
"Brio, kamu kenapa? Kenapa menjadi babak belur seperti itu?" tanya Ayla dia begitu khawatir melihat luka lebam dipipi suaminya yang cukup serius.
"Sttt, kamu mau apa?" Bukannya menjawab Brio malah melayangkan pertanyaan.
"Oh, ini aku bawa makanan, lalu aku ingin berterima kasih padamu, lalu setelah itu aku ingin..." Belum selesai Ayla berbicara,
"Ayo masuk!" Terdengar Brio sudah memotongnya. Dan dia berjalan mendahului Ayla.
"Hai, tunggu aku belum selesai mengatakannya," ucapnya saat dia memasuki apartemen suaminya. Ini kali pertama dirinya datang kesana.
"Apa?" tanyanya malas.
"Aku ingin meminta foto denganmu. Ibu yang menyuruhku, dia ingin melihat menantunya," ucap Ayla memberanikan diri.
"Hem.." jawabnya dingin. "Letakan makanan itu di sana!" Dia menunjuk pada meja makan yang dekat dengan dapur.
"Woahh, dapurmu indah sekali!" Ayla terkejut dengan peralatan dapur yang cukup lengkap untuk seseorang yang hidup sendiri. "Apa semua ini milikmu?" tanyanya sambil terus melihat-lihat.
"Ya.." jawabnya spontan. "Emm... maksudku bukan. Ini semua milik atasanku," kilahnya.
"Atasannya baik sekali, apa dia seorang sugar mom, hihihi.." batin Ayla.
Kemudian dia melirik Brio, "Apakah kamu ingin aku buatkan bubur?" tanyanya.
"Boleh saja jika kamu bisa?" Dia menjawab sambil terus menatap layar ponselnya. Entah apa yang sedang dia lakukan dengan benda pipihnya itu.
"Oke..." Ayla dengan sigap langsung mencuci beras kemudian memasak dan membumbuinya. Setelah itu dia menunggu bubur itu matang.
Sekilas dia mengingat ucapan ibunya tadi sore, 'Suamimu disuguhi gula dirumah orang, bagaimana?' dia tertawa geli mengingatnya. Perkataan ibunya seperti lirik lagu dari sang Ratu Dangdut Elvi Sukaesih.
"Mana mungkin suamiku pulang kerumahmu, tanpa kau suguhkan tanpa kau hidangkan, gula gula gula gula... Hihi.." batinnya bernyanyi.
"Kenapa kamu tertawa?" tanya Brio yang melihat Ayla cekikikan di depan kompor listriknya.
"Enggak.." Ayla menghentikan tawanya itu. Kemudian dia menghampiri Brio dan duduk disebelahnya.
"Sini, aku obatin. Ada P3K-nya tidak?"
"Disana.." jawabnya sambil menunjuk kearah box P3K miliknya.
Ayla mengambilnya dan kembali duduk dihadapannya. Dia menuangkan sedikit obat merah di kapas. Lalu dia mendekatkan dirinya, melepaskan kacamatanya kemudian sedikit mengangkat poninya. Lalu mengolesi kapas itu ke pelipisnya terlebih dulu..
"Kenapa kamu bisa babak belur?" tanyanya disela-sela mengobati.
"Di keroyok orang.. Shhh.." Brio sedikit meringis menahan perih.
Ayla tersenyum.. "Iya kenapa? Tidur dikamar orang lagi, terus ketahuan warga terus di gerebek di pukulin masa," ucapnya menerka-nerka.
"Iya terus diminta nikah paksa.." jawabnya asal. Sungguh perkataan Ayla sedikit memancing emosinya. Brio sedang kesal karena belum mengetahui siapa dalang dibalik pengkeroyokannya.
"Benar, kamu nikah lagi?" Ayla menghentikan aktivitasnya. Pertanyaannya kali ini nampak serius. Hatinya sedikit merasa tidak rela jika memang benar itu terjadi.
"Tidaklah, mau mengobati tidak sih?" tanyanya acuh. Ayla kembali mengoleskan obatnya, kali ini di bagian sudut bibirnya.
"Benar?" tanyanya lagi memastikan.
