
Beberapa kali Brio terlihat mengusap wajahnya dengan kasar. Dia sedang memikirkan rencana untuk membuat Ayla mau mengalah dengan mudah. Dia sangat hafal dangan sifat ambisiusnya Ayla. Dia tak mudah untuk menyerah begitu saja.
Kini dia berdiri, berjalan mondar-mandir. Berharap otaknya pun berjalan dan memunculkan beberapa ide. Namun nihil sangat nihil otaknya tidak mau mengeluarkan ide apapun.
Saat dia beranjak mengambil tasnya, ada seseorang wanita yang sedang menelpon. Dia berbicara cukup keras karena frustasinya.
"Mah, aku tidak mau menikah. Mamah tahu, setelah menikah itu ribet. Harus mengurus suami, menurut pada suami, dibantah dosa. Kan Mamah tau kalau aku masih suka main. Aku takut dia larang aku, Mah."
Brio mendengar kalimat dari wanita itu dengan sangat jelas. Tapi yang paling dia garis bawahi adalah kalimat 'Harus menurut pada suami, dibantah dosa' seketika saja dia mendapatkan ide.
Brio sengaja pulang ke kontrakan Ayla dan menunggunya pulang bekerja. Dia akan segera melancarkan aksinya. Misinya harus berhasil, sehingga perjodohan bodoh dengan wanita yang tidak diketahuinya dan pernikahan ini akan segera berakhir.
Pukul 08.45 wib.
Ceklek..
Ayla cukup terkejut saat membuka pintu kontrakannya. Mengapa ada manusia yang paling menyebalkan dirumahnya ini? Apa dia sudah ingat pulang? Atau mungkin ia akan menagih hutang? Tapi mungkin saja dia pulang untuk meminta maaf? Ayla menerka-nerka sebab kedatangan Brio ke kontrakannya lagi.
Dengan langkah tertatih Ayla berjalan masuk. Kakinya masih belum sembuh, dia paksakan menggunakan sepatu karena jika memakai sendal akan sangat tidak sopan. Apalagi dirinya sekarang sedang mengikuti kompetisi.
"Ayla, mari kita bicara!" ucapnya menghentikan langkah Ayla yang akan masuk ke kamar.
"Tentang apa?"
"Duduklah dulu!"
Kini mereka berdua sudah duduk. Ayla diam saja karena jujur hatinya masih sakit, perkataan Brio malam itu terlalu nyelekit. Sedangkan Brio menarik nafasnya dalam-dalam agar dia bisa menaklukan keras kepalanya Ayla. Toh, bukankah ini juga demi kebaikannya?
"Ayla, dulu kamu pernah berjanji kepadaku, kamu akan mengabulkan dua permintaan. Bolehkah aku menagih itu sekarang?"
"Iya, boleh," jawabnya tanpa menoleh kearah sang suami.
"Ayla, aku ingin besok di depan semua juri kamu mundur dari kompetisi itu."
"Apa?" Ayla memalingkan wajahnya menatap Brio. "Apa-apaan kamu menyuruhku untuk mundur? Gila kamu! Aku sudah di babak terakhir, Brio. Sebentar lagi akan diumumkan siapa pemenangnya," geramnya.
"Ay, ini semua demi kebaikan kita? Aku mohon mengalahlah demi Avanza?"
"Oh, jadi kamu mengorbankan aku untuk wanita itu, hah? Haha, oke. Aku pikir kamu akan meminta maaf, ternyata ... Kamu jangan pernah bermimpi aku akan mengorbankan cita-citaku demi dirimu. Aku tidak akan menyerah." Ayla mengalihkan pandangannya lagi kearah lain.
"Ay, tolong jangan keras kepala. Aku mohon menyerahlah. Bukankah kamu sudah berjanji padaku akan mengabulkan permintaan itu? Oke, aku tidak akan meminta dua duanya. Aku ingin satu permintaan saja. Tolong, menyerahlah untuk Avanza!" pintanya untuk ke beberapa kali.
