berada dikantin. Dia men-chat Ayla untuk makan bersamanya secara gratis.


Setelah puas dengan traktiran Levante, akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke kelas.


Ayla berjalan beriringan dengan Levante, sesekali mereka bersenandung ria. Namun sebelum sampai ke kelas, Leva menarik Ayla menuju mading yang sedang kerumuni oleh banyak orang. Entah, ada apa dengan mereka sore-sore begini heboh dengan mading kampus. Apakah ada jaminan kuliah bagi orang yang kurang mampu? Ayla pun menjadi semakin penasaran. Untuk memastikannya Ayla dan Levante masuk dalam kerumunan itu.


Bak pelangi disiang hari yang indah, Kompetisi Jurnalistik Tahunan yang biasa diadakan oleh Universitasnya kembali di gelar. Kompetisi yang digunakan sebagai ajang pembuktian diri bahwa mereka sudah belajar dengan sungguh-sungguh di Universitasnya. Tidak hanya itu hadiah kompetisi kali ini adalah belajar ke Singapura, negara kecil yang terletak di semenanjung malaka, dan mengelilingi berbagai macam negara untuk melihat sepak terjang bidang jurnalistik di belahan dunia lain.


Ini adalah cita-cita Ayla yang sudah dia impi-impikan sejak dulu, berkeliling dunia. Reporter adalah jalannya dan tujuan utamanya adalah berkeliling dunia, sekecilnya mengelilingi Indonesia. Ahh! Ayla sudah terbang dalam hanyutan mimpinya.


"Ayla, kamu mau ikutan?" tanya Leva menyadarkannya dari lamunan.


"Iya, aku sangat ingin mengikutinya. Bagaimana denganmu?" sahut Ayla cepat.


"Ya sudah, ayo kita daftar!"


Perkataan dua wanita itu terdengar jelas di telinga Avanza. Dia mendengus kesal karna yakin Ayla pasti bisa masuk mengingat nilainya juga berbanding dengannya, yang sama-sama besar.


"Aku harus mengalahkanmu. Kamu tidak boleh menjadi nomor satu Ayla. Bagaimanapun caranya posisi nomor satu hanyalah milikku," batin Avanza.


Ayla dan Leva segera mendaftarkan diri untuk menjadi peserta kompetisi itu disusul Avanza di belakangnya.


Avanza memang kaya, untuk hal berkeliling dunia masih bisa dia lakukan tapi untuk mengalahkan seorang Ayla dia tidak bisa menggunakan uang. Dia harus bekerja keras demi tujuannya itu.


Kedua manusia ini memanglah sangat berambisi dalam menduduki kursi nomor satu.


CNP


Continue in my Next Post


...Hai, semuanya! Salam sehat dan salam cinta. ...


...Tolong dukungannya, ya. Like, komentar, vote bunga atau lainnya, rate5, faforit dan share ke semuanya untuk tahu showrom juga ada di novel loh.. Dukungan kalian adalah semangat bagi para author!...


...Xiexie!...


...Terima kasih!...


...Thank you!...

__ADS_1


__ADS_2