"Iya, satu saja bingung mau bagaimana?" lirihnya.
"Hahaha..." Ayla tertawa karenanya.
"Aw aw..." pekik Brio, gadis dihadapannya itu tak sengaja menekan lukanya.
"Eh sakit ya, fiuuuhhh... fiuhhh.." Ayla lebih mendekat pada Brio, lalu dia meniupi pelan luka suaminya itu agar rasa sakitnya hilang.
Jarak di antaranya semakin dekat dan terkikis, Brio tertegun melihat wajah cantik Ayla. Dia menelan salivanya dengan kasar. Matanya tak sedikitpun berkedip.
__ADS_1
Ayla sudah selesai meniupinya, namun pandangan mereka seakan terkunci dalam satu ruang. Keduanya saling menatap satu sama lain.
Seperkian detik, keduanya kembali tersadar. Brio dan Ayla mengalihkan pandangannya kearah yang berbeda. Canggung, perasaan itulah yang tengah menghinggapi keduanya.
"Em.. aku akan menaruh kotak P3K-nya dulu.." ucap Ayla dengan terbata.
"Apa yang aku lakukan bodoh, bodoh..." Ayla merutuki dirinya sendiri.
"Sungguh cantik.." batin Brio tak terasa bibirnya tersenyum manis ketika memikirkan kejadian tadi.
Saat ini mereka sedang memakan makanannya. Brio memakan bubur hasil karya Ayla, sedangkan Ayla memakan mie goreng dan telur dadar buatannya.
Tak lupa pesan ibunya, dia memotret kebersamaannya bersama sang suami, lalu dia kirimkan pada Carry. Anggap saja Carry ini adalah asisten ibunya.
"Buburnya enak juga meski tidak di beri topping apapun. Bumbunya meresap dan terasa lezat.." batin Brio. Dia terus melahap habis bubur itu.
Setelah selesai Ayla mencuci piring dan peralatan yang sudah dipakai olehnya saat tadi memasak bubur.
Sedangkan Brio kembali teringat akan tugas Avanza yang harus selesai sekarang juga. Karena besok dia harus memberikannya.
Dibukanya buku yang tadi Avanza berikan padanya, buku The Fun Job karya Sedona KIA.
Dia kembali menulis dengan semangat. Membayangkan akan segera menjadi teman pujaannya. Ahh! Ini adalah jalannya menuju roma. Bukan bukan, ini adalah jalannya menuju hati Avanza.
Saat sudah mendapatkan wanita pujaannya, Brio berencana akan menceraikan istrinya dan akan memberinya kompensasi sebagai bentuk penebus kesalahannya.
Dan dia akan hidup bahagia bersama Avanza begitu kiranya.
Tiga puluh menit berlalu, Ayla sudah selesai membereskan dapur Brio. Dia akan segera pulang ke apartemennya. Namun ketika dia hendak meminta izin ternyata Brio sudah terlelap tidur.
"Kenapa dia tidur dalam keadaan seperti ini?" tanyanya sendiri saat melihat Brio tertidur dalam keadaan duduk dan menaruh kepalanya dimeja ruang tamu.
"Jika dia tidak memakai kacamata dia terlihat tampan." Satu senyuman tersunging di wajah ayunya.
"Eehhh.. bukannya ini bukuku, ya? Iya, ini buku yang aku cari bersama Jimny. Tapi kenapa ada padanya? Bukankah buku ini diambil oleh squad kegatelan itu? Apa... tidak mungkin 'kan dia menyukai Avanza? Tapi bisa jadi..." monolognya.
Tanpa permisi dan tanpa membangunkan Brio, Ayla pulang membawa rantang dan juga buku tebalnya itu.
***
Pagi hari saat jam sudah menunjukan pukul 07.00 WIB Ayla sudah dibangunkan dengan dering telpon dari ibunya yang berada dikampung.
Sungguh dia sangat kesal sekali, pasalnya kemarin malam dia sudah begadang demi tugasnya. Dan pagi ini ibunya sudah marah-marah karena memar diwajah menantunya..
"Ibu.. itu bukan karenaku, itu bukan ulahku. Dia di keroyokin orang, Bu," ucap Ayla saat dirinya masih dibalut dengan selimut.