Ayla menunduk dan menompang kepalanya dengan jari jemarinya. Air matanya sudah menggenang, namun dia tahan. Dia tidak ingin menangis didepan laki-laki itu.
"Siapa kamu sampai berani menyuruhku untuk mundur?" Dia kembali menatap Brio.
"Aku suamimu. Maka dari itu kamu harus menurut padaku."
"Hah? Suami? Suami macam apa kamu ini? Harusnya seorang suami mendukung istrinya, bukan malah menyuruhnya untuk mengalah demi wanita yang bukan siapa-siapanya," tegas Ayla. Tubuhnya sudah bergetar hebat menahan amarah.
__ADS_1
"Kamu tau, untuk meraih mimpi ini aku banyak merelakan waktu kebebasanku. Dan kamu datang ingin aku mengalah? Gila kamu, Brio."
"Ay, kamu pernah berjanji, bukan? Kamu ingin membantuku mendapatkan Avanza dan setelah itu akan kuberi kebebasan untukmu. Kamu tidak perlu bekerja aku akan membiayai semua kebutuhanmu. Sampai kamu lulus. Aku juga akan mencarikan pekerjaan untukmu, pekerjaan dan jabatan yang lebih baik, tentunya."
"Membiayaiku? Mencarikan aku pekerjaan? Kamu pikir dengan itu aku akan luluh?"
"Ay, berapapun yang kamu butuhkan, aku akan memberikannya."
"Oh, haha..." Ayla menangis sambil tertawa. "Aku tidak habis pikir, Brio. Selama ini kamu tinggal bersamaku, yang kamu tahu aku hanya menyukai uang?"
"Ya, kamu pernah bilang, 'kan? Kalau kamu mendekati semua mantanmu juga karena kebutuhan biaya kuliah."
Ayla menghapus air matanya. "Aku memang menyukai uang, tapi untuk mimpiku aku tidak akan menyerah. Apapun yang terjadi aku tidak akan pernah menyerah." Ayla beranjak pergi dari sana.
"Ayla, aku tidak meridhoi kamu mengikuti kompetisi itu. Satu langkah kakimu berangkat untuk memenangkan kompetisi itu, aku sudah haramkan." Brio pergi meninggalkan Ayla yang masih termenung didepan pintu kamarnya.
Sedangkan setelah Brio pergi, Ayla terhuyung didepan pintunya. Dia menangis, bahkan air matanya mengalir deras seperti aliran sungai. Nafasnya sedikit tercekal akibat kurangnya masukan oksigen. Sakit sekali menelan kenyataan yang amat sangat pahit. Sang suami sudah mengharamkan langkah kakinya. Apa yang harus dia lakukan?
Dia hapus air matanya dan sejenak berhenti. Dia bangkit dan dengan lunglai dia berjalan ke arah kasurnya. Dia jatuhkan tubuh kecilnya itu ke kasur yang sama sekali tidak seempuk kasur apartemennya. Meski sakit tapi tidak sesakit yang sedang dia rasakan.
Baru saja mimpinya akan dia raih, namun seseorang dibelakangnya menariknya lalu menjatuhkannya ke dasar jurang.
Air mata itu kembali berderai.
Mengapa? Mengapa ini terjadi kepadanya?
"Hu hu hu hu.." Tangisan itu menyeruak keseluruh ruangan. Tanpa ucapan dia hanya menangis, berat sekali mengeluarkan kata-kata untuknya saat ini.
Drrttt drrtt
Ponselnya bergetar dan menyala. Sebuah panggilan telpon dari Ibunya. Dengan cepat dia hapus jejak air matanya itu. Dia hentikan tangisannya agar Sang Ibu tidak merasa khawatir dengan keadaannya.
"Hallo, Ayla. Bagaimana kabarmu, Nak?" ucap Xenia disebrang sana.
