
Brio yang memang sedang ada pertemuan bisnis dengan klien, memilih Kafe Sanur untuk menjadi tempat meeting-nya. Selain Brio, ada juga Yaris yang membantunya untuk membawakan pakaian Brian. Dan mereka mengubah penampilan Brio di hotel yang dekat dengan kafe.
Brian adalah pembisnis handal, sedangkan si cupu Brio hanyalah mahasiswa pintar di kampusnya yang tidak memiliki kekuasaan apapun. Satu orang dalam dua identitas. Dia harus selalu merubah dirinya di manapun dia berada. Mungkin jika diibaratkan dengan hewan dia lebih mirip dengan bunglon daripada penyu. Dimanapun tempatnya dia harus bisa beradaptasi itulah Brian Rio alias Brio.
Saat dirinya sedang mempresentasikan bisnisnya, sekilas ekor matanya menangkap sosok yang beberapa hari terakhir ini mampu membuatnya tidak dapat berpikir jernih. Siapa lagi jika bukan istri yang dia dapatkan dengan hasil kesalahpahaman, Ayla Lindsey Daihatsu.
Brio meniliknya lebih jelas. Saat benar-benar yakin bahwa itu Ayla. Seketika dia menjadi marah dan perasaannya sudah tidak bisa dikendalikan.
Brio tidak mampu lagi menahan cemburunya. Dadanya sudah naik turun melihat Ayla yang tampil cantik dihadapan orang lain. Sungguh, ini lebih menyakitkan daripada dikroyok massa.
Brio pamit undur diri dan menyerahkan kelanjutannya pada Yaris.
Yaris yang tidak tahu apa-apa merasa bingung. Sikap Brian kali ini tidak seperti biasanya. Brian langsung berlari kearah toilet dan membawa tas besar berisi pakaian Brio. Setelah selesai langsung dia mengambil ponselnya dan menghubungi Ayla.
"Ayla, kamu sedang ada dimana?"
"Aku sedang ada di tempat kerjaku, Brio," alasannya. Dia tidak mau menjelaskan panjang lebar di telponnya atau March akan curiga.
Srek..
Amat sakit hati Brio. Dia tak menyangka Ayla membohonginya.
"Di tempatmu bekerja?" lirihnya.
"Iya," sahut Ayla cepat. Sesekali dia melirik March yang sedang menikmati hidangannya.
"Ke toilet sekarang! Aku ada disana." Brio langsung mematikan panggilannya.
"Hah? Toilet? Tidak mungkin dia ada disini, 'kan? Tapi jika dia ada disini ... Aku harus segera menjelaskannya," gumam Ayla.
Dia langsung meminta izin pada March untuk ke toilet sebentar. Dan akan kembali setelah dia selesai.
Dengan perasan heran dan juga dada yang bertalu-talu dia berjalan menuju toilet. Harapan terbesarnya adalah Brio berada di kafe tempatnya bekerja bukan kafe yang sedang dia kunjungi ini. Tapi jika Brio benar-benar berada di kafe tempatnya bekerja, maka dia harus berbohong lagi.
Saat sudah berada di toilet, terlihat keadaannya sepi tidak ada siapa-siapa. Ayla membuang nafasnya lega. Berarti Brio sedang ada di kafe tempatnya bekerja.
Saat dia hendak menelpon Brio, seseorang dari bilik toilet menariknya masuk kedalam sambil membekap mulut Ayla.
"Mmm.. Mmm.." Ayla memberontak. Namun sesaat kemudian dia terkejut dengan orang yang berada diruang yang sama dengannya.
"Brio?" Bola mata Ayla membulat sempurna.
Brio mendekat dan mengikis jarak di antaranya.
__ADS_1
"Sedang apa kamu disana bersama March?" tanyanya langsung tanpa basa basi.
"Apa dia cemburu?" batin Ayla.
"Jawab, Ayla! Sedang apa?" bentak Brio. Sungguh dia tak mampu menahan rasa yang entah apa, dia tak mengerti.
"Tidak ini bukan cemburu dia sedang marah," batin Ayla sambil terus menatap wajah Brio.
"Jawab!" Brio meremas kedua bahunya dan membuat Ayla meringis kesakitan serta ketakutan.
"Aku, aku.." lirih Ayla.
"Jawab!" bentak Brio yang ke tiga kalinya.
"Kenapa kamu memarahiku? Bukannya kamu juga sering berduaan dengan Avanza. Tidak bolehkah aku dekat dengan laki-laki lain?" Bukannya menjelaskan Ayla juga malah membentaknya.
"Ya, begitu Ayla. Pancing dia supaya mengatakan dirinya tengah cemburu. Dan aku akan hentikan pembalasan ini," batin Ayla.
"Ayla, apa kamu juga cemburu sama sepertiku," batin brio. Namun saat melihat gaya berpakaian Ayla membuatnya kembali marah.
"Avanza? ini bukan urusan Avanza, Ayla. ini urusan kamu dengan laki laki itu. Sedang apa kamu disana? Apa kamu sedang perlu uang sampai meminta pada orang lain?" geramnya.
"Apa? Uang? "
Sontak air mata Ayla menggenang.
"Se sedangkal itukah aku dipikiranmu?" Dengan ketir dia mengucapkannya.
