The Couple Of MissKin-g

The Couple Of MissKin-g
Simbiosis Mutualisme


__ADS_3

Suasana rumah keluarga Dyna semakin tidak karuan. Suaminya selalu saja sibuk bekerja dan hampir tidak ada waktu luang untuk anak dan dirinya.


Tetapi Dyna tidak akan ambil pusing tentangl itu, dia selalu mengalihkannya pada hal-hal yang biasa para wanita lakukan. Misalnya, datang ke salon untuk perawatan wajah dan tubuh, arisan bersama ibu-ibu sosialita dari kalangan penjabat, pengusaha, dan shopping sana sini serta banyak hal lagi.


Dan seperti sekarang ini Dyna akan pergi arisan. Saat dirinya hendak mengambil kunci mobi, dia melihat anaknya yang sedang menonton tv. Ia pun berniat ingin mengajak anaknya untuk pergi kesana. Pikirnya, daripada di rumah hanya menonton tv, lebih baik ikut dengannya bergabung dengan ibu-ibu konglomerat. Bisa saja 'kan ada orang yang ingin mengangkatnya jadi menantu.


"Vanz, ikut mamah pergi, yuk. Kita arisan lalu kita pergi ke salon. Dari pada disini hanya duduk diam menonton televisi," saran Dyna. Dia masih khawatir dengan mental putrinya setelah di khianati sang kekasih.


"Tidaklah, Mah. Aku malas."


"Ayolah, Sayang. Hidup itu harus maju, lupakanlah Baleno!" Dyna duduk disebelahnya sambil mengelus pelan bahu sang anak.


"Aku tidak sedang memikirkannya. Aku sedang memikirkan pria lain. Tapi aku bingung bagaimana caranya aku mendekati pria itu?" ucapnya sambil menekan tombol remot memindahkan ke channel gosip.


"Jadi, kamu tidak memikirkannya lagi?" tanyanya antusias.


"Untuk apa? Aku tidak suka mantan. Apalagi setelah tahu Livina hamil. Huh, laki-laki brengsek," ucapnya berapi-api.


"Hoho, jadi kamu tidak menyukai Baleno lagi?"


"Tentu saja. Lagi pula aku sudah punya target lain, Mah. Yang lebih seru."


"Lalu siapa laki-laki yang sedang kamu targetkan itu?"


"Dia Brian, dia bekerja di perusahaan Honda," ucap Avanza sambil berhadapan dengan ibunya. Menurutnya topik yang sekarang lebih asik untuk dibicarakan.


"Apa? Brian? Nak, Mamah dengar dia itu anaknya Jazz H. Soedrajat. Dia orang terkaya," ucap Dyna begitu terkejut.


"Yah, aku juga tahu itu," jawabnya cepat.


"Kalau begitu Mamah ajak kamu bertemu dengan tantenya. Dan sekalian berkenalan dengannya. Kalau Mamahnya sih, Mamah juga kurang tahu. Dia orang yang sangat sibuk. Sampai-sampai mamah juga tidak tahu rupanya yang seperti apa. Tapi yang jelas orang dari keluarga itu harus kita hormati," kata Dyna sambil mengedipkan satu matanya.


"Benar, Mah. Aku sangat setuju untuk itu. Kalau begitu aku akan ikut dengan Mamah dan bertemu dengan tantenya." Avanza segera naik ke atas dan berganti pakaian.


Dia harus menampilkan kesan sebagai wanita yang cantik, anggun dan sopan di depan anggota keluarga itu. Karena rumornya keluarga itu selain keluarga terhormat juga keluarga yang menjunjung tinggi sopan santun.


"Sayang, kamu harus tampak elegant dimatanya," teriak Dyna memberitahu.


"Oke, Mah!"

__ADS_1


Saat ini mereka sudah berada di restoran mewah milik salah satu ibu arisan, Jeng Innova. Disana juga sudah ada Terra, ibu Livina. Serena Soedrajat, tante dari Brian dan masih banyak ibu-ibu sosialita lainnya.


"Jeng Nova, kenalkan ini anakku, Avanza. Avanza ini Tante Nova," ucap Dyna memperkenalkan.


"Aku sudah kenal, Mah. Dia mamahnya Agya."


"Benar, Dyn. Aku mamahnya Agya, sahabatnya Avanza."


"Ya ampun, kok aku baru tahu, sih. Hahaha.. Ternyata anak-anak kita sahabatan, ya. Semoga anak kamu tidak mengkhianati anakku seperti sahabatnya yang lain, ya." Dyna menyindir keras Terra yang sedari tadi berada di seberangnya.


Terra hanya diam mendapat perlakuan itu. Toh, sulit untuk berdebat dengan orang yang pandai berdebat. Meski benar pasti di mata dia akan kalah. Dan tentu hanya menghabiskan tenaga saja.


"Haha, kamu ini mengatakan apa sih, Jeng Dyna. Ya sudah, Jeng Dyna sama Avanza silahkan duduk, ya." Innova mempersilahkan.


Dyna pun mengajak Avanza untuk duduk mendekati Serena yang sedang berbincang dengan ibu-ibu sosialita yang lainnya.


"Hai, Jeng Serena!"


"Hai, Dyna! Ini anakmu?" tunjuknya pada Avanza.


"Hai, Tante! Aku Avanza." Avanza memberi salam.


