The Couple Of MissKin-g

The Couple Of MissKin-g
Uang


__ADS_3

Prahara di meja makan membuat Lio dan Rena semakin gusar. Bagaimana tidak dalam setiap harinya Ayla hampir bisa menarik perhatian Jazz dan juga City. Tentu itu tidak akan berujung baik bagi keduanya. 


"Aku tidak mau mereka sampai bersama," ucap Mobilio pada Rena. Saat ini mereka sedang berada di kamarnya. 


"Lalu, menurutmu aku ingin mereka bersama dan bahagia? Tentu tidak! Aku harus memaksa Avanza untuk terus menggoyahkan rumah tangga mereka."


"Aku sudah berbicara dengan Alphard. Dia masih enggan membantu kita. Perusahaan kita sudah diambang kehancuran. Kita sudah kolaps."


"Tidak, itu tidak akan sampai terjadi. Aku tidak akan membiarkan ini."


"Lalu apa rencanamu, Rena?"


"Rencanaku apa saja yang terpenting Jazz dan City tidak mendapat perusahaan yang lebih dari Ayah." Serena menyunggingkan senyumnya merencanakan sesuatu. 


Saat Serena berjalan di sekitaran kamar Brio dan Ayla. Dia sempat mendengar keributan kecil Ayla dan Brio. Senyum setan itu kembali muncul. Sekali lagi dia sudah merencanakan rencana jahatnya. 


***


Semua orang sudah memulai kesibukannya. Para lelaki sudah berangkat ke kantor.


Kini saatnya Serena memperhatikan gerak gerik Ayla. Ia mau tahu sampai kapan Ayla akan bertahan dirumah ini dengan setumpuk pekerjaan yang ia berikan. 


Mau bagaimana lagi dia sangat membenci kehadiran Ayla? Sekeras mungkin dia mengusir Ayla. 


Saat sedang fokus dengan Ayla, tiba-tiba seorang gadis cantik menepuk bahunya. 


"Tante."


"Avanza? Kapan kau datang kesini? Kenapa tidak izin dulu padaku?" Serena menggiring Avanza ke tempat yang lebih aman. 


"Apa aku harus memerlukan itu, aku kan sebentar lagi akan menjadi menantu dirumah ini," ucapnya begitu tidak tahu diri. 


"Huh, sombong sekali. Kamu tidak tahu pagi ini Ayla dan Brian semakin mesra saja. Mereka tidak bisa di pisahkan begitu saja."


Dengan angkuh dia berkata, "Aku Avanza, tidak ada yang tidak bisa aku lakukan."  


"Oo, begitu ya. Tapi untuk kali ini aku yakin kamu tidak bisa melakukannya. Kecuali..."


"Kecuali apa, Tante?"


"Kecuali dengan bantuanku."


"Ya, itu kan Tante sudah berjanji."


"Sebelum Papamu enggan membantu kami. Dan setelah ini aku tidak ingin membantumu," ketusnya. 


"Papaku mau membantu atau tidak itu usaha kalian, bukan aku. Aku juga berdiri disini karena usahaku,"


"Tapi aku adalah orang yang membawamu kesini. Kamu ingat itu?"


"Ya..."


"Sudahlah. Jika kamu dan Papamu tidak bisa membantu kami. Maka aku tidak akan membantumu sama sekali. Bahkan aku akan mengusirmu sekarang juga."


"Eh, eh jangan dulu. Ya, ya. Aku akan membantu kalian bicara dengan Papaku. Aku juga akan meminta Mama untuk meyakinkan Papaku."

__ADS_1


"Nah, bagus. Aku tunggu itu."


"Lalu sekarang bagaimana dengan rencana mendekatkanku dengan Brian? Apa Tante sudah punya rencana bagus?"


"Tentu saja, aku tidak akan bicara kalau aku tidak punya rencana."


Keduanya saling mengkode melalui tatapan mereka. Entah rencana apa lagi kali ini yang akan mereka lakukan. 


