The Couple Of MissKin-g

The Couple Of MissKin-g
Elgrand & Ertiga


__ADS_3

"Apa kamu tidak bisa sedikit menurut, aku selalu menurutimu. Segalanya aku sudah berikan kini giliran kamu yang memberikan sesuatu padaku. Tenanglah sayang, setelah ini tidak ada yang bisa memisahkan kita," bisiknya tepat ditelinga Ayla


Kata-kata yang Jimny bisikan padanya malam itu. Membuatnya merasa hina sehina-hinanya. Dia seperti bi*tch diluaran sana. Yang sudah memuaskan lalu akan diberi uang. Hanya saja bedanya dia sudah diberi uang dan harus memuaskannya kapan pun itu.


Sungguh mengerikan sekali!


Jika dia tidak ikhlas, jika dia tidak mau dengan persyaratan itu untuk apa menyetujuinya.


Kata-kata cinta yang dia umbar hanya menorehkan luka untuk Ayla.


Ayla kira Jimny seorang laki-laki yang baik ternyata sama saja. Ayla benci orang kaya, sangat benci.


Dia meraih ponselnya, mengetikan sesuatu disana,


Hallo Jimny!


Semoga kamu sudah sadar dari mabukmu itu! Aku tidak akan bertele-tele lagi. Aku ingin berterus terang saja, kalau aku sudah tidak bisa melanjutkan hubungan yang sudah rusak ini.


Maksudku, kamu sudah melukai prinsipku. Aku tidak bisa menerima hal itu. Terima kasih untuk semua yang sudah kamu lakukan dan berikan untukku. Tapi aku tidak bisa menerimanya.


Aku sudah pergi dari apartemenmu, aku sudah meletakan semua barang yang sudah kamu berikan untukku. Ku letakan di kamar.


Dan soal biaya kuliahku dan lainnya aku akan mencicilnya, akan ku kembalikan semuanya.


Terima kasih sudah mau menampungku, membiayaiku dan memberikan apapun yang aku butuhkan. Tapi aku tidak bisa memberikan apa yang kamu inginkan.


Melakukan hal itu tidak menjamin kita akan bersama selamanya. Dan jika aku melakukannya bersama orang yang tidak mempunyai status sebagai suami dariku, aku yakin aku tidak akan melihat matahari pagi lagi.


Aku memang menyukai uang, tapi aku tidak akan serendah itu demi uang.


Kamu salah menilaiku!


Maaf jika selama ini aku mempunyai salah padamu. Aku mencintaimu tapi kamu merusak komitmen kita. Aku tidak lagi bisa memberikan cintaku pada seseorang yang sudah tidak bisa ku percayai. Jika kamu mengatakan aku ini egois, itu terserah padamu saja.


Mari kita akhiri hubungan ini.


Semoga kamu bisa menerima keputusanku.


Terima kasih!


Send..


"Huaaaa..." Ayla membanting ponselnya kekursi.


Clek..


Air matanya rembes begitu saja. Berat memang tapi dia sudah terlanjur kecewa.


"Kamu menangis?" tanya Brio.


"Dimana tadi kamu letakan mie super pedas itu dan juga bon cabenya?" Ayla mengalihkan pembicaraan. Jika dia menjawab pertanyaan dari Brio. Pasti Brio akan menguliknya sampai tuntas.


"Di lemari makan."


Ayla langsung menghambur ke dapur untuk memasak mie super pedas ala dirinya. Saat ini dia tengah bersedih, dia butuh sesuatu yang dapat meredakan kesedihannya. Mungkin memakan makanan yang pedas dapat meredakan semua emosi yang ada pada dirinya.


Brio pun mengikutinya kearah dapur. Dia sudah melihat dua bungkus mie, satu botol saus, satu botol bon cabe, dan dua butir telur sudah ada diatas meja. Semuanya akan segera Ayla eksekusi menjadi makanan yang digadang bisa membuatnya tenang.


Setelah air mendidih dia masukan kedua telur itu lalu dia masukan mie nya. Dia menyiapkan mangkok yang cukup besar.


"Apa kamu mau??" tanyanya pada Brio yang sedari tadi memperhatikannya.


"Boleh!" ucanya sumringah, Brio sedikit tergoda dengan mie itu.


"Tapi mienya sudah habis.."