"Bohong kamu. Kamu apakan dia?"
"Tidak aku apa-apakan, Bu. Kalau misalkan aku penyebab wajahnya jadi memar, dia tidak akan mau makan bersamaku..."
"Bisa aja 'kan kamu ancam..."
"Astagaa, Ibuuuu..." rintihnya. "Ahh, Ibu ini sebenarnya Ibu kandung siapa sih? Kenapa anaknya malah disalahkan?"
"Ya 'kan bisa saja kamu ancam."
Ayla sudah malas dengan perkataan ibunya, dia bertindak seolah mendengarkan padahal yang terjadi sebenarnya dia tidak mendengarkan...
"Aylaaa... kamu dengar ibu tidak.." teriak ibunya ditelpon.
"Iya, Bu. Apa?"
"Iya kok apa, kamu jangan gitu sama suami, harus manut sama suami. Kamu sudah obati dia?"
"Sudah, Bu.." jawabnya dengan nada serendah mungkin.
__ADS_1
"Jangan melawan, ya, sama suami. Ingat kata-kata ibu.."
"Iya, Bu. Enggeh..." celetuknya. Tanpa ibunya tahu, sedari tadi Ayla mengikuti gaya berbicara ibunya. Anak laknat memang!!
"Ya sudah, itu saja. Ibu lagi goreng pisang. Kamu pasti baru bangun ini, cepat kamu masak dan bangunin suami kamu. Ibu tutup dulu telponnya."
Tut..
"Arrrrggghhhhh.... " teriaknya.
"Punya suami gak punya suami ribet...." keluhnya.
Ayla pun langsung bangun dan mandi setelah diceramahi ibunya.
Karena kuliahnya akan dimulai pada jam 09.00, dia pun segera memasak untuk dirinya sendiri.
Dia tidak ingin memasakan makanan untuk suaminya, alasannya adalah karena kesal. Pagi-pagi ibunya sudah marah-marah padanya karena luka diwajah Brio.
Saat dia sedang mem-plating mie goreng, tiba-tiba bel berbunyi beberapa kali.
Dia sudah bisa menebak siapa yang akan datang.
Siapa lagi kalau bukan Jimny.
Karena semalam mereka sudah janjian akan berangkat bersama.
Saat membuka pintu..
"Ada apa Saya..ng? Kau.." Matanya membulat sempurna, yang datang bukanlah Jimny melainkan Brio.
"Mana buku itu?" Brio bertanya sambil terus maju kedepan dan menatap Ayla.
"Buku apa?" Ayla yang ditatap terus mundur ketakutan.
"Buku tebal karya Sedona KIA," ucapnya sambil terus mendorong Ayla lebih dalam masuk ke apartemennya.
"Itu bukuku.." jawab Ayla tak mau kalah. Tapi posisinya terus mundur. Sampai dia menabrak sofanya.
Brio terus memandangnya lekat. "Jangan bohong! Itu buku Avanza.."
"Dia yang mencurinya dariku.." ucap Ayla jujur.
"Mana mungkin, kamu yang mencurinya dariku.." Brio terus mengikis jaraknya.
Ayla yang ketakutan terus mundurkan tubuhnya. Kedua tangannya menopang tubuhnya kesofa itu.
"Aku hanya mengambil hakku..." bentaknya.
Brugh..
Brio tak mampu lagi menyeimbangkan tubuhnya.
Mereka berdua terjatuh disofa yang sama. Posisi kepala Brio sudah berada di dada Ayla.
"Briooooooo.." teriak Ayla kemudian dia mendorong Brio untuk bangkit. Dia berlari mengambil kemoceng dan segera mengusir suaminya.
"Jangan kembali lagi dasar mesum.." teriaknya.
Brakkk
Pintunya tertutup.
CNP
Hanya mengingatkan untuk:
__ADS_1
Mohon dukungannya. Karena dukungan kalian adalah penyemangatku. Untuk dukungannya bisa berupa Like, komentar, share, vote, rate 5, dsn jangan lupa untuk mem-faforitkan novel ini. Stay tuned terus, terima kasih !!