"Ya, haruslah. Putri itu mencerminkan ibunya, 'kan?" ucap Dyna dengan bangganya.


Mereka pun kembali berbincang dengan yang lainnya. Serena tampak selalu memperhatikan Avanza dan Dyna.


Dari atas hingga bawah dia tilik dengan teliti. Pakaian branded, tas branded, perhiasan berlian, semua yang di pakai keduanya sungguh wah dan mewah.


"Mereka adalah anggota keluarga Toyota, wajar jika mereka bergaya seperti itu. Perusahaannya juga ada dimana-mana. Jika aku bisa mendekatinya dan meminta bantuannya pasti akan sangat baik bagi keberlangsungan hidupku dikeluarga Mas. Mas juga bisa mengalahkan adiknya hanya dengan mendapat sokongan dari keluarga itu. Dan kami bisa mendapat perhatian lagi dari Ayah mertua. Hm, aku harus mencoba berbincang dengannya," batin Serena.


"Aku harus mendekatkan diri dengan Tante Serena. Dia pasti bisa membuatku dekat dengan Brian," batin Avanza.


Setelah mereka selesai arisan. Serena meminta Dyna dan Avanza untuk menunggunya. Tentu ini menjadi kabar baik bagi mereka, ternyata tak perlu payah untuk dekat dengan Serena. Toh, dia sendiri yang mendatangi mereka.


"Jeng Dyna, Avanza. Saya ingin mengajak kalian untuk membicarakan bisnis. Apa kalian ada waktu?" ucap Serena. Saat ini mereka sudah ada di ruangan pribadi milik restoran.


"Ah, kami punya banyak waktu, kok. Iya 'kan, Avanza?"


"Iya, Tante. Kita semua tidak ada keperluan yang lain," ucap Avanza. Sebisa mungkin dia bersikap ramah didepan wanita yang setengah abad itu.

__ADS_1


"Jadi begini, kita langsung pada intinya saja. Sebenarnya saya ingin meminta bantuan dari kalian, maksud saya adalah meminta bantuan dari suami, Jeng. Perusahaan suami saya sedang goyah dan membutuhkan suntikan dana. Nah, saya ingin meminta tolong pada Jeng Dyna untuk meminta suami Jeng Dyna supaya membantu suami saya."


Bak cahaya terang di kegelapan malam, kedua anak dan ibu tersebut seperti mendapat sebuah ide. Keduanya tampak melirik satu sama lain. Tapi, Dyna merasa aneh. Mengapa dia sampai meminta pada suaminya? Kenapa tidak adiknya saja?


"Saya bisa saja membantu Jeng Rena. Tapi, kalau boleh saya tahu kenapa Jeng Rena meminta bantuan pada kami? Ya, kita tahu Jeng Rena itu orang hebat. Apalagi suami Jeng Rena juga lebih kaya dibanding suami saya."


Omongan Dyna sedikit membuatnya tersentil. Menurutnya itu sangat tidak sopan, jika mengorek dan ingin tahu urusan orang.


"Begini, Jeng. Saya tidak bisa membicarakan masalah keluarga saya. Yang saya butuhkan disini adalah bantuan dari Jeng dan suami? Apakah bisa membantu saya?" tegas Serena. Dia tidak ingin berbelat-belit membicarakan masalahnya. Toh, mereka adalah orang luar.


"Ah, maaf, Jeng. Saya hanya penasaran saja," ucap Dyna seraya menahan kesal. Baru kali ini dia dipandang rendah oleh orang lain. Mungkin jika Serena bukan anggota dari keluarga terpandang, dia akan membalasnya detik itu juga.


"Tante, maaf aku juga ikut bicara. Aku bisa minta Ayah untuk membantu Tante. Tapi aku juga ingin dibantu Tante, bagaimana?"


"Di bantu olehku? Apa?"


"Aku dengar Tante mempunyai keponakan yang bernama Brian. Apa Tante bisa bantu aku?"


"Brian? Kamu ingin mendapatkan Brian?"


"Ya, Tante sangat cerdas."


"Oh, jadi kamu pikir saya ini orang bodoh, apa?" balas Serena dengan jutek.


"Hmm, tidak, tidak! A-aku sangat kagum saja Tante bisa menebak keinginanku. Bagaimana Tante? Apa Tante bisa membantuku?" ulang Avanza. Walaupun Serena tampak garang, tetapi Avanza sangat yakin Serena akan membantunya.


"Aku kira wanita ini bisa aku mintai bantuan. Ternyata dia meminta imbalannya lebih dulu. Bagus bukan anakku yang mereka incar. Jika iya, aku tidak sudi mendekatkannya saja," gerutu Serena dalam hati.


"Brian? Huh, anak itu dan ayahnya sama saja, membuat suami dan anakku dalam masalah. Hem, tapi jika kupikir lebih baik aku mendekatkan mereka berdua. Sudah pas sekali jika dia mendapatka istri seperti Avanza yang licik ini," batin Serena lagi.


"Baiklah, saya setuju," ucap Serena mantap. Ketiga orang itu pun tersenyum senang. Tujuan mereka masing-masing akan tercapai dengan adanya simbiosis mutualisme ini.


CNP


Continue in my Next Post


Humm..


Terima kasih dukungannya.

__ADS_1


Jangan lupa dukung lagi demi keberlangsungan Novel 😂😂


__ADS_2