"Hah!" Brio melongo mendengar kata habis dari Ayla. Dua bungkus mie dia bilang habis, yang benar saja?

__ADS_1


"Apa kamu tidak bisa membaginya denganku?"


"Tidak! Aku rasa ini pun kurang bagiku."


"Apa?" Mata Brio membulat sempurna. "Ya sudah, habiskan saja sendiri!" Brio pun pergi meninggalkannya sendiri. Kesal mendengar kata kurang dari mulutnya. Sebesar apa sih perutnya itu?


"Yah, dia marah. Memusingkan saja," gerutunya.


****


Seharian ini Jimny mengamuk dirumahnya karena dia tidak bisa keluar dari rumah tanpa seizin kedua orang tuanya. Sengaja mereka sepakat mengurung dirinya dan memerintahkan para pengawal untuk mengawalnya secara ketat.


Sehingga tidak ada satupun celah untuknya keluar.


Ketika menjelang malam Jimny menerima pesan dari Ayla. Dia membanting ponselnya.


"Arrgghh.. Aku tidak ingin putus denganmu Ayla.. Aku tidak akan membiarkan hal ini terjadi. Kamu hanya milikku, hanya milikku dan untukku saja. Aku tidak akan menerima keputusanmu itu," teriaknya.


"Semua ini gara-gara perjodohan bodoh dan juga alkohol sialan itu. Seharusnya aku tidak meminumnya, seharusnya aku tidak mendatanginya. Seharusnya aku ingat komitmen kita. Tidak, aku tidak bisa membiarkan ini terjadi. Aku harus mengatakan bahwa aku akan mempertanggung jawabkan perbuatanku. Aku tidak bisa hidup tanpanya," ucapnya dengan geram.


Bahkan gelas yang kini sedang dipegangnya hancur begitu saja. Tangannya berdarah tapi dia tidak merasa nyeri karena saat ini yang lebih sakit adalah hatinya sendiri.


Jimny langsung meraih jaket kulitnya yang berwarna hitam. Dia keluar dari kamarnya.


Ceklek..


Dia membuka pintu itu, nampaklah dua pengawal yang sedang menjaga didepan kamarnya.


"Tuan muda, Anda tidak bisa pergi!" larang pengawal satu saat melihat Jimny yang sudah rapi.


"Minggir kalian..." bentaknya.


Bugh, Jimny meninju bagian perut pengawal yang tadi berbicara. Satu kali, dua kali. Sedang pengawal yang satunya memegang bahu Jimny agar tidak memukuli temannya lagi.


"Berhenti tuan muda, Anda tidak boleh melakukannya." Kali ini pengawal kedua yang berbicara sambil memisahkan mereka berdua.


Bugh


Bugh


"Berhenti...!" teriak seorang laki-laki berumur kepala lima.


Para pengawal dan Jimny pun berbalik, melihat siapa yang berteriak. Ternyata orang itu adalah Ignis, ayah Jimny sendiri. Tuan dari para pengawal itu. Sontak keduanya langsung membungkuk memberi hormat, tapi tidak dengan Jimny. Dia berdiri seakan menantang papanya sendiri.


"Pergi kalian berdua!" titahnya kepada kedua pengawal tersebut.


"Mau pergi kemana kamu?" tanyanya pada Jimny.


"Bukan urusan Anda, tuan Ignis Suzu yang terhormat." Tangan Jimny bergetar saat berhadapan dengan lelaki yang menjadi orang tuanya ini.


"Apa kamu bilang? Bukan urusan saya? Owh, Arena, Arena sudah kubilang buang saja anak si*lan ini. Sudah kamu urus tapi tidak pernah manut kepadamu." Ignis tersenyum kecut.


"Anda bisa membuangku sekarang juga..."


"Ouh begitu, kemarilah! Ikuti aku, akan segera kubuang anak si*lan seperti dirimu."


Sebelum kejadian itu...


"Dimana Jimny?"


"Dia sedang ada dikamarnya," jawab Arena dengan nada sendu.


"Bagaimana dengan anak itu apa dia mau dijodohkan?"


"Tidak. Pah, mama mohon batalkan saja perjodohan ini. Tak ada satupun dari kedua anak kita yang mau dijodohkan dengan Livina."