"Aku tanya sekali lagi, apa kamu mendekati March karena uang?"
"Jawab Ayla, tidak. Maka aku akan memaafkanmu," batin Brio.
Sedang Ayla menatap Brio. Benarkah ini Brio, suaminya? Orang yang saat ini dia sukai karena sikapnya yang selalu peduli dan pengertian.
"Ya.. Aku mendekatinya karena uang. Kamu tau semenjak aku menikah denganmu hanya kesusahan yang aku dapat. Aku lelah bekerja, tapi jika tidak bekerja aku tidak makan. Makanya aku datang kesini untuk menggodanya, aku sangat membutuhkan uang. Uang yang sangat banyak." Dengan dada yang bergemuruh dia ucapkan kata-kata yang tidak benar itu.
Brio memundurkan posisinya, kecewa dengan ungkapan yang di utarakan Ayla.
"Jadi, kamu belum berubah. Kamu kurang apa lagi, Ayla? Biaya semester sudah aku bayar. Mau apa lagi?"
"Ohh, kamu tidak ikhlas membiayai kuliahku? Hah? Jika tidak, aku bisa mencari uang dengan caraku sendiri. Mari kita hitung berapa hutangku padamu?"
"Aku cuma tanya, apa kamu mendekatinya karena uang?"
__ADS_1
"Aku sudah bilang iya, iya, iya. Apa kamu tidak mendengar? Kamu tidak tuli, 'kan?" Ayla sudah tidak bisa menahan emosinya. Bagaimana bisa Brio menuduhnya seperti itu?
"Cih.. Ternyata kamu benar-benar matrealistis, Ayla. Di bayar berapa kamu, untuk makan malam ini?" tanyanya pelan namun sangat menyakitkan.
"Apa kamu bilang? Dibayar? Ya, aku memang dibayar, mahal sekali. Dan semuanya demi hidup disini. Demi hidup enak." Nampak air mata yang sedari terbendung menetes satu persatu membasahi pipinya. "Aku menyesal menikah denganmu, sangat menyesal." Lolos sudah semua bendungan air matanya.
"Setelah aku berhasil mendekatkanmu dengan Avanza. Jangan tunda lama lagi aku ingin kita menjalani hidup masing-masing. Terima kasih! Anggap bayaran semester kemarin sebagai hutangku." Ayla pergi meninggalkan Brio sendiri di toilet itu.
"Hah, semua wanita selalu menyukai uang. Aku kira dia mencintaiku tapi sepertinya tidak. Dia mengkhianatiku yang jelas-jelas adalah suaminya. Jika kamu tahu siapa aku, Ayla. Apa yang akan kamu lakukan?" Dengan angkuh Brio berbicara seperti itu.
Jangan salahkan Brio untuk sikapnya yang seperti ini, dalam hatinya diapun merasa sakit karenasudah dibohongi oleh Ayla.
Sementara itu, Ayla berlari keluar dengan derai air matanya. Melupakan tujuannya datang ke kafe. Pergi meninggalkan March begitu saja.
Ayla berlari dan terus berlari tanpa memperdulikan orang-orang disekitar. Bahkan sepatu hak tinggi yang dia kenakan sudah melukai kakinya. Dia menaiki JPO yang tampak sepi.
Disana dia berteriak, "Aarrghh.." Mengeluarkan segala kesakitan yang diberikan oleh Brio. Dia hapus make up yang menempel diwajahnya. Hidupnya hancur, orang yang dicintainya tidak lagi mempercayainya.
"Aku sudah katakan padamu, Ayla. Dia bukan laki-laki yang baik. Dia tidak pernah mencintaimu, kebaikannya bukan karena mencintaimu, Ayla. Dia baik padamu karena dia merasa bersalah bukan cinta. Harusnya aku memang tidak mencintainya. Seharusnya aku membencinya. Dia yang sudah menghancurkan hidupku...
Aku benci padamu, Brio. Benci... benci... benci.." gumamnya sambil terus menangis.
"Kamu ingin membalas orang yang sudah menjahatinya, kamu bodoh, Ayla... Bodoh..." Ayla terkulai lemas disana, dia menangis sebanyak mungkin yang dia bisa.
Tuduhan Brio amat sangat menyakiti hatinya dan fisiknya. Bahkan jika saja ada pisau yang melukai tangannya sekarang, bisa dipastikan darahpun tidak akan keluar.
CNP
Continue in my Next Post
*Kata mamihlapinatapai ini berarti cara memandang dua orang yang sama-sama berharap salah satu di antara mereka akan melakukan atau mengatakan sesuatu hal yang keduanya inginkan. Tapi mereka sendiri enggan melakukannya.
Semacam kedua orang yang sedang jatuh cinta tapi tidak mau mengungkapkannya lebih dulu. //from google.
Semoga nyambung dengan cerita yang aku buat. 😆
Dan ya, maaf jika komentarnya tidak bisa aku jawab satu persatu. Hampuraaa 😢😣
...Jangan marah! Dan jangan lupa dukung terus, yoo!...
...Dukungan kalian akan menambah semangat bagi para Author! Semampu kalian aja, kalau bisa semuanya. Hoho.....
...Terima kasih!...
__ADS_1