The Couple Of MissKin-g

The Couple Of MissKin-g
Petir


__ADS_3

Malam yang gelap tak berbintang, angin yang bertiup sedikit kencang, membuat semua orang dikampung itu enggan keluar dan memilih untuk tidur dikamar. Akan tetapi, berbeda dengan Ayla yang baru saja pulang dari tempat kerjanya.


Karena tidak ada ojek didepan persimpangan, terpaksa dia harus berjalan kaki sejauh 600 meter, beruntung kampung yang ditinggalinya tidak terlalu sepi. Meski, tidak banyak orang yang berlalu lalang dijalanan tapi setidaknya masih banyak orang yang ada di depan rumahnya.


Dia membuka pintunya dari luar, karena jam sudah menunjukan pukul 23.09 wib, otomatis saat dirinya masuk tidak akan ada yang menyambutnya.


Tampak Brio juga


sudah tertidur lelap diatas lemari meja dengan buku-buku dan laptopnya. Pemandangan yang biasa dia temui di penghujung hari.


"Brio, bangunlah! Jangan tidur disini!" Kalimat itu hampir setiap malam dia ucapkan. Brio memang sangat menyukai belajar sama seperti dirinya.


Tanpa membuka mata Brio pindah ke kasurnya. Sementara Ayla ke kamar mandi dan membersihkan diri.


Huft!


Sungguh sangat melelahkan hidup seperti ini. Pagi hari kuliah, sore hari bekerja. Belum lagi tugas yang hampir menumpuk setiap harinya.


Ayla menitikan air matanya, menangis meratapi nasib. Perih sekali rasanya ingin menjadi manusia? Matre dihujat, tidak matre remuk dibadan.


Ayla menatap Brio yang tengah tertidur.


"Kenapa dia selalu tenang dalam keadaan seperti ini? Apa dia tidak pernah pusing? Aku lihat dia tidak pernah mengeluh dalam menjalani harinya. Tidak sepertiku yang kelelahan. Padahal dia sama saja denganku, dia sederajat denganku, dan satu kampus denganku, tapi bagaimana dia menikmati harinya?"


"Huh.. Tuhan.." desah Ayla, "Kapan semua ini berakhir?" Tak lama kemudian Ayla pun terlelap tidur dalam keadaan masih menangis.


Waktu terus berputar dari jam satu menuju dua dan saat ini sudah jam setengah tiga. Langit yang memang gelap mulai menurunkan rintik hujan. Angin yang sedikit kencang bertambah lebih kencang. Lama kelamaan hujan bukan lagi rintik, dia menjadi deras dan sangat bising. Semua orang saling menarik selimutnya masing-masing.


Tiba-tiba saja..


Jedderrrrr...


"Aaaaaaa" Ayla berteriak keras. Suara petir itu menggelegar bak menyambar sesuatu yang berada didekatnya. Tak lama seluruh lampu menjadi padam. Keadaan sekitar menjadi gelap gulita hanya kilatan petirlah yang menyinari bumi di bagian yang ditempati oleh dua sejoli ini.


Ayla yang sejatinya memang sangat takut dengan petir, tiba-tiba saja bangun dan menangis. Lalu meringkuk di sudut kamar.


"Ayla," suara serak Brio memanggilnya. Dia nyalakan senter yang ada di ponselnya, mencari sosok yang sedang menangis. Tampak Ayla disana yang sedang menutup telinganya.


Jedderrr...


"Aaaa.." teriak Ayla lagi sambil menangis. Kedua kalinya suara petir menyambar. Brio dengan sigap menghampirinya.

__ADS_1


"Ayla..." Dia segera memeluk gadis yang sudah menjadi istrinya itu, "Sudah tenang, tenang.." Sesekali dia usap punggungnya.


"Aa aku takut, Brio," lirih dalam tangisnya.


"Sudah, ada aku disini. Jangan menangis!" ucapnya masih dalam keadaan memeluk.


Ayla masih menangis saja, bahkan saat ini sudah tersedu-sedu. Dan saat kilatan cahaya petir itu muncul lagi, Ayla semakin mengeratkan pelukannya. Membuat sang empu badan tersentak dan tersadar. Ya, memang sedari tadi dia menenangkan tapi matanya sedang tertutup menahan kantuk.


"Ayla, kita tidur saja. Petirnya juga sudah tidak ada. Jangan takut aku akan ada disini!" ucapnya dengan nada parau.


"Jangan tinggalkan aku!" lirih Ayla.