Perbincangan mereka terus mereka lanjutkan di ruangan tamu. Serena menyuruhnya kesana supaya Avanza bertemu dengan City dan membicarakan kejelekan Ayla. 


"Eh, ada Avanza disini." Benar saja perkiraan Serena. Saat mereka baru saja tiba, City pun keluar dari kamarnya.


"Iya, Tante City. Aku mau bertemu Brian. Kebetulan ada Tante Rena, jadi dia menemaniku," ucapnya sesopan mungkin. 


"Ah, sayang sekali. Brian sudah berangkat ke kantor sama Om." City ikut duduk disamping Avanza.  "Oh, ya Avanza. Untuk soal seminggu lalu Tante mau minta maaf yang sebesar-besarnya. Tante ..." lanjutnya namun terpotong. 


"Tidak apa, Tante. Aku memakluminya. Tapi, bolehkan aku sering main kesini. Mmm, Aku dengan Brian itu cukup dekat, Tante."


"Ternyata dikuliahnya itu dia teman Brian, City," Serena membantu menjelaskan. 


"Tidak apa-apa. Sekalian nanti temenin Tante ngobrol, kan lebih banyak lebih seru ya, Kak Rena," imbuh City. 


"Benar tuh," jawab Serena tanpa mengalihkan wajah pada Avanza dan City. Dia terus fokus pada Ayla. Muncullah ide untuk menganggunya lagi. 


"Ayla, bisa kamu ambilkan air untuk tamu?" ucap Serena dengan halus. 


Ayla menoleh, suaranya begitu halus sampai membuatnya merinding. Semerinding mendengar suara kunti****.


Huh, rupanya ada wanita yang menjadi rivalnya di kampus. 


Ayla beralih ke dapur menuruti keinginan Tantenya. Ia menuangkan jus jeruk kedalam tiga gelas. Kemudian menaruhnya di temani beberapa camilan. Lalu membawanya ke hadapan Serena. 


Ayla melirik pada dua wanita paruh baya seraya berkata, "Mm.. Ini manisnya dari perasan jeruk asli. Aku tidak menambahkan gula sedikitpun."


"Ayla, orang tidak ingin meminum itu, tapi kamu malah memaksanya. Itu bukan sikap yang baik, Ayla." Serena menyerobotnya dengan kata-kata pedas. Sementara City hanya memperhatikannya saja. 


"Baiklah, aku akan mengambilkan yang lain. Kamu mau apa?" 


"Aku mau minum air putih saja."


"Kalau Bunda dan Tante ada yang mau aku ambilkan?"


"Kami tidak mau apapun, turuti saja kemauan tamu kami ini." Lagi-lagi Serena menjawabnya. City hanya diam saja. 


Ayla kembali lagi ke dapur menyiapkan kemauan Avanza. Dengan mulut yang menggerutu dia menuangkan air kosong.


"Menyusahkan saja. Walaupun dia meminum jus itu tidak akan berpengaruh lebih pada tubuhnya. Ingin sekali aku menambahkan micin disini, supaya dia tau rasa," kesalnya. 


"Aku jadi teringat sesuatu, apa jangan-jangan dia yang selalu menjelekan aku di depan Bunda dan Tante? Hum, siapa lagi. Dia yang paling dekat dan juga sangat masuk akal jika dia melakukannya."


"Aku tidak boleh kalah," ucapnya mantap sambil membawa air kosong itu kehadapan musuhnya. 


Saat Ayla menyuguhkan air permintaan Avanza, samar-samar dia mendengar,


"Nanti, Tante kalau aku ke panti asuhan Tante harus ikut, ya. Gak boleh enggak. Aku mau tunjukin ke Tante disana ada temen kecil aku yang baik banget. Terus habis itu aku juga mau ngajak Tante ke beberapa tempat usaha aku. Ada salon juga lho, Tan. Sekalian kita massage disana," ucap Avanza dengan riangnya. 