"Baik, Bu. Ibu sama Bapak bagaimana kabarnya?" Beberapa kali dia menarik cairan yang ada dihidungnya.
"Baik. Ibu sama Bapak baik, Nak? Bagaimana kabar suamimu, apa dia juga baik?"
"Baik, Bu.." lirihnya sendu.
"Syukurlah.. Eh, tapi kenapa suara kamu begitu, seperti habis menangis?" Memang ikatan batin antara seorang putri dan ibunya memang sangat kuat.
"Tidak, Bu. Ibu salah. Aku tidak menangis, Bu." Jika Ibunya melihat mata Ayla kini kembali menggenang.
"Oh, Ibu kangen, Nak sama kamu."
Sungguh Ayla ingin menangis sekencang-kencangnya. "Ayla juga kangen sama Ibu.." Hanya kalimat itulah yang dia ucapkan.
"Nak,"
__ADS_1
"Iya, Bu."
"Kamu baik-baik saja, 'kan?" Ayla lagi-lagi langsung menghapus air matanya.
"Ayla baik-baik saja kok, Bu. Oh ya, Bu. Ayla mau tanya kalau Brio minta sesuatu itu harus turuti, ya, Bu?"
Pertanyaan Ayla membuat ibunya terkekeh. Pikirannya mengarah pada hal lain. Bukan masalah yang kini sedang dia hadapi.
"Haha, kamu ini bagaimana sih, Nak? Ya, haruslah dia 'kan suami kamu. Kan Ibu juga pernah bilang kalau ridhonya suami ridhonya Tuhan juga. Kalau murkanya suami murkanya Tuhan juga. Kamu masih ingat, 'kan?"
"Iya, Bu. Jadi Ayla harus manut, ya, Bu?"
"Nak, memang baru-baru menikah itu banyak sekali hal yang diluar nalar kita. Sama Ibu juga pas waktu muda. Sering berantem sama Bapak kamu, sering salah paham, Bapak kamu senangnya begini Ibu senang begitu. Ya, pokoknya sulit menyatukan kedua pikiran orang, hobi orang, keinginan orang. Tapi, Nak. Melayani, menghormati, menuruti, membuat bahagia suami itu semua kewajiban kita, sebagai para istri."
Curhat dengan ibunya, bukannya menenangkan hati malah membuatnya kembali menangis. Jadi, haruskah dia menuruti keinginan suaminya untuk mengundurkan diri sebagai peserta dan melupakan mimpi yang berada didepan mata?
"Nak," panggil Xenia memecahkan keheningan yang terjadi sesaat, "Memangnya Brio ingin apa?"
"Eh, Brio tidak ingin apa-apa, Bu. Ayla tanya tentang seumpamanya saja. Ayla sedang mengerjakan tugas, Bu."
"Oh, memangnya tidak ada di buku-buku."
"Ada, Bu. Tapi Ayla lagi malas baca. Lebih baik tanya Ibu saja 'kan mudah," kilahnya.
"Ya, sudah. Ibu sudahi dulu panggilannya. Kamu juga lagi sibuk kayaknya."
"Iya, Bu."
"Salam, ya, Nak. Buat suami kamu."
"Iya."
Setelah melakukan panggilan itu Ayla kembali termenung. Beberapa kali dia menelan salivanya yang terasa pahit. Tenggorokkannya pun seperti mengering.
Haruskah dia menuruti kemauan suaminya?
CNP
Continue in my Next Post
...Jangan lupa dukung, yoo! ...
...Favorit, rate 5, like, komentar, share, vote ...
...Dukungan kalian akan menambah semangat bagi para Author! Semampu kalian aja, kalau bisa semuanya. Hoho.. (buat nambah popularitas😁)...
...Jangan lupa share juga biar tau di novel juga ada showroomnya lhoo! ...
...Terima kasih!...
__ADS_1