
Hari ini City sudah membeli sepasang cincin bertatahkan berlian untuk putranya dan juga Avanza. Dia ingin membuat surprise untuk mereka berdua.
Mau bagaimana lagi hati sudah srek dengan Avanza. Dia juga ingin Avanza menjadi menantunya. Pilihan Brian sangatlah tepat sekali. Akan tetapi yang sedikit dia herankan adalah, mengapa anaknya tidak langsung mengenalkannya? Padahal dia sangat menyukainya. Tapi, karena hati yang sudah jatuh dia hiraukan dan menjawab pertanyaannya dengan spekulasinya sendiri. Mungkin Brian sedikit kaku, jadi dia tidak bisa mendekatinya.
Meski sebenarnya keinginannya ini di tentang sang suami, tapi dia tetap keukeuh ingin segera menyatukan mereka berdua.
Asanya sudah melayang. Jika ia segera meresmikan hubungan mereka, rumah ini tidak akan sepi lagi seperti biasa. Dia akan ada tambahan teman untuk mengobrol, juga nanti akan ada tangisan bayi yang menggemparkan rumah besarnya itu. Tak ada keraguan dalam dirinya untuk segera menyatukan mereka. Apalagi bibit, bebet, dan bobot Avanza sudah jelas dimatanya.
"Bund, sudahlah. Kita tunggu saja Brian, biarkan dia yang menyiapkan ini semua, dia 'kan yang akan memulai hubungan ini," saran Jazz.
"Ayah. Ayah itu tidak mengerti, ya? Aku ingin membahagiakan putraku dengan membantunya menyatakan cinta," ucapnya seraya menilik kembali berlian di tangannya.
"Pokoknya malam ini harus menjadi malam yang bersejarah bagi putraku," ucapnya lagi bersemangat.
Bila hati sudah jatuh cinta, omongan siapa yang akan didengar. Begitulah yang terjadi pada City saat ini. Tak lama, City segera menghubungi Yaris untuk menjemput putra tampannya pulang.
Sengaja dia tidak memberi kabar kepulangannya pada Brian. Dia juga sengaja tidak memberitahu jika dirinya sudah bertemu dengan orang yang putranya idamkan. Karena dia ingin acara yang sudah dirancangnya benar-benar berhasil.
Sementara itu Ayla dan Leva sedang menikmati es serut yang berada di kantin sekalian merayakan hari terakhir masuk kampus.
Ayla memilih rasa coklat sedangkan Leva memilih rasa melon dan koko pandan. Selain itu mereka juga di temani dengan semangkok baso panas.
"Haaah, akhirnya libur semester tiba," ucap syukur Leva tiada henti. Dia memang sudah menantikan waktu ini. Waktu dimana dirinya bisa tidur semaunya tanpa memikirkan jam berapa dia akan masuk kuliah.
"Ya, aku juga sangat bahagia. Semoga saja aku bisa mengambil libur kerja. Sudah tidak sabar ingin pulang ke rumah. Rindu kasur rumahku," kekeh Ayla dengan perkataan terakhirnya.
"Kamu akan mengajak Brio pulang kesana?" Tiba-tiba Leva mengatakan sesuatu yang sesaat dia lupakan. Ternyata dirinya sudah memiliki suami.
"Tidak tahu. Aku takut dia punya jadwal lain. Mungkin jika seperti itu aku akan pulang sendiri," lirihnya sedikit sendu.
"Hem.. Jangan sedih dulu, siapa tahu dia bisa ikut pulang ke rumahmu. Katakan padanya kalau kamu rindu rumah. Bisa saja dia tidak keberatan dan memilih pergi bersamamu."
"Iya, ya. Benar apa yang di katakan olehmu, Lev. Lain kali kamu juga harus kesana. Disana ada sungai yang airnya masih jernih dan juga dingin. Bahkan airnya saja bisa di minum secara langsung. Pokonya kampung halamanku masih terjaga ke asriannya," pujinya dengan sangat meyakinkan.
__ADS_1
"Oh ya, Lev. Sepertinya aku harus segera berangkat kerja." Ayla melihat jam tangannya yang sebentar lagi waktu kerjanya akan dimulai. Leva pun mengangkat bibirnya membentuk kerucut. Dia baru saja bersantai dan ditemani oleh Ayla. Tapi baru sebentar saja Ayla sudah akan pergi. Mau tak mau Leva hanya mengangguk mengiyakannya. Dan mereka berpisah disana.
***
Sedangkan di waktu yang sama, di naungan langit yang sama dan udara yang sama, namun hanya tempat yang berbeda.
Yaris datang menjemput Brio, menggunakan mobil Lamborghini berwarna kuning.