__ADS_1


Ayla sedikit menyernyitkan alisnya. Merasa heran dengan Avanza. Apa yang Ayla dengar dengan apa yang Ayla rasakan sangat berbanding terbalik.  Apakah ini Avanza atau apakah ini topengnya? 


Mencurigai tentu saja boleh bukan? 


"Hebat kamu. Selain cantik, mandiri, berjiwa sosial tinggi, kamu juga pintar bisnis. Memang calon menantu idaman," puji City tak hentinya. 


Tentu secara tidak langsung ucapannya itu sedikit mengiris hati Ayla. Sama saja dia mengatakan kalau Ayla tidak ada apa-apanya untuk disebut menantu idaman. 


Selepas Ayla bekerja di rumah mertuanya, Ayla meminta izin pada Brio untuk masuk kerja. Tapi pada saat dia menelepon, telepon itu tidak terangkat. Akhirnya Ayla mengirimkan pesan padanya. 


Pukul 21.06 Di kantor Brio sehabis meeting.


"Huh, meeting sampai jam segini bikin otak aku eror tau." Yaris mengeluh. "Emang dasar, ya, mereka gak mau mengalah. Cape diskusi sama mereka."


"Itu tantangan kita buat mereka lebih percaya sama kita." Brio mulai menata berkas dokumen diatas meja kerja yang sedari tadi sudah semraut bak meja yang tak bertuan. 


"By the way, bagaimana dengan kelanjutan kasus March tentang bongkarnya rahasia kalian. Apa yang akan kamu lakukan?"


"Aku tidak tahu, mungkin mengeluarkannya. Dia sudah dua kali mengangguku dan Ayla," balas Brio saat dia masih sibuk. 


"Aku mendapat kabar kalau March tidak hanya sendiri."


"Bersama Baleno lagi?" Kali ini Brio menatapnya. 


"Tidak, tepatnya seorang wanita. Kalau tidak salah namanya Agya."


"Agya?" Brio sedikit terkejut. Lalu meneruskan kembali perkataannya, "Dia memang squad CTM temannya Avanza. Menurutku tidak heran jika dia membantunya."


"Jadi, bagaimana dengan Agya?"


"Sama. Mungkin aku juga akan mengeluarkannya," jawab Brio sambil menengok jam ponselnya. 


Ada 10 notifikasi panggilan tak terjawab juga ada satu pesan yang semuanya dari Ayla. 


Brio, aku berangkat bekerja dulu. Jadi, mungkin aku akan pulang larut malam ini. 


"Bekerja?" Ada sedikit rasa marah dalam dirinya. Kenapa dia harus bekerja? Apakah uang yang ia berikan tidak cukup? Brio menggelengkan kepalanya. 


Tak menunggu lama dia sampai di tempat Ayla bekerja. Pertanyaan-pertanyaan tadi Brio simpan lebih dulu sebelum Ayla benar-benar duduk di mobilnya. 


"Kamu datang menjemputku?" Ayla tampak sedang memakai seat belt.


"Hum.." Brio menjalankan mesin mobilnya. 


Dalam hati Ayla sedikit merasa janggal. Ada apa dengan kata 'hum' ini? 


"Brio, lain kali jika ingin menjemputku jangan pakai mobil ini, ya. Ini terlalu mewah." Ayla berbicara dengan hati-hati.


"Kalau begitu kamu jangan kerja." Datar. Tanpa ada lirikan, senyuman atau apapun. 


"Ya, tidak bisa. Aku harus bekerja. Aku juga ingin menjadi wanita mandiri. Ya, walaupun aku tahu pekerjaanku hanya sebagai waitress. Tapi setidaknya aku menghasilkan uang."


"Uang, uang, uang. Di otak kamu gak ada yang lain ya, selain uang?" Bentak Brio. 


​​

__ADS_1


CNP (Continue in my Next Post)


Untuk Author lain. Balasannya agak lambat ya.. Hampuraa🙏


__ADS_2