"Enak saja. Salah satu di antara anak kita harus menikahi wanita dari keluarga Nissan."

__ADS_1


"Tapi, Pah.."


"Ini semua gara-gara kamu, seharusnya kamu melahirkan anak kedua berjenis kelamin perempuan. Tapi kamu membohongi kami dengan hasil USG itu. Kamu mengatakan anak kita perempuan ternyata laki-laki."


"Pah!" ucapnya sedikit membentak. "Aku hanya tidak ingin kita membunuh anak kita sendiri."


"Diam kamu! Gara-gara anak si*lan itu perjodohan ini terjadi. Ingat Arena, Ayahku kalah taruhan karnamu. Jadi untuk memenangkan kembali taruhan itu kamu harus bisa membuat anakmu menikah dengan perempuan keluarga Nissan."


"Tapi, bagaimana jika dia terus menolak? Lagi pula masih ada Baleno, kenapa kamu terus memaksa Jimny?"


"Karena Baleno sedang berguna untuk perusahaan. Dia sedang mendekati anak dari keluarga Toyota. Dia pula akan memenangkan tender dari perusahaan Toyota. Tentu saja akan berdampak baik bagi perusahaan kita.


Lihat anakku berguna, bukan? Tidak seperti anakmu."


Arena diam saja seperti sudah kalah telak dari suaminya.


"Jika anakmu tetap tidak ingin di jodohkan dengan Livina maka aku akan mengirimnya ke luar negri."


"Apa? Tidak bisa. Aku tidak ingin berpisah dengan anakku."


"Maka bujuk anakmu supaya mau!"


"Tapi bagaimana jika Jimny menolak dan Baleno tidak mendapat tender itu?"


"Tidak mungkin. Kalaupun iya maka aku akan memaksanya untuk menikahi keluarga Nissan."


"Apa keputusanmu sudah final, tidak bisa diganggu gugat."


"Ya!"


"Ini akan berdampak buruk pada kedua anak kita!"


"Sebelum kamu memanipulasi data USG, apakah kamu pernah berpikir tentang dampak buruk bagi keluarga kita? Tidak, bukan ? Untuk apa aku memikirkannya?"


"Aku hanya tidak ingin.."


"Sudahlah Arena, sebaiknya sebelum malam tiba kamu harus membujuk Jimny untuk menerima perjodohan ini." Setelah mengatakan itu Ignis pergi begitu saja.


Semua ini bermula dari kesalahan Ayahnya Ignis, Ertiga yang melakukan taruhan bersama Elgrand. Mereka pernah bersengketa tentang harta yang mereka dapatkan semasa muda. Harta yang tidak akan pernah habis untuk 5 turunan mereka.


Lalu mereka bertaruh dengan kehamilan menantu Ertiga, Arena. Jika menantunya mempunyai anak perempuan maka harta itu akan sepenuhnya dimiliki keluarga Suzuki.


Jika anak itu laki-laki maka hartanya akan menjadi milik keluarga Nissan sepenuhnya.


Setelah Jimny lahir, Ertiga marah besar karena sewaktu kehamilan Arena selalu mengatakan bahwa jenis kelamin bayinya adalah perempuan.


Tapi nyatanya setelah lahir berjenis kelamin laki-laki.


Akhirnya Arena diusir dari keluarga itu. Namun karena Ignis sangat mencintainya, dia memberanikan diri untuk memohon pada Elgrand agar membagi hartanya menjadi dua.


Karena Elgrand merasa kasihan kepadanya, karena cintanya yang luar biasa itu maka dia akan membagi asalkan Ignis menjodohkan salah satu anaknya dengan cucunya, Livina.


Ignis menyetujuinya. Tapi dari kejadian itulah dirinya sering mendapat omelan dari Ertiga. Dan lambat laun membuatnya membenci Jimny.


Flashback off.


CNP


Continue in my Next Post yaa


😂


...quote:...


...Intinya harta tidak dibawa mati....


...Hanya cukupkanlah untuk masa sekarangmu dan masa depanmu nanti....

__ADS_1


Mohon dukungannya. Karena dukungan kalian adalah penyemangatku. Untuk dukungannya bisa berupa Like, komentar, share, vote, rate 5, dan jangan lupa untuk mem-faforitkan novel ini. Stay tuned terus, terima kasih !!


__ADS_2