"Yaris! Untuk apa kamu datang kesini? Bukankah sudah kuperingatkan untuk tidak datang sembarangan ke kampus? Apalagi dengan penampilan mencolok seperti ini," cerocosnya pada Yaris yang baru saja tiba.
"Ini urgent, sangat urgent. Tiba-tiba Tante City memintaku untuk menjemputmu. Entahlah ada apa?" ucapnya sambil mengendikan kedua bahunya. "Tapi yang jelas kamu harus pulang sekarang," tambahnya lagi.
"Bunda sudah pulang? Kenapa tidak memberitahuku? Tumben sekali."
"Sudahlah, jangan bertanya-tanya! Ayo, kita pulang sekarang! Bukankah ini juga bisa menjadi moment untukmu berterus terang tentang pernikahanmu?"
"Iya, kalau begitu aku harus membawa Ayla." Brio melangkahkan kakinya. Namun, sebuah lengan yang kekar menahannya.
"Aku akan mencari dan menjemput Ayla. Untuk sekarang kamu ikut denganku dulu pulang ke rumah. Sisanya serahkan padaku." Dengan cepat Yaris memberhentikannya dengan menawarkan jasa.
"Ada apa Bunda memintaku untuk segera pulang? Apa ada sesuatu yang terjadi padanya? Atau apa?" batin Brio tak pernah lepas dari pertanyaan-pertanyaan yang dia buat.
Brio pun langsung memasuki kendaraan supercar berwarna kuning tersebut.
Tak jauh dari tempat Brio dan Yaris berbincang. Ada sepasang mata yang melihatnya heran dan penuh tanya. Sampai-sampai dia mengkerutkan keningnya karena herannya itu.
"Apa yang terjadi dengan mereka? Kenapa mereka buru-buru sekali?" gumam Ayla. Ya, dia adalah orang pemilik sepasang mata tersebut.
Karena rasa penasaran dan rasa keingintahuannya yang sangat menggebu, juga ingin menjawab pertanyaan-pertanyaan yang melintas dalam pikirannya, Ayla pun berniat untuk mengikuti kemana mereka pergi.
Akan tetapi saat Ayla sedang menyebrang, dari arah kanannya melaju sebuah mobil mewah dan menabraknya.
Kriiiieeet...
__ADS_1
Pemuda yang sedang mengendarai mobil tersebut, menekan pedal rem-nya dengan sekuat tenaga. Sambil terus memejamkan matanya dan berharap tidak akan terjadi kecelakaan.
Aaaakkkhhh.. Ayla berteriak dan,
Sreeett... Rem itu tepat berhenti didepan sang gadis. Akan tetapi, Ayla yang mendapat serangan panik tiba-tiba kepalanya mendadak pusing dan pandangannya kabur.
Brugh.. Dia terkapar di jalanan.
Dan pemuda itu membuka matanya. Dalam pandangannya tampak seorang gadis yang di hampir ditabraknya itu terbujur kaku di jalanan.
"Astaga..." Pemuda itu langsung berlari keluar dan membangunkan gadis yang tak dikenalnya itu.
"Huh," desanya lega. "Untung dia tidak mati..." lirihnya lagi.
"Wah, bukankah itu penyanyi yang sedang booming?" ucap salah satu pengguna jalan. Mereka pun riuh dan beberapa di antaranya mengambil foto pemuda itu.
"Aku harus membawanya sekarang juga..." gumamnya seraya menggendong Ayla ala bridal style.
Sesaat setelah Ayla di dalam mobil, lebih tepatnya di sebelah kursi pengemudi. Pemuda tampan itu bergumam, "Jika aku membawanya ke rumah sakit pasti akan banyak akun gosip yang memberitakan aku. Dan bisa saja saat dia sadar dia akan mengadukan aku pada polisi. Tidak, tidak. Ini akan berdampak buruk pada karirku. Eshh, haruskah aku membawanya pulang? Huh..." Pemuda itu mendesah kebingungan.
Tak ada cara lain. Dia masih sayang pada karirnya. Dia akan membawa gadis di sampingnya pulang ke rumah dan mengobatinya disana. Berharap tidak terjadi apa-apa dengan gadis disebelahnya itu. Meski dia tahu dia tidak menabraknya sejengkal pun, tetapi tetap saja hatinya dag dig dug, berdegup kencang karena takut.
Pemuda yang menabraknya itu adalah Oddysey, penyanyi kegemarannya, penyanyi yang dia sanjung dan membuat Brio cemburu.
CNP
Continue in my Next Post
...Katanya,...
...Dunia itu sempit seperti daun kelor...
...Nyatanya dunia itu banyak color......
__ADS_1
...-Authoress Bubuk Oreo Supreme-...
Bab spesial ganti nama jadi 🔝