"Iya.."


Merekapun merebahkan diri mereka dalam kasur yang sama. Brio memberikan lengannya untuk menjadi bantal Ayla dan satu tangannya yang lain mengelus lembut rambut Ayla. Sedangkan, tangan Ayla sendiri memeluk pinggang Brio.


Malam yang dingin berubah jadi malam yang hangat bagi dua insan yang saling membutuhkan.


***


Pagi harinya jam 7.45 wib.


Matahari sudah mulai naik keperaduannya. Sementara, dua insan yang masih mengelak dengan perasaannya masing-masing ini masih dalam keadaan seperti semalam. Tidur dan saling mendekap satu sama lain.


Dia melihat Ayla yang masih tertidur di pangkuan tangannya. Sebuah senyum terukir melihat pemandangan yang sangat menyejukan matanya. Dia mencium pucuk kepala Ayla, rambutnya wangi menenangkan pikiran. Tanpa sadar dia mendekap Ayla lagi bahkan menariknya lebih dalam.


Sungguh nyaman!


Dan baru kali ini dia merasa senyaman ini saat berkontak fisik dengan seorang wanita. Dia longgarkan lagi dekapannya itu, menatap Ayla lebih dalam.


"Kenapa aku merasa aku menjadi laki-laki saat berada didekatmu? Lalu, aku juga merasa kamu memang layak untuk kulindungi," Brio membatin sambil menyelipkan rambut Ayla ketelinganya. Lalu dia juga memainkan jarinya menggaris belah dari kening dan berhenti di bibir.


Degh, seketika saja jantungnya berpacu cepat melihat bibir ranum Ayla dan mengingat perkataannya dulu, bahwa bibirnya itu belum terjamah oleh siapapun. Brio menyekanya dengan jari jempolnya. Ada satu dorongan untuk menciumnya diam diam, namun Ayla lebih dulu menggeliat, sontak Brio langsung berpura-pura tertidur.


"Hoaaamm." Dia mengangkat tangannya keatas. Tak lama membuka matanya.


"Aaaaaa, Brioooo.." teriaknya sambil menendang kaki Brio.


"Ayla! Awhh," aduhnya.


"Kenapa kamu memelukku?"

__ADS_1


"Kamu tidak ingat semalam kita sudah...."


Plak...


Tak sengaja Ayla menamparnya.


Habis sudah kaki dan pipinya, tendangan dan tamparan Ayla benar-benar sangat kuat. Brio langsung berlari ke kamar mandi dengan kaki yang pincang.


Sementara, Ayla mengingat semua kejadian semalam, dia menjadi malu sendiri. Tak seharusnya dia sudah bersikap seperti itu. Bagaimana jika Brio membencinya dan melaporkannya dengan pasal KDRT?


Huaa.. Tidak dapat dibayangkan!


Satu jam kemudian, Ayla sedang mencoba meminta maaf kepada Brio. Dia tidak ingin laki-laki itu menyimpan dendam padanya di akhir kemudian. Apalagi jika mengingat tentang kejahilannya yang lain.


"Brio, maafkan aku."


"Tidak mau, kamu sudah kelewatan! Lihat pipiku masih merah, 'kan?" tunjuknya pada pipi. "Kakiku juga sakit, tanganku apalagi. Menahan kepalamu semalaman. Tapi kamu malah tidak tahu terima kasih!"


"Maaf, Brio. Kamu mau apa saja, aku lakukan! Ya, ya, tapi maafkan aku.." pintanya dengan manja.


Dengan senyum seringai yang jahat, Brio merencanakan sesuatu.


Dan berakhirlah Ayla dalam pekerjaan pijat meminjat. Ya, Brio memintanya untuk memijat lengannya yang pegal.


"Sebelah sini, Ay. Ya ya, itu.. Iya itu lebih baik." Tampak Brio yang sedang menikmati enaknya dipijat sang istri.


Dalam hati Ayla mendengus kesal, "Sabar!" sambil mengelus dadanya pelan.


CNP


Continue in my Next Post


Menuju permasalahan yang akan membuka mata batin.😀


...Hai, semuanya! Salam sehat dan salam cinta. ...


...Tolong dukungannya, ya. Like, komentar, vote bunga atau lainnya, rate5, faforit dan share ke semuanya untuk tahu showrom juga ada di novel loh.. Dukungan kalian adalah semangat bagi para author!...


...Xiexie!...


...Terima kasih!...

__ADS_1


...Thank you!...


